Duda Genit

Duda Genit
S2 (Tidur bersama)


__ADS_3

"Kak Aldi bisa antarin Willi ga? Takutnya Raya kepeleset di atas tangga."


Rayana mendengar hal itu sungguh kesal, ia tahu bahwa kakak laknat nya itu hanya ingin mengerjai dirinya, Rayana jelas tahu bahwa kakak nya itu hanya ingin membalas semua perbuatannya selama ini.


Tiba tiba Rayana ingin sekali kembali ke masa lalu, dan memperbaiki semua kesalahannya kepada kakak nya, agar situasi saat ini bisa di ubah, apalah daya dunia novel tak seindah dunia nyata.


Dokter Aldi mengambil Willi dari gendongan Rayana, kemudian meminta Rayana untuk jalan terlebih dahulu, karena ia tak tahu kamar calon istrinya itu.


Ah, rasanya dokter Aldi memiliki sifat yang sama dengan Daniel, suka sekali mengklaim sesuatu yang ingin di milikinya.


"Willi nanti suruh mama sama papa bobok di samping kamu ya," dokter Aldi mulai menghasut Willi yang berada di gendongannya, sementara Willi hanya mengangguk polos.


Duda dua anak itu mengikuti langkah Rayana, seperti seorang suami yang mengikuti istrinya. Dokter Aldi diam diam mengulas senyum di wajahnya, sungguh kebahagian yang sangat amat besar untuknya.


"Udah ga usah senyum senyum, sini masuk ke dalam," kata Rayana membukakan pintu untuk dokter Aldi.


"Terimakasih sayang," kata dokter Aldi mengedipkan matanya, sontak membuat Rayana memutar bola matanya dengan malas.


Dokter Aldi masuk di iringi dengan Rayana yang juga masuk ke dalam kamarnya, dokter Aldi segera meletakkan Willi yang tengah mengantuk ke kasur empuk Rayana.


"Mama sama papa temani Willi bobok ya," kata Willi membuat dokter Aldi tersenyum kemenangan.


Dengan sangat terpaksa Rayana segera berbaring di samping Willi, sementara dokter Aldi segera melepas jas yang menutupi kaus abu abunya. Dokter Aldi ikut kemudian ikut berbaring di samping Willi, sembari tersenyum menatap wajah Rayana yang tengah menutup matanya, entah pura pura tidur atau apa lah itu.


Sepertinya Willi benar benar mengantuk sehingga tertidur hanya dalam hitungan menit saja, sementara Rayana masih setia menutup matanya berpura pura tidur.


Dokter Aldi pelan pelan bangun dari tempat tidur tersebut, kemudian membuka pintu. Hal itu terdengar jelas ketika bunyi decitan pintu kembali tertutup terdengar. Rayana segera tersenyum dan segera membalikkan tubuhnya ke arah pintu, namun hal mengejutkan terjadi.


Mata Rayana membulat ketika melihat wajah dokter Aldi tepat di hadapannya. Ternyata dokter Aldi hanya berpura pura keluar, untuk memancing Rayana. Dokter Aldi kini tengah berlutut di samping tempat tidur Rayana.


Dokter Aldi mengecup bibir Rayana sembari memegang pergelangan tangan Rayana. Saat Rayana bersiap siapa untuk berteriak, dokter Aldi segera membekap mulut Rayana dengan bibirnya.


Rayana segera memberontak, namun pergerakannya di tahan oleh dokter Aldi, namun Rayana tetap memberontak, hingga membuat tempat tidur tersebut berguncang hebat.


Willi yang merasakan guncangan begitu besar menjadi terbangun dan menangis, dokter Aldi segera melepas tangan Rayana, namun hanya sebelah, karena sebelahnya lagi masih memegang erat tangan Rayana.

__ADS_1


Dokter Aldi kemudian membawa Willi ke dalam pangkuannya, dan duduk tepat di samping Rayana. Dokter Aldi menarik pinggang Rayana, dan segera mendekatkan bibirnya di telinga Rayana.


"Sayang jangan gerak ya, lihat kan coba saja tadi kamu ga banyak gerak, pasti Willi ga akan bangun," bisik dokter Aldi, sembari menggigit lembut telinga Rayana.


Sontak membuat bulu kuduk Rayana meremang seketika, ada sesuatu yang menjalar di dalam darahnya, merangsang nadinya untuk bekerja lebih cepat, sehingga menciptakan detak jantung yang kuat.


"Dasar genit, memangnya siapa yang mulai?" Rayana tak terima di salahkan, membuatnya bergumam dengan kesal.


"Sayang kalau masih ribut bibir kamu nih yang ku gigit," dokter Aldi kembali mengancam Rayana di iringi seringai licik di bibirnya.


"Dasar tukang sosor," Rayana kembali berdecik.


"Bibir kamu enak di sosor," kata dokter Aldi mengecup pipi Rayana.


"Emang bibir aku apaan," Rayana masih tak terima.


"Pendaratan bibir saya yang sempurna," Jawab dokter Aldi.


"Emang bibir aku tempat landing_ngan pesawat bandara apa?" Rayana kembali menjawab.


"Korea puas," Rayana benar benar kesal dengan dokter Aldi.


"Cie yang ngodein mau bulan madu di Korea," dokter Aldi tersenyum menggoda, sembari menepuk punggung Willi.


"Bulan madu? Emang aku istri kamu?" Rayana tak terima.


"Boleh," Jawaban dokter Aldi membuat Rayana semakin kesal.


"Emang siapa yang mau?" Rayana tak terima.


"Kamu sayang," dengan enteng dokter Aldi menjawabnya.


"Kapan?" Rayana yang emosi tampa sengaja mengeluarkan kata kata yang ambigu, hingga membuat dokter Aldi tersenyum kemenangan.


"Besok juga bisa kok," kata dokter Aldi tersenyum ke arah Rayana.

__ADS_1


"Ih, jangan ngelunjak ya," kesal Rayana melotot ke arah dokter Aldi.


"Ga kok, aku ga ngelunjak," kilah dokter Aldi, sembari membalas pelototan Rayana dengan senyuman.


"Ih jangan mulai ya," kata Rayana tersulut api amarah.


"Ga ada yang mulai sayang, hus jangan terlalu ribut, nanti anak kita kebangun sayang, ingat ga baik untuk pisikologi anak kalau orang tuanya bertengkar di depan anak loh," kata dokter Aldi mengeratkan rangkulannya. "Ya udah sayang papa minta maaf ya, kamu jangan marah marah."


Rayana benar benar tak habis fikir isi pikiran dokter tersebut. "Ih ingat ya kita belum nikah."


"Iya nanti kita nikah, aku selalu siap kapan pun di mana pun, anak kita pasti senang," kata dokter Aldi terus saja memutar metar kata kata dari Rayana.


"Idih anak kita?" Rayana sewot mendengar kata kata dari dokter Aldi.


"Iya sayang, tapi kalau mau buat ga papa kok, sekarang juga papa mau, tapi jangan deh ada Willi maaf ya sayang bukannya ga mau," kata dokter Aldi membuat Rayana benar benar tak habis fikir.


"Ih dasar otak kamu itu isinya apa sih," Rayana semakin kesal di buat oleh dokter Aldi.


"Isinya kamu sayang, yang saja," kata dokter Aldi tersenyum menggoda. "Kamu jangan marah marah dong, kan aku bukan ga mau, tapi ga bisa karena ada Willi."


Wajah dokter Aldi di buat sesedih mungkin, semakin membuat Rayana kesal bukan main.


"Dasar omes," desis Rayana penuh emosi, kemudian membuang mukanya.


"Tu kan masih marah, maaf nanti kalau Willi udah nyenyak deh," tawar dokter Aldi dengan wajah memelas.


"Terserah kamu, semerdeka anda lah dokter Aldi," kata Rayana frustasi.


"Tu kan marah," dokter Aldi merangkul semakin erat kemudian mencium telinga Rayana dengan lembut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....


...Dan terimakasih sebanyak banyaknya yang sudah dengan loyalnya memberikan vote, dan hadiah, serta koin. I Love You....

__ADS_1


__ADS_2