Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 71 KAMU SEBENARNYA SIAPA?


__ADS_3

Pov Arfan


"Apa benar, ini istri lu!" tanya Karla sambil menatap ke arahku ingin memastikan dengan kebenaran yang diucapkan oleh Erni.


Dengan cepat aku menggelengkan kepala, sebagai Jawaban dari pertanyaan wanita yang menolongku.


"Jawab! bukan gedeg! kayak orang yang gak waras!" hardik Karla.


"Bukan! Dia bukan istri saya!" jawabku dengan tergagap, kaget dengan bentakan karla.


"Nah lo! denger sendiri kan? Dengan jawaban pria bod0h ini. Jadi! kamu jangan ngaku-ngaku! Lagian lu nggak punya mata apa, Masak laki-laki ceking dan lembek seperti ini. kamu jadikan suami." ujar Karla sambil menatap ke arah Erni, namun yang membuatku kesal dia menolong sambil meledekku.


"Kalau lu! nggak tahu apa-apa! jangan ikut campur! Sana minggir!" ujar Erni sambil mendorong tubuh Karla, namun tubuh wanita aneh itu tidak bergerak sama sekali. Jangankan Erni yang hanya seorang wanita, atasannya aja yang pria dihajar sampai Babak belur.


"Oh Lu! sudah main kasar. Oke! lu jual gua beli!" jawab karla sambil memukul tangan Erni yang ada di tubuhnya.


Dugh!


"Aduh! lu tuh cewek apa cowok sih? Masa tenagamu kayak kuli bangunan." ujar Erni sambil mengusap-ngusap pergelangan tangannya setelah terkena pukulan Karla.


"Tuh lihat, gitu! kalau ada orang yang hendak merendahkanmu, jangan diam saja, lawan!" ujar Karla sambil melirik ke arahku, yang sejak dari tadi hanya terdiam menganga menyaksikan kejadian yang sangat langka.


"Awas lu! Nanti gua akan balas." ancam Erni sambil masuk ke dalam mobilnya, kemudian ia memacu mobil itu, melaju pergi meninggalkan kita berdua, yang masih melongok menatap kepergiannya.


"Terima kasih, ya!"


"Lu! kayaknya harus ke dokter kel4min deh!" ujar Karla tiba-tiba seperti itu.


"Untuk apa?" Tanyaku sambil mengerutkan dahi.


"Ya untuk cek jenisnya apa! Siapa tahu aja, nggak ada yang menyumbul." ucap Karla sambil menutup mulutnya, Mungkin dia keceplosan.


"Apa tuh, yang nyumbul?" jawabku membalas ledekannya, sambil mengedipkan mata.


"Sudah! sudah! Ayo kita pulang!" ajak Karla yang terlihat Mengalihkan pembicaraan.


"Kamu duluan saja! aku hendak memeriksa tong sampah yang satunya, lagi karena karungku belum penuh." tolakku memberi penjelasan.


"Ya sudah! ayo gua bantu!" ujar karla membuat mataku terbelalak, merasa tidak percaya dengan apa yang dia ucapkan.


"Kenapa lu bengong seperti itu, gue juga dulu suka memungut sampah, kalau bagian sip pagi. namun setelah gua pindah ke kantor, sekarang gua harus kayak orang-orang yang pulang kerja sehabis asar." jelas Karla yang berjalan mendahuluiku.


Dengan lemas aku pun mengikuti Karla di belakang, menuju tong sampah yang tadi aku Sebutkan. setelah sampai di tong sampah, terlihat ada beberapa kantong plastik yang belum dibuka. dengan semangat aku pun mulai membuka satu persatu kantong plastik itu. mengecek di dalamnya Apakah ada benda yang bisa dijual, atau tidak. dibantu oleh karla yang tak terlihat merasa jijik. dia membantuku mengumpulkan sampah plastik, sehingga karung ku sudah terisi 3/4.


"Sudah habis." ujar karla sambil menepuk-nepuk tangannya, yang terlihat kotor.


"Ya sudah!" ayo kita pulang ajakku sama Karla.

__ADS_1


"Tapi gua lapar!" jawab Karla sambil menunjuk perut.


"Ya sudah! nanti Kalau sudah sampai rumah, Kamu makan."


"Gua lagi pengen mie ayam!" ujar Karla yang mengingatkanku ke kejadian ketika aku hendak terjun dari atas jembatan, dia mencegahku dengan menawarkan semangkuk mie.


"Ya sudah! tapi aku ganti baju terlebih dahulu. Emang kamu nggak malu jalan dengan orang dengan pakaian seperti ini? terus membawa karung sampah lagi."


"Tenang! tukang mie ayamnya baik, kok! Gue sudah langganan. Awalnya gua dikasih promo mi itu. ketika aku sedang mulung. seperti elu sekarang, hingga akhirnya gua ketagihan terus dengan mie Ayam enak itu." jelas karla yang menceritakan bagaimana dia sangat suka mie ayam itu.


"Tapi nggak apa-apa, kan?"


"Gak apa-apa! kamu banyak nanya. ayo!" ujar karla sambil menarik tanganku, dengan rasa malu aku pun mengikuti tarikan tangan itu.


Lama berjalan akhirnya kita sampai di salah satu kios mie ayam, yang ada di depan toko. tempatnya yang bersih sehingga siapapun pengunjungnya akan betah. Sebelum masuk tak lupa karla mencuci tangan terlebih dahulu.


"Kalau nanti kesorean, tempatnya penuh. bahkan kita tidak akan kebagian, karena orang-orang yang pulang dari kantor biasanya mereka akan membeli mie ini terlebih dahulu. Buat makan malam di rumah." jelas Karla dengan semangat  sambil duduk di bangku yang masih kosong.


"Bang! biasa dua, yah!"


"Satu dibungkus, satu di makan di sini!" jawab suara seorang pria yang tak asing di telingaku, aku tidak bisa melihatnya karena dudukku yang membelakangi gerobak penjual.


"Nggak, Bang! di sini dua, di bungkus satu!"


"Siap, laksanakan!" jawab penjual mie ayam.


"Kenapa lu gelisah?" tanya Karla yang menatap ke arahku.


"Enggak, penjual mie ayam di sini nggak melihat itu. siapapun yang datang pasti akan dilayani dengan begitu hormat, layaknya seorang sahaya yang melayani rajanya. meski orang lain tidak jadi datang, tapi penjual ini tidak mempermasalahkannya. selain mi ayamnya yang enak, itulah yang menjadi alasanku sangat berlangganan di sini." jelas Karla panjang kali lebar.


"Ooooooh, begitu!" jawabku yang tak tahu harus memberikan tanggapan apa lagi.


"Tumben! istrinya nggak ikut jualan Bang?" tanya Karla yang terlihat tidak Canggung mengobrol dengan penjual mie ayam.


"Kasihan! hamilnya sudah besar, doakan ya semoga persalinannya lancar."


"Amin! pasti saya doakan." ujar Karla sambil mengangkat ibu jarinya.


Tak selang berapa lama, akhirnya pesanan kita berdua pun datang. penjual mie ayam itu menyimpan mie di hadapan kita berdua.


"Terima kasih!" ucapku sambil melirik ke arah penjual mie ayam.


"Pak Arfan!"


"Dali!" desis ku setelah mengetahui penjual mie ayam itu adalah mantan asisten kepercayaanku. Bahkan dia adalah orang yang selalu ada menyemangatiku, ketika aku terpuruk.


"Ya Allah! kenapa Bapak sekarang berubah seperti ini?" Ujar Dali sambil memelukku membuat karla menatap heran.

__ADS_1


"Kotor Dal! jangan seperti ini." tolakku sambil melepaskan pelukan asistenku.


"Kalian berdua sudah saling mengenal?" Tanya Karla yang sejak dari tadi menonton.


"Kenal, kenal banget malahan! beliau adalah."


"Ehem!" Dehemku memberikan isyarat, agar Dali tidak melanjutkan pembicaraannya.


"Adalah apa?" tanya karla Yang penasaran dengan kelanjutan ucapan Dali.


"Adalah, adalahhhhhh." jawab Dali matanya menatap ke atas seolah mencari jawaban yang pas.


"Teman! teman waktu SMA." aku memberikan jawaban dengan cepat.


"Kok! tadi panggilnya bapak?" Karla terus menyelidiki seolah tidak puas dengan jawaban yang aku berikan.


"Ya sudah saya pamit dulu! Silakan dinikmati makanannya." ujar Dali Mungkin dia sudah paham dengan apa yang sedang aku jalankan sekarang, kemudian dia pergi menyiapkan pesanan Karla untuk dibawa pulang.


"Jawab! Kamu sebenarnya siapa, sih? tadi ada cewek cantik yang mengaku istrimu, sekarang lu kenal dengan penjual mie ayam, yang memanggil Lu Bapak?" tanya karla sambil menatap ke arahku.


Aku mulai mengaduk mie ayamku, kemudian menambahkan saus ke dalamnya. tanpa memperdulikan perkataan Karla.


"Eh, budeg! kenapa lu diam?" Ujar Karla dengan intonasi suara yang sedikit meninggi.


"Kata Pak Umar. ketika kita lagi makan, kita tidak boleh berbicara." Jawabku yang cuek.


"Oke! gua akan cari tahu sendiri, suatu saat pasti gua akan tahu kebenarannya." Balas Karla yang tak memperdulikan lagi rasa penasarannya. Dia mulai mengaduk mie yang ada di dalam mangkoknya.


"Kamu membungkus mie ayam buat siapa?" Tanyaku di sela-sela suapan.


"Buat bapak." jawab Karla. pipinya yang memerah karena kepedasan membuatnya semakin terlihat imut.


"Eh, Bang! tolong bungkus kan satu lagi, tapi dipisah ya! Sama bungkusan wanita ini." pintaku sama Dali yang sudah duduk memperhatikan kita berdua.


"Baik Pak!" jawab Dali dengan cepat Ia pun mengambil mie yang ada di etalase gerobaknya, kemudian memasukkan ke dalam panci yang berisi air panas. dilanjutkan dengan merebus sawi untuk melengkapi mie ayam itu.


"Buat siapa?" Tanya Carla.


"Saipul." jawabku singkat.


Tak ada pembicaraan lagi Setelah itu, kita berdua terfokus dengan mangkok masing-masing. dengan dibarengi suara ******* pedas. yang sitimbulkan oleh sambal mie ayam buatan Dali.


Selesai menghabiskan mie ayam, kita berdua pun meminum air teh hangat yang ada di dalam mugh. membuat kita semakin merasa nikmat, karena sangat cocok ketika rasa pedas dipadukan dengan minuman teh hangat.


Aku dan Karla pun bangkit. kemudian kita menghampiri Dali, yang mulai sibuk karena pelanggan mulai berdatangan.


"Totalnya jadi berapa Bang?" tanya Karla.

__ADS_1


"Karena kalian pelangganku yang pertama datang hari ini. dan sebagai rasa syukur atas pertemuanku dengan sahabat lama, jadi kalian gak usah bayar." jawab Dali.


"Nggak boleh seperti itu, Bang! Abang kan jualan, nanti rugi loh!" ucap Karla yang sudah mengeluarkan dompet.


__ADS_2