
Pov Erni
Setelah aku selesai membersihkan tubuhku, aku pun menggunakan handuk kimono, untuk menyerap cairan yang menempel di tubuhku. kemudian keluar dari kamar mandi, terlihat Farid yang sedang merapikan dokumen-dokumen penting milikku.
"Ketemu?" aku bertanya sambil mendekati.
"Sudah! besok tinggal aku serahkan sama orang kepercayaanku. untuk mengurus semuanya!" jelas Farid sambil memasukkan berkas-berkas yang tidak ia butuhkan.
"Terima kasih ya!" ucapku Sambil memgeringkan Rambutku dengan handuk, membersihkan dari air yang masih menempel.
"Jangan gitu dong! nanti aku pengen."
"Kenapa?" tanyaku sambil menatap heran, ke arah pria berbadan atletis yang terduduk di hadapanku.
"Iya kamu mengeringkan rambutnya jangan sambil miring, seperti itu. aku nggak kuat, tau! kalau melihat leher jenjang kamu." ungkap Farid sambil terus menatap ke arahku, seperti harimau yang sedang mengintai mangsanya.
"Wah! kamu bisa saja, kayak baru pertama kali melihatku seperti sekarang." ungkap ku sambil tersenyum manja, kemudian aku duduk menatap cermin, untuk melakukan ritual wajib setiap perempuan, Setelah membersihkan tubuhnya.
Namun ketika aku mau memulai membasahi wajahku, dengan sprei agar make up yang kau kenakan bisa menempel, dan terlihat merata. tiba-tiba tubuhku dipeluk dari belakang, kemudian satu c1uman hangat mendarat di tengkuku, membuatku menggelinjang geli, menikmati sentuhan yang diberikan oleh orang yang berada di belakangku.
"Sudahlah! jangan gangguuuuuuu! Tunggu aku selesaikan rutinitasku." Tolaku sambil mendorong wajah Farid agar menjauh dari tubuhku.
Namun dia tidak menggubris penolakan itu, dia terus ******* setiap inci tengkuku, sehingga lambat laun aku pun mulai menikmati, setiap sentuhan bibir di area pundak sampai punggung.
"Sudahlah! Tunggu aku selesai memakai make up terlebih dahulu." ucapku dengan suara Parau, menahan gejolak yang sudah terpancing.
Aku yang sedang memejamkan mata, Tiba-tiba tubuhku diangkat, kemudian dilemparkan ke atas kasur, yang begitu empuk. mataku sedikit terbuka, menatap pria yang sedang membuka semua pakaiannya, terlihat benda kesayanganku yang berdiri siap menghunusku.
Setelah semua pakaian itu terbuka, dengan cepat Farid pun naik ke atas tubuhku, kemudian menarik kasar untuk membuka kimono handuk yang menutup tubuhku.
Dengan rakus, dia ******* dan meremas bagian sensitif yang berada di Dadaku, seperti anak kecil yang sedang meminta jatah sama orang tuanya.
__ADS_1
Farid terus memanjakanku, dengan setiap sentuhannya. sehingga membuatku terus memejamkan mata, tak dapat kulukiskan kenikmatan yang diberikan oleh pria yang sedang berada di atas tubuhku, sehingga akhirnya aku pun mengeluarkan cairan kenikmatanku.
"Kamu mau ngapain?" Tanyaku setelah mendapat kenikmatan pertama, karena Farid menyuruhku untuk menungg1ng. Dan dia melakukan hal yang tak biasa terhadap tubuhku. Karena biasanya dia akan mengeluarkan cairannya dengan cara biasa.
Terasa cairan kewanitaanku dioles-oles ke lubang yang berada di belakang, membuatku merasa heran kenapa dia melakukan hal seperti itu. Ketika aku lagi berpikir, tanpa persetujuan terlebih dahulu tiba-tiba.
Awwwwwwwwww!!!!!!
Lubang belakangku ditusuk dengan benda tumpul miliknya. sehingga membuatku merasa sakit, tak menyangka dia akan melakukan seperti itu. Aku memukul-mukul paha Farid agar dia menghentikan niatnya, namun dia semakin brutal memperlakukanku. Berusaha untuk menembus lubang itu.
"Tenang Sayang, nanti juga kamu akan menikmati!" bisik Farid di belakang telingaku, kemudian tangannya masuk ke dalam lubang wanitaku, sehingga kedua lubang milikku Tak ada yang tersisa.
Awalnya aku yang merasa kesakitan, namun aneh karena lama kelamaan, aku seolah menikmati rasa sakit itu, membiarkan Farid melakukan hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
******
Keesokan paginya. Seperti biasa aku sudah bersiap untuk menjalani rutinitasku, sebagai karyawan di salah satu kantor swasta. lubang belakangku masih terasa sakit, setelah pekerjaan tadi malam bersama Farid. Aku agak kesal dengan perbuatannya, yang menyimpang seperti itu. namun Entah mengapa aku juga menginginkannya kembali. Menginginkan rasa sakit bercampur nikmat yang baru pertama aku rasakan.
"Sudah! tadi, mau membangunkan kamu, tapi aku nggak tega, karena melihat tidur kamu yang sangat nyenyak." jelasku sambil mengkancingkan baju kemejaku.
"Maaf ya! aku bangunnya telat." ucapnya sambil membangkitkan tubuhnya dari atas ranjang kemudian dia duduk memandangiku.
"Nggak apa-apa! kamu kan lagi sakit, oh iya kapan kamu mau masuk kerja?"
"Mungkin nanti senin, Lagian ini kan hari Sabtu. tanggung kalau masuk sekarang. Terus hari ini, aku mau menemui orang kepercayaanku, yang hendak mengurus kepemilikan perusahaan Erni Group." jelas Farid.
"Ya sudah! Kamu tidur lagi, aku berangkat dulu ya! Dan semoga semua urusan kamu dilancarkan." Ucapku sambil mengambil tas, kemudian menc1um bibir parit agak lama, Namun dengan cepat aku melepaskan c1uman itu, agar tidak berlanjut seperti semalam.
Aku berjalan menuju parkiran hotel, di mana mobilku terparkir di sana. setelah semua dirasa tidak ada yang tertinggal, aku pun menjalankan mobilku menuju kantor, di mana Aku bekerja.
Pukul 07.45. aku sudah sampai di tempat kerjaku, terlihat hanya Baru beberapa orang saja yang baru datang. mengingat waktu kerja dimulai pukul 08.00, jadi mereka datang biasanya mepet dengan waktu, padahal ketika datang seperti aku sekarang, bisa punya waktu luang untuk mempelajari pekerjaan apa yang akan kita kerjakan hari ini.
__ADS_1
"Widiiiiiiiiiih! sudah datang saja." Sapa Rini yang terlihat baru memasuki ruangan kerja.
"Iya dong! karyawan teladan!" jawabku ambil mengkerlingkan mata ke arahnya.
"Biasa aja, keles! menatapnya jangan sinis seperti itu." ucap Rini sambil duduk di samping.
"Hahaha! nggak juga, lagian aku dan kamu jabatannya beda jauh, Mana mungkin aku Merasa tersaingi."
"Iya deh percaya! Oh iya! tadi di perjalanan menuju tempat kerja, Kebetulan aku melihat brownies cake, kesukaan kamu. jadi aku putuskan untuk membelinya, sebagai hadiah persahabatan kita." ungkap Rini sambil menyerahkan tote bag yang ia pegang.
"Bentar-bentar! Kesambet apa lo? Kok tumben, bisa sebaik ini?" Tanyaku sambil menatap tajam ke arahnya, tidak langsung menerima dengan semua kebaikan Rekan kerjaku.
"Nggak apa-apa! Aku kan udah lama nggak ngasih hadiah sama kamu." ucap Rini sambil mengeluarkan senyum termanisnya, menyembunyikan niat busuk yang aku belum ketahui.
"Ya sudah, terima kasih! tapi nggak diracun kan?"
"Enggaklah, sepicik itukah pemikiranmu?"
"Ya takut aja, kamu iri!" jawabku sambil mengambil tote bag yang baru diberikan, kemudian menaruh di atas meja kerjaku.
"Oh iya! gimana kondisi suamimu, sudah sehat apa belum?"
"Nah, ketahuan kan! jadi lu, baik seperti ini. karena lu pengen gua merayu suami gua, kan?" aku yang sudah mulai mengerti Ke mana arah niatnya Rekan kerjaku ini.
"Tolonglah! please! anakku sebentar lagi masuk SD. jadi aku butuh biaya tambahan, please." ucap Rini sambil merapatkan kedua tangannya di depan dada, dia memelas meminta pertolonganku.
"Iya, iya! tadi malam, aku sudah bicarakan semuanya dengan suamiku, namun dia belum mengambil keputusan, karena menurutnya, harus bicarakan terlebih dahulu dengan para staf-stafnya." ucapku berbohong, jangankan untuk berbicara dengan suamiku, bertemu saja pun aku belum pernah.
"Baik banget, kamu! terima kasih, yaaaaaa!" ucap Rini sambil memelukku, kemudian ia bangkit menuju tempat kerjanya.
Setelah kepergian Rini, aku mulai menatap arah Komputerku, membaca data-data proyek yang sedang aku kerjakan. harusnya pekerjaan Ini adalah pekerjaanku dengan Farid, namun menginggat Farid yang tidak bisa masuk karena sakit, jadi aku handle semuanya, karena aku sangat menguasai bidang ini, jadi ada atau tidak adanya Farid itu, tidak ngaruh dengan pekerjaan yang sedang aku tangani.
__ADS_1