
Hari ini sidang di tunda karena keributan yang terjadi dari pihak lawan, yang berakhir pada penundaan sidang.
Sidang akan di lanjutkan pada hari minggu. Rayana dan dokter Aldi sedikit bernafas lega, karena hingga saat ini mereka masih kemungkinan menang, namun menit setelahnya siapa yang tahu? Apalagi Minggu depan.
"Kalian pulang duluan istirahat, kalian pasti capek kan? Kamu Aldi jangan pikir yang macam macam, fokus dengan kesembuhan kamu, ambil cuti dari pekerjaanmu, urusan kantor biar sekertaris mu," jelas Daniel mengusap punggung dokter Aldi menyalurkan kekuatannya.
Daniel adalah orang tua, ia tahu jelas perasaan dokter Aldi, Daniel juga tak akan pernah mau kehilangan anaknya, bahkan anak dari sekertaris sekaligus sahabatnya saja, sangat ia sayangi.
Apalagi Willi, yang di besarkan oleh dokter Aldi sendiri, pasti akan sangat sulit bagi dokter Aldi.
Rayana dan dokter Aldi segera menaiki mobil bersama sama untuk kembali ke rumah mereka. Sesampainya di rumah dokter Aldi segera memasuki ruang bermain Willi, dokter Aldi segera menggendong Willi, dan mengecup puncak kepala Willi hingga berkali kali.
Babysiter Willi yang sudah mengerti situasinya segera pamit untuk beristirahat. Babysiter Willi faham betul keadaan tuannya yang tengah tertekan.
"Willi sayang sudah makan nak?" dokter Aldi mencoba tersenyum di hadapan Willi.
Dokter Aldi faham betul keadaan Willi, meskipun Willi masih kecil, namun ia faham akan keadaan orang di sekitarnya.
"Belum pa, nunggu papa sama mama," Willi tersenyum ketika mengatakan hal itu.
"Ya udah ayo makan yuk," kata dokter Aldi menggandeng tangan Rayana.
Mereka segera duduk di kursi masing masing, Rayana hendak berdiri dan mengambil makanan untuk mereka, namun segera di tahan oleh dokter Aldi.
"Sayang biar aku aja," kata dokter Aldi segera merebut piring dari tangan Rayana.
Dokter Aldi segera mengisi piring untuk Rayana dan Willi, Rayana diam diam memandang wajah suaminya, tampak jelas tercetak raut wajah khawatir di sana.
Setelah makan mereka segera pergi beristirahat, saat ini mereka tengah berbaring di atas tempat tidur Rayana dan dokter Aldi, dengan Willi di tengah tengah mereka.
__ADS_1
"Sayang suatu saat nanti, ketika kamu dewasa, kamu harus memperlakukan wanita dengan istimewa, dan juga jangan sakiti mereka," dokter Aldi mengusap lembut kepala Willi.
"Iya pa, kayak papa sama mama ya?" Willi si polos memang suka sekali memperhatikan perlakuan dokter Aldi kepada Rayana.
"Iya, tapi itu hanya untuk orang yang benar benar Willi sayangi," kata dokter Aldi kembali.
"Kayak mama gitu ya? Willi kan sayang banget sama mama," Willi kembali mengambil contoh kepada mamanya.
Ah, memang anak adalah cerminan orang tuanya, anak selalu mencontoh apa yang ia lihat, ini lah buktinya, bagaimana dokter Aldi memperlakukan Rayana, itulah yang akan di contoh oleh Willi.
"Iya sayang, ayo tidur siang dulu," kata dokter Aldi menepuk nepuk lengan Willi.
"Kata kakek Willi harus bobo sendirian karena sebentar lagi Willi punya adek," Rayana hampir menepuk jidatnya ketika mendengar kata kata Willi.
"Iya ga papa kali ini aja, sekali kali kan bisa sayang, papa juga kangen dengan jagoan kecil papa ini," dokter mencubit pelan hidung Willi.
"Iya sayang," kata Rayana mengusap lembut kepala Willi.
"Ya udah anak gedenya papa istirahat lagi ya," kata dokter Aldi mengecup puncak kepala Willi.
Tak lama kemudian Willi tertidur, sementara dokter Aldi terus saja memandang Willi dengan pandangan yang sulit di jelaskan.
"Sayang jangan khawatir yakin kita akan menang," Rayana mencoba mengusap lembut tangan suaminya.
"Iya sayang terimakasih," kata dokter Aldi. "Kalau saja kalian tak ada, entah lah mungkin aku akan kehilangan kepercayaan diriku."
Dokter Aldi sedikit menitikan air matanya, seperti ia benar benar tertekan saat ini, meski bentuk mengekspresikannya tak seperti dulu, namun dokter Aldi saat ini terlihat lebih cengeng dari biasanya.
"Hm, kamu tahu sebenarnya aku juga beruntung dapat kamu, orang yang sangat penyayang, dan sangat mencintai keluarganya," puji Rayana mencoba mengusap lembut air mata dokter Aldi.
__ADS_1
Rayana sangat faham akhir akhir ini dokter Aldi mengalami banyak tekanan, meski tersenyum di luar, namun hatinya sangat rapuh. "Dalam hubungan yang terpenting itu bertanggung jawab, dan menyayangi keluarganya serta menghargai istrinya."
Dokter Aldi hanya mengangguk sembari tersenyum bahagia. "Kamu ga tau seberapa bahagianya aku punya istri wonder woman seperti kamu."
"Bergabung di Avengers dong aku nya," Rayana berhasil membuat dokter Aldi tersenyum kembali dengan leluconnya.
"Eh kayaknya buat ulang tahun Willi bagus tu kostum superhero gitu, aku wonder woman, nah kamu Superman ya, soalnya aku suka jodoh jodohin mereka," Rayana tampak tertawa lucu sontak membuat dokter Aldi mencubit pipinya.
"Iya wonder woman ku," kata dokter Aldi terkekeh lucu melihat tingkah istrinya.
"Nah kan ganteng kalau ketawa," kata Rayana sontak membuat dokter Aldi semakin tersenyum di buatnya.
"Love you my wonder woman," kata dokter Aldi mengusap rambut Rayana dengan lembut.
"Emang bener ya, ternyata wonder woman itu punya kekuatan tersendiri," kata Rayana tersenyum ke arah suaminya.
"Apa kekuatannya?" dokter Aldi tampak penasaran.
"Bisa membuat suaminya tersenyum lagi," Rayana tersenyum jenaka di hadapan suaminya, sontak membaut dokter Aldi mencubit hidung mancungnya.
Hi semua novel baru author udah ada nih, judulnya Mr. Gay Vs Colonel cantik, jangan lupa di baca dan di like ya, di tunggu kedatangannya di novel baru author.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Selamat hari raya idul Fitri semua, bagi teman teman sekalian bagi yang muslim 🙏🙏🙏...
...Mohon maaf jika ada salah dan kekhilafan serta ketersinggungan selama author menulis novel terimakasih...
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....
__ADS_1