Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 53 DIHANTUI


__ADS_3

Matahari sudah tidak terlalu terik, hanya cahayanya saja yang masih terlihat. dari arah depan sesekali terdengar suara motor atau mobil yang lewat. bapak yang mendapat pertanyaan dia hanya menatap heran ke arahku.


"Maksudnya?" tanya Bapak sambil mengerutkan dahi, Mungkin dia tidak paham dengan pertanyaanku.


"Bapak sudah merokok lagi belum, Soalnya kemarin kan sakit?" jawabku menjelaskan dengan hati-hati takut pertanyaanku menyinggungnya.


"Ya, mau ngerokok bagaimana Rid! kan Bapak tidak boleh merokok lagi sama dokter, nanti jantung bapak bisa kena lagi." jawab bapak membuatku sedikit lega, karena orang yang pertama aku curigai sudah menjelaskan.


"Kirain sudah merokok, Syukurlah kalau bapak tidak merokok lagi, kalau bisa berhenti Pak! ingat kesehatanmu lebih penting dari segalanya."


"Lagian aneh-aneh aja sih, kamu nanyanya seperti itu."


"Oh iya, tadi pulang jam berapa?" tanyaku mulai mengalihkan pembicaraan kembali.


"Jam 02.00, Kenapa emang?"


"Vina nggak ke mana-mana kan?"


"Nggak tahu, soalnya tadi pas bapak datang dia ada di rumah, katanya dia capek habis mencuci piring di kamar mandi, karena wastafel tidak bisa digunakan."


"Oh begitu kirain tahu!"


"Kenapa sih kamu nanyanya aneh begitu?"


"Nggak apa-apa Pak, maaf saya mau nemuin Vina dulu, karena saya sudah berburuk sangka sama dia."


"Berburuk sangka tentang apa?" tanya Bapak yang terlihat penasaran.

__ADS_1


"Nggak ada Pak, Ya sudah Farid ke belakang dulu mau mencari Vina," ujarku sambil bangkit dari tempat duduk, kemudian masuk kembali ke dalam rumah langsung ke dapur.


Sesampainya di dapur aku pindai seluruh area tempat masak itu. namun Vina tidak ada, aku mencari ke WC sama Vina pun tidak berada, sehingga aku memutuskan untuk keluar menuju ke arah samping rumah, di mana ada kolam ikan di sana.


Benar saja apa yang aku pikirkan, ternyata Vina sedang asik memberikan pakan ikan, ketika melihat kedatanganku raut wajahnya berubah seketika, Mungkin dia tidak suka dengan kehadiranku.


"Lagi ngasih makan ikan sayanh?" Tanyaku menyapanya, kemudian duduk di bangku taman yang berada di pinggir kolam.


Vina tidak menjawab, matanya terus terfokus ke arah kolam menyaksikan ikan-ikan warna-warni yang sedang berenang.


"Maafkan aku...! kalau aku punya salah, tapi kamu jangan mendiamkanku seperti ini," ujarku setelah tidak mendapat jawaban, sambil menggeserkan tempat duduk mendekat ke arah Vina. "aku tahu rasa cintaku melebihi siapapun terhadapmu, sehingga aku tidak bisa mengontrol ketika ada keanehan di hubungan kita. sekali lagi Aku mohon maaf!" lanjutku dengan perlahan aku ambil tangan Vina kemudian mengusapnya dengan begitu lembut.


Kita pun terdiam tanpa ada sepatah kata yang keluar dari bibir masing-masing, membuat suasana di area kolam menjadi Hening, hanya gemericik air yang jatuh dari Talang. matahari sudah bersembunyi di balik-balik gedung tinggi, mungkin sudah lelah menyinari jiwa-jiwa yang tak beraturan, sebentar lagi malam pun akan datang, menggantikan siang yang waktunya sudah habis.


"Vina sayang...!" panggilku Setelah lama terdiam.


"Apa yang harus aku lakukan, agar kamu bisa memaafkanmu?" tantangku setelah tidak mendapat jawaban darinya.


Bibir istriku terlihat bergerak gerak, seolah ingin menyampaikan sesuatu yang membelenggu hatinya. dengan sabar aku tetap menunggu apa yang akan dia ungkapkan, sambil terus mengelus tangan yang sejak dari tadi aku genggam.


Vina terlihat menarik nafas, seolah sedang mengumpulkan tenaga ketika hendak berbicara, matanya menatap lekat memenuhi area wajahku. "aku cuma ingin kamu tidak terlalu berprasangka buruk terhadapku. Apa kamu nggak sadar selama ini aku tidak pernah berbuat macam-macam seperti apa yang kamu tuduhkan. aku selalu mendampingimu di saat susah, di saat kamu terpuruk. kalau aku mau berbuat yang tidak Tidak kenapa nggak dari dulu, kenapa nggak dari pas kamu tidak bisa apa-apa. Aku khawatir kamu akan terus menuduhku yang nggak nggak, kalau dibiarkan seperti ini terus," ujar Vina sambil menarik tangan yang sejak dari aku genggam untuk mengusap cairan bening yang membasahi pipinya.


"Sekali lagi aku mohon maaf, aku khilaf! kamu boleh menamparku untuk membalaskan rasa perih di pipimu." ujarku sambil mendekatkan pipi ke arah wajahnya, mataku terpejam menunggu kemungkinan terburuk yang akan dilakukan oleh istriku.


"Rasa sakit akibat tamparan akan hilang dengan cepat, namun rasa sakit hati atas perlakuanmu, mungkin akan Membekas Di Hati, jujur aku takut kamu terus mengulang perbuatanmu."


"Maafkan aku vin! Maafkan aku memang laki-laki yang terbodoh yang tidak tahu rasa berbalas Budi. dulu aku menghianati Arfan sahabat baikku, sekarang aku terus menyakitimu wanita terbaik yang dikirimkan oleh Tuhan untuk menemaniku. sekali lagi maafkan aku, dan aku akan berjanji, aku akan mencoba membuang prasangka buruk yang selalu hadir ketika ada sesuatu yang tidak bisa dimengerti oleh logika."

__ADS_1


"Apa kamu Serius dengan apa yang kamu ucapkan?"


"Aku sangat serius!" jawabkusambil mengangkat dua jari, membuktikan aku orang yang bisa dipercaya.


"Dulu ketika kita dilanda kesusahan, ketika kita dilanda Bagaimana susahnya mencari untuk makan, kita tidak pernah bertengkar, apalagi sampai menampar. tapi kenapa sekarang Setelah semuanya membaik, kita sering berselisih paham. Bahkan kamu sampai tega menuduhku hal yang tidak masuk di akal?" ujar Vina sambil menempatkan tubuh kesandaran kursi taman.


"Iya...! aku yakin ini adalah cobaan buat keutuhan ramah tangga kita, kalau kita bisa melewati semuanya kebahagiaan pun mungkin sudah menanti. seperti sekarang kita tidak akan kesusahan untuk makan, tidak akan ketakutan ditagih kontrakan, setelah melewati berbagai cobaan yang begitu pelik."


"Aku harap kedepannya kamu bisa lebih dewasa, bisa lebih mengontrol emosi. Siapa tahu saja secepatnya Tuhan mengirimkan seorang anak di tengah-tengah keluarga kecil kita," ujar Vina sambil menghembuskan nafas pelan.


"Amin...! Sekali lagi maafin aku ya!" ujarku Sambil meregangkan tangan kemudian mendekatkan tubuh istriku ke dada, dengan perlahan aku usap rambut pendeknya, sesekali aku dapatkan ciuman lembut di kepala istriku.


Akhirnya Vina pun memaafkan kesalahanku, hingga kita berdua terlarut dalam obrolan obrolan masa lalu, dimana kita diuji dengan kesusahan, namun sekarang Setelah semuanya selesai, cobaan yang lain pun datang, membuatku merasa yakin bahwa kalau aku bisa melewati cobaan yang sekarang, Kebahagiaan akan tiba.


Dalam hatiku berjanji, aku akan menyayangi Vina setulus hati. tidak akan menuduh hal yang bermacam-macam, karena ketika aku dua kali menuduh Vina, tak satupun tidak ada yang terbukti. pertama aku menuduh istriku melakukan suntik KB, namun kenyataannya akulah yang bersalah, sampai sekarang kita belum sempat mengecek kesuburan kita ke rumah sakit. yang kedua Aku mau nuduh bau rokok di tubuh Istriku itu juga sama tidak terbukti.


Dosa-dosa yang lalu yang pernah aku lakukan kepada Arfan, sekarang hinggap menghantui, sehingga istri yang begitu baik aku tuduh dengan alasan yang tak logis, mungkin walaupun orang yang aku lukai udah mau memaafkan, tapi Karma itu akan terus berjalan.


"Aku takut pin!" ujarku di sela-sela Obrolan.


"Takut kenapa?" tanya Vina sambil menatap ke arahku.


"Aku takut kejahatan yang pernah aku lakukan berbalik kepada diriku sekarang, sehingga aku selalu mencurigaimu yang tidak tidak."


"Iya aku ngerti, aku paham kok! namun sebelum kamu main kasar, coba kamu berbicara terlebih dahulu dan aku nggak mau kalau kamu melakukan hal bodoh seperti tadi."


"Aku janji aku tidak akan berbuat seperti itu, Terima kasih telah menemaniku sampai saat ini!"

__ADS_1


Waktu pun semakin lama semakin sehingga terdengar adzan maghrib berkumandang di masjid dekat rumah bapak, aku dan Vina pun masuk ke dalam rumah untuk melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim.


__ADS_2