
Pov Karla
Tadi ketika mendengar bapak akan pergi meninggalkanku, tiba-tiba rasa sesak menyelimuti dada, hingga air mataku tak terbendung lagi. aku tidak bisa membayangkan ketika hidup tanpa kehadirannya bapak.
"Karlaaaaaaa! Bapak boleh masuk?" terdengar suara bapak untuk kesekian kalinya meminta izin.
"Bentar pak!" Jawabku sambil mengusap cairan yang membasahi pipi, kemudian berdiri lalu berjalan perlahan menuju arah pintu.
Ceklek!
Pintu kamarku terbuka, terlihat Bapak dan laki-laki yang akan menculikku sudah berdiri menatap penuh tanya ke arahku.
"Ada apa?" Tanyaku menyembunyikan kesedihan.
"Harusnya kita yang bertanya, Kamu kenapa menangis?" tanya Arfan yang terlihat khawatir.
"Siapa yang menangis, lu jangan mengada-ngada! lagian ngapain lu naik ke lantai atas segala?"
"Nggak apa-apa, aku ke sini karena mendengar suara tangisan."
"Kamu jangan kurang ajar! masuk ke rumah orang tanpa izin." Omelku tak mau kalah.
"Sudah! sudah! kalian jangan berantem terus, Bapak mau ngomong serius sama kamu Nak!" pisah Bapak sambil menatap ke arahku
"Mau ngomong apa?"
"Kita ngobrol di bawah aja! biar enak." ajak bapak sambil membalikkan tubuh menyuruh Arfan agar segera turun kembali ke lantai bawah.
Aku yang sebenarnya sudah mendengar apa yang mereka bicarakan, awalnya merasa Senang ketika ada seorang laki-laki yang secara gentle mengakui bahwa dia meminangku secara langsung kepada bapak. namun ketika tahu kalau aku menikah dengan laki-laki itu, maka bapak akan tinggal sendiri. aku nggak mau kalau hal itu terjadi, aku lebih memilih tidak menikah daripada harus kehilangan bapak. namun Walau begitu langkahku tetap mengikuti mereka turun, kemudian duduk kembali di tempat masing-masing.
"Ada apa?" Tanyaku setelah melihat mereka duduk dengan tenang.
"Ada yang mau disampaikan oleh nak Arfan, semoga saja ini menjadi berita bahagia buat kamu, buat kita semua." jelas bapak.
"Mau ngomong apa lu?" Tanyaku sambil menatap tajam ke arah pria yang duduk di samping bapak.
"Nah, beginilah sikap anak saya, nak Arfan harap paham!" ujar bapak yang membuatku tidak suka, sambil melirik ke arah Arfan.
Namun yang disuruh berbicara dia hanya tertunduk dan terdiam, seolah Sedang berpikir dengan apa yang hendak ia sampaikan.
"Nak Arfan!" panggil bapak sambil menepuk lututnya.
"Iya Pak! Ada apa?" Jawabnya yang terkaget.
"Katanya tadi mau ngomong langsung sama Karla, silakan Mumpung ada orangnya di depan kamu."
__ADS_1
"Aku.... akuuu emmmmm, aku!" Arfan seperti orang gagu yang tidak bisa berbicara, aku dan Bapak hanya menunggu sambil menatap ke arahnya. menunggu Apa yang hendak ia sampaikan.
"Jadi begini Kar! kita sudah lama saling mengenal, walaupun perkenalan kita berbeda dengan perkenalan orang lain. izinkan kali ini saya hendak menyampaikan sesuatu yang sudah lama saya pendam." Arfan terdiam menarik nafas terlebih dahulu. "Saya mau melamar kamu, Apa kamu bersedia menerima lamaran saya?"
"Nggak! nggak mau! Masa kamu lupa? gua sudah beberapa kali bilang, Gua nggak mau menikah dengan orang yang labil yang tidak punya pendirian, jangankan untuk mempertahankan keluarganya, untuk mempertahankan dirinya tetap hidup, lu nggak bisa." jawabku tanpa berpikir walaupun bukan itu alasannya.
Mendengar jawabanku seperti itu, semua orang yang berada di lantai bawah Terdiam. hanya suara Deru air yang mengalir di aliran sungai cimandiri, yang terdengar dari arah belakang rumah.
"Aku bisa berubah, apa kamu akan menghukumku dengan kesalahan yang dulu pernah aku perbuat?"
"Sekali orang melakukan kesalahan, maka orang itu akan terus mengulanginya. aku takut kalau aku memiliki suami serapuh itu. karena hakikatnya wanita membutuhkan seorang pria buat sandaran keluh kesahnya, kalau suaminya seperti itu, Aku mau bersandar sama siapa?"
Ruangan pun kembali hening, mengantar lamunan masing-masing.
"Beri aku kesempatan, untuk membuktikan Aku tidak akan mengulangi hal bodoh lagi." Pinta Arfan Setelah lama terdiam.
"Apapun yang kamu bicarakan, Aku tidak mau menerimamu menjadi suamiku."
Mendengar jawabanku yang tetap Teguh dengan pendirian, hanya tarikan nafas yang dilakukan oleh Arfan. "Ya sudah, kalau kemauanmu seperti itu, Terima kasih sudah mau mendengarkan apa yang aku sampaikan." Ujarnya sambil menundukkan pandangan Mungkin dia menyembunyikan kekecewaan.
"Ya sudah sana buruan pulang! Ini udah malam." usirku yang sebenarnya tidak rela.
"Karla kamu nggak boleh seperti itu!"
"Kamu nggak boleh mengusir Nak Arfan, Kalau kamu tidak suka, ya sudah, Lagian Arfan tidak memaksamu."
"Nggak papa Pak Umar! emang bener kok ini sudah menunjukkan pukul 23.00. saya pamit dulu." ujar pria yang baru saja hendak melamarku, kemudian dia mengulurkan tangan sambil mengulum senyum menatap ke arahku. membuat hatiku sedikit terenyuh, Entah mengapa itu terjadi, Padahal baru saja Aku menolaknya. namun perasaan itu aku sembunyikan di dalam dengusanku yang terlihat mengesalkan."
"Maafin anak bapak ya!"
"Nggak apa-apa Pak! lagian Menurut bapak kita hanya wajib berusaha, bukan wajib untuk berhasil. sekali lagi terima kasih Maaf merepotkan."
"Ya sudah kalau seperti itu, pulangnya hati-hati!" jawab bapak.
Setelah berpamitan Arfan pun bangkit, kemudian dia berjalan menuju arah pintu keluar dari rumahku, tak lupa Sebelum pergi dia pun menutup pintunya kembali.
"Kenapa kamu tolak nak Arfan, Apa kamu nggak suka sama dia?" tanya Bapak setelah memastikan orang yang dibicarakan Tak Terlihat Lagi
"Aku nggak suka Pak!" jawabku sambil menundukkan pandangan tak terasa butiran bening pun jatuh kembali. Sekuat apapun wanita dia akan merasa rapuh ketika bercerita dengan orang yang mereka percaya.
"Kenapa bilang tidak suka, tapi hatimu berkata lain."
"Bingung Pak! Karla bingung." Aduku sama bapakĀ karena hanya dengan beliaulah aku bisa berbicara dari hati ke hati.
"Kenapa bingung?" tanya Bapak sambil menggeserkan tempat duduknya, kemudian menggeserkan dengan lembut rambut yang menghalangi keningku.
__ADS_1
Hanya air mata yang keluar membasahi Pipi, sebagai ungkapan dari hatiku yang terdalam, kemudian aku memeluk Bapak dengan begitu erat menangis di pangkuannya.
"Kenapa?" tanya Bapak yang semakin terlihat bingung namun beliau terus mengusap-ngusap punggungku.
Aku tetap tidak bisa menjawab, aku terus tersendu menyampaikan seluruh isi hatiku dengan air mata. Aku tidak mau kehilangan bapak, aku tidak mau kalau hidup jauh dari bapak.
"Maafkan karla Pak!" pintaku di sela-sela tangis.
"Maaf untuk apa, perasaan bapak. kamu enggak berbuat salah apa-apa." tanya Bapak sambil membangkitkan tubuhku dari pangkuannya, matanya yang sudah dikelilingi dengan kerutan memenuhi area wajahku, seolah beliau ingin tahu apa yang sedang aku rasakan sekarang.
"Maaf, karena anakmu hanya bisa merepotkan bapak, hanya bisa menyusahkan bapak. sampai saat ini, Karla belum bisa membalas semua kebaikan yang telah Bapak korbankan, dan mungkin aku tidak akan pernah sanggup untuk membalas kebaikan yang begitu luar biasa." jawabku yang masih terisak."
"Kamu ngomong apa sih? kamu nggak boleh ngomong seperti itu!" ujar Bapak sambil menyeka cairan bening yang mengalir di pipi dengan jari kasarnya.
"Maafin Karla! maafin!" aku yang tak bisa membalas perkataannya, Aku hanya bisa kembali memeluk.
"Kalau kamu nggak suka sama nak Arfan, bapak nggak akan memaksa. lagian arfannya juga kan nggak memaksa kamu, jadi kamu nggak usah nangis seperti ini."
"Aku takut pak! karla takut."
"Takut kenapa, sepengetahuan Bapak, Arfan sangat baik jadi dia tidak akan berbuat apa-apa, walaupun kamu menolaknya.
"Aku nggak takut Arfan Pak, tapi." suaraku tertahan di tenggorokan tidak kuat meneruskan ucapan.
"Terus kamu takut apa, apa kamu takut sama mantan istrinya?"
"Bukan juga!" Jawabku sambil menggelengkan kepala.
"Terus Takut kenapa?" tanya Bapak yang terlihat mengerutkan kening, seolah lagi menebak apa yang sedang aku pikirkan.
"Aku takut, kalau bapak pergi meninggalkanku, aku takut kalau aku hidup sendirian."
Mendengar jawabanku seperti itu, bapak pun kembali melepaskan pelukannya, lalu mendudukkanku kemudian menatapku dengan lekat.
"Hahaha, kirain bapak kamu kenapa, tadi bapak sudah sangat khawatir, Takut putri kesayangan Bapak ini dijahati oleh orang lain.
"Kenapa ketawa Pak! karla serius!"
"Emang Bapak mau ke mana, Bapak kan masih ada di sini, masih ada di sampingmu."
"Tapi kan pak kalau aku menikah, aku harus ikut dengan suamiku, seperti yang sudah bapak ajarkan. bahwa seorang wanita harus mengikuti apa yang diperintahkan oleh suaminya."
"Terus!"
"Aku nggak mau menikah, Aku gak mau tinggal jauh dari bapak, aku takut!"
__ADS_1