
Terdengar suara klakson yang mengagetkan lamunanku, dengan segera aku menatap ke arah datangnya suara, terlihat mobil Avanza silver yang terparkir di depan gerbang rumah bapak.
Tin! tin! tin!
Suara klakson pun terdengar kembali, aku yang merasa risih dengan segera bangkit untuk memarahi orang yang membuat kebisingan. namun Aku hendak turun dari teras, terlihat pintu mobil itu pun terbuka lalu keluarlah bapak yang mengulum senyum, kemudian dia membuka pintu gerbang.
Setelah pintu halaman rumah itu terbuka, dia pun masuk kembali ke dalam mobil lalu membawa mobil itu masuk ke pekarangan rumahnya. aku terus memperhatikan mobil itu sampai terparkir dengan sempurna, aku merasa heran kenapa bapak membawa mobil.
Mesin mobil pun dimatikan, kemudian turunlah Vina yang menyapaku dengan mengulum senyuman, lalu dia menghampiriku.
"Sudah pulang Sayang?" tanya Vina yang terlihat sumringah.
"Sudah ini mobil siapa, kok Bapak bawa masuk ke dalam?" Tanyaku Yang penasaran.
"Ini mobil bapak tadi beliau membelinya," jawab Vina sambil mengambil tanganku lalu didekatkan ke pipi.
"Buat apa Bapak beli mobil," Tanyaku yang merasa aneh.
"Ya buat dipakai lah Sayang, buat apa lagi! nanti kita pinjam ya buat liburan," ujar Vina yang terlihat bersemangat.
"Bagus nggak Rid mobilnya?" tanya Bapak yang baru keluar, dia menghampiri kita lalu mengurungkan tangan untuk mengajakku bersalaman.
"Ini mobil bapak?" ujarku tidak menjawab pertanyaannya.
"Iya, kebetulan tadi ada teman bapak yang Kepepet sehingga dia harus menjual mobilnya. setelah Bapak cek ternyata Mobilnya masih bagus, makanya Bapak beli."
"Buat apa?"
"Nggak buat apa-apa Rid! bapak cuma mau menolong teman bapak saja. Oh ya Vin! tolong buatkan Bapak teh ya!" ujar Bapak sambil melirik ke arah istriku dengan menyonginkan senyum.
"Baik Pak! kamu sudah ngopi sayang?" jawab Vina sambil menatap ke arahku
"Sudah, tuh ada di meja!"
"Kalau begitu aku pamit dulu untuk membuatkan minum bapak," ujar Vina meminta izin kemudian dia pun masuk ke dalam rumah, sedangkan Bapak duduk di kursi yang berada di teras.
Aku Yang merasa nggak enak Dengan istriku karena melihat Vina yang baru pulang dari tempat kerja sudah disuruh membuatkan minum. aku memutuskan untuk ikut masuk ke dalam rumah langsung menuju dapur. terlihat Vina sedang memasukkan gula dan Teh ke dalam mug, sambil menunggu air yang direbusnya mendidih.
"Kamu nggak capek sayang?" Tanyaku sambil memeluknya dari belakang.
__ADS_1
Aku kecup tengkuk istriku, namun hidungku menangkap bau yang aneh, bau yang sebulan lalu aku cium, ketika rumah terkunci. namun ketika aku mau menanyakan lebih lanjut aku takut aku salah sehingga aku hanya memalingkan penciuman agar tidak mencium bau itu.
"Sudah jangan peluk-peluk! Aku belum mandi," jawab Vina sambil menggelinjang menghindari bibirku, kemudian dia membelikan tubuh agar aku tidak menyerangnya.
"Yah kamu bau asem," Jawabku sambil mengulum senyum menyembunyikan rasa curiga, karena yang kucium bukan bau asem melainkan bau rokok.
"Kenapa kamu malah ke sini? sana temenin bapak kasihan sendirian!" usir Vina.
"Aku nggak enak sama kamu, masa baru pulang kerja Sudah disuruh-suruh."
"Nggak apa-apa ini adalah kewajiban kita melayani orang tua, kalau kita ikhlas kita dapat pahala," jawab Vina yang terlihat tak sedikitpun keberatan melakukan tugas itu.
"Terima kasih ya! kamu memang Istri terbaik."
"Sama-sama! Ya sudah sana temenin bapak," usir Vina sambil mendorong tubuhku agar segera pergi dari dapur.
Aku yang masih penasaran dengan indra penciuman ku yang menangkap bau aneh di tubuh Vina, dengan segera aku kembali memeluk istriku dengan begitu erat, aku dekatkan hidungku ke bagian leher vina, ternyata memang benar ada bau aneh yang keluar.
"Kok kamu bau rokok?" tanya aku sambil melepaskan pelukan.
"Iya pasti bau, aku saja tidak nyaman karena ventilasi udara di ruko Bapak sangat jelek, sehingga ketika ada yang merokok baunya menempel di baju," jawab Vina walaupun tidak percaya, namun aku takut dia marah lagi sehingga aku hanya mengulum senyum menyembunyikan kegetiran.
"Pramuniaga di toko sembako Bapak, semuanya laki-laki, semuanya merokok, Mending kalau ngerokoknya di luar ruko, ini di dalam. Ya sudah sana temenin bapak!" ujar Vina kembali mendorong tubuhku.
Aku pun berjalan Kembali menuju ke ruang teras, terlihat bapak sedang menikmati sebatang rokok, yang ada di tangannya, sambil menatap mobil yang baru dia beli, ketika melihat kedatanganku dia pun tersenyum."
"Sini duduk....!" ajak bapak.
"Kok pulangnya telat Pak?" Tanyaku yang menatap penuh curiga.
"Iya ketika tadi mau pulang, ada customer langganan yang datang. mau ditolak takut pergi ke yang lain, sehingga Bapak memutuskan untuk menerima orderan itu."
"Oh ya, saya boleh minta tolong nggak Pak?"
"Mau minta Tolong apa Rid? kamu ngomong aja, kalau bapak bisa pasti bapak akan bantu!"
"Tolong awasi istri saya, terutama Makannya. jangan sampai seperti tadi sore hari, dia baru makan itu pun hanya makan bakso."
"Iya bapak juga tadi sudah menyuruhnya beristirahat untuk makan, namun istrimu terlihat bersemangat hingga baru sore hari dia makan bakso."
__ADS_1
"Terima kasih pak Kalau Bapak mau mengawasi istri saya."
"Sama-sama Rid, karena Vina adalah wanita satu-satunya di keluarga kita, jadi kita harus sama-sama menjaga makhluk lemah itu!"
"Maksudnya pak?"
"Iya maksudnya Vina adalah satu-satunya wanita di dalam keluarga kita, jadi dia adalah orang yang terlemah sehingga kita harus bersama-sama menjaganya. ngomong-ngomong tolong cobain mobil baru bapak, bagus apa enggak?" jawab Bapak sambil memberikan kunci mobil.
"Pasti Baguslah Pak! saya tahu Bapak kan orangnya sangat selektif, Jadi tidak mungkin membeli mobil rusak," jawabku menolak dengan halus.
"Iya memang begitu kondisinya, makanya Bapak beli selain ingin menolong teman, di keluarga kita tidak ada yang memiliki mobil keluarga, sehingga kalau mau bepergian nanti repot kalau harus menyewa terlebih dahulu."
"Iya Farid yakin apa yang Bapak lakukan pasti sudah diperhitungkan."
"Kalau kamu mau pakai, pakai saja! soalnya sebenarnya Bapak sudah tidak sanggup untuk mengemudi mobil, takut tiba-tiba jantung bapak kumat."
"Pakai buat apa?"
"Buat menunjang kebutuhan pekerjaan di kantor kamu."
"Enggak Pak! Farid masih ada motor, Lagian kalau untuk pergi keluar kota atau ke lapangan kantor menyiapkan mobilnya."
"Oh begitu, ya sudah nanti hari minggu kamu ajak istrimu jalan-jalan, karena bapak meliburkannya untuk bekerja."
"Baik Pak...! Insya Allah. Oh iya kapan asisten rumah tangga kita datang, katanya Bapak sedang mencari asisten, agar ada yang mengurus rumah.
"Bapak Belum nemu Rid, soalnya mencari asisten rumah tangga itu tidak semudah membalikan telapak tangan, Bapak harus selektif apa lagi orang yang bekerja di dalam rumah."
"Secepatnya Bapak harus mencari, kasihan Vina kalau harus mengurus rumah, ditambah harus membantu bapak di ruko."
"Iya bapak sedang usahakan."
Vina yang disuruh membuatkan minum, dia pun sudah keluar sambil membawa nampan berisi mug teh, kemudian disimpan di depan Bapak dengan manggut, bibirnya dihiasi dengan senyuman. Aku yang melihat keanehan itu hanya Mendehem namun mereka tetap Acuh seolah.
"Terima kasih ya vina cantik," ujar bapak yang langsung mengambil air teh itu kemudian menekuknya.
"Kok Bapak Panggil Istri saya cantik?"
"Kenapa emang, kan memang benar istrimu sangat cantik, Bapak sudah menganggapnya bukan sebagai menantu lagi melainkan Vina adalah anak asli bapak," jawab Bapak sambil melirik ke arahku.
__ADS_1
"Iya nggak apa-apa dong sayang, kalau bapak memanggil aku dengan sebutan cantik, itu adalah panggilan sayang dari orang tua. Dan harusnya Sayang senang kalau bapak menyayangi menantunya." Timpal Vina membenarkan.