Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 60 pergi kebogor


__ADS_3

Pov Farid


Setelah mengemasi tempat kerjaku, dan berpamitan sama rekan-rekan. aku keluar kembali dari kantor pemasaran menuju ke parkiran, Sesampainya di sana terlihat Ira sudah menungguku. bersama beberapa staf yang lain.


"Sudah siap?" sapa Ira


"Sudah Bu...! namun saya yang belum mengetahui Berapa hari kita berada di sana, soalnya saya tidak membawa perlengkapan untuk menginap," Tanyaku sambil menatap atasanku


"Paling besok juga kita sudah bisa pulang, tapi kalau pekerjaan kita lancar, kita diperbolehkan pulang hari ini. biarkan pada staf yang lain yang melanjutkan," jawab Ira.


"Berarti belum pasti ya Bu?"


"Belum, kenapa emang?"


"Ya kalau belum pasti, saya meminta izin sebelum berangkat ke Bogor mampir ke rumah saya terlebih dahulu, untuk mengambil perlengkapan buat menginap."


"Oh ya sudah, ayo berangkat! agar kita tidak membuang waktu. Soalnya kita ditunggu Jam 02.00 di Bogor," jelas Ira sambil masuk ke dalam mobil diikuti oleh beberapa staf yang lain.


"Siapa yang mengemudi?" tanyaku yang masih berdiri di luar.


"Pak Farid lah! kita kan nggak hafal jalan," jawab salah seorang staf sambil tersenyum.


"Tapi nanti Gantian ya!'


"Beres, nanti bisa diatur!'


Aku pun masuk lewat pintu samping, kemudian duduk di belakang kemudi  Setelah semuanya dirasa tidak ada yang tertinggal, kita pun pergi meninggalkan kantor Mandiri Group, menuju rumah Bapak terlebih dahulu, untuk mengambil perlengkapanku ketika bekerja di Bogor.


Sesampainya di rumah, aku mengajak Rekan kerjaku untuk beristirahat terlebih dahulu. namun Mereka menolak karena mereka sudah terlalu siang, gara-gara Dali membatalkan dirinya memimpin proyek yang akan kita tangani.


"Ya sudah kalau begitu, Tunggu sebentar saya akan mengambil pakaian dulu!" pamitku sambil keluar dari mobil, kemudian masuk ke dalam rumah, untuk mengambil kebutuhanku selama di Bogor.


Sesampainya di kamar, aku bergegas aku masukkan beberapa baju ke dalam koper. namun ketika aku melihat foto yang berada di nakas, aku teringat bahwa aku belum memberi kabar kepergianku terhadap Vina  dengan segera Aku mengeluarkan handphone, kemudian menghubungi istriku.


"Kenapa Sayang? kok sekarang kamu sering nelpon siang-siang begini?" tanya Vina Setelah telepon tersambung.


"Aku sedang berada di rumah!"

__ADS_1


"Kok bisa, jam segini sudah di rumah aja. apa kamu dipecat?" tanya Vina yang terdengar penuh keheranan.


"Enngak Kok! Aku nggak dipecat, ada tugas mendadak untuk pergi ke Bogor."


"Oh kirain kenapa, kamu bikin jantungan aja!"


"Tapi ada sesuatu yang mengganjal yang membuatku merasa tidak enak."


"Tidak enak bagaimana?"


"Nanti malam kan kita sudah Berencana untuk makan di restoran, merayakan ulang tahunmu. tapi semuanya gagal gara-gara tugas yang mendadak. padahal aku sudah mewanti-wanti sama Bu Ira, agar semua Tugasku di luar kota dibatalkan untuk hari ini. namun kita hanya seorang pekerja jadi tidak bisa memilih."


"Oh itu, nggak apa-apa! kan kita bisa rayain besoknya lagi, lagian merayakan ulang tahun itu tidak penting," ujar Vina yang selalu bijaksana.


"Kamu nggak marah kan?"


"Marah kenapa? aku yang harusnya minta maaf  karena tidak bisa menyiapkan barang-barang untuk dibawa menginap di Bogor."


"Semuanya Sudah beres kok, tinggal berangkat Bu Ira sudah menunggu di luar, bersama staf lainnya."


"Kamu hati-hati ya di rumah! sekali lagi aku mohon maaf bukan aku ingkar janji, tapi."


"Sudah nggak usah banyak pikiran, sekarang kamu fokus bekerja dan ingat rencana kita yang ingin memiliki rumah sendiri."


"Terima kasih+ aku berangkat dulu ya."


Akhirnya telepon pun terputus, dengan segera kau masukan handphone kembali ke dalam kantong celana. lalu membawa koper yang sudah diisi perlengkapan ketika aku menginap di Bogor.


"Maaf menunggu lama Bu!' Ujarku sambil manggut memberi hormat sama Ira.


"Nggak apa-apa, Ini rumah siapa? Pak Farid bukannya dulu ngontrak?"


"Oh ini rumah bapak saya, sudah 2 bulan lebih Saya tinggal di sini, semenjak Bapak saya sakit."


"Ya sudah! ayo kita lanjutkan perjalanan!" pungkas Ira tidak melanjutkan pembahasan.


Akhirnya mobil milik Dali pun mulai melaju Kembali menuju ke arah tol dalam kota, di perjalanan tak ada yang mengobrol karena mereka lebih memilih untuk tidur. hanya Ira yang duduk di sampingku yang masih terjaga.

__ADS_1


"Bu Vina ke mana, Kok saya nggak melihat?" tanya Ira.


"Sekarang istri saya membantu bapak mengurus rukonya!"


"Oh kirain marah, sehingga nggak keluar menyapa kami." ujar Ira sambil mengulum senyum.


"Enggak lah Bu! istri saya bukan orang seperti itu, namun saya merasa tidak enak sama dia."


"Kenapa emang?" tanya Ira yang terlihat penasaran.


"Hari ini, dia ulang tahun. nanti malam saya sudah berencana merayakannya di restoran, namun melihat kenyataan yang seperti ini, rasa-rasanya niat Kami tidak akan terlaksana."


"Ya ampun, iya ya saya sampai lupa kalau Pak Farid sudah membicarakan hal ini jauh-jauh hari. Mohon maaf saya tidak bisa menolak permintaan atasan!"


"Nggak apa-apa Bu lagian ini sudah tanggung jawab kita sebagai bawahan."


"Betul...! semoga saja pekerjaan di Bogor tidak membutuhkan waktu yang lama,karena kita hanya menawarkan perencanaan pembangunan dan pengukuran tanah yang akan dibangun, walaupun sudah dikirim tapi kita tidak akan puas Kalau belum melihatnya sendiri."


"Semoga aja seperti itu!"


Mobil pun terus melaju membelah kota Jakarta, Ira yang awalnya menemaniku menyetir, lama kelamaan dia pun menyadarkan tubuh hingga terlelap. namun ketika aku keluar dari tol, aku membangunkannya, karena aku tidak tahu ke mana tempat yang akan dituju.


"Ke Surya Kencana! nanti di sana kita akan dijemput." jawab Ira memberitahu.


Mobil pun terus melaju menuju ke arah yang disebutkan oleh Ira, jalanan yang Lumayan lancar tidak seperti di kota Jakarta yang akan macet, sehingga kita bisa sampai dengan cepat menemui orang yang mau menjemput.


Setelah berada di Jalan Suryakencana aku terus mengikuti mobil yang berjalan di depan untuk menemui klien kita di salah satu restoran. Lama di perjalanan akhirnya mobil yang aku ikuti tiba di salah satu restoran yang lumayan megah, masuklah keterangan yang didapat bahwa rekor itu adalah laporan milik klien kita.


Aku dan Ira pun turun kemudian orang yang menjemput membawa kita untuk bertemu atasannya, berbeda dengan staf-staf lain yang dipersilahkan untuk makan siang karena mereka tidak memiliki urusan dengan pembahasan penawaran kerjasama.


Setelah bertemu dengan klien aku dan Ira mulai menjelaskan tentang rencana pembangunan yang akan kita garap, membuat klien kita setuju dengan semua yang kita rencanakan.


"Untuk mengecek lokasi, saya percayakan sama Pak Ramlan untuk mengantar Pak Farid dan Bu Ira!"


"Terima kasih banyak Pak! Soalnya kita hanya menyiapkan desain dan anggaran hanya berlandaskan dari file yang Bapak kirim, maaf bukan kami tidak percaya tapi kami lebih ke teliti." Jelas Ira yang terlihat pandai bernegosiasi.


"Yah, saya mengerti dan saya paham. ya sudah kalau seperti itu, silakan kalian makan terlebih dahulu, Nanti Pak Ramlan akan mengantar!".

__ADS_1


__ADS_2