Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 34 Gara-gara Erni


__ADS_3

POV FARID


"Di mana alamatnya?" Tanya Vina setelah mendengar penjelasan dariku.


"Nanti aku kirim lokasinya, Emang kamu mau ke sini?" Tanyaku memastikan.


"Boleh, lagian di rumah juga, aku nggak ada kerjaan."


"Kalau mau ke sini, sayang naik ojek online aja biar cepat.


"Ya, nanti di sana aku ngapain?"


"Sayang temenin Bu Ira, aku Mau mencari Kue buat acara tahlilan, dan mengurus kepentingan-kepentingan yang lain."


"Kok kamu seperhatian itu sih?" Tanya Vina yang terdengar curiga.


"Bukan perhatian, tapi ini adalah tugas yang diberikan oleh Pak dali dan Pak Arfan, soalnya mereka tidak bisa membantu mereka mempunyai kesibukan masing-masing,"


"Awas aja kamu kalau mencari Kesempatan Dalam kesempitan!"


"Mana mungkin aku berani, kalau aku mau mencari kesempatan aku pasti tidak akan meminta sayang datang ke sini. Oh iya, aku merasa ada yang janggal, yang belum bisa aku ceritakan."


"Kejanggalan apa?"


"Ke sini aja, nanti kita kamu juga tahu sendiri."


"Ya sudah kirim lokasinya!"


Tap! tap! tap!


Telepon itu terputus, kemudian aku mengirim lokasi di mana aku berada sekarang. setelah mendapat balasan dari Vina, aku masuk kembali untuk menemani Ira dan ibunya mengobrol, meski sebenarnya mereka tidak mengobrol, hanya mengadu suara tangis yang begitu Sendu.


Di luar terasa sangat panas, karena matahari baru bergeser ke sebelah timur sedikit, ditambah kota Jakarta yang tidak berpohon, karena sudah diganti dengan pohon-pohon sintetis yang tidak bisa menyerap panas. Suara motor sekali terdengar dari arah depan, membuat suasana gersang semakin terasa. Kipas angin dinyalakan di setiap sudut untuk menghalau semua rasa yang tak menentu itu.


Setengah jam berlalu, akhirnya Vina pun sampai di rumah Ira. dengan cepat aku menyambutnya, kemudian aku memperkenalkan istriku sama Ira, setelah memperkenalkan istriku  aku meminta izin untuk mencari tokoh kue sesuai dengan apa yang Dali perintahkan.


Hari itu aku bekerja di rumah Ira, membantu semua kebutuhan, menyiapkan pemulasaraan almarhum Ari. hingga akhirnya acara tahlil pun tiba, semua warga berbondong-bondong Ikut mendoakan orang yang sudah mendahului mereka.


Selesai melaksanakan tahlil aku dan vina pun berpamitan, karena kebetulan saudara jauh yang dari Bandung mereka datang untuk menemani keluarganya. sehingga awalnya kita berdua mau menginap, tapi melihat keluarganya datang kita tidak jadi.

__ADS_1


Aku dan Vina pun menghampiri dali yang terlihat mau pulang ke rumah. "Ada apa Pak Farid?" tanya Dali.


"Mau laporan pak! Tadinya saya mau menginap sesuai dengan arahan Bapak, tapi melihat banyak keluarganya yang menemani, saya putuskan tidak jadi menginap, saya boleh pulang nggak." Ujarku menyampaikan semuanya.


"Oh begitu, ya sudah! enggak apa-apa Pak Farid boleh pulang."


"Satu lagi saya mau menyerahkan kunci mobil, bersama uang kembalian." Ujarku sambil mengeluarkan uang dan kunci mobil lalu menyerahkan kepada Dali.


"Kalau buat mobil Pak Farid bawa aja dulu mobilnya ke rumah. biar besok ketika mencari kue, Pak Farid ada kendaraan."


"Kalau saya bawa mobil ke rumah, saya bingung Parkirnya di mana, Saya takut ga nyenyak tidur memikirkan mobil yang di pinggir jalan."


"Aduh bagaimana ya, Kebetulan saya juga bawa mobil, istri Saya juga tidak jadi ikut, karena tadi beliau mual-mual."


"Simpan aja di parkiran perusahaan, kan ada satpamnya Pak,"


"Oh baik, kalau seperti itu. Oh iya besok Bu Ira akan mentransfer uang ke rekening Bapak, untuk menambah pembelian kue tahlil?"


"Ini juga masih cukup pak, kalau buat  membeli kue tahlil."


"Ya sudah terima aja, Pak Farid juga kan butuh buat ongkos."


"Yah nanti aja kita bicarakan lagi, soalnya istri saya sudah menunggu di rumah, dari Tadi dia menelepon saya terus. karena maklumlah istri yang sedang hamil, kemauannya sangat banyak dan aneh-aneh."


"Ya sudah hati-hati di jalan Pak! semoga istri dan calon Buah Hati bapak baik-baik saja," doaku sambil mengulurkan tangan mengajak atasanku bersalaman.


Amin!


Akhirnya kita bertiga berjalan menuju ke depan gang, lalu menuju mobil masing-masing. Dali pulang ke rumahnya, sedangkan aku dan Vina menuju kantor Mandiri Group.


"Emang kantornya di mana?" tanya Vina memecah heningnya suasana.


"Di jalan Gatot Subroto, tepatnya di daerah perkantoran."


"Oh gitu, Alhamdulillah ya.kamu sekarang bisa akrab sama mereka.


"Sama siapa?"


"Sama sahabat-sahabatmu dulu, kayaknya mereka beneran ikhlas, Tak sedikitpun menunjukkan raut kebencian terhadapmu, padahal kamu kesalahannya sangat banyak."

__ADS_1


"Mungkin ini adalah kesempatan yang terbaik, untuk aku memperbaiki diri."


"Iya kamu jangan sia-siakan kesempatan baik ini, jangan sampai mereka kecewa kembali." Nasihat Vina.


"Amin, Kapan ya kita punya mobil seperti ini!" Jawabku sambil menggenggam tangan istri lalu kucium punggungnya.


"Aku lebih ingin mempunyai rumah, daripada mobil sayang." jawab Vina sambil menyandarkan kepalanya ke pundakku.


Kita terus terlalut dalam obrolan obrolan romantis, hingga tak terasa mobil yang aku kendarai sudah tiba di kantor Mandiri Group. Dengan cepat aku memarkirkan kemudian memberitahu para satpam bahwa ada mobil yang harus mereka jaga.


Setelah semuanya dirasa selesai aku dan Vina menuju motor butut yang terparkir tak jauh dari mobil yang aku parkir. Aku mulai mengkik starter motor itu kemudian mencoba menarik tuas gasnya agar kotoran yang ada dalam mesi ikut keluar terbawa dengan knalpot. Akhirnya kita berdua pun pergi meninggalkan kantor Mandiri group dengan menunggangi kuda besi yang sudah usang.


Sampainya di rumah, kita berdua pun membersihkan tubuh, karena tubuh kita terasa lengket. selesai mandi aku dan Vina duduk di ruang tv yang berukuran 14 in, sambil menikmati martabak Yang tadi kita beli sebelum pulang.


"Oh iya Itu Ari mantan bawahan kak Erni kan, orang yang dulu pernah di perkosa?"


"Mungkin, soalnya tadi Ketika aku melihat fotonya, aku seperti tidak asing."


"Kasihan banget ya, kok dulu Bu Erni sangat tega sekali, sampai orang sakit begitu lama."


"Yah mau bagaimana lagi, orang masih labil, orang masih belum stabil, mendapat guncangan seperti itu pasti drop lah!"


"Terus bagaimana, Ira bisa sampai masuk ke perusahaan Mandiri Group," tanya Vina sambil menatap ke arahku.


"Kurang tahu sayang, mungkin Pak Arfan merasa kasihan dengan kondisi keluarga Ari, soalnya dulu aku dengar Pak Dali dan Pak Arfan sampai mencari keberadaan almarhum untuk memastikan kejahatan Erni."


"Mungkin juga seperti itu!"


"Sudah ah, jangan ngobrolin orang yang sudah meninggal, nggak baik." pungkas ku menutup pembicaraan.


"Oh ya, tadi yang kamu berikan sama Pak Dali, itu uang apa?"


"Uang sisa pembelian kue, Kenapa emang?"


"Nggak apa-apa, nanya aja."


Akhirnya kita terus berlanjut mengobrol, sambil mengisi perut dengan martabak yang masih terasa hangat. hingga akhirnya kantuk pun datang menjemput, karena mungkin seharian aku sibuk membantu keluarga Ira.


Keesokan paginya, Aku bekerja seperti biasa di kantor Mandiri Group. namun hari itu terasa sepi, karena biasanya aku selalu mengobrol dengan Ira untuk membahas project-project yang sedang kita tangani. walaupun dia sangat menyebalkan, tapi kalau tidak ada membuatku merasa kangen dengannya

__ADS_1


Sore hari, Seperti biasa aku mengambil kue yang sudah kupesan dari tadi siang, untuk mengadakan acara tahlil di rumah duka.


__ADS_2