Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps 86 Farid


__ADS_3

Pov Farid


Siang itu. Aku yang sedang fokus bekerja di kantor, dikagetkan dengan suara teleponku yang tiba-tiba bergetar, aku segera mengambil handphone itu, untuk mengecek siapa yang menelpon sepagi ini.


"Halo ada apa Vin?" sapaku menyapa orang yang menelepon di ujung sana.


"Maaf Pak! kalau saya mengganggu pekerjaan bapak, namun ada hal yang harus Bapak ketahui."


"Tentang?"


"Tapi bapak janji terlebih dahulu, Bapak jangan terbawa emosi!" ujar Vina membuatku semakin merasa penasaran dengan apa yang hendak ia sampaikan.


"Yah! ada apa?"


"Sebentar Saya matikan teleponnya terlebih dahulu." ujarnya sambil memutus telepon itu, kemudian tak lama setelah itu, ada pesan masuk yang dikirimkan oleh Vina, terlihat ada foto yang masih memutar, mungkin lagi mendownload foto yang dikirimkan oleh Vina. setelah foto itu berhasil di download, mataku tiba-tiba membulat sempurna, karena terlihat jelas di foto itu Erni yang sedang digandeng tangan oleh seorang pria, menuju mobil. Vina terus mengirim foto sampai aku mulai mengerti bahwa Vina mengikuti Erni mulai dari cafe sampai berada di lobby hotel.


Darahku tiba-tiba memanas, gigiku mengancing dengan kuat. melihat kelakuan calon istri yang seperti itu, dengan cepat aku menghubungi nomor yang mengirimkan foto-foto itu.


"Dapat dari mana foto-foto itu?"


"Ya Dari sini, pak! Emang dari mana lagi." jawab Vina yang terdengar santai.


"Maksudnya Itu foto kapan."


"Ya foto sekarang lah, Bapaaaak! saya sedang berada di hotel, sedang memantau mereka yang tak kunjung keluar dari kamar. padahal mereka sudah lama di dalam kamar."


"Sekarang mereka masih belum keluar"


"Belum Pak! padahal udah setengah jam lebih, mungkin mereka sedang melakukan." tiba-tiba wanita itu menghentikan ucapannya, membuat amarahku semakin memuncak.


"Sherlock!" dengan suara bergetar Aku meminta Vina untuk mengirimkan lokasinya.


"Siap!" jawab Vina.


Aku pun memutus sambungan telepon itu, tak lama menunggu Vina pun mengirimkan lokasi di mana dia sekarang berada. dengan cepat aku mengambil kunci mobilku, lalu segera keluar meninggalkan ruangan kerja. tanpa pamitan ke rekan kerja yang lainnya, yang menatap heran ke arahku.


Sesampainya di parkiran, dengan cepat aku injak pedal gas, menuju lokasi yang dikirimkan oleh Vina. 30 menit berlalu, akhirnya aku sudah berada di parkiran salah satu hotel yang ada di dekat Jalan. namun ketika aku hendak keluar dari mobil, Vina menahan pintu mobilku, kemudian dia masuk melalui pintu kiri lalu duduk di kursi sampingku.


"Bapak tenang terlebih dahulu! Bapak jangan terbawa emosi! kalau bapak terbawa emosi, Bapak sendiri yang merasakan kerugian serugi-ruginya. karena Bapak tidak akan mendapatkan apa-apa dari Bu Erni!" Cerococoss Vina.

__ADS_1


"Lu siapa? pakai ngatur hidup gue segala." jawabku yang sudah tidak bisa mengontrol emosi.


"Bapak harus percaya sama saya! Karena Bu Erni saya tahu dia sangat licik, Jadi Bapak harus bermain cantik untuk membalas kelakuannya. saya berbicara seperti ini, karena saya juga punya dendam pribadi kepadanya." ujar Vina.


Aku menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan pelan, mengatur kembali nafas yang sudah memburu. benar memang apa yang dikatakan Vina, kalau aku gegabah mengambil keputusan. akulah yang akan rugi sendiri, hati udah hancur maka kehidupanku akan hancur pula. karena saat ini Erni masih berada di atas angin, dengan semua harta peninggalan suaminya.


"Terus aku harus bagaimana?" Tanyaku setelah merasa sedikit tenang.


"Ikuti alurnya! lalu ketika ada kesempatan, maka Bapak harus melakukan serangan balik, untuk membalas kelakuan bejat calon istri bapak!"


"Caranya?" Tanyaku seperti orang bod0h, karena biasanya akulah yang sering memberikan solusi buat orang lain.


"Tenang Aku yang memikirkan caranya! Bapak hanya mengikuti perintahku, Saya tidak mungkin menghancurkan musuh dari orang yang saya benci. karena musuh dari musuhnya musuh, adalah teman, adalah partner." jelas Vina.


"Jangan berbelit! Aku harus bagaimana?" Tanyaku sambil menatap kesal ke arahnya, karena yang diucapkan Vina mengalahkan motivator Kondang yang tidak bisa dipahami oleh otak yang sedang dilanda kemarahan.


"Bersikaplah seperti biasa! seperti tidak terjadi apa-apa! sampai acara pernikahan itu terjadi, setelah pernikahan itu terjadi, perlahan Bapak mulai mencari cara untuk menguasai hartanya. karena kekuatan Bu Erni sekarang adalah harta peninggalan suaminya." saran Vina membuatku sekarang sedikit mengerti dengan arah pembicaraannya.


"Tapi gua panas Vin, gua harus menghajar pria yang merebut hati calon istri gua!"


"Kalau bapak maunya seperti itu, silahkan! saya angkat tangan. namun bapak akan mengalami kerugian yang sangat besar, selain hati Bapa yang hancur, harta yang ada di depan mata akan hilang begitu saja."


Aku berteriak untuk melepaskan penat, yang memenuhi kepalaku. kemudian memukul kemudi mobilku.


"Hahaha! cemen dulu bapak juga pernah melakukan hal yang sama kan, terhadap mantan suaminya Bu Erni, yang jelas-jelas itu sahabat bapak sendiri." ujar Vina sambil tersenyum sinis ke arahku.


"Lu jangan banyak omong! kalau lu nggak tahu yang sebenarnya, sekarang apa yang harus gua lakukan?" ujarku sambil menatap tajam ke arah wanita yang mulai berani mengatur hidupku.


"Sekarang telepon Bu Erni, kalau bapak bisa menelpon tanpa marah, maka kita akan melakukan tahap selanjutnya, tahap di mana bapak bersandiwara."


"Harus seperti itu?"


"Iya harus! Itu sebagai Ujian pertama, agar kedepannya Bapak lebih bisa mengontrol emosi! untuk mendapatkan hasil yang sepadan."


Aku kembali berpikir, Mana mungkin aku bisa bertahan dengan calon istri yang sedang berhubungan dengan orang lain. padahal waktu itu, aku juga pernah melakukan hal yang sama, ketika kita sedang melakukan hubungan. Arfan sering menelepon Erni istrinya.


"Kenapa diam? Bapak takut, bapak nggak berani? ya sudah nikmatin aja kesengsaraannya!" ujar Vina yang hendak keluar dari mobilku, namun aku segera menahan tangannya. lalu mendekatkan wajahku ke wajahnya, hingga kedua bibir kita saling beradu.


"Berikan aku kekuatan! agar aku bisa menghadapi semua cobaan ini." gumamku di sela-sela c1uman.

__ADS_1


"Siap! saya akan terus menjadi tour get bapak! asal pembayarannya sepadan."


"Mau apa?"


"Setengah dari harta yang Bapak dapat dari Bu Erni, itu adalah bagian saya." ujar wanita itu bernegosiasi.


"Siap! lebih dari itu, akan aku berikan. yang terpenting Erni si pel4cur itu mendapat balasan sepadan dengan perbuatannya."


Kita pun melanjutkan aktivitas kita kembali, Salim *****4* bibir kita masing-masing. hanya deru nafas yang memenuhi wajah, memenuhi dalam mobilku.


"Sudah! cepat bapak telepon Bu Erni." seru Vina mendorong tubuhku agar menjauh.


Setelah mendapatkan sedikit pemanasan, pikiranku mulai kembali jernih. aku tersenyum menatap wanita pintar yang ada di sampingku. beruntung ada Vina, yang dengan cepat mengingatkan. sehingga aku tidak bod0h seperti Arfan, yang menyesali pengkhianatan istrinya, yang begitu Iya banggakan.


Setelah menyusut Bibirku dengan tisu, aku pun mengambil handphone dari dashboard mobil, lalu menekan nomor Erni untuk memanggilnya.


"Halo sayang!" sapaku menyembunyikan amarah yang memenuhi dada.


"Iya Sayang! kenapa?" Jawab Erni yang suaranya terdengar terengah-engah, seolah sedang menikmati sesuatu.


Aku meremas teleponku dengan kuat, namun Vina mengusap lenganku dengan pelan, seolah memberikan kekuatan, agar aku kuat menahan semua yang menimpaku.


"Halo sayang! kamu telepon kok nggak ngomong?" tanya Erni.


"Maaf! maaf! Oh iya, kamu lagi ngapain? Sudah makan apa belum?"


"Nih, aku lagi makan bakso, Sayang mau?" tawar Erni membuatku semakin mengepalkan tangan, Kalau tidak ada vina yang menahan, mungkin sekarang aku sudah mendatangi kamarnya, lalu menghajar mereka berdua sampai mampus.


"Oh, lagi makan bakso! pantesan suara sayang mendesah seperti itu, pasti kepedesan ya?" mendengar Aku berbicara seperti itu, Vina pun mengangkat jempol seolah setuju dengan apa yang kuucapkan.


"Iya sayang! tadi dari pagi aku sudah membayangkan makan bakso, makanya aku kasih sambal yang begitu banyak." jawab Erni sambil Terus mendesah, menirukan orang yang sedang kepedasan.


"Ya sudah! kalau kamu sudah makan. ingat jangan kebanyakan makan bakso, Nanti kamu lemas." ujarku menyindirnya, membuat mata vina menatapku dengan mata membulat sempurna .


"Iya sayang! nanti habis pulang kerja, jemput aku ya!  aku ada yang ingin bicarakan dengan kamu."


"Siap sayang, miss you! muuuuuuach!"


"Muah!" telepon itu terputus, dengan cepat aku pun menatap kembali ke arah perempuan yang memberikan saran.

__ADS_1


"Bagus! Ujian pertama sudah selesai, ujian sebenarnya nanti pas Bapak ketemu dengan Bu Erni." ujar vina memuji kinerjaku.


__ADS_2