Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 96 pengakuan Saiful


__ADS_3

Pov Arfan


"Maksud kamu apa ful? Kalau Ngomong yang jelas! jangan main tuduh sembarangan." aku bertanya dengan sedikit nada meninggi, karena tidak terima disebut penghianat.


"Halah pura-pura beg0 segala. Elu suka kan sama Karla? kalau lo suka! lo Jangan pernah mainin perasaannya. karena gua!" jelas Saipul sambil menunjuk dadanya. "gua adalah laki-laki yang selalu berharap suatu saat Karla bisa membuka hatinya buat gua, kalau sampai itu terjadi maka gua nggak akan membiarkan dia menangis, seperti apa yang elu lakukan." jelas Saipul membuatku sedikit mulai paham dengan apa yang terjadi, Mungkin dia Terbakar Cemburu Buta, cemburu yang belum tentu benar keadaannya.


"Karla nangis bukan gara-gara itu! tapi ada satu hal yang tidak bisa aku jelaskan. Karena itu adalah kebodohanku. dan yang perlu kamu ketahui, Aku sama sekali tidak menaruh hati sama dia!" jawabku menjelaskan tentang perasaanku sekarang.


"Halah jangan munafik lu! gua tahu, mata lu nggak bisa berbohong!" fitnah Saiful.


"Makanya kalau bertindak itu, dipikir terlebih dahulu. cari tahu terlebih dahulu agar kamu nggak seperti anak kecil. jujur aku sudah menganggap kalian sebagai saudara, jadi nggak mungkin Aku memiliki perasaan lebih terhadap kalian, apalagi terhadap kamu. Bahkan kalau benar apa yang kamu ucapkan, Akulah orang yang pertama yang akan merasa bahagia atas menyatunya kalian."


"Apa benar dengan apa yang kamu ucapkan?" tanya Saipul seolah ingin mendapat keyakinan.


"Insya Allah, benar! kalau kamu mau, nanti aku bantu meyakinkan Karla, bahwa kamu benar-benar sangat mencintainya."


"Kamu nggak bohong?" Tanya Saiful yang sudah sedikit melemah, mungkin dia mulai sadar.


"Aku nggak mungkin membohongi saudara yang baiknya seperti kamu!" jelasku terus menenangkannya, agar dia tidak semakin tertekan.


"Awas aja! kalau kamu bohong! aku paling benci dengan namanya kebohongan." ancam Saiful.


"Iya aku tahu! nanti aku coba ya! namun untuk keberhasilannya aku tidak bisa menjamin,  karena yang mempunyai hati wanita itu, bukan aku. melainkan penciptanya!"


"Iya, iya gua paham! terima kasih ya bro! Dan Ingat jangan lo ulangi lagi menyakiti Karla. Apalagi sampai menangis seperti tadi sore."


"Sama-sama! nanti Lain kali kalau ada masalah tolong bicarakan terlebih dahulu, jangan mengambil keputusan sepihak!" ujarku memberi nasehat, karena hanya itulah yang bisa kulakukan walaupun sebenarnya aku sendiri lebih membutuhkan nasihat itu.


"Baik! tapi aku tadi benar-benar kesal, karena melihat wanita yang sangat aku cintai, aku sayangi, menangis gara-gara disakiti oleh orang lain! aku tidak terima! Karla diperlakukan seperti itu." jelas Saipul


"Yah, aku paham! aku minta maaf, kalau aku salah!" Jawabku mengingatkan ke kejadian beberapa tahun yang lalu, di mana aku akan selalu membela erni siapapun yang merendahkannya, Bahkan itu Ibu kandungku.


"Iya! aku juga minta maaf karena aku telah menghajarmu." pinta Saipul sambil mengulurkan tangan Tanda berbaikan. Untung saja dia tidak mengulurkan kelingking.


"Nggak apa-apa! namanya juga manusia, pasti akan ada perselisihan paham, yang terpenting menurut Pak Umar kita bisa cepat mengatasi kesalahpahaman itu. jangan sampai berlarut-larut! apalagi sampai bermusuhan lebih dari 3 hari."


"Kayaknya lo, sudah pandai berceramah, nanti hari Jumat bisa naik mimbar tuh!" balas Saipul yang terlihat wajahnya sudah kembali bercahaya, tak sekuusut seperti ketika dia baru datang.


"Iya nanti, jangan lupa jumatan! Agar jemaahku terlihat banyak." jawabku sambil tersenyum.

__ADS_1


Akhirnya malam itu, satu masalah telah aku selesaikan, tinggal masalah dengan mantan istriku. aku harus bergerak cepat, agar dia tidak bertindak terlalu jauh mengusik kehidupan Karla. mungkin sudah saatnya aku mengambil tindakan tegas, untuk memperingatkan wanita penghianat itu.


****


Keesokan paginya, seperti biasa aku dan Karla berangkat bekerja bersama. namun yang berbeda pagi itu, dia tak menyebalkan seperti pagi-pagi sebelumnya, yang selalu mengerjaiku, menjahiliku. sekarang dia lebih memilih terdiam, bagaikan boneka hidup, yang berjalan. bahkan beberapa kali aku tegur namun dia tak menjawab. membuatku sedikit merasa bingung, harus bagaimana menyampaikan perasaan Saipul.


"Karla!" panggilku untuk kesekian kalinya.


"Apaan sih, lu manggil-manggil gua! lagian ngapain lu masih ngikutin Gua kerja, bukannya elu orang kaya?" Ketus Karla tampa menoleh ke arahku.


"Aku mau ngomong sesuatu?"


"Ngomong apa, mau ngomong kalau lu adalah anak pemilik perusahaan Atri Group, atau mau ngomong bahwa wanita yang kemarin menculikku adalah istrimu!"


"Bukan! tapi ada hal yang lebih penting."


"Sepenting apa, selain mantan istrimu?"


"Bisa nggak sih jangan bahas itu terus, aku malu!" pintaku memohon.


"Emang punya?"


"Punya apa?" tanyaku sambil mengerutkan kening, tidak mengerti dengan apa yang ditanyakan oleh gadis aneh, yang masih berjalan di sampingku.


Mendapat mendengar ucapannya yang kembali ke mode semula, membuat sudut bibirku sedikit tertarik, entah perasaan apa yang sedang kurasakan sekarang, Aku pun tidak mengerti.


"Ngapain lu senyum-senyum! kayak kambing mau kawin aja." kata Karla membiaskan senyum yang sudah ku ukir indah di Bibirku.


"Aku mau ngomong serius sama kamu!"


"Ya ngomong-ngomong aja! kan kuping gua ngikut di kepala. Jadi lo nggak usah takut, kalau gua nggak denger."


"tapi tolong dengerin ya! karena ini adalah berita bahagia buat kamu."


"Emang pernah ada berita bahagia. paling-paling berita itu, kalau nggak hoax, politik. kalau nggak politik, kriminal. Kalau nggak kriminal, korupsi."


Mendengar jawabannya seperti itu, membuatku menggeleng-gelengkan kepala. entah harus menggunakan bahasa apa, ketika berbicara dengan wanita seunik Karla, agar obrolan kita bisa terkonek dengan otaknya yang diragukan keberadaannya.


"Ngapain gedeg-gedeg, kayak orang yang abnormal."

__ADS_1


"Tau, ah!" Desisku dengan sedikit kesal.


Melihatku yang kesal seketika Dia pun menghentikan langkah, lalu menatap ke arahku. sehingga membuat tatapan kita beradu, membuat darahku mendesir panas. pupil matanya yang berwarna coklat dengan titik hitam sempurna di tengahnya, menyimbolkan semua keindahan yang dimiliki wanita ini.


"Mau ngomong apa?" tanyanya tanpa melepaskan pandangan menandakan keseriusan, namun membuatku sedikit salah tingkah.


"Apa kamu suka sama Saipul?" aku bertanya dengan nada pelan, Entah mengapa hatiku tidak mengizinkan untuk bertanya hal demikian.


"Suka! dia orangnya sangat bekerja keras dan pantang menyerah. namun yang paling aku benci Dari Saiful adalah sikapnya yang temperamental, yang tidak bisa mengontrol emosi. Kenapa lu bertanya seperti itu?"


"Nggak, nggak apa-apa!" lidahku menjadi kelu, ketika aku hendak mengucapkan apa yang sudah aku janjikan kepada Saiful.


"Dasar aneh!" ujarnya sambil membalikkan tubuh, kemudian dia berjalan lagi. membuat aku semakin bingung dengan apa yang harus aku lakukan, di satu sisi aku tidak rela menyampaikan kalau Saipul sangat mencintainya. di satu sisi aku tidak mau label penghianat menempel di jiwaku.


"Sebenarnya Saipul sangat menyukaimu!" ujarku memberanikan diri menyampaikan yang seharusnya.


"Sudah tahu!" jawab Karla singkat.


"Kalau udah tahu kenapa kamu nggak membalas cintanya. Dia sangat berharap sekali cintanya bisa terbalas olehmu. Bahkan dia Sampai memukuliku, karena dia tidak mau kalau orang yang dia sangat cintai bersedih."


"Sudah tahu"


"Terus kenapaaaaa?" Tanyaku sambil mengusap wajah dengan kasar.


"Apanya yang kenapa?"


"Ya Kenapa kamu gak membalas cinta Saiful?"


"Kamu lihat ada gedung Atri group, yang berdiri tegak di sana!" ujar Karla memberikan teka-teki, sambil menunjuk kantor tempat kita bekerja.


"Iya aku lihat"


"Bagus gak?"


"Sangat bagus, desainnya sangat futuristik!"


"Semua orang bisa masuk ke sana, apa nggak?"


"Bisa aja! Namun mungkin ada beberapa bagian ruangan yang tidak boleh dikunjungi oleh orang, Selain staf kantor itu."

__ADS_1


"Sama sepertiku. walaupun aku bisa dilihat oleh siapapun, dikagumi oleh siapapun, bahkan bisa dimiliki. tapi ada ruangan khusus yang tidak boleh dimiliki oleh orang lain, hanya khusus untuk satu orang, yang mampu memiliki ruangan itu."


"Puitis!" Desisku.


__ADS_2