
Pov Farid
Seminggu setelah perdebatan aku dan Vina, tentang tawaran pekerjaan dari Arfan. aku tidak langsung mengiyakan permintaan Vina, agar aku bekerja di perusahaan mandiri grup, perusahaan milik sahabatku.
Rasa malu yang sudah sampai ke ubun-ubun, sehingga aku tidak mau berhubungan lagi dengan Arfan, apalagi hubungan itu hanya hubungan yang menyusahkan orang lain. cukup dulu aku telah menghianatinya, telah menyakitinya .sekarang aku seharusnya kalau tidak bisa membalas kebaikannya, minimal aku tidak merepotkan.
Hari Minggu pagi kira kira pukul 08.00 aku yang baru bangun dari tidur. karena setiap malam aku begadang, memikirkan Bagaimana cara mencari nafkah buat istriku. mataku memindai ke area samping, di mana istriku suka berada. Namun sayang pagi itu aku tidak melihat keberadaannya, membuatku dengan cepat membangunkan tubuh, walaupun ngantuk masih terasa.
"Vina....! sayang.......! Vina.... kamu di mana?" Panggilku sambil keluar dari kamar, biasanya Kalau istriku bangun duluan, dia akan pergi ke dapur atau berada di kamar mandi. maka aku Mencari keberadaannya di kedua tempat itu.
"Vina.......! Vina......!" panggilku sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi, Namun sayang dari dalam tidak ada yang menjawab, membuatku mengerutkan dahi karena tidak seperti biasanya istriku keluar dari rumah, tanpa memberitahu.
Penasaran, aku dorong pintu kamar mandi, dan ternyata pintu itu tidak terkunci. aku pindai kamar yang berukuran satu kali satu itu dengan teliti, Siapa tahu saja Vina bersembunyi di balik ember, atau pintu. Namun ternyata Vina memang benar-benar tidak ada.
"Ke mana ya dia? apa Ke warung?" gumamku sambil menutup kembali pintu kamar mandi, lalu menuju ke arah ruang tengah di mana TV 14 inci berada. terlihat di karpet plastik ada Secangkir Kopi yang masih mengepul, serta tiga buah bakwan yang terbungkus dengan kertas nasi.
Aku pegang Gelas itu dan ternyata masih terasa hangat, tanpa pikir panjang aku mendekatkan gelas utuh ke bibir, untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering setelah lama tertidur. kemudian mengambil bakwan yang ada di kertas nasi, itu adalah makanan pertama pagi itu.
"Setelah memakan satu gorengan, aku mengambil bungkusan rok0k yang sudah tertata rapi di dekat meja TV. kemudian melihat isinya yang hanya tinggal dua batang.
"Haduh.......! kok bisa seperti ini, mau ngerok0k saja harus dipikir-pikir dulu," gumamku sambil menyalakan korek gas, lalu didekatkan ke arah rokok.
Pelepuuuus..!
__ADS_1
Asap rokok mulai terbang tertiup oleh angin yang masuk dari lobang angin yang ada di atas jendela, aku nikmati setiap hisapan hisapan itu, karena dengan cara itu rasa pusing akan sedikit terbawa terbang bersama asap-asap yang aku hempaskan.
Merasa masih penasaran dengan keberadaan Vina, Sambil memakan bakwan aku bangkit dari ruang tengah yang bersatu dengan ruang tamu, menuju kembali ke kamar untuk mengambil handphone.
"Sial4n....! Baterainya habis lagi," gumamku sambil kembali ke ruang tengah lalu mencari casan. namun dahiku mulai mengkerut setelah melihat casan yang biasanya tertancap dua, sekarang tinggal satu. sekarang cuma charger HP milikku yang masih tertempel di Terminal listrik itu.
"Ke mana ya si Vina, kok casannya juga nggak ada," gumamku sambil mencolokkan kabel casan ke port handphone. "Apa jangan-jangan dia kabur karena dia tidak mau hidup susah," pikirku yang mulai memiliki prasangka buruk, dengan cepat aku masuk ke kamar kembali untuk mengecek barang-barang Vina, memastikan Apa masih ada atau tidak. Kalau tidak ada maka hancurlah kehidupanku.
Setelah masuk kamar, dengan cepat aku membuka lemari pakaian Vina, hatiku sedikit lega karena pakaian istriku masih tertata rapi di dalamnya.
Aku kembali ke ruang tengah, kemudian menyalakan handphone yang sudah 5% terisi, untuk menanyakan kabar istriku berada di mana. lama menunggu handphone booting, akhirnya handphone-ku menyala. dengan cepat aku membuka aplikasi berwarna hijau berlogo telepon. sebelum memecat tombol Panggil, terlihat ada pesan yang masuk. aku urungkan niat untuk menghubungi Vina, dengan segera mengecek pesan yang baru masuk.
"Maaf aku nggak membangunkan kamu, kayaknya kamu tidurnya terlalu nyenyak. aku keluar dulu mau kerja, soalnya sekarang Aku benar-benar sudah tidak mempunyai uang sama sekali, aku sudah siapkan kopi sama gorengan. Itu adalah uang terakhirku, Doakan aku agar hari ini dapat uang!" isi pesan yang dikirimkan oleh Vina, membuat hatiku terunyuh merasa perih mendapat kenyataan yang begitu pahit. Bagaimana tidak aku yang harusnya banting tulang menafkahi istri malah tidak bisa berbuat apa apa.
"Ya Allah......! kenapa dengan kehidupanku yang terus ditimpa kesialan, yang terus ditimpa musibah. Aku harus bagaimana, ya Allah!" gumamku dalam hati yang tak tahu Harus Berbuat Apalagi. aku terdiam di ruang tamu sambil menyandarkan tubuh ke dinding, rok0k yang di tangan sudah sampai ke pabriknya, membuat jari terasa panas. aku hisap sekali lagi Kemudian menusukkan puntung itu ke dalam asbak.
Aku terdiam kembali memikirkan bagaimana caranya aku mendapatkan uang, bagaimana caranya aku bisa menafkahi istriku. lama berpikir kepalaku mulai terasa pusing. karena aku sudah melakukan berbagai cara untuk mencari jalan keluar, aku sudah menyimpan lamaran ke berbagai perusahaan, Bahkan aku sudah melamar ke restoran-restoran. namun usiaku yang sudah tidak terlalu produktif, sehingga Perusahaan tidak mau menerimaku.
Dulu Pernah mencoba bekerja di proyek bangunan, namun tubuhku yang tidak biasa bekerja seperti itu, membuatnya drop, sehingga harus beberapa hari istirahat, akhirnya capek dapat, bahkan sampai sakit namun uangnya nggak ada.
"Bapak....! bapak.....! iya aku harus menemui bapak," gumamku Setelah lama berpikir. aku harus menemui orang tuaku Siapa tahu saja dia mau sedikit membantu, karena dia bisa sesukses itu adalah berkat bantuanku, bantuan Erni yang mau mengasih modal.
Setelah memutuskan seperti itu, Aku bangkit dari tempat duduk, kemudian masuk ke kamar untuk mengambil handuk. sesudah itu aku masuk ke kamar mandi, untuk menyegarkan tubuhku yang masih terasa kantuk.
__ADS_1
Setelah membersihkan tubuh dan mengganti pakaian dengan rapi, aku Keluarkan motor bututku dari dalam kosan. kemudian mengkick starter motor itu. setelah mengunci kosan, motor bututku pergi meninggalkan tempat kumuh itu menuju ke Jalan Gondangdia.
Motor butut itu terus melaju mengepulkan asap dari arah knalpotnya. meski tuas gas motor itu tidak aku tarik dengan begitu kuat, namun mesin yang sudah harusnya turun dan perawatan yang tidak pernah sama sekali, sehingga membuat motor butut semakin terlihat butut tak terawat. lama mengendarai motor Akhirnya aku tiba di salah satu ruko berlantai 2, terlihat pintunya yang terbuka di dalamnya terjajar rapi sembako sembako yang dijual.
"Bapak ada Fer?" Tanyaku sambil menatap ke arah orang yang sedang menaikkan belanja ke motor.
"Ada di dalam Pak!" Jawab Ferry dengan Acuh, dia tetap terfokus membantu orang yang belanja.
Tanpa bertanya lagi aku pun masuk ke dalam ruko itu, mataku memindai seluruh ruangan yang terisi penuh dengan berbagai jajanan Jajanan serta kebutuhan-kebutuhan warung yang lainnya. aku terus berjalan menuju ke dekat meja yang berada di pojok.
"Assalamualaikum Pak!" Sapakku sambil mengulum senyum ramah menyambut orang yang sudah mengurusku.
Sebelum Bapak menjawab, Dia melihat keadaan sekitar. seperti hendak mengecek situasi. namun keadaan warung itu masih terlihat sepi karena mungkin sudah mulai agak siang, biasanya orang-orang yang berbelanja mereka akan berbelanja waktu pagi hari.
"Mau ngapain ke sini?" Tanya Bapak seperti biasa dengan nada sinis.
"Aku mau bersilaturahmi aja Pak!"
"Bersilaturahmi, apa bersilat lidah?" Ketus bapak.
"Emang salah ya kalau Farid menengok kabar bapak?"
"Nggak salah sih! kalau menengoknya tanpa menyusahkan. Lagian kamu sudah diperingatkan jangan dekat-dekat sama Si Erni, sekarang tahu kan hidupmu susah seperti ini. sudah gitu kamu malah menambah kesusahan dengan menikahi Saudara sepupunya. itu keputusan bod0h dan gobl0k, yang pernah kamu ambil," ujar bapak yang selalu terus membahas kesalahan yang sudah Erni lakukan, sehingga dia menyamakan semua wanita Seperti almarhum istriku itu.
__ADS_1
"Sudah Pak...! Jangan marah-marah, nanti darah tinggimu naik."
"Gimana gak naik, kalau punya anak yang tidak bisa diatur seperti kamu, padahal orang tua tidak meminta balasan apapun dari anaknya, orang tua hanya meminta anaknya itu menurut sama orang yang pernah mengurusnya. itu juga bukan buat orang tua, namun itu buat kebaikan dirinya sendiri.