
Dengan hati yang terus berdebar, jantung yang terus berdegup dengan kencang ,aku mendekat ke arah saklar lampu. setelah dinyalakan mataku terbelalak sempurna karena melihat ada dua setan yang sedang berpelukan, mereka tertidur dengan lelap, karena terdengar dengkuran yang begitu nyaring. Kayaknya mereka habis bertempur sehingga kecapean.
Kakiku tiba-tiba lemas, seolah tak mampu menahan beban tubuhku, air mataku mulai berjatuhan, tak menyangka akan menerima kenyataan Sepahit ini.
"Kurang ajar Dasar setan....!" Desisku yang sudah tak tahu harus berkata apa lagi, dengan segera aku bangkit keluar dari kamar, lalu menuju ke dapur. Sesampainya di sana, aku pindai seluruh ruangan untuk mencari sesuatu, mataku terhenti di salah satu pintu gudang. tanpa berpikir panjang aku pun mendekat, lalu masuk ke dalamnya kemudian menyalakan lampu, hingga gudang pun terlihat terang benderang. Aku mencari benda yang bisa aku gunakan, Kebetulan di gudang ada Palu martil sebesar 10 kilo. tanpa berpikir dua kali, aku pun mengambil Palu itu kemudian kembali ke kamar. terlihat kedua setan itu masih tertidur dengan lelap, bahkan mengeratkan pelukan.
"Mampus kau setan......!" teriakku sambil mengangkat Palu mengarah ke arah kepala.
Brak!
Terdengar suara tengkorak yang retak, diikuti oleh darah yang muncrat kemana-mana. setan betina yang sedang memeluk, dia pun terbangun kemudian memindai area sekitar, ketika melihat orang yang berada di sampingnya sedang sekarat dia pun berteriak.
Agggggrrrrhh.....!
Teriaknya sambil menutup wajah, aku yang sudah di Di Luar Batas emosi tanpa memperdulikannya lagi, Kemudian aku mengangkat martil untuk memastikan bahwa setan itu mati.
Bugh!
Tubuhnya pun menggelinjang, kemudian menegang, lalu diam tak bergerak. Dari bawah kepalanya terlihat aliran darah yang begitu berat bahkan bajuku berlumuran dengan darah terciprat oleh darah setan.
"Kamu sadar sayang....! kamu sadar... kenapa kamu bisa berbuat tegak seperti ini, ingat ini bapakmu...!" teriak iblis betina yang mengingatkan.
Mendengar ucapannya seperti itu Aku hanya menyunggingkan senyum sinis, kemudian menghadap ke arahnya. melihat tatapanku yang mengerikan, Vina istriku keluar dari selimut kemudian turun dari atas ranjang lalu mundur beberapa langkah, untuk menjauhiku yang perlahan mendekat.
Kesadaranku semakin hilang, ketika Vina sedang tidak memakai busana. "dasar wanita jahanam....! mampus kau!" ujarku sambil melayangkan pukulan martil ke arah telinga, istriku namun dengan cepat dia menundukkan tubuh, sehingga hantamanku hanya mengenai lemari.
Brakkk!
Pintu Lemari pun pecah, serpihan kaca berhamburan ke mana-mana. "sayang sabar.....! sabar sayang.....! nyebut sayang.....!" ujar wanita jahanam itu menenangkan.
"B4ngsat....! dasar j4lang....!" jawabku sambil kembali mengangkat Palu martil melewati kepala, kemudian aku Arahkan ke ubun-ubun istriku, namun dia mundur beberapa langkah hingga hantaman Palu itu hanya mengenai keramik.
"Tolong.....! tolong.....! tolong.....!" teriak Vina meminta bantuan.
__ADS_1
Mendengar teriakannya, Aku hanya mengangkat satu sudut bibir, karena rumah bapak lumayan sangat luas, karena samping kanan dan samping kiri rumah ditanami pepohonan dan ada kolam ikannya, ditambah dinding tembok yang begitu tinggi, sehingga orang luar tidak akan mendengar teriakan Vina.
"Teriak lah sepuasmu jahanam.....!" ujarku sambil kembali mendekat ke arah Vina yang terlihat sangat ketakutan, namun Entah mengapa aku semakin menikmati.
"Tenang sayang.....! kamu Jangan takut seperti itu. Coba kamu Nikmati martil ini, karena lebih besar daripada kepunyaan si setan....!" ungkapku yang kembali mendekat ke arah Vina yang sudah terdesak menuju ke dinding.
Namun ketika aku mau menyerangnya kembali, dengan cepat dia pun melemparkan vas bunga yang berada di atas nakas.
Bugh!
Brak!
Suara vas bunga yang pecah menimpa lantai, terasa cairan kental keluar dari pelipis mataku, namun Entah kenapa tidak ada rasa sakit sedikit pun, malah aku makin semangat untuk segera menyergap Vina.
Aku hempaskan martil, agar lebih menikmati prosesi kemusnahan iblis betina itu. Aku menyerangnya kembali dengan menubruknya, namun dia dengan cepat menghindar sehingga tubrukanku hanya mengenai dinding, membuat darah yang mengalir di kening pun semakin banyak.
Vina pun terlihat berlari menuju ke arah pintu kamar, namun aku sudah menguncinya. sehingga dia pun hanya menyandarkan tubuh sambil menatap ke arahku yang sudah mendekat ke arahnya.
"Mau lari ke mana Sayang," ujarku sambil menyunggingkan senyum sinis.
"Yah kita akan Ulangi setelah kita hidup kembali," jawabku sambil kembali mendekat ke arah Vina, kemudian aku menubruknya kembali sehingga Vina pun menghindar. tapi sekarang dengan cepat aku layangkan satu pukulan tepat mengenai pahanya.
Awwww.....!
Jerit Vina yang seketika ambruk ke atas lantai, karena hantaman tanganku sangat keras. "sudah dibilang jangan lari, malah kamu masih menghindar....!" ujarku sambil melayangkan tendangan ke arah dagu, sehingga kepala istriku terlihat mendongak.
Sekarang Vina tidak mengeluarkan suara, Namun tubuhnya terlihat teekulai ke lantai, dengan segera aku mengambil martil yang tadi aku lepaskan, kemudian berdiri di dekat tubuh Vina yang sudah terkapar.
"Mampus kau iblis betina.....!" gumamku sambil mengangkat Palu martil lalu aku hantamkan mengarah kepala.
Prak!
Suara tengkorak yang pecah, dibarengi dengan darah yang muncrat memenuhi lantai, tubuh Vina terlihat bergerak-gerak sebentar kemudian terdiam.
__ADS_1
Cring!
Palu martil yang ku pegang tiba-tiba jatuh, kakiku terasa lemas tak kuasa menahan beban tubuhku, hingga akhirnya aku menjatuhkan diri di samping Istriku, yang kepalanya sudah berlumuran darah.
"Sayang kamu nggak apa-apa?" Tanyaku sambil membangunkan Vina, kemudian aku peluk tubuh yang tak berbusana itu dengan pelukan yang begitu erat.
"Bangun Sayang.....! bangun....! kenapa kamu diam."
Agrrrrh!
Dari aku sambil meremas kepala, Pikiranku kembali sadar bahwa yang sedang aku lakukan adalah kesalahan yang besar, sehingga dengan refleks melepaskan tubuh Vina yang sudah tak bernyawa.
Aku menangis sejadi-jadinya, karena tak menyangka ulang tahun yang begitu aku dambakan, berubah menjadi petaka di keluargaku. bapak yang selama ini aku hormati, Dengan istri yang selalu aku banggakan, mereka tega berkhianat.
Khayalanku mulai kembali ke waktu dulu, ketika aku tidur bersama Erni yang dipergok oleh Arfan. ternyata beginilah Rasanya ketika dikhianati oleh dua orang yang paling kita banggakan.
Aku merasa kagum dengan sahabatku itu, karena dia masih bisa mengontrol emosi, sehingga dia tidak berbuat Di Luar Batas sepertiku.
Lama termenung akhirnya aku semakin sadar dengan kenyataan yang sedang aku alami dan sudah aku lakukan. perlahan aku bangkitkan tubuhku lalu memindai area sekitar yang sudah berubah warna menjadi merah kecoklatan, bau amis darah menyeruak memenuhi hidung.
Tubuh bapak yang tergeletak di atas kasur, dengan kepala yang sedikit bergeser, tidak jauh beda dengan kondisi Vina yang masih terbaring di belakang.
"Hahaha, kasihan kamu Sayang...! masa kamu tiduran di sini, ya sudah Sebentar aku pindahkan ke atas kasur!" Gumamku sambil mengangkat tubuh Vina, lalu dibaringkan memeluk bapak.
"Silakan kalian lanjutkan kembali....!aku akan menonton di sini, hahaha....!" Pintaku sambil menatap kedua setan yang sudah tak bernyawa.
Setelah menempatkan mereka berdua dengan posisi semula, aku pun keluar dari kamar membawa martil untuk dikembalikan lagi ke gudang, lalu mengambil pel dan Ember untuk membersihkan darah yang masih berceceran di atas lantai kamar bapak.
Selesai mengepel, Aku duduk di kursi yang berada di kamar bapak kemudian merogoh kantong Celanaku, mengeluarkan satu batang rokok untuk dinyalakan. Setelah rokok menyala aku hisap dengan begitu dalam mataku terus menatap ke arah dua orang yang sedang berpelukan.
"Ayo kalian lakukan....! Kenapa kalian masih diam saja?" seruku sambil tersenyum.
Tamat
__ADS_1
Season 2 sudah tamat, kita lanjutkan ke season 3. ceritanya masih akan datang pengkhianatan. Terima kasih untuk para rider yang sudah membaca, dan mohon maaf kalau dalam penyampaian dan alur masih banyak yang kurang karena masih tahap pemula.