
Pov Farid
Wangi masakan yang terhidang di atas meja tercium menggugah selera, membangkitkan jiwa-jiwa yang lapar. aku yang sudah duduk di kursi, setelah membaca doa aku mulai menyantap makananku.
Tidak ada pembicaraan ketika aku dan Ira makan di restoran tempat kami bertemu dengan klien. aku masih terfokus memikirkan dengan kejadian yang menimpaku, di mana Aku melihat orang yang mirip bapak dan Vina.
"Pulang langsung Bu?" Tanyaku setelah selesai makan siang.
Ira tidak langsung menjawab, Dia melihat jam yang ada di tangannya. "Nanti saja 12.30, biar kita sampai langsung bekerja," jawab Ira.
Kita berdua pun terdiam kembali, Ira fokus dengan handphonenya, Dia terlihat senyum- senyum seolah sedang menemukan kebahagiaan di handphone. sedangkan aku mengambil rokok lalu membakarnya.
"Pak Farid!" Panggil Ira Setelah lama kita terdiam.
"Yah ada apa Bu?"
"Apakah salah kalau ada orang yang menyukai seseorang yang sudah sah menjadi milik orang lain?" tanya Ira setelah puas bermain handphone, membuatku mengerutkan dahi tidak paham dengan maksudnya.
"Coba lebih jelas! sukanya suka seperti apa, karena kalau menyukai seseorang itu adalah hak setiap Insan yang memiliki akal sehat."
"Yah suka dan ingin memilikinya, tapi orang itu tidak bisa menggapai semua impiannya, karena terhalang oleh pasangannya."
"Sebagai umat yang beragama, kita tidak boleh menyakiti orang lain." jawabku memberi penjelasan.
"Siapa yang disakiti?"
"Pasangan dari orang yang disuka, pasti dia akan marah kalau orang yang sudah ia miliki, diganggu atau direbut oleh orang lain," jawabku menjelaskan.
"Tapi bagai mana Kalau orang yang kita sukai, menyukai kita?"
"Sebaiknya kita menjauh, kalau hanya sekedar perasaan kagum, itu wajar. karena seperti yang Bu Ira ketahui, Saya sudah melakukan hal itu. namun saya tidak bahagia, bahkan hidup saya seperti sekarang itu adalah akibat kesalahan di masa lampau," jawabku memberi contoh.
"Benar juga ya!"
"Emang kenapa, Kok Ibu bertanya seperti itu? apa Ibu sedang jatuh cinta dengan seorang laki-laki yang sudah memiliki istri?"
"Enggak...! enggak gitu, aku cuma ingin tahu saja pendapat Pak Farid, kalau ada orang seperti itu, biar aku bisa menjadikan pelajaran ke depannya."
__ADS_1
"Betul kita harus banyak belajar tentang kehidupan, karena tidak ada buku pelajaran yang membahas tentang cara hidup dan cara beretika. hanya pengalaman lah yang bisa menjadi guru terbaik bagi kehidupan."
Mendengar penjelasanku Ira hanya manggut-manggut mungkin dia mengerti dengan apa yang aku maksud. kemudian dia mengambil handphonenya kembali lalu mengulangnya seperti yang tadi ia lakukan, tersenyum tersenyum sendiri, sambil menatap ke arah handphonenya.
Kira-kira pukul 12.30, Ira pun mengajakku untuk pulang ke kantor, melanjutkan pekerjaan seperti biasa. setelah membayar makanan aku dan Ira berjalan menuju ke lobi restoran, untuk menunggu mobil daring yang kita pesan.
Mataku terus memindai area parkir, memperhatikan setiap mobil yang berada di sana. siapa tahu saja ada mobil bapak yang terparkir. namun setelah lama memindai aku tidak menemukan sesuatu yang aneh, sehingga aku makin sadar bahwa Ini semua hanya prasangka burukku yang selalu dihantui dengan ketakutan atas Karma kesalahanku waktu dulu, yang tega menghianati sahabatnya sendiri.
"Kenapa kok celingukan?" tanya Ira yang mungkin memperhatikanku.
"Nggak apa-apa, lagi nunggu mobil yang kita pesan." jawabku berbohong.
"Kirain lagi nyari tambahan buat Bu Vina, biasanya kan pria seperti itu." ujar Ira sambil mengulum senyum.
"Enggak lah Bu! cukup Vina saja yang menjadi istriku, karena hanya istriku yang cantik dan sangat baik, tidak ada wanita yang lain, yang akan menggoyahkan perasaanku."
"Iya benar, kita harus berani mengambil keputusan, karena kalau ada seorang wanita yang digoda oleh seorang laki-laki, meski sudah beristri. hati wanita itu akan luluh sehingga jatuh di pelukannya, namun ketika ketahuan Hanya wanita lah yang disalahkan. padahal hubungan gelap itu tidak akan terjadi, kalau suaminya punya prinsip seperti Pak Farid," jelas Ira memuji prinsipku.
"Ah...! Ibu terlalu berlebihan, Saya tidak sesempurna itu."
"Benar, saya lihat Pak Farid memang baik. di kantor saja banyak teman-teman kantor Pak Farid yang mendekat, tapi Pak Farid cuek seolah tidak butuh mereka."
Terlarut dalam obrolan akhirnya mobil yang kita pesan pun datang, setelah aku dan Ira masuk, mobil itu melaju membawa kita kembali ke perusahaan Mandiri Group. di perjalanan kita terus mengobrol membahas tentang pekerjaan yang diselingi dengan membahas kehidupan sehari-hari, sehingga di perjalanan tak terasa lama tahu-tahu sudah sampai di parkiran Mandiri Group.
Sekembalinya ke kantor, aku dan Ira pun berpisah untuk melanjutkan pekerjaan masing-masing. aku yang kembali ke ruang kerjaku, sedangkan Ira menemui dari untuk melaporkan hasil kinerjanya.
Aku terus terfokus dengan pekerjaan yang ditugaskan oleh perusahaan, karena ini adalah cara terbaik untuk membalas kebaikan Arfan yang sudah menolongku dari keterpurukan.
Pukul 04.00 sore, akhirnya waktu kerja pun selesai dengan bergegas Aku menuju ke mushola untuk melaksanakan salat ashar. setelah melaksanakan salat asar aku mengendarai motor bututku kembali ke rumah bapak.
Sesampainya di rumah, terlihat mobil Bapak sudah terparkir di carport, menandakan Vina sudah pulang dari toko sembako. setelah memarkirkan motor, aku pun bergegas menuju pintu teras, namun ketika aku mendorong pintu rumah pintu itu terkunci.
"Siang-siang tumben mengunci rumah!" gumamku sambil memasukkan kunci ke dalam slotnya.
Setelah pintu terbuka, aku masuk ke dalam. terlihat Vina yang berlari menghampiri dari arah Tengah. "Baru pulang Sayang?" tanya Vina yang terlihat mengatur nafas, seperti orang yang sudah berlari jauh.
"Iya kamu lagi ngapain? Kok kelihatannya capek banget," jawabku sambil memindai tubuh Vina yang terlihat agak berantakan, rambutnya sedikit kusut, satu kancing kemejanya terbuka.
__ADS_1
"Aku lagi nyuci piring, soalnya tadi ketika berangkat kerja aku tidak sempat," jawab Vina sambil mengambil tanganku kemudian diciumnya.
"Kasihan banget sih Kamu, pasti capek ya? habis kerja di toko sembako, harus kerja di rumah pula."
"Gak Apa-apa kok, aku senang karena aku punya pekerjaan seperti ini." jawab Vina sambil mengambil Tasku kemudian membawanya ke dalam kamar.
"Aku yang merasa lelah, karena perjalanan pulang yang begitu macet, ditambah matahari yang masih terasa terik. sehingga aku hanya mendudukkan tubuh, di kursi sofa yang berada di ruang tamu.
"Mau kopi, apa Teh, atau jus?" tanya Vina yang sudah keluar dari dalam kamar.
"Nggak usah...! aku bisa buat minum sendiri."
"Jus aja ya! biar tenggorokanmu segar," paksa Vina yang terlihat hendak kembali ke dapur.
"Bapak ke mana Sayang, kok nggak kelihatan?" Tanyaku membuat langkah Vina terhenti.
"Bapak di kamarnya, katanya dia ingin beristirahat terlebih dahulu!" jawab Vina kemudian dia melanjutkan niatnya yang hendak pergi ke dapur.
Aku yang kasihan sama Vina, kalau harus terus direpotkan dengan mengurusku dan bapak. sehingga aku membangkitkan tubuh yang terasa malas, kemudian berjalan menuju ke arah dapur.
Sesampainya di tempat masak, terlihat istriku sedang mengupas mangga yang tercium sangat wangi.
"Kenapa ke sini? sudah tunggu aja di depan! nanti aku antarkan!" tanya Vina sambil terus melakukan pekerjaannya.
"Nggak apa-apa...! aku mau buat sendiri aja, boleh nggak? kasihan aku sama kamu, kalau harus bekerja ekstra seperti ini."
"Aku nggak apa-apa kok Rid! kamu kayaknya terlalu lebay. Aku masih kuat Meski Harus mengepel dan menyapu rumah."
"Sini aku aja yang ngupas mangganya, kamu lanjutkan mencuci piring." ujarku sambil melirik ke arah wastafel. namun aku sedikit mengurutkan dahi, karena di sana cucian piring masih menumpuk tak seperti yang sedang dibersihkan.
"Nggak...! sudah kamu duduk aja!" jawab Vina menolak.
"Katanya lagi mencuci piring, tapi kok piringnya masih kotor?" tanyaku dengan berhati-hati, takut menyinggung perasaan Vina.
"Oh itu, Iya tadinya mau mencici piring. tapi aku mendengar motormu sehingga aku berlari untuk membukakan pintu. tapi kamu sudah masuk duluan," jawab Vina Tanpa sedikitpun menunjukkan wajah yang mencurigakan.
"Ya Allah...! tolong jauhkan prasangka buruk yang selalu hinggap di dalam hati. aku selalu mencurigai istriku berbuat macam macam dengan bapak." gumamku dalam hati, mataku terus menata Vina yang sedang mengiris buah mangga.
__ADS_1
"Kenapa diam? Kamu marah ya aku belum mencuci piring?" tanya Vina sambil menghentikan pekerjaannya dengan menatapku.
"Enggak kok..! Kamu mau mencuci piring atau enggak. Itu hak kamu dan aku tidak akan memberatkanmu dengan pekerjaan rumah, apalagi sekarang kamu sudah bekerja, kamu juga pasti capek."