Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 28 wanita bersama Dali


__ADS_3

"Nanti aja hari Sabtu, Kalau hari Sabtu, kan kamu kerja setengah hari," ujar Vina setelah mendapat jawabanku, yang mengajaknya untuk jalan-jalan ke mall.


"Nggak sekarang aja?" Aku memastikan.


"Nggak, sekarang mendingan kamu fokus membuat buku rekening, nanti kalau uangnya ada sisa, baru kita jalan-jalan," saran istriku yang terlihat sangat bijak.


Akhirnya sore itu, kita berdua terus berlanjut mengobrol membahas rencana-rencana indah yang akan kita lalui, hingga akhirnya waktu magrib pun tiba. dengan cepat aku mengajak Vina untuk salat berjamaah, Karena aku belum berani salat berjamaah di Masjid, rasa malu masih menghampiri.


Hari-hari berikutnya, Aku bekerja seperti biasa, namun semangatku sekarang berlipat ganda. karena aku mulai menikmati hasil pekerjaanku, aku sudah mulai bisa merasakan gaji pertama bekerja di perusahaan Mandiri Group. hingga akhirnya hari Sabtu pun tiba. selesai melaksanakan salat zuhur aku dan Pak Karto berpisah di parkiran, untuk pulang ke rumah masing-masing.


Aku memacu motor bututku, menuju ke arah pinggiran kota Jakarta, untuk menjemput Vina yang sudah siap untuk jalan-jalan. Karena setelah membuat rekening, uangku masih tersisa lumayan, karena sebenarnya membuat buku rekening Itu gratis, hingga akhirnya kita berdua, sepakat untuk makan di luar, sesekali menikmati hidup.


Sesampainya dikontrakkan, terlihat Vina membuka pintu. dengan cepat aku pun memutarkan motor untuk keluar Gang kembali.


"Nggak mandi dulu?" tanya Vina.


"Enggak lah, walaupun aku gak mandi, kan istrinya cantik ini." jawabku sambil melempar senyum ke arahnya.


"Ihhhh Apaan sih! Mandi dulu, nanti baunya kecium orang, kalau aku kan udah biasa." Jawab Vina mendengus manja.


"Nggak apa-apa, nunggu agak lama?"


"Nggak apa-apa, Daripada nanti aku malu," jawab Vina sambil masuk duluan ke dalam kontrakan.


Akhirnya aku mematikan mesin motor bututku, yang terdengar mendecit seolah kehausan. kemudian masuk ke dalam kontrakan untuk membersihkan tubuh yang terasa lengket oleh keringat.


Setelah mandi dan memakai baju ganti, kita berdua pun berangkat menuju mall terdekat dari kontrakan. di perjalanan kita berdua terus mengobrol, saling berbagi cerita diselingi dengan canda tawa yang riang. hingga akhirnya tak terasa kita pun sampai di mall berlantai tujuh.


Setelah memarkirkan motor, kita berdua berjalan menuju ke lobi, lalu masuk ke dalam mall yang terasa sejuk. karena di setiap sudut Mall dipasangi AC, hingga menyamarkan panasnya Kota Jakarta.

__ADS_1


Kita terus berjalan dari lantai satu ke lantai lain. mengelilingi dari ruangan satu ke ruangan yang lain, Entah apa yang kita cari, kita hanya menikmati dan berkhayal suatu saat kita akan membeli barang yang kita lihat.


Setelah puas berkeliling-keliling Mall, akhirnya aku dan Vina memutuskan untuk mampir di salah satu Cafe yang tersedia dilantai tujuh, cafe yang terlihat biasa-biasa saja, karena kita tahu budget kita tidak mampu untuk masuk ke cafe yang lebih mewah.


Setelah duduk, waiter pun datang menghampiri sambil membawa menu makanan. kita berdua pun mulai memilih makanan yang sekiranya mampu kita bayar, bukan makanan-makanan yang kita suka.


"Semoga saja kedepannya, ketika masuk ke sini lagi, kita tidak memilih harga yang mau kita makan, tapi kita memilih makanan yang kita sukai," ujarku setelah waiter pergi meninggalkan tempat duduk kita.


"Amiiiiin, tapi kalau menurutku. lebih baik kedepannya kita memikirkan Bagaimana cara mempunyai rumah, agar kita tidak terbebani dengan tagihannya. kalau kita tidak mengontrak, rasanya hidup kita akan tenang. Karena masalah makan kita bisa seadanya. tapi kalau kontrakan, mau tidak mau harus dibayar, karena kalau tidak bayar pasti kita akan diusir. itu bukan hal yang lucu," ujar Vina menyampaikan keinginannya.


"Ya, terima kasih ya! kamu sudah sabar menemaniku, walaupun aku selalu kekurangan."


"Sudah, apapun kekurangan kamu, aku akan terima. yang terpenting kamu harus tetap berusaha, untuk membahagiakan keluargamu!"


"Terima kasih banyak," hanya kata itu yang keluar dari Mulutku, kemudian aku memegang tangan gadis cantik yang sudah sah menjadi istriku itu.


Tak lama menunggu, akhirnya pesanan pun datang. kita berdua mulai menikmati hidangan masing-masing, sambil terus dibarengi dengan obrolan obrolan dan rencana-rencana indah tentang keluarga di masa depan.


"Eh, itu bukannya pak Dali?" ujar Vina sambil melihat ke arah orang yang sedang duduk di seberang.


Mendengar keterangan Vina, aku pun membalikkan tubuh melihat kearah orang yang disebut Dali, setelah aku perhatikan ternyata memang benar, itu adalah Dali. karena jarak kita dan jarak asisten Arfan hanya terhalang oleh sekat kaca.


"Iya benar, itu Dali! Tapi sama siapa, Kok wanita itu tidak pakai hijab?, biasanya kan bu Calista pakai hijab," ujarku mengungkapkan rasa penasaran.


"Iya benar, siapa ya?" tanya Vina penuh rasa heran.


Aku terus memperhatikan wanita yang membelakangi kita, hanya terlihat rambut yang ditutupi oleh topi putih, terlihat mereka berdua sedang asik mengobrol, karena terlukis di wajah Dali raut senyum penuh kebahagiaan.


"Apa jangan-jangan?" ucap Vina tertahan.

__ADS_1


"Sudah jangan ikut campur urusan orang lain," pintaku menahannya.


"Tapi kalau Beneran itu bukan saudaranya, atau wanita itu simpanan Pak Dali, kasihan banget ya Bu Calista....!"


"Sudah, ayo kita pergiĀ  Nanti keburu kita kepergok, takut dianya merasa nggak enak." ajakku yang bangkit sambil menarik tangan istriku. kemudian kita mendekat ke arah waiter. setelah sampai aku pun menanyakan bil pembayarannya.


Seusai membayar makanan, kita berdua pun berangkat pergi menuju ke arah parkiran, tanpa mempedulikan lagi apa yang membuat kita merasa heran. setelah sampai di parkiran motor bututku mulai menyala lalu meninggalkan Mall itu.


Sesampainya di rumah, kita berdua membersihkan tubuh, lalu duduk menikmati waktu Senja di ruang televisi berukuran 14 in.


"Jujur aku masih kepikiran tentang Yang tadi kita lihat," ujar Vina mulai membuka pembahasan.


"Iya. tapi, menurut saya pak Dali tidak mungkin berbuat tega seperti itu. dia terlihat sayang sama istrinya, Mungkin yang tadi kita lihat itu adalah saudaranya."


"Emang Pak Dali mempunyai saudara?" Tanya Vina sambil menatap ke arahku.


"Nggak tahu lah Vin, aku juga bingung."


"Kita harus bertanya sama Bu Calista, Apakah Pak Dali punya saudara....!"


"Buat apa?"


"Karena kalau beneran wanita itu adalah selingkuhannya, maka kita adalah orang yang berdosa karena menutup menutupi kejahatan Pak Dali. sedangkan seperti yang kamu tahu, Bu Calista sangat baik sama kita."


"Bagaimana caranya, aku bingung, dan aku juga nggak mau mencampuri urusan orang."


"Kita tidak bisa membalas kebaikan Bu Calista secara materiil, kita bisa membalas kebaikan bu kalista dengan cara memberi tahu bahwa suaminya tidak baik baik amat. apalagi menurut keterangan dari kamu, sekarang dia sedang mengandung anak keduanya."


"Udahlah Vin, kita urusin, urusan kita saja....! jangan sampai mengganggu urusan orang lain. kalau Bu Calista sampai tahu nanti bayi yang ada di dalam kandungannya takut terganggu," saranku mengakhiri pembicaraan.

__ADS_1


Akhirnya obrolan sore itu terus dilanjutkan dengan obrolan-obrolan yang tak penting, namun obrolan itu tidak jauh dari pembahasan Pak Dali yang terlihat berjalan dengan wanita lain.


__ADS_2