Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 109 Bertanya


__ADS_3

Pov arfan


"Minum dulu!" Paksa Saipul sambil bangkit untuk menyerahkan air yang digenggamnya.


"Apaan sih lu nggak jelas banget!" jawabku kemudian keluar dari Rumah Saiful menuju rumah Karla. Sesampainya di rumah pak Umar, dengan cepat Aku mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam!" terdengar suara pak Umar menjawab salamku, kemudian pintu rumahnya pun terbuka. terlihatlah Karla yang sedang merapikan bekas makan malam mereka. aku mengulurkan tangan lalu mencium punggung tangan Pak Umar.


"Maaf mengganggu Pak!"


"Nggak apa-apa, kamu sudah makan Fan?" tanya Pak Umar.


"Alhamdulillah sudah Pak! tadi sebelum berangkat ke sini Saya sudah makan duluan di rumah."


"Kalau belum, Kamu makan dulu!" tawar Pak Umar yang selalu seperti itu.


"Nggak Pak, Terima kasih."


"Ya sudah, Silakan duduk!" ujar Pak Umar sambil duduk.


Karla yang mondar-mandir mengambil piring kotor, Tak sedikitpun menyapaku. memang seperti itulah dia, tidak pernah mengajakku mengobrol ketika berada di hadapan orang tuanya, Mungkin dia merasa malu sama bapaknya.


Seperti biasa Pak Umar pun mulai membuka buku agama untuk dipelajari bersama. kemudian dia mulai menerangkan apa yang terkandung di dalam buku itu. di tengah-tengah pengajian, terlihat Karla membawakan dua gelas kopi sebagai teman belajar ngaji. aku dari awal sampai akhir, terus memperhatikan apa yang disampaikan oleh pak Umar.


"Maaf Pak!" ujarku setelah selesai belajar ilmu agama.


"Kenapa Nak Arfan, ada yang tidak mengerti dengan apa yang Bapak sampaikan?" tanya Pak Umar yang membuka rok0k pemberian dariku, kemudian dia mengambil satu batang, lalu menyalakan korek api untuk membakarnya.


"Bukan Pak! tapi maaf kalau pertanyaan saya agak sedikit lancang."


"Kenapa?" tanya Pak Umar yang memfokuskan pandangan ke arahku.


"Jadi begini pak! seperti yang Bapak ketahui saya sudah hampir setahun lebih bercerai dengan istri saya."


"Terus?"


"Jadi!" aku pun menghentikan ucapanku, tak kuat menahan malu untuk melanjutkan pembicaraan. jantungku terasa berdegup kencang, seperti hendak menerima keputusan dari pengadilan.


"Jadi apa?" Tanya Pak Umar yang menatap heran ke arahku.


"Mohon maaf sebelumnya pak!"

__ADS_1


"Kenapa dari tadi ngomongnya diulang-ulang? kan kamu nggak melakukan kesalahan." jawab Pak Umar sambil memukulkan rok0knya ke asbak, beliau masih santai Tak sedikitpun terlihat raut ketegangan.


"Jadi begini pak! Saya mau bertanya, apakah Karla, Putri Bapak sudah memiliki calon pendamping?" Tanyaku setelah mengumpulkan keberanian, sambil menghembuskan nafas. karena merasa lega setelah menyampaikan perasaan yang begitu berat, padahal itu hanya baru menyampaikan belum ada keputusan.


"Oh gitu! kirain mau tanya apa? nak Arfan juga sudah tahu bahwa Karla Putri semata wayang saya sampai sekarang belum memiliki calon pendamping. Entah mengapa dia masih memilih sendiri, setiap Bapak Bertanya dia tidak pernah memberikan jawaban." jelas Pak Umar yang masih terlihat santai Tak sedikitpun ada kemarahan di wajahnya.


"Kira-kira kalau ada yang meminang putri Bapak. namun pria itu adalah seorang yang pernah gagal dalam berumah tangga, Apakah Bapak mau menerima pria itu sebagai mantunya?" Tanyaku yang mulai sedikit berani namun masih diplomatis.


"Sama siapapun Karla menikah. Bapak tidak akan pernah melarang, yang terpenting pria itu adalah pria yang baik, yang mengerti dengan tanggung jawab, yang bisa menjadi pelindung Putri bapak. Dan yang terpenting anaknya mau!"


"Jadi Bapak setuju kalau saya meminang Putri bapak?"


"Nah, kalau itu Bapak belum bisa menjawab, karena pertanyaan yang tadi bukan seperti itu." jawab Pak Umar yang mengulum senyum, berbanding terbalik dengan perasaanku yang seketika berada di titik terendah.


"Kirain setuju!" gumamku dengan pelan.


"Hehehe. Sama siapa aja bapak akan setuju, yang terpenting anak Bapaknya mau. kamu sudah berbicara sama Karla?" ujar Pak Umar yang membalikkan pertanyaan.


Aku menggelengkan kepala sebagai Jawaban dari pertanyaan Pak Umar. jangankan untuk menyatakan perasaan, untuk mengobrol saja rasanya sangat sulit dengan orang yang tidak pernah serius seperti Karla.


"Kenapa kok menggelengkan kepala?"


"Nah, itu adalah PR rumah tangga. kamu harus bisa memahami karakter istri, karena tidak akan sukses seseorang menjadi pemimpin, kalau orang itu tidak mengetahui karakter orang yang akan dipimpinnya. rumah tangga itu tidak akan mudah, seperti yang sudah kamu alami. begitu banyak cobaan, rintangan yang mengganggu keutuhan rumah tangga. seperti kapal yang hendak mengarungi bahtera."


"Kenapa rumah tangga suka ada bahteranya?" tanyaku yang sering mendengar, namun tak pernah mengetahui artinya.


"Kenapa hubungan rumah tangga, ada yang bilang juga bahtera rumah tangga. karena kalau diibaratkan rumah tangga itu seperti kapal, sedangkan kehidupan seperti lautan atau bahtera. namanya kapal ketika mengarungi lautan pasti akan ada rintangan, baik dari dalam ataupun dari luar."


"Yang dari dalam Seperti apa Pak?"


"Yang dari dalam, seperti kapal itu ada yang bolong sehingga air bisa masuk ke dalam, atau robeknya layar kapal, atau bisa juga hilangnya arah. makanya sama seperti rumah tangga akan ada saatnya gangguan dari dalam. seperti membiarkan orang lain masuk ke dalam rumah tangga, atau hancurnya hati pasangan, atau bisa juga sudah tidak sejalan, sudah tidak satu tujuan." Jelas Pak Umar sambil menghisap kembali rok0k yang ada di tangannya.


"Itu yang dari dalam, terus yang dari luar seperti apa?"


"Kapal ketika berlayar ada juga ujian dari luar, seperti badai, angin, ombak dan yang lain-lainnya. kalau dalam kehidupan rumah tangga, hadirnya orang ketiga, masuknya paham dari luar, atau masalah-masalah umum yang mengganggu keutuhan rumah tangga."


"Berat juga ya kalau membayangkan seperti itu." Ujarku sambil menghela nafas pelan, tak sanggup membayangkan cobaan yang akan dihadapi.


"Tapi! walaupun begitu kita sebagai makhluk hidup jangan khawatir, karena setiap penyakit pasti ada obatnya. sama seperti rumah tangga ketika ada gangguan dari dalam atau dari luar maka Cepat cari obatnya. jangan dibiarkan sampai berlarut-larut, karena kalau tidak cepat ditanggapi kapal rumah tangga itu, akan tenggelam. Mending kalau tenggelam tidak memakan korban, Bagaimana kalau tenggelamnya memakan korban."


"Korban Apa itu Pak?"

__ADS_1


"Anak-anak yang sudah dilahirkan, maka itu akan menjadi korban pertama dari tenggelamnya kapal rumah tangga."


"Berarti kalau bercerai itu, tidak boleh ya?"


"Boleh! namun perkara yang tidak dilarang tapi paling dibenci yaitu adalah talak. maka Bapak tegaskan sama nak Arfan kalau beneran mau sama Karla, Apakah sudah siap menjalani semua cobaan yang akan menimpa."


Ditanya seperti itu, Aku pun termenung seketika mencerna perkataan Pak Umar. karena memang benar aku sudah mengalami, ketika Rumah tanggaku ada gangguan, aku tidak bisa menanggulanginya.


"Kenapa diam?"


"Kalau seperti itu saya jadi takut untuk berumah tangga."


"Hehehe, aturan dibuat bukan untuk menjadi menakut-nakuti tapi untuk menjadikan orang-orang agar lebih hati-hati ketika mereka hendak melangkah. niatkan yang baik Maka insya Allah apapun yang kita kerjakan akan menjadi baik."


"Berarti Bapak menerima saya, untuk meminang Putri bapak"


"Belum juga."


"Kenapa Pak, apa saya nggak pantas untuk Putri bapak!"


"Bukan seperti itu, namun kan yang mau menjalani hubungan itu, anak saya. jadi saya tidak bisa memutuskan apa yang akan dipilih oleh anak saya."


"Terus apa yang harus saya lakukan Pak?" Tanyaku yang mulai merasa minder.


"Jangan bingung-bingung, kita tanya langsung aja sama Karla. namun Nak Arfan harus bisa menerima apa yang menjadi keputusan anak saya. Saya harap ketika anak saya menolak, Arfan jangan sampai menjauh. Bapak harap kamu bisa selalu menjadi kakak yang baik baginya, karena Umur saya nggak tahu sampai kapan. Saya tidak berat meninggalkan dunia ini, Namun yang menjadi berat hanyalah anak saya, saya takut ketika saya sudah tidak ada, Dia kehilangan kasih sayang."


"Baik Pak! apapun yang menjadi keputusan Karla Saya bersedia menerimanya."


Namun ketika kita mengobrol seperti itu, terdengar suara isakan tangis dari lantai atas. karena pembatas antara lantai 1 dan lantai 2 hanyalah papan, jadi tidak menutup kemungkinan bahwa pembicaraanku bersama Pak Umar didengar oleh Karla.


Mendengar ada yang menangis, Pak Umar pun terlihat kaget. dengan buru-buru beliau naik ke lantai 2, Aku Yang penasaran pun ikut naik.


Truk! truk! truk!


Pak Umar mengetuk salah satu pintu kamar yang ada di lantai atas, Aku nggak tahu itu Kamar siapa. karena semenjak aku mengenal mereka, Baru kali ini aku naik ke lantai dua rumah pak Umar.


"Assalamualaikum Karla!" Panggil Pak Umar berulang-ulang, namun tak ada jawaban dari dalam. hanya terdengar Isakkan tangis itu semakin kencang, membuatku bersama Pak Umar saling menatap heran.


"Karla Bapak boleh masuk?" tanya Pak Umar sambil terus mengetuk-ngetuk pintu.


"Kenapa dia Pak?" tanyaku sambil menatap ke arah Pak Umar yang terlihat kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2