
Pov Karla
Melihat wanita yang mengaku istri Arfan. untuk yang kedua kalinya membuatku bertanya-tanya, dengan asal usul pria yang berjalan di hadapanku. melihat wanita itu sangat cantik dan berkelas, Mana mungkin Arfan orang biasa-biasa saja. Apalagi ditambah dengan kegigihan wanita untuk mengejar pria, yang selama ini aku sebut pria lembek atau bod0h.
"Padahal kalau gua sih! nggak apa-apa! lu ngaku aja sebagai suaminya. lumayan kan selain dapat wanita yang cantik, lu juga bisa punya mobil, tanpa harus bekerja keras." ujar Mukti menimpali perkataan Arfan.
"Takut Bro! Bagaimana kalau lambat laun dia sadar, bahwa gua bukan orang yang sebenarnya dia cari. bisa-bisa gua dibunuh! paling tidak dimasukkan ke penjara. karena gua sudah menipunya." jawab Arfan
"Palingan lu! Beneran kali, suaminya! yang kabur dari tanggung jawab." timpalku yang semakin merasa penasaran.
"Iya kali fan! mending kamu akui saja, sih! nggak apa-apa Kalau kamu tidak suka sama orangnya, minimal kamu suka sama hartanya. jadi kamu nggak harus repot-repot bangun pagi-pagi, hanya untuk mencari uang recehan." Tambah Mukti menyahuti perkataanku.
"Sudahlah! Jangan bahas itu ngeri! kita mau makan di mana nih?" ujar Arfan yang mengalihkan pembicaraan, seolah menghindar dari pembahasan wanita yang mengaku istrinya.
"Di warteg aja, nggak apa-apa kan! nanti kalau sudah gajian, kita ke ayam goreng pakai tepung berlogo aki-aki." jawab Mukti menjelaskan.
"Dimana aja boleh! kalau aku sih yes, aja! yang terpenting itu adalah gratisan."
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya kita sampai di salah satu Warteg langganan para karyawan. Aku jarang makan di sini, karena kalau siang, aku lebih suka makan jajanan. seperti bakso, cilok, atau mi Ayam.
Sesampainya di warteg, Arfan dan Mukti pun memesan pesanannya. aku yang masih dilanda kebingungan tentang sosok Arfan, selera makanku menjadi hilang. sehingga aku hanya memesan mie rebus.
"Jadi totalnya berapa Bu!" tanya Mukti sama pemilik warteg. setelah Kami bertiga, menghabiskan makanan masing-masing.
"Apa aja?"
"Saya sama ayam, goreng perkedel, dan Goreng bakwan." Jelas Mukti.
"Rp20.000!"
"Saya ayam goreng! sama ati ampela, tambah kerupuk!" Arfan pun menyebutkan makanan yang ia makan.
"Rp23.000!"
"Ditambah mie rebus satu!"
"Total semuanya menjadi Rp60.000!"
Setelah mengetahui pembayaran yang harus ia bayar, Muukti pun mengeluarkan dompet yang sudah kucel. kemudian dia membayar makanan kita bertiga.
"Terima kasih ya, Bro! Semoga Allah membalas semua kebaikan kamu. dan hubungan kamu sama pacar, langgeng sampai maut memisahkan." doa Arfan setelah kita keluar dari warteg.
"Amin! Terima kasih doanya."
"Ngomong-ngomong! kok hari ini aku nggak ngeliat Ratna?" tanya Arfan menanyakan wanita yang sekarang sudah sah menjadi pacar Mukti, karena semenjak aku mendapatkan informasi bahwa Mukti akan menerima wanita yang ia cintai, dengan segala kekurangannya. aku langsung menyampaikan Pengakuan itu kepada Ratna. dengan gerak cepat Ratna mendekati kembali Mukti, laki-laki yang selalu mengejar cintanya.
__ADS_1
"Tadi sudah izin! katanya dia tidak enak badan." jawab Mukti.
"Wah! calon suami siaga nih!" ledek Arfan.
"Iya dong, harus! pokoknya kalian nanti kalau gua menikah, Gua ingin melihat kalian untuk jadi sapu jagat di acara pernikahan gua!"
"Apaan itu?"
"Itu loh! yang suka ngambil-ngambil piring bekas orang makan." jawab Mukti sambil tersenyum.
"Ah sial4n lu! Ya sudah aku pamit duluan ya! kalau aku ke kantor lagi, aku takut Bertemu kembali dengan wanita gil4 itu.
"Ya sudah! lu pulangnya hati-hati!" ujar Mukti.
Aku yang sejak dari tadi terdiam, hanya menyimak. rasanya malas saja, ketika menimpali obrolan mereka. karena aku masih merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku, kemarin aku tidak menghiraukannya. mungkin karena aku percaya apa yang dikatakan Arfan. wanita yang menemuinya itu, adalah wanita yang salah orang. tapi sekarang aku ragu dengan pengakuan itu, masa orang yang salah bisa melakukan kesalahan yang kedua kalinya? Bahkan sampai tau tempat kerjanya.
"Kenapa diam terus! sakit gigi ya?" Tanya Arfan mencandaiku.
"Ya sudah muk! ayo kita ke kantor lagi, sebentar lagi waktu istirahat selesai." ajakku tanpa memperdulikan orang yang masih aku ragukan.
"yo! Aku duluan ya Fan!" terdengar Mukti yang berpamitan.
kita pun berjalan menuju ke kantor, untuk melanjutkan pekerjaan kita setelah beristirahat. Sesampainya di parkiran, Ternyata wanita yang mengaku istri Arfan itu sudah tidak terlihat. Mungkin dia sudah pergi karena satpam sudah mengusirnya.
"Ya pasti kenal lah, kan setiap hari dia keluar masuk melewati satpam itu."
"Pak Sandi kan orangnya tertutup, Muk! enggak bisa diajak bercanda seperti kita."
"Nggak tahu lah! ngapain ngurusin orang! urusan aku aja belum selesai. Aku ingin cepat-cepat pulang, Ingin cepat bertemu dengan calon istriku." jawab Mukti yang tak sedikitpun merasa curiga tentang keanehan Arfan. mungkin hatinya yang sedang berbunga, sehingga dia tidak memperhatikan masalah itu.
Pukul 16.00. akhirnya waktu pulang pun tiba, aku segera merapikan berkas pekerjaan untuk dilanjutkan Keesokan paginya. kemudian mengambil Tasku lalu menggendongnya. setelah dirasa aman Tak Ada Yang Tertinggal, aku mengunci ruangan kerjaku, takut ada orang yang iseng yang memasukinya.
Setelah Mengunci pintu, Aku berjalan menuju ke arah ruangan tempat istirahat Para karyawan cleaning service. ingin mengajak Mukti untuk pulang berang, meski hanya sampai gerbang. namun menurut Rekan kerjaku, mukti mungkin sudah pulang duluan. Karena sebelum waktu pulang tiba, dia sudah besiap-siap.
"Yah pulang sendiri, deh!" gumamku dalam hati, kemudian berjalan menuju keluar gedung, untuk pulang ke rumah.
Aku terus berjalan menyusuri trotoar yang sering aku lewati Ketika pulang dan pergi dari kantor. trotoar yang lumayan agak lebar, sehingga aku bisa leluasa berjalan di atasnya, sambil menikmati waktu senja yang masih terasa panas.
Tin! tin! tin!
Tiba-tiba terdengar suara klakson yang ditekan beberapa kali. namun aku mengacuhkannya, karena itu sudah menjadi kebiasaan umum ketika kita berada di jalan raya.
Tin! tin! tin! tin!
Klakson itu dibunyikan kembali, dengan penasaran aku membalikkan pandanganku ke arah datangnya suara. ternyata mobil itu adalah mobil wanita cantik yang tadi menemui Arfan.
__ADS_1
Melihat aku berhenti, wanita itu dengan segera turun dari mobilnya, kemudian dia menghampiriku.
"Tunggu sebentar! aku mau ngobrol sam kamu." ujar wanita itu setelah berdiri di hadapanku.
"Mau ngomong apa? kita nggak ada urusan. kita hanya bertemu dua kali, itu pun tidak ada obrolan yang pantas di antara kita." tolakku yang merasa tidak penting.
"Kenalkan! Aku Erni, aku mau ngobrol sebentar! tentang pria yang selalu ada bersamamu."
"Arfan!"
"Iya Arfan! suamiku.
"Mau ngobrol apa!"
"Kita ngobrol jangan di sini! Kita cari tempat yang nyaman. agar kita bisa leluasa untuk membicarakannya." ujar wanita bernama Erni.
"Maaf saya buru-buru!"
"Aku yakin, kamu nggak tahu kan dia itu sebenarnya siapa."
"Dia adalah sahabat saya!"
"Hahaha. kamu hanya baru kenal beberapa hari saja sudah terlihat sombong seperti itu. kamu nggak tahu kan, bahwa tempat kerja kamu itu adalah milik ibunya."
"Haaaah!" desisku tertahan, merasa kaget dengan apa yang disampaikan oleh wanita itu.
"Kaget kan lu. Ya sudah ayo ikut gua! kita ngobrol sebentar saja. tapi jangan di sini! kayak orang yang nggak berkelas, kalau ngobrol di tengah jalan."
"Maaf bu! saya buru-buru."
"Kalau kamu takut, kamu diapa-apain. ya sudah, kita ngobrol di sana!" ujarnya sambil menunjuk salah satu Cafe.
"Maaf Bu! Lain kali saja."
"Apa kamu takut, aku nggak bayar minumanmu. tenang Aku akan bayar semuanya! apalagi kalau kita bisa bekerja sama. aku akan memberikan bonus yang akan membuatmu menjadi orang kaya raya!"
"Sekali lagi! saya mohon maaf. saya buru-buru! dan saya tidak tertarik.
"Ya sudah! kalau dengan cara lembut kamu tidak mau, saya akan paksa kamu! padahal Apa susahnya, kamu tinggal berjalan ke cafe, lalu Tunggu aku di sana!" ujar wanita itu sambil melirik ke arah mobil, yang terparkir dibelakangnya. terlihat ada beberapa orang berseragam hitam, yang menampakan diri.
Melihat seperti itu membuatku, sedikit merasa ngeri, dengan kekuatan wanita yang sedang berdiri di hadapanku.
"Ibu mau ngobrol apa!"
"Nanti aku jelaskan di Cafe!"
__ADS_1