Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 61 PENGHIANAT SEMAKIN SUKSES


__ADS_3

Pov Aisyah


Mendengar ucapan Arfan semua orang kembali terdiam, menyimak apa yang dikatakan oleh anakku.


"Cukup kamu saja yang terakhir menjadi korban, jangan biarkan korban-korban lain yang berjatuhan. kamu harus kuat, kamu harus melaporkan kejahatan orang yang hendak menodaimu, orang yang melukai tubuhmu." ujar Arfan yang menyemangati anaknya Pak Umar, membuatku semakin yakin bahwa anakku sudah berubah.


Karla hanya terdiam, memikirkan apa yang diucapkan oleh anakku. kemudian dia menatap ke arah bapaknya seolah meminta pendapat.


"Kalau bapak, Terserah kamu! namun kalau boleh memberi saran, benar apa yang dikatakan Nak Arfan, kamu tidak boleh membiarkan kejahatan itu terus berlalu, Kalaupun kita tidak bisa menghapus kejahatan, Minimal kita bisa meminimalisir orang-orang yang berbuat jahat. Dengan cara menjebloskannya ke penjara." jelas Pak Umar sambil membalas tatapan anaknya, Namun Karla belum memberikan tanggapan, dia hanya mengalihkan pandangan menatap ke arahku.


"Apa benar Ibu mau menolong saya, dan membantu saya?" tanya Karla seolah meyakinkan hatinya.


"Benar! saya akan mendampingi pegawai saya, semampu saya, sebisa saya. yang sedang terkena musibah, dengan catatan Kejadian itu benar adanya, bukan hanya untuk menaikkan popularitas, atau ingin dikasihani." jawabku tegas menantang wanita yang berada di hadapanku.


"Lantas, kenapa ibu mau menolong, kalau Ibu tidak yakin dengan kejadian yang menimpa saya." tanya wanita yang rambutnya dikuncir itu.


"Semua itu bisa dibuktikan dan dijelaskan di pengadilan, kalau kamu benar diperlakukan seperti yang kamu utarakan, Kenapa kamu tidak mau mempertanggungjawabkan perkataanmu." aku semakin menantang Gadis itu, aku ingin tahu seperti apa karakternya, dan seperti apa pula dia akan mempertahankan pendapatnya.


"Baik! saya akan membuat laporan , namun saya mohon bimbingan. karena saya kurang mengerti dalam hal seperti ini." ujar Karla terlihat sorot mata yang tajam menunjukkan keseriusannya. Dia berani mengambil keputusan besar dalam hidupnya.


"Pak Karsa! Tolong bantu dan dampingi karyawati saya" pintaku sama laki-laki yang duduk di sampingku, dia adalah pengacara kepercayaan keluargaku dari dulu.


"Baik bu!" jawab Pak Karsa kemudian dia menjalankan tugasnya, sebagai orang yang akan mendampingi memberikan payung hukum atas kejahatan yang dilakukan oleh Pak Arga supervisor cleaning service.


"Kamu harus kuat! Kamu harus menghadapi semua cobaan dengan Tegar." ujarku setelah Pak Karsa menyelesaikan tugasnya.


"Iya, terima kasih, Bu! maaf kalau saya merepotkan." ujar Karla tanpa menatap ke arahku.


"Oh iya! saya boleh minta nomor handphone kamu, nanti kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa menghubungi saya!" pintaku.


"Ada, Bu!" jawabnya sambil merogoh kantong baju tidurnya, kemudian ia mengeluarkan handphone polyponik miliknya. lalu dengan cekatan jari jemarinya memijat nomor yang aku Sebutkan, setelah nomor handphone ku tersimpan di handphonenya, dia mau miscall handphone-ku, untuk memberitahu nomornya.


"Terima kasih!" ucapku.


Setelah semua persiapan untuk membuat laporan selesai, aku pun berpamitan dan berjanji akan terus memantau perkembangan prosesnya. sedangkan Pak Karsa dan Mukti menemani Karla, yang hendak melaporkan supervisornya ke pihak yang berwajib.

__ADS_1


Aku keluar dari rumah pak Umar, diantar oleh Arfan. semua orang di sini tidak tahu, bahwa Arfan adalah anakku, mungkin hanya Pak Karsa dan Pak Andi yang mengetahui hal itu, karena mereka pernah terlibat dalam mengurus perceraian Arfan dengan istrinya.


"Bagaimana?" Tanyaku sama orang yang berada di belakang, Dia berjalan agak sedikit pincang, namun sekarang Arfan sudah tidak menggunakan tongkat.


"Apanya, yang Bagaimana Bu?"


"Ya Harusnya, kamu berterima kasih lah! kan, Ibu sudah membantu kamu, mengikuti kemauanmu. Untuk menolong anaknya Pak Umar." ucapku mencandainya.


"Harusnya ibu yang berterima kasih, karena berkat Arfan. orang yang jahat di kantor Ibu, bisa ditindak lanjut. kalau tidak ditindak lanjut Nanti perusahaan ibu yang akan tercemar, karena membiarkan karyawatinya diperlakukan asusila seperti itu. dan ingat ibu juga bisa terseret dalam kasusnya." Arfan membalikkan perkataanku, sifat keras kepalanya sudah kembali membuktikan bahwa dia sudah berubah, dia tidak terpuruk lagi. Aku semakin merasa yakin dengan membiarkan Arfan untuk tinggal lebih lama di kampung ini.


"Tapi karla memang cantik, kamu pantas betah di sini. karena kalau dibandingkan dengan si penghianat itu, jauh berbeda. hanya tinggal memolesnya sedikit, pasti perbedaannya akan semakin ketara." aku terus menggoda anakku.


"Mulai deh! nggak jelas." ujar Arfan terlihat mukanya yang memerah, Mungkin dia merasa malu. Atau mungkin tersengat matahari yang begitu panas.


Aku terus berjalan menyusuri Gang, ditemani oleh Arfan. langkah yang sangat pelan, karena orang yang  mengantarku harusnya dialah yang diantar. Namun aku menikmati momen itu, momen di mana aku bisa bercengkrama dengan anak semata wayang ku. Lama berjalan akhirnya kita sampai di depan mobil, terlihat Pak Andi yang sigap membukakan pintu mobil.


"Pak! Bu!" sapa Pak Andi sambil manggut.


"Ya sudah! kamu hati-hati di sini, nanti kalau ada apa-apa kamu bisa menghubungi Ibu. Semoga kamu bisa cepat berubah, dan membuktikan bahwa kamu adalah lelaki terbaik, dibandingkan sahabat penghianatmu itu."


Aku pun masuk ke dalam mobil, terlihat Arfan Masih Berdiri memandangiku, mengantarkanku dengan tatapannya. "Jalan, Pak!" pintaku sama Pak Andi, dan dengan cepat Pak Andi pun menginjak pedal gas, untuk segera pergi dari tempat di mana Arfan masih berdiri.


"Kita sekarang ke mana, bu?" tanya Pak Andi memecahkan heningnya suasana.


"Griya Asri!" Jawabku singkat.


"Mau apa, ke situ?" tanya Pak Andi memastikan bahwa dia tidak salah mendengar apa yang aku ucapkan.


"Saya mau bertemu klien di rumahnya, karena ada masalah pekerjaan yang ingin dia bahas." aku menjelaskan.


"Oh kirain!"


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa! Maaf Bu, kalau saya banyak bertanya." Ujarnya yang tak ingin melanjutkan pembahasan. Pak Andi terus terfokus menatap ke arah jalan, menuju arah yang aku Sebutkan.

__ADS_1


Satu jam berlalu, setelah bergelut dengan kemacetan. akhirnya mobil yang aku tumpangi sampai di depan pintu gerbang Perumahan Griya Asri, salah satu perumahan elit yang ada di kota Jakarta. terlihat rumah-rumah yang begitu megah dan begitu mewah. berjejer rapih di samping kanan kiri jalan komplek.


Sebenarnya, aku sudah menolak untuk bertemu di rumah klienku. namun dia memaksa, karena menurutnya pembahasan bisnis harus dibicarakan dengan tenang, agar mendapat solusi yang terbaik dan hasil yang melimpah.


"Bukannya ini menuju rumah?" Pak Andi menghentikan pertanyaannya terlihat dia menutup mulutnya dengan tangan kiri. seolah Dia berbicara tampak dipikir terlebih dahulu.


Aku hanya mendengus kesal, sambil menatap ke arah luar jendela. namun semakin aku membiarkan pandangan agar tidak memperhatikan rumah seorang wanita, yang membuat anakku terpuruk. semakin besar rasa penasaranku, Aku ingin tahu Bagaimana keadaan kabarnya, Apakah dia masih hidup dengan kebahagiaan hasil perampasan dari mantan suaminya. atau sudah terpuruk mendapat balasan dari perbuatan kejinya.


Akhirnya rasa penasaranku mengalahkan semuanya, aku sekilas menatap rumah besar berlantai 2, dan termegah di Kompleks. sedang didekor seperti, hendak mau melaksanakan acara besar.


"Jadi kali ya mereka?" Gumam Pak Andi.


"Maksudnya bagaimana, Pak?" Aku bertanya seolah tidak tahu apa yang dimaksud oleh Pak Andi.


"Nggak! Maaf Bu, kenapa hari ini saya nggak fokus, dan saya suka berbicara sendiri. Sekali lagi saya mohon maaf!" ucap Pak Andi yang terlihat salah tingkah.


"Bapak mau bilang, bahwa si penghianat itu sudah mau menikah, Bahkan dia sudah mempersiapkan rumahnya untuk tempat acara pernikahannya. Begitu kan maksudnya Pak?" selidikku yang mengetahui Ke mana arah pembicaraan Pak Andi.


"Iya Bu, maaf kalau saya lancang."


"Nggak apa-apa! lagian anak saya sekarang sudah berubah, menjadi lebih baik. tidak terpuruk dalam bayang-bayang semu Mantan istrinya, yang tega berkhianat dengan tidur, dengan sahabat sendiri."


"Iya, tapi kenapa ya, Bu? padahal Bu Erni sangat jahat, Kenapa kehidupannya semakin maju, dan terlihat bahagia?" tanya Pak Andi.


"Itu Semua rahasia sang pencipta. kita tidak bisa menebak dan mengatur kehidupan seseorang, Kadang orang yang baik yang selalu ditimpa musibah, kadang orang baik juga yang sering disakiti. mereka yang berbuat jahat dan menyakiti sesama manusia, mereka bisa hidup bebas Sambil tertawa, seperti yang terjadi di negeri kita ini." jelasku


"Oh begitu ya, Bu!" ujar Pak Andi sambil mengangguk-anggukan kepala. Mungkin dia sedikit paham dengan apa yang aku sampaikan. karena memang benar semakin baik seseorang, maka akan semakin banyak cobaan yang akan menimpanya. begitu juga sebaliknya Semakin jahat seseorang, maka akan semakin dimanjakan oleh Tuhan, biar Amal kesalahannya semakin banyak. Dan pembalasannya juga akan semakin berat.


Tak selang Berapa lama, akhirnya mobilku sudah terparkir di pintu gerbang rumah klien yang sudah membuat janji. dengan cepat aku pun turun dari mobil, kemudian menekan bel rumah, terlihat ada seorang ibu-ibu yang menghampiri kemudian membukakan pintu untukku.


"Ibu Aisyah?" tanya wanita itu.


"Iya, Ibu asrinya ada?" aku bertanya kepada wanita paruh baya sebagai asisten rumah tangga di rumah klienku.


"Ada, Silakan masuk! Ibu sudah menunggu di dalam." ujarnya sambil membukakan pintu dengan lebar, Kemudian aku pun masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Pak Andi yang mengendarai mobil.

__ADS_1


__ADS_2