
Pov Arfan
"Amin! terima kasih atas semua doanya pak!" jawab Dali yang terlihat matanya mengembun, menandakan kesedihan itu hadir kembali.
"Oh ya dal! kita ngelamun aja boleh kali." ujarku yang kebetulan hari itu tidak ada pekerjaan, karena sudah di handle oleh para karyawan yang sangat kompeten.
"Ngelamun apa Pak?" tanya Dali sambil menatap arahku.
"Kalau proyek itu jatuh ke perusahaan kita, nanti kita adakan acara liburan, kita bangkitkan lagi, kegiatan-kegiatan dulu yang kita lakukan dikantor yang lama. Agar pikiran kita kembali press!"
"Sekarang bapak nggak seoptimis dulu?" tanya Dali yang terlihat wajahnya menunjukkan perasaan heran.
"Bukan saya pesimis, namun melihat dari kenyataan dan pesaing-pesaing kita. rasanya sangat mustahil. hanya satu yang kita harapkan, yaitu keajaiban."
"Iya benar juga sih! Terus kalau beneran tender itu jatuh ke perusahaan kita, kira-kira kita akan pergi liburan ke mana." Tanya dali yang mungkin sudah mulai paham.
"Menurutmu ke mana?"
"Bali Pak! hehehe." jawabnya sambil mengulum senyum.
"Wah jauh banget dal! Nanti bukannya liburan untuk mengembalikan mood kerja kita. yang ada kita kecapean. Tapi kalau kamu mau, kamu boleh sendiri Jangan Menunggu nanti, sekarang juga boleh. Bawa istrimu agar dia kembali tenang."
"Hehehe, Nanti aja pak, lagian saya hanya bercanda."
Akhirnya siang itu kita habiskan dengan mengobrol tanpa judul, semenjak kenal dengan Karla. sekarang aku lebih sering mengobrol dengan para karyawan, meski obrolannya tidak penting penting amat. yang awalnya dulu hanya sebatas hubungan antara karyawan dan bosnya, sekarang sudah menjadi satu ikatan kekeluargaan meski tak sedarah.
Sore hari, aku sudah berada di rumah ibu, karena kalau tidak menemui Karla, aku akan pulang ke rumah menikmati sisa sisa hidup, bersama wanita yang selalu memberikanku semangat.
Aku dan ibu seperti biasa, menikmati Senja di samping di rumah yang ditanami bunga yang sedang mekar, membuat suasana sore itu semakin indah."
"Kapan kamu mau Melamar Anak Pak Umar?" tanya ibu tiba-tiba, membuatku menganga menatap ke arahnya. "Ada apa, dengan wajahmu, Emang kamu nggak suka sama Karla?"
"Siapa yang suka sama wanita aneh seperti itu Bu?" Elakku menyembunyikan perasaan.
"Kamu kayak kenal sama ibu, baru beberapa hari saja. Ibu sudah tahu walaupun kamu tidak mau ungkapkan."
"Aku nggak mikir yang gituan Bu! sekarang aku lebih memikirkan Bagaimana cara mengembangkan perusahaanku, yang masih kecil."
"Alasan klasik! Sayang kalau bunga itu keburu dihinggapi oleh kumbang lain, nanti kamu akan menyesal seumur hidup, karena kamu tidak bisa menikmati keindahan bunga yang sedang Mekar."
"Apaan sih Bu! sore-sore udah berpuisi aja."
"Ya sudah! kalau kamu nggak mau, nanti Ibu suruh Karla untuk menerima pria lain."
"Jangan dong Bu!" Tanpa sengaja tolakan itu terlontar seketika sehingga, dengan cepat aku menutup mulut.
"Hahaha, Ibu sangat setuju kalau kamu menikah dengan Karla. karena Ibu sudah beberapa kali melakukan salat istikharah, meminta petunjuk apakah Karla akan menjadi yang terbaik untuk kehidupan anak semata wayang ibu, yang sangat rapuh ini. Ibu rasa gadis itu akan sangat cocok mendampingimu, sikapnya yang keras akan menutupi sikapmu yang lemah. karena yang perlu kamu ketahui, pernikahan itu adalah saling melengkapi, saling menyempurnakan, saling memahami."
"Aku bukannya nggak mau bu! tapi Karlanya yang tak sedikitpun memberikan tanda, kalau dia juga menyukai Arfan."
__ADS_1
"Kamunya yang tidak pandai membaca sikapnya, menurut ibu Dia sangat menyukaimu. namun dia wanita yang pandai menyembunyikan perasaan, sehingga kalau kita tidak jeli, kita tidak akan menemukan apa yang di sembunyikan."
"Emang beneran seperti itu Bu?" Tanyaku sambil membenarkan posisi duduk, kemudian menatap ibu dengan serius.
"Iya! yang Ibu tahu seperti itu."
"Arfan takut Bu! kalau nanti Arfan kembali jatuh ke lubang yang sama,"
"Memiliki rasa takut itu memang harus, karena akan menjadi alarm, agar tubuh kita lebih berhati-hati. tapi menjadi penakut itu sangat tidak dianjurkan, karena penakut hanya akan jalan di tempat, tanpa berani melangkah. padahal manusia itu harus terus melangkah, karena begitulah sistemnya."
"Terus Arfan harus bagaimana?"
"Kalau kamu suka! kamu ngobrol sama Pak Umar, pinta anaknya secara baik-baik, ibu yakin pak Umar akan setuju dengan kamu."
Mendengar penuturan Ibu, membuat kedua sudut bibirku terangkat. membayangkan Bagaimana lucunya atau getirnya, setiap hari akan berantem berebut pendapat dengan gadis aneh itu.
"Kenapa kamu senyum, kamu mau?"
"Bingung Bu! harus memulainya dari mana, karena dia tidak pernah mau diajak berbicara serius."
"Cara penyampaianmu yang salah! yang tak bisa meyakinkan wanita seunik Karla." Cibir ibu. "padahal ibu sudah memberikan saran, kamu temui Pak Umar. Kalau Pak Umar mengijinkan, maka hati anaknya akan mudah kamu dapatkan."
"Oh begitu ya Bu! Terima kasih banyak atas nasihatnya. tapi kenapa ibu sangat yakin dengan Karla, untuk dijadikan menantu ibu?" Tanyaku. Karena Dulu ketika aku mengungkapkan hendak melamar Erni Ibu tidak merespon Apapun, bahkan cenderung menolak.
"Ya karena Ibu Merasa punya hutang nyawa. dengan adanya pertolongan gadis itu, Ibu masih bisa mengobrol, sambil menikmati senja, bersama keluarga."
"Oh iya, perusahaan Atri Group, sudah mengirimkan berkas tender belum Bu?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan agar tak terus-menerus membahas Karla, Entah mengapa walau pembicaraan Itu membuat hatiku senang. namun ada sedikit rasa malu ketika aku mengobrolkannya dengan ibu"
"Kenapa kamu mengalihkan pembicaraan, Apakah pekerjaan lebih penting daripada masa depanmu?"
"Iya nanti, Arfan akan coba ngomong sama Pak Umar, tapi rasanya malu Bu!"
"Sudah kalau kamu malu, kalau takut. kamu akan terus hidup seperti itu. Sampai akhirnya Karla dimiliki oleh pria lain, apa Ibu harus turun tangan, untuk mengejar cita-cita anak ibu?"
"Janganlah Bu! nanti Arfan semakin malu karena Arfan tidak punya keberanian, untuk mengungkapkan hal itu."
"Ya sudah! berusaha sekeras mungkin."
"Iya Bu, iya! doakan saja! Terus bagaimana yang tadi?"
"Tadi yang mana?"
"Tentang tender dari perusahaan Bagaskara?"
"Atri grup sudah mengirimkan berkas beberapa hari yang lalu, tadi pagi Ibu sudah dipanggil ke kantor mereka, untuk mempresentasikannya. Alhamdulillah mereka sangat senang dengan konsep yang perusahaan Atri group berikan. Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Berarti kalau Ibu sudah mempresentasikan. terus pekerjaan perusahaan Arfan sia-sia dong?"
"Nggak ada yang sia-sia! apapun yang kita kerjakan, semuanya akan membuahkan hasil baik itu materil ataupun moril. Terus bergerak, terus berusaha dan berdoa. Ibu yakin suatu saat kamu akan kembali ke kehidupanmu yang semula. lagian kamu terlalu sombong lebih memilih membuka perusahaan sendiri, daripada mengurus perusahaan ibu."
__ADS_1
Akhirnya aku dan ibu terus mengobrol, hingga 30 menit sebelum adzan maghrib berkumandang, aku berpamitan untuk pergi belajar mengaji ke rumah pak Umar.
*****
Setelah selesai melaksanakan salat Isya, aku memutuskan untuk mampir ke rumah Saipul, karena seperti biasa keluarga Pak Umar setelah melaksanakan salat isya. mereka akan makan malam terlebih dahulu, Aku tidak mau mengganggu waktu keluarga mereka.
"Full!" panggilku di sela-sela Obrolan.
"Ada apa?" tanya Saipul sambil menghembuskan asap dari mulutnya.
"Maaf sebelumnya! tapi kamu jangan marah ya!"
"Belum aja ngomong, udah minta maaf dan udah meminta jangan marah."
"Aku mau ngobrol sama Pak Umar, Aku mau minta anaknya."
"Buat apa, Lagian kan anaknya sudah besar, kalau kamu mau adopsi mendingan adopsi kucing daripada adopsi anak orang yang sudah dewasa." Jelas Saipul yang tidak nyambung.
"Bukan begitu maksudnya full! aku mau melamar Karla. namun aku tidak punya keberanian, untuk mengungkapkan langsung kepada anaknya."
Mendengar penuturanku raut wajah Saiful berubah seketika, menandakan ada ketidaksukaan dengan apa yang kusampaikan. "Maafkan gua Pul! tapi aku benar-benar suka sama Karla."
"Hahaha, Kalam aja sih bro! dari dulu juga sebenarnya gua sudah ikhlas dengan apa yang menimpa dengan kehidupan gua. namun yang perlu kamu ingat, Karla itu udah gua anggap sebagai adik, jadi jangan sampai lu melukainya atau menghianatinya. dan kalau lu nggak diterima jangan paksa dia untuk menerima lu." jawab Saipul yang mengulum senyum Tak sedikitpun terlihat ada kemarahan di raut wajahnya.
"Terima kasih ya bro! Tapi kalau bisa kamu temenin aku ya! ngobrol bersama Pak Umar."
"Boleh! tapi aku juga mau ngomong sama Pak Umar, kalau aku juga suka sama anaknya."
"Jangan seperti itulah!"
"Makanya kamu nggak usah ngajak-ngajak gua! nanti kalau ada gua. Pak Umar bimbang menentukan calon menantu terbaik buat anaknya."
"Benar juga ya! Kalau begitu Jangan deh!" jawabku sambil garuk-garuk kepala yang tak terasa gatal.
"Tapi ingat kalau Pak Umar menolak, anaknya juga menolak. kamu tidak boleh memaksa mereka. atau berbuat curang. karena gua akan selalu menanti Karla, untuk menerima gua sebagai suaminya."
"Iya! iya! lagian kamu nggak kapok, Sudah beberapa kali fitolak masih aja berharap?"
"Udah sana buruan pergi! Kan mau pura-pura belajar agama."
"Siapa yang pura-pura?"
"Ya, lu lah! kalau bukan Karla. Nggak mungkin kamu mau belajar ilmu agama."
"Bisa aja, kamu!" jawabku sambil bangkit.
"Mau kemana? nih minum dulu air yang sudah Mama Jampe, agar kamu tidak ditolak oleh wanita." seru Saipul yang memberikan air yang digenggamnya."
"Sial4n lu!" Tanggapanku sambil tersenyum.
__ADS_1