Dua Penghianat

Dua Penghianat
bag 4. ditinggalkan


__ADS_3

Pov Ira


"Nggak ada apa-apa Pak, mungkin tadi teman saya mimpi buruk," jawab Kak Dali menjelaskan.


"Kirain ada apa. Oh iya, maaf kalian siapa, Kok ada di komplek kami?" tanya pria itu mulai mengintrogasi.


"Saya temennya Pak Farid, saya ke sini mau mengambil mobil saya yang dipinjam olehnya. namun orangnya seperti tidak ada di rumah, Soalnya lampu yang berada di teras tidak dimatikan. Apa Bapak tahu ke mana perginya Pak Farid?" tanya Kak Dali sambil melepaskan pelukannya.


"Oh...! mau ke Pak Farid, kurang tahu pak soalnya sejak kemarin rumah itu terlihat sangat sepi. Biasanya kalau sore mereka mengobrol di depan sambil menikmati senja, mungkin sedang berkunjung ke saudaranya kali," jawab bapak itu menjelaskan.


"Oh ya sudah kalau begitu, Boleh saya minta tolong Pak?"


"Tolong bagaimana?"


"Saya mau mengambil mobil saya, soalnya mau digunakan. ini kartu identitas saya, dan ini sesuai dengan nama pemilik mobil, nanti saya Tunjukkan stnk-nya!"


"Oh begitu, ya sudah Kebetulan saya ketua RT di sini, kalau boleh tahu Bapak dari mana?"


"Asal saya dari Kramat Jati, Saya bekerja di perusahaan Mandiri Group, sama dengan perusahaan di mana tempat Pak Farid bekerja."


Akhirnya mereka berdua pun mengobrol, orang-orang yang tadi datang karena kaget mendengar teriakanku mulai membubarkan diri pulang ke rumah masing-masing. sedang asik mengobrol, akhirnya ojek yang mengantarkan kunci mobilnya pun datang, dengan cepat Kak Dali dan Pak RT menghampiri mobil yang terparkir di depan gerbang rumah Pak Farid. setelah membuka kuncinya Kak Dali pun membuka dashboard mobil, kemudian menunjukkan STNK kepada Pak RT, sesuai dengan nama yang tertera dengan kartu tanda penduduk yang dimiliki Asisten Manager perusahaan Mandiri Group.


Setelah merasa yakin, pak RT pun meminta foto Kak Dali, untuk bukti kalau nanti ke depannya ada sesuatu yang tidak diinginkan. Kak Dali pun menurut karena mungkin dia sangat mengerti dengan tujuan Pak RT melakukan hal itu.


Setelah semuanya dirasa beres, Kak Dali memberikan fotokopi ktp-nya agar Ketika nanti Pak Farid menanyakan Pak RT bisa menjelaskan dengan mudah, kemudian kita berdua pun masuk ke dalam mobil, setelah berpamitan mobil yang dikemudikan oleh kak Dali perlahan mulai pergi meninggalkan rumah Pak Farid.


"Bagaimana Jadi nggak makannya?" Tanyaku memecah kekakuan di antara kita berdua.


"Jadi... mau makan di mana, tapi jangan lama-lama ya! soalnya takut Pak Arfan keburu menelepon."

__ADS_1


"Bagaimana kalau di Resto Japanese, soalnya aku sudah lama tidak makan sushi."


"Boleh Kamu pilih saja tempatnya, di manapun kamu mau, pasti aku akan mengantarnya," jawab Kak Dali seperti pria yang sangat pengertian, membuat kedua sudut bibirku terangkat.


Tring! tring! tring!


Tiba-tiba handphone yang ada di kantongnya berbunyi, membuat senyumku terbiasa seketika. karena aku yakin orang yang menelepon itu adalah orang yang selalu mengganggu kebahagiaanku.


"Iya ada apa sayang?" tanya Kak Dali persis dengan prasangkaanku, membuat gigiku mengancing dengan sempurna.


Tak terdengar balasan orang yang meneleponnya, namun terlihat Kak Dali mengiyakan permintaan wanita pengganggu itu. setelah telepon terputus, Kak Dali melirik ke arahku dengan sudut matanya.


"Jangan bilang kalau kita nggak jadi makan di resto Japanese!"


"Maafkan saya Ira, soalnya istri saya pengen lotek yang jadi langganannya, kebetulan waktunya masih lama dengan waktu yang ditentukan oleh Pak Arfan, kalau kamu mau makan di resto Japanese, kamu makan sendiri saja!" jawabnya sesuai dengan yang aku prediksi.


"Enggak...! kalau begitu mendingan Kakak turunkan saja aku di sini, biar aku pulang ke kantor saja!" Jawabku dengan Ketus berharap dia akan memberikan respon yang romantis.


"Kamu naik online aja! nih uangnya, sekalian buat makan di resto Japanese," lanjutnya sambil mengeluarkan beberapa uang berwarna merah, kemudian dia menyerahkan kepadaku.


Tak Terasa butiran bening mulai jatuh membasahi pipi, tanpa menggubris pemberiannya aku pun keluar, lalu membantingkan pintu mobilnya. Aku kira dia akan turun dan meminta maaf, seperti kejadian yang ada di sinetron yang sering aku tonton, tapi dia hanya manggut kemudian pergi berlalu.


"Kurang ajar..! bukannya dibujuk, malah ditinggalkan!" gumamku sambil menatap mobil milik Kak Dali yang sudah melaju, namun terlihat lampu sein sebelah kirinya mulai Menyala kembali, lalu berhenti membuat kedua sudah bibirku mulai terangkat kembali.


"Nyesel kan ninggalin gua...!" gumamku dalam hati.


Tring! tring! tring!


Teleponku berbunyi, dengan cepat aku mengangkatnya. "ada apa lagi Kak, Apa kamu belum puas menurunkanku di jalan?" Tanyaku dengan suara manja agar pria itu merasa iba.

__ADS_1


"Aku sudah transfer uang ke rekening kamu buat naik ojek online dan buat makan sushi di resto Japanese, nanti lain waktu kita akan Atur jadwal kembali, agar kita bisa makan bersama!" jawab Kak dari tanpa menunggu jawabanku, dia langsung memutus handphonenya, lalu mobil yang tadi berhenti, terlihat melaju kembali meninggalkanku tanpa perasaan.


Aku hanya menghentakkan kakiku ke tanah, sambil memegang erat handphoneku, merasa kesal dengan perjuangan dan pengorbanan yang aku berikan, tapi apa balasannya hanya diturunkan di tengah jalan.


Tring!


Suara notifikasi pesan di handphoneku berbunyi, aku m pun melihat handphone itu, ternyata uang yang dikirim oleh kak Dali sudah masuk. "aku tidak butuh uangmu...! yang aku butuhkan hanya dirimu. dasar tidak punya perasaan...!" ujarku sambil mengalihkan layar handphone kemudian memesan mobil online.


Aku terus tersinari oleh sinar matahari, yang begitu membuat wajahku sedikit memerah karena keluar keringat. hatiku sangat hancur, karena harus ditinggalkan di tengah jalan seperti ini. rasanya aku tidak memiliki harga diri sebagai seorang perempuan. "Awas...! akan gua balas semua perbuatanmu Kak!" ancamku dalam hati.


Aku mulai mencari halte terdekat, untuk menghindari paparan sinar UltraViolet yang begitu terik. dari arah jalan terlihat mobil yang beralur lalang, sesekali terdengar suara klakson yang berbunyi, ketika ada mobil tiba-tiba berhenti di hadapannya. lama menunggu akhirnya mobil yang aku pesan pun datang, setelah menanyakan dan memastikan bahwa aku yang memesannya, aku pun dipersilahkan masuk lalu dibawanya ke kantor Mandiri Group.


Setelah sampai di kantor kebetulan waktu makan siang baru saja dimulai. sehingga aku memutuskan ikut makan bersama para karyawan yang lain, di sana aku bertemu dengan pak Karto teman kantor Pak Farid.


"Pak Farid sakit Bu, kok dia nggak masuk?" tanya Pak Karto sambil menatap ke arahku.


"Nggak tahu lah...! Emangnya saya bapaknya, pakai nanya-nanya segala!" jawabku dengan Ketus perbawaan hati yang sedang tidak karuan.


Tanpa menghiraukan orang yang bertanya, aku mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi, lalu membawanya ke meja paling pojok kemudian makan dengan lahap. berharap dengan adanya makanan yang masuk, rasa kecewaku akan sirna.


Selesai makan, aku mulai melanjutkan pekerjaanku. Meski terasa malas, namun aku tetap bertanggung jawab bekerja sebagaimana mestinya. kira-kira pukul 04.00 waktu kerja pun sudah selesai. Dengan bergegas aku merapikan tempat kerjaku kemudian memesan ojek online untuk mengantarkanku pulang ke rumah, karena rumahku yang berada di dalam gang, sehingga tidak ada mobil yang bisa mengantar sampai ke rumahku.


Dari arah barat terlihat senja yang menguning, membuat gedung-gedung tinggi, jalanan-jalanan, mobil-mobil yang tersinari oleh senja itu berubah warna menjadi kuning keemasan. Setibanya aku di rumah dengan cepat mengambil handuk, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan terlebih dahulu.


Selesai mandi, terlihat ibu yang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. namun meski begitu, tatapannya terlihat kosong sehingga dengan cepat aku menghampirinya.


"Ibu sudah makan?" Tanyaku sambil duduk di samping orang yang sudah merawatku dari kecil.


"Sudah....! kalau kamu mau makan, sana Ibu sudah masak buat kamu," jawabnya tanpa melepaskan pandangan.

__ADS_1


"Nanti saja Bu...! Ira belum lapar," jawabku sambil menyandarkan tubuh ke arahnya, kemudian memeluk wanita tua itu dengan begitu erat.


Dengan lembut tangan yang sudah keriput itu mulai membelai Rambutku, yang masih agak basah. tidak ada pembicaraan yang keluar dari bibirnya, semenjak Kak Ari meninggal Ibu terlihat lebih banyak berdiam diri seperti sudah kehilangan semangat untuk hidup.


__ADS_2