
Pov Arfan
"Enggak, Pak! Bentar saya beli dulu ke warung." jawabku yang hendak berdiri, untuk pergi membeli kebutuhan belajar.
"Tunggu sebentar!" tahan Pak Umar, Kemudian beliau bangkit Lalu naik ke lantai atas.
"Karla! Kamu punya buku kosong, sama bolpoinnya?" terdengar suara Pak Umar yang bertanya sama anaknya.
"Ada, buat apa, Pak!"
"Boleh minta buat menuliskan bacaan salat?" ujar Pak Umar.
Tak terdengar pembicaraan lagi, namun terdengar suara derap kaki yang nuruni anak tangga. terlihat Pak Umar yang datang kembali. di tangannya, terlihat beliau membawa buku dan bolpoin.
"Bisa nulis tulisan Arab?" tanya Pak Umar yang sudah duduk kembali di tempat semula.
Aku tidak menjawab, hanya gelengan kepala sebagai jawaban, aku tidak bisa menulis tulisan itu. Pak Umar pun mulai menulis di kertas itu, terlihat tulisan Arabnya sangat rapi dan bagus. kemudian di bawah tulisan Arab dia menulis tulisan Latin, lengkap dengan terjemahannya.
"Kamu hafal dulu, niat salatnya! belajar itu sedikit-sedikit! yang penting konsisten." ujar Pak Umar sambil memberikan kertas yang sudah ia tulis.
"Iya pak! terima kasih!" Balas ku sambil mengambil kertas yang diberikan oleh pak Umar.
"Coba baca dulu!"
"Usholi fardho dhuhri arba' roka'tim mustaqbilal kiblati adaal lillahi ta'ala Allahu akbar. aku berniat melaksanakan salat zuhur 4 rakaat menghadap kiblat fardhu lillahi ta'ala." aku membaca tulisan yang ada di kertas itu, meski tidak lancar, namun Pak Umar membenarkan Apa yang kubaca.
"Sekarang hapal dulu itu, besok kalau sudah hafal kita lanjutkan lagi!" Ucap pak Umar.
Aku pun terus memperhatikan tulisan yang baru saja diberikan oleh pak Umar. sambil terus membacanya berulang-ulang, sehingga aku lancar membacanya.
Setelah aku bisa membaca dengan lancar, akhirnya Pak Umar Mulai menerangkan tentang cara menggunakan bacaan niat itu. menurutnya, kata usholi itu ketika diucapkan hukumnya Sunnah. sedangkan yang wajib adalah niat salat dalam hati dibarengi dengan Takbiratul Ihram, ketika kita hendak melaksanakan salat.
Pak Umar terus mengajariku, tentang tata cara melaksanakan salat. ditemani oleh Saiful sehingga waktu tak terasa sudah menunjukkan pukul 22.00.
"Sekarang kalian pulang dulu, Besok kita sambung lagi! bapak mau istirahat dulu. Maklum sudah tua nggak kuat bergadang." seru pak Umar yang terlihat beberapa kali sudah mulai menutup mulutnya, yang terbuka lebar.
Aku dan saiful berpamitan, kemudian meninggalkan rumah pak Umar menuju kembali ke rumah Saipul.
Begitulah kegiatanku sehari-hari. pagi sampai sore aku habiskan untuk mencari rezeki, sedangkan habis magrib Aku belajar ngaji sama Karla, setelah isya belajar salat kepada Pak Umar.
__ADS_1
*****
Seminggu berlalu dari semenjak aku belajar ilmu agama kepada keluarga Pak Umar. pagi itu aku dan Saiful sudah siap dengan seragam kerja kita.
"Ful!" Sapaku sebelum kita berangkat.
"Ya ada apa Bro?" tanya Saipul yang sedang membersihkan roda gerobaknya, yang penuh oleh benang layang-layang.
"Aku sudah mulai paham tentang cara memulung sampah. Boleh nggak, aku mulung sendirian, agar aku tidak terus mengandalkan dan merepotkanmu. agar aku bisa bertanggung jawab." aku mulai menyampaikan maksudku.
"Boleh! tapi Coba saja dulu sendiri. kalau Elu masih belum bisa dan masih kesulitan, Nanti ikut lagi dengan gua! biar gua nggak ngerasa kesepian." jawab Saipul yang selalu bijak dalam menyikapi masalah.
"Terima kasih! atas kepercayaannya, Pak Bos."
"Iya sama sama! tapi kalau mulung jangan sampai keluar dari jalur yang sudah kita susuri. karena kita sebagai para pemulung, kita mempunyai attitude agar tidak mengganggu rezeki orang lain." jelas Saipul membuat pengetahuanku sedikit bertambah. pantas saja ketika kemarin ada sampah yang begitu banyak, dia tidak mengambil sampah itu, Karena bukan wilayahnya.
"Oh begitu ya! Terima kasih sudah mengingatkan."
"Sama-sama!" Ujar Saiful sambil bangkit setelah benang layangan bersih dari roda gerobaknya. kemudian dia mengambil karung bekas lalu memberikannya kepadaku.
"Pakai karung saja dulu, nanti kalau sudah punya duit, kamu beli roda. nanti aku bikinkan gerobak! agar tidak harus memikulnya." seru Saipul yang menyiapkan alat tempur untuk mengais rezeki.
Aku hanya menatap nanar ke arahnya, karena walau Saipul serba kekurangan, Dia sangat memperhatikan kebutuhan sahabatnya. "Terima kasih ya, bro! Semoga Allah membalas kebaikan kamu."
Aku mulai masuk ke tong sampah, kemudian mengumpulkan benda-benda yang bisa laku dijual. Aku Beruntung banget hari ini, karena sampah plastik yang ada di tong sampah sangat banyak. Mungkin kebiasaan orang-orang membuang sampah malam hari, sehingga pukul 10.00, aku sudah berada di rumah saiful. Karena karung yang diberikan oleh Saiful tadi pagi. sudah terisi penuh dengan sampah plastik dan kardus.
Setelah selesai melaksanakan salat zuhur berjamaah dan makan siang. aku dan Saipul kembali lagi untuk mengais rezeki. sekarang kita berlawanan arah, aku yang ke arah selatan sedangkan Saipul ke arah sebaliknya.
Azan Ashar sudah berkumandang, namun karung yang kubawa hanya baru terisi setengahnya. mungkin sampah-sampah yang tadi pagi dibuang, sudah habis dibawa oleh Saipul yang sudah datang kesini pagi-pagi. Sehingga aku hanya menemukan sedikit sampah.
Aku terus berjalan menyusuri trotoar, hendak menuju tempat sampah yang lainnya.
"Arfan!" Panggil suara seorang wanita.
Mendengar Namaku dipanggil, dengan cepat aku pun memalingkan wajah ke arah datangnya suara, terlihat seorang wanita yang baru turun dari mobil hendak menghampiriku.
"Erni!" Desisku,
Bertemu dengan wanita yang telah menghianatiku, membuat tubuhku terasa lemas tiba-tiba. Entah mengapa itu bisa terjadi. Dan kalau aku bisa memilih tidak bertemu seseorang selama aku hidup, akuakan memilih Ernilah orang yang pertama yang tidak ingin aku temui.
__ADS_1
"Ya ampun! kamu ngapain seperti ini! benar-benar kurang ajar ibu kamu itu! masa anaknya ditelantarkan seperti ini." cerocos Erni sambil memegang Bahuku.
"Lepaskan! Jangan sentuh saya!" ucapku yang tertahan, suaraku sedikit pelan. Lututku agak bergetar sedikit, tak kuat menahan amarah yang memenuhi jiwaku.
"Kamu nggak boleh seperti itu! Aku minta maaf karena aku sudah menghianatimu! kamu nggak boleh seperti ini! kalau kamu butuh sesuatu bilang sama aku! Aku masih sayang sama kamu." jelas Erni sambil tetap memegang Bahuku.
Aku menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya pelan, menguasai jiwaku agar pikiranku kembali tenang.
"Kembalilah denganku! maka kehidupanmu akan kembali seperti dulu! kehidupan yang bahagia." jelas Erni setelah tidak mendapatkan respon dari.
"Tolong lepaskan tanganmu!" ujarku sambil mundur beberapa langkah.
"Kamu jangan munafik! kamu sudah miskin seperti ini! masih saja sombong! Kamu harusnya berterima kasih, karena aku tidak melupakanmu! aku masih peduli sama kamu!"
"Maaf aku tidak akan kembali ke masa lalu yang buruk. aku sudah menemukan kehidupan yang tenang, jadi tolong jangan ganggu saya! apa kamu belum puas menyakiti hati saya,kamu tega berkhianat berselingkuh dengan sahabatku sendiri."
"Aku kan sudah minta maaf fan! ayo kita pulang ke rumahku, rumah impian kita dulu Sudah selesai dibangun. Sekarang menjadi rumah termegah yang ada di komplek kita." Ajak Erni sambil menarik tanganku, namun aku dengan cepat menghempaskannya.
"Sudah saya bilang, Jangan sentuh saya!" Ujarku dengan suara yang sedikit meninggi.
"Dasar lelaki bod0h! dikasih nikmat! malah milih yang sulit! ayo pulang!" paksa Erni sambil kembali meraih tanganku, kemudian ia menarikku dengan kasar mendekat ke arah mobilnya.
"Lepaskan! lepaskan aku!"
"Sudah kamu nurut saja! aku nggak akan ngapa-ngapain kamu! aku akan memuliakan kamu, menjadikanmu raja dalam hidupku."
"Lepaskaaaaa! lepaskaaaaan! kamu emang benar-benar tega! apa kamu belum puas menyakitiku, Apa kamu ingin menambah Lukaku, dengan kembali hidup bersamamu." ujarku sambil terus mengibas-ngebaskan tangan, namun Entah mengapa tenagaku seolah hilang, atau mungkin aku masih dalam tahap penyembuhan dari rasa traumaku, setelah 6 bulan aku mengurung diri.
"Lepaskaaaan pria bod0h itu!" bentak suara seorang wanita dari arah samping.
Dengan cepat kita berdua pun mengalihkan pandangan, terlihat ada seorang wanita yang sedang bertolak pinggang, menatap tajam ke arah kita berdua.
"Siapa lu! ganggu urusan orang aja. dia ini suamiku!" jawab Erni dengan mendengus kesal, seperti Harimau yang diganggu ketika sedang berburu.
"Lagian lu! jadi cowok lembek amat! masa tenaga lu kalah sama perempuan." ujar Karla sambil menatap sinis ke arahku, kemudian Dia mendekati kita.
"Kenapa sekarang pergaulan kamu nggak berkelas banget? kamu gabung dengan orang-orang Barbar seperti ini! kamu, semenjak tidak tinggal bersamaku, kamu berubah banget. Aku semakin kasihan sama kamu, Ayo pulanglah!" ujar Erni yang menatap ke arahku, tampa melepaskan pegangan tangannya.
"Lepaskan tanganmu!" hanya kata itu yang keluar dari mulutku, seperti orang bod0h yang tidak punya pendirian. Namun Erni tidak menuruti permintaanku, malah dia menarik kembali tubuhku mengajak masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
"Lepaskan dia! jadi cewek Kok murah banget! masa mau memperk0sa cowok?" ujar Karla sambil membantuku melepaskan genggaman tangan Erni.
"Wajarlah! gua mau ngapain aja! itu terserah gua! karena pria ini adalah suami gua!"