
Pov Farid
Aku terduduk di ruang makan, sambil terus memasukkan sarapanku yang belum kuhabiskan. tak ada yang menemani Karena istriku sudah pergi ke kamar. Tak lama Erni pun keluar dengan membawa tas kerjanya. aku hanya mengantar istriku dengan tatapan. selesai sarapan pagi aku pun masuk kembali ke kamar, tidak ada pekerjaan membuat aktivitasku hanya berguling-guling di atas kasur, hingga akhirnya tak terasa sore pun tiba.
Tring! tring! tring!
Telepon yang berada di sampingku berbunyi, dengan cepat aku mengambil telepon itu lalu melihat orang yang memanggil. Setelah Ku perhatikan ternyata Vinalah yang menelepon.
"Halo ada Apa Vin?" Tanyaku yang semakin akrab sama sepupu Istriku itu, semenjak kejadian ketika dia memerogoki Erni sedang memperkosa Ari.
"Gua lihat istri lu hari ini ada yang aneh, dia sering menelepon seseorang namun entah siapa orang itu? tapi dia beberapa kali menyebut gadis kampung." lapor Vina yang menjadi spyku di kantor Erni.
"Gadis kampung, apa jangan-jangan!" ucapku terhenti seketika mengingat kejadian tadi malam, karena beberapa kali Erni menyebut gadis kampung itu.
"Jangan-jangan apa?" tanya Vina yang terdengar penasaran.
"Tadi malam Arfan sama asistennya dia datang ke rumah, menuduh Erni menculik temannya yang bernama Karla. Aku curiga Erni melakukan hal itu, Walaupun dia tidak mengakui."
"Coba kamu selidiki! siapa tahu aja kamu bisa menebus semua kesalahan kamu terhadap sahabatmu itu." Ujar Vina memberi saran.
"Baik, terima kasih atas informasinya."
"Oh iya, Bagaimana perkembangan rencana kita tentang mengambil harta istrimu?"
"Entah bagaimana Vin! soalnya semakin ke sini Si Erni Semakin menjadi, Bahkan aku saja yang meminta pekerjaan di kantornya dia menolakku mentah-mentah!" jawabku sambil membuang nafas.
"Terus bagaimana dengan surat tanah rumah itu?"
"Aku sudah mencari ke semua tempat penyimpanan-penyimpanan barang-barang Erni, namun aku tidak menemukan apa-apa! Yang ada paling hanya emas beberapa gram, itu tidak akan sebanding dengan risiko yang kita tanggung."
"Coba kamu cari lagi sertifikat rumahnya. kalau ketemu Lumayan bisa di sekolahkan ke bank!"
"Ya sudah, doakan saja agar sertifikat rumah ini cepat ketemu."
Akhirnya telepon itu terputus, aku menyimpan teleponku kembali di atas nkas sambil mengecasnya. seharian terus baring membuat Badanku terasa gerah, Aku menuju kamar mandi untuk membersihkan badan terlebih dahulu. selesai membersihkan badan aku duduk di teras depan sambil menatap ke halaman yang dihiasi bunga-bunga dan kolam ikan.
Di teras meja, ada Secangkir Kopi yang dibuatkan oleh Bi Inem dan sebungkus rokok yang tinggal setengah. aku terus menatap kolam ikan itu, sambil berpikir bagaimana cara mengetahui barang-barang berharga milik Erni.
Tin! tin! tin!
__ADS_1
Terdengar suara klakson mobil yang ditekan dari luar gerbang rumahku. dengan sigap deri yang bekerja sebagai satpam rumah Erni, membukakan pintu agak lebar lalu masuklah mobil Erni menuju carport.
Setelah mobilnya terparkir dengan sempurna, istriku pun keluar lalu berjalan ke arahku, namun Sesampainya di teras terdengar suara handphonenya berbunyi.
"Masih belum mau makan?" tanya Erni sama orang yang ada di telepon, kemudian dia terdiam mendengarkan penjelasan orang yang meneleponnya.
"Kalau nggak mau makan, Biarkan saja dia mampus. Lagian hidupnya juga tidak berguna." terdengar kembali suara Erni membuatku mengerutkan dahi, memikirkan Siapa yang sedang dibicarakannya. kemudian dia memutus telepon itu, dengan raut wajah yang terlihat kesal.
"Sudah pulang Sayang?" Tanyaku yang ramah, berharap dia memberitahu di mana dia menyimpan sertifikat rumahnya.
"Lu nggak punya mata apa! pakai nanya segala. Kalau gua udah di sini berarti gua udah pulang." jawabnya sambil menatap tajam ke arahku, kemudian dia masuk ke dalam rumah namun langkahnya terhenti, lalu kembali menemuiku di teras. "Lu jadi suami gak ada gunanya banget sih! tiap hari makan, ngopi, ngerokok. Kamu Harus berpikir bagaimana cara membahagiakan istrimu." seloroh Erni tiba-tiba.
"Mau kerja Bagaimana? kan, aku sudah sering bilang sama kamu. agar kamu memberikan pekerjaan di kantor. namun apa yang aku dapatkan? kamu hanya menolak. bahkan kamu merendahkanku untuk tetap diam di rumah, kalau begitu biarkan kamu yang menafkahiku." jawabku membalikkan perkataannya.
"Sejak kapan istri diwajibkan menafkahi suami?"
"Sudahlah! kalau kamu tidak bisa memberikan pertolongan. mending sekarang kamu mandi!" jawabku yang tak mau memperpanjang masalah.
"Pusing.........! pusing! Punya suami nggak bisa diandalkan." gerutu Erni sambil menghentakkan kakinya, kemudian dia meneruskan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah.
Melihat kejadian seperti itu Aku hanya menarik nafas memenuhi mulut dengan asap, lalu menyemburkannya ke atas, berharap rasa pening di kepala ikut terbang bersama asap itu.
Waktu malam, Erni masih terlihat sering menelepon dengan seseorang. namun yang membuat aku semakin curiga karena kalau dia menelepon dengan pacarnya, dia tidak sesering itu. dia hanya akan menelpon orang yang menjadi pemuasnya ketika dia butuh.
Setelah Erni berangkat kerja kira-kira pukul 10.00 pagi, teleponku berbunyi terlihat Vina yang meneleponku lagi.
"Ada apa Vin?" Tanyaku Setelah telepon itu terhubung.
"Istri Kamu ke mana? Kok, sekarang dia nggak masuk kerja?" tanya Vina yang membuatku mengerutkan dahi.
"Tadi pagi dia sudah berangkat ke kantor, masa! nggak ada?" aku balik bertanya.
Ke mana ya? tumben-tumbenan dia telat seperti ini."
"Mungkin menemui selingkuhannya." ujarku yang sudah paham dengan sifat istriku..
"Mungkin juga! atau mungkin dia menemui orang misterius yang sering meneleponnya."
"Yah Nggak tahu lah! aku nggak mau ngurusin lagi orang seperti itu." jawabku yang sudah menyerah.
__ADS_1
"Kamu jangan seperti itu! Kamu harus semangat! sekarang daripada kamu diam mendingan kamu cari sertifikat rumah itu! sisir kembali setiap tempat yang bisa dijadikan penyimpanan sertifikat." jelas Vina.
"Yah akan aku coba." Jawabku merasa lemas. setelah itu telepon pun aku putus, kemudian aku menatap ke arah lemari besar yang berada di kamar itu.
Aku terus menatap lemari milik Erni, membayangkan ada sertifikat tanah di dalamnya. kalau sertifikat itu sudah berada di tanganku, maka aku tidak akan membuang waktu lama, aku akan langsung menemui bank untuk menyekolahkan sertifikat itu.
Lama menatap akhirnya rasa penasaranku tumbuh kembali. aku bangkit dari tempat dudukku, lalu mendekati lemari besar itu. perlahan aku mulai membuka lemari dengan kunci cadangan Yang sudah aku duplikat. aku mengambil setumpuk berkas yang ada di lemari Erni, kemudian aku mulai membuka satu persatu dan melihat isinya. berharap ada surat rumah yang terselip. sampai adzan zuhur berkumandang, aku tidak menemukan apapun. merasa lelah aku merapikan kembali berkas itu ke tempat semula, kemudian mengunci lemarinya kembali.
Sore hari. Ernipun pulang dari kantor. dia pun langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah itu dia mengganti bajunya dengan gaun pesta.
"Mau ke mana?" tanyaku sambil menatap heran ke arah Istriku yang sedang duduk di meja rias.
"Menghadiri pengumuman tender. Lu yang tidak berguna mana mungkin Ngerti tentang urusan orang yang punya karir seperti gua!" jawabnya seperti biasa merendahkanku.
"Kok tumben nggak ngajak?" ujarku yang masih bertanya dengan lembut.
"Mau ngapain ngajak-ngajak orang yang nggak ngerti bisnis. lu di rumah aja! nanti bulan depan gua akan hentikan si Inem, biar lu punya pekerjaan."
"Maksudnya?"
"Ya elu urus rumah! mulai dari ngepel, nyapu, menyiapkan makanan, sarapan dan yang lain-lainnya. nanti gua bayar lu dua kali lipat dari gaji yang lu dapatkan dari perusahaan Pak David."
Mendengar penuturannya tanganku terasa gatal hendak menampar mulutnya, namun itu hanya angan-angan Semata, hanya khayalan orang lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya aku menarik nafas beberapa kali, agar bisa mengendalikan emosiku yang memenuhi relung kepala. karena kalau aku sampai menampar Erni, maka Rencanaku akan berantakan.
Setelah selesai merias diri, dia pun bangkit dari tempat duduknya. kemudian keluar dari kamar diikuti olehku. sebelum keluar dari pintu rumah teleponnya berbunyi.
"Halah merepotkan aja sih Lu! Percuma gua bayar lu mahal-mahal! kalau nggak bisa menghandle masalah seperti ini." bentak Erni sama orang yang meneleponnya.
"Ya sudah! Bentar gua ke situ." jawab Erni sambil memutus telepon itu. kemudian tanpa memperdulikanku dia melanjutkan niatnya untuk keluar dari rumah.
Aku yang merasa penasaran dengan apa yang sedang dia lakukan, dengan cepat memesan ojek online.
Setelah mobil Erni keluar dari gerbang dengan cepat aku pun mengikutinya keluar dari rumah Erni. terlihat Abang ojol sudah menunggu sambil celingukkan mencari orang yang mengordernya.
"Cempaka Putih Pak, tanya ojol itu?"
"Bisa nggak kalau aplikasinya dimatiin! Tolong Abang ikuti mobil yang baru saja keluar."
"Aduh maaf Pak! nggak bisa."
__ADS_1
Mendapat penolakan seperti itu, dengan cepat aku mengeluarkan uang berwarna merah sebanyak 3 lembar, kemudian menyerahkan ke pria ojol itu.
"Ah nggak usah gitu Pak!" tolaknya sambil meng-cancel orderanku. kemudian dia memberikan helm. tak ada pembicaraan lagi, dengan agak sedikit mengebut dia mengikuti mobil Erni dari belakang. Yang kebetulan belum jauh keluar dari Komplek.