
Pov Farid
"Apa benar dengan apa yang mereka tuduhkan?" Tanyaku sambil menatap ke arah istri yang menghampiri setelah menemui Arfan dan berbisik. entah apa yang dibicarakan yang kepada mantan suaminya itu.
"Kamu yang nggak tahu apa-apa! jangan ikut-ikutan menuduhku." jawab Erni yang terus berjalan masuk ke dalam rumah, Tak sedikitpun dia memperdulikanku, membuatku mengeratkan gigi karena kesal melihat kelakuannya.
Lima bulan setelah pernikahanku bersama Erni, mantan istri dari sahabatku. Aku kira awalnya Hidupku akan senang penuh kebahagiaan. namun itu hanya angan-angan semata, karena setelah kita menikah. Erni yang dulu sangat perhatian dan sangat sayang, bahkan menurut dengan apa yang aku ucapkan. sekarang sikapnya berubah sangat drastis, dia sering menghinaku, mengolok-oloku, bahkan kalau dia tidak malu dengan undangan yang udah disebar, Mungkin dia akan membatalkan pernikahan waktu itu.
Aku yang masih merasa kesal berjalan mengikutinya masuk ke dalam rumah lanjut ke kamar. terlihat Erni sedang bertelepon dengan seseorang dengan sembunyi-sembunyi, tak seperti biasanya yang sering memamerkan kemesraan bersama para pacarnya di hadapanku, tanpa ada rasa malu sedikitpun. Tanpa mempedulikan hati suaminya.
"Kenapa lu nguping?" tanya Erni setelah memutus teleponnya, kemudian dia menatap tajam ke arahku.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Apa benar dengan apa yang dituduhkan mereka, bahwa kamu menculik gadis yang bernama Karla?" Tanyaku sambil membalas tatapannya.
"Lelaki tidak berguna! apa urusan lu! sampai harus tahu masalah gua sedalam itu." bentak Erni yang tak melepas tatapan tajamnya.
"Sudahlah Erni! kita biarkan hidup Arfan dengan tenang, biarkan dia bahagia dengan Jalannya sekarang! kita sebagai orang yang telah menghancurkan kebahagiaannya Sudah Selayaknya sekarang meminta maaf dan memberikan dia kebahagiaan." ingatku menjalankan tugas sebagai suami yang harus selalu menasehati istrinya.
"Siapa yang mengganggu? dianya aja yang masih sayang sama gua. gara-gara lelaki lemah dan tak berguna seperti kamu, pengakuan Arfan jadi terganggu. Buktinya dia masih mengejar mengejarku sampai ke sini." jawab Erni yang terlihat menyounggingkan satu sudut bibirnya.
"Ya Allah, Erni! dia sangat membenci kita, apa kamu gak melihat sorot mata mantan suamimu, yang dipenuhi dengan kebencian."
"Sejak kapan suami gua yang pengangguran ini, menjadi penganalisa anatomi tubuh. Sudahlah! mendingan sekarang kamu buatkan aku kopi! kepala gua pusing nih!" ujar Erni kemudian dia menundukkan tubuhnya di atas sofa yang ada di kamar. "kenapa masih diam? kayak orang beg0! buruan buatkan gua kopi!"
Aku yang tidak tahu harus berkata apa lagi, berdebat dengannya hanya membuang-buang waktu karena Herni tidak pernah sedikitpun mendengar apa yang aku sampaikan. Namun walau begitu aku tetap membalikkan tubuh keluar dari kamar, menuju ke dapur untuk membuat minuman sesuai pesanan Erni. Karena kalau aku tidak menurut dia akan mengomel sampai pagi bahkan bisa berlarut-larut. setelah kopi itu selesai dibuat, aku kembali ke kamar dengan membawa kopi lalu disimpan di hadapan istriku.
Setelah kopi itu tersimpan di atas meja, aku duduk di kursi sofa menyandarkan tubuhku, yang terasa tidak berguna. rasanya sangat hina sekali, ketika istriku sama sekali tidak pernah menghargaiku. Bahkan Dia menjadikanku seorang pelayan rumah tangga.
__ADS_1
"Pijitin!" Pintanya sambil menaikan kaki ke pahaku, membuat mataku terbelalak merasa direndahkan ketika diperlakukan seperti itu. "kenapa Matamu membulat, nggak mau kalau gua suruh? ingat yah Rid! Lu tuh hanya menebeng dalam kekayaan kehidupan gua. Asal lu tahu! kalau lu nggak mau dan merasa bosan Gua suruh-suruh, silakan kamu angkat kaki dari rumah gua. Lu tahu kan arah keluarnya ke mana?" Ancam Erni yang selalu begitu ketika melihat gelagatku ada penolakan atas perintahnya. dia akan selalu mengandalkan harta pemberian dari mantan suaminya, untuk merendahkanku. kalau tidak ingat dengan Rencanaku dan Vina, mungkin sudah lama aku angkat kaki dari rumah mewah yang terasa seperti neraka ini. namun Vina selalu memotivasiku agar tetap bertahan, sebelum Aku menguasai seluruh hartanya. tapi sampai sudah 5 bulan lebih aku belum bisa mendapatkan apa-apa dari Istriku yang sangat sombong. Bahkan dia mengusulkan kepada pak David agar memecatku dari kantornya. sehingga Sekarang aku tidak memiliki penghasilan Sedikitpun, aku hanya mengandalkan pemberian pemberian istriku.
"Eh beg0! malah ngelamun." Bentak Erni sambil menggerakkan kakinya, memberi isyarat agar aku harus cepat bekerja.
Dengan mengangguk aku pun mulai memijat jari lentik wanita iblis itu. "Yang bener mijatnya!" ujar Erni sambil melempar beberapa uang kertas berwarna merah ke arahku. "Kenapa matamu seperti itu menatapku, sudah ambil aja! nanti kalau pijatanmu bisa membuatku rileks, aku akan tambah lagi uangnya." lanjut Erni yang terlihat menggulung senyum merasa puas setelah merendahkanku seperti itu.
"Kenapa sekarang kamu tega seperti ini?" Tanyaku yang memberanikan diri.
"Tega? Siapa yang tega? kamu apa aku yang tega?" Ujar Erni sambil menunjuk dadanya. "Coba kamu pikir lelaki seperti apa yang menjadikan tulang rusukmu sebagai tulang punggung. Apa kamu gak sadar! bahwa selama 2 bulan terakhir, setelah kamu dipecat dari perusahaannya Pak David. Akulah Yang menafkahimu, akulah yang memberi makanmu. harusnya aku yang bilang seperti itu, kamu enak di rumah, tidur seharian. sedangkan aku harus capek banting tulang, agar dapur rumah tangga kita tetap mengepul." jawab Erni panjang lebar.
Merasa berdebat dengannya tidak akan membuatku menang, karena dia tidak akan mengerti dengan nasehat yang ku berikan. Akhirnya ku memilih terdiam sambil terus memijat-mijat kaki istriku, hingga terdengar dengkuran halus yang keluar dari mulutnya. Mungkin dia merasa nikmat ketika aku berikan servis seperti itu. setelah melihat wanita iblis itu tertidur, aku mulai merapikan uang-uang yang tadi Erni lemparkan, kalau aku masih bekerja Mungkin aku tidak akan memungut uang pemberian dari istriku.
Tring! tring! tring!
Telepon Erni berbunyi, terlihat ada nama Sudewo yang memanggil. aku yang hendak membangunkannya, dengan segera aku mengurungkan niat itu, karena kalau dia merasa terganggu, dia akan sangat marah. panggilan itu terus berbunyi hingga akhirnya terhenti, namun setelah terhenti beberapa saat telepon Erni berbunyi kembali sehingga, membuat orang yang memiliki HP itu terbangun dari tidur lelapnya. Kemudian menatap ke arah handphone, Setelah dia melihat dengan jelas Siapa yang meneleponnya, Erni pun mengangkat telepon itu, kemudian menempelkannya ke dekat telinga.
"Kenapa nggak mau makan?" tanya Erni lagi.
"Lu jadi orang beg0 amat sih! lu paksa agar dia mau makan, gua butuh orang itu sampai beberapa hari ke depan, nanti setelah tidak gua butuhkan lagi. silakan lo nikmati! mau dibunuh juga tidak apa-apa!"
" Awas aja, kalau dia sampai mampus, nanti kalian yang akan bertanggung jawab."
Tap! tap! tap!
Telepon itu terputus, wajahnya yang terlihat kesal kembali menatap ke arahku. "Kenapa lo berhenti memijat gua? elu Nggak boleh berhenti! sebelum gua suruh berhenti." tanya Erni yang matanya terlihat memerah, persis iblis iblis yang suka digambarkan dalam komik.
"Kan kamunya barusan lagi menelpon, kalau aku pijit, takut mengganggu." jawabku memberi alasan.
__ADS_1
"Ya sudah lanjut pijatnya! Tapi sekarang pijat gua di kasur. nih bayarannya!" Pinta Erni sambil melemparkan kembali uang lembaran merah ke atas lantai, kemudian tanpa memperdulikanku lagi, dia berjalan menuju ke arah kasurnya.
Aku yang sudah kalah semuanya oleh istriku. Dengannya dengan segera mengikutinya naik ke atas kasur, kemudian aku mulai memijat lagi tubuhnya. sehingga tak lama setelah itu, terdengar kembali dengkuran yang awalnya pelan namun lama-kelamaan dengukuran itu sangat keras. Bak mobil mogok di jalan Lumpur.
"Dasar kebo!" gumamku dalam hati sambil melepaskan tanganku dari tubuhnya.
Setelah menunggu beberapa saat, dan Erni tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia akan terbangun dari tidurnya. aku mulai turun dari ranjang, kemudian mematikan lampu kamar dengan menggantinya dengan lampu tidur., Lalu aku menuju ke dekat sofa untuk merapikan uang yang berserakan di lantai.
Selesai mengumpulkan uang dan menyimpannya ke dalam dompetku. akupun membaringkan tubuhku di atas sofa. karena hampir sudah sebulan lebih Erni melarangku untuk tidur di sampingnya. Dia akan sangat marah ketika aku berani melakukan hal itu.
"Gimana caranya aku bisa mendapatkan semua harta Si Erni?" Ujarku daam hati, sambil terus berpikir mencari cara agar Erni mau berbagi harta denganku. karena sekarang jangankan untuk membagi uang lebih, untuk meminta bekerja di perusahaannya pun dia menolak dengan tegas.
Pernah beberapa kali aku mau ngobrak-ngobrik kamar Erni, untuk mencari barang berharga. Namun sayang aku tidak menemukan apa-apa, hanya menemukan perhiasan yang jumlahnya sangat sedikit. sehingga aku tidak mengambilnya karena walaupun sedikit, konsekuensinya makan tetap sama. "Di mana, kamu simpan surat-surat rumah ini?" gumamku dalam hati.
Terlarut dalam khayalan khayalan yang menyesakan dada, akhirnya mataku mulai terkatup dengan sempurna, membuka lembaran-lembaran indah yang Terukir di dalam tidurku, karena hanya dengan begitulah aku bisa menikmati hidup.
Keesokan paginya, aku terus memperhatikan Erni dengan gelagat yang tidak biasa, dia sering menelepon dengan bersembunyi-sembunyi. itu bukan kebiasaannya, hatinya yang Sekeras Batu dia tidak akan malu ketika dia mengobrol dengan pria lain.
"Erni!" panggilku ketika kita melakukan sarapan bersama.
"Ada apa?" tanyanya dengan nada jutek.
"Kapan aku boleh bekerja di kantor Erni Group?" aku kembali mempertanyakan janjinya.
"Buat apa kerja? kamu mending ngurus rumah aja. dan Harusnya kamu bersyukur, dinafkahi oleh seorang istri yang sangat baik seperti gua."
"Tapi kalau di rumah terus, aku bosan!
__ADS_1
"Sudahlah kamu itu jangan banyak mau! nikmatin hidupmu! karena gua sudah mencukupi semua kebutuhanmu. ngobrol dengan lu membuat selera makan gua hilang seketika." jelas erni sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia masuk kamar.