Duda Genit

Duda Genit
S3 (Meminta Restu Kembali)


__ADS_3

Aiyla tertidur setelah mereka makan, Aiyla tampaknya sangat menikmati waktu mereka, hingga terlelap sebegitu nyenyak nya. Rakara segera memeluk Aiyla dan ikut tertidur. Rakara menenggelamkan kepalanya tepat di da*da Aiyla menikmati lembutnya sesuatu yang ada di balik sana.


Ah, lembut. Satu kata yang melambangkan kelembutan yang di berikan di balik sana.


Sudah tiga puluh menit Aiyla tertidur kini matanya sudah terbuka sedikit demi sedikit. Aiyla merasakan tangan besar memeluk dirinya. Ah, rupanya kepala laki laki itu tengah tenggelam di ceruk lehernya.


"Kak ayo balik, Ai udah mau pulang, takut di cariin," Aiyla menyingkirkan tangan Rakara dari atas perutnya. Kemudian beranjak menuju kamar mandi. Saat berada di kamar mandi tiba tiba Rakara datang dan memeluknya dari belakang. Rakara menutup matanya sembari menciumi pipi Aiyla.


"Sayang ngantuk," Rakara terus menciumi pipi Aiyla, hingga membuat gadis tersebut sedikit menyunggingkan senyumnya.


"Kak geli ah, Ai belum selesai cuci mukanya," keluh Aiyla menyembunyikan senyumnya.


"Iya cuci aja," kata Rakara seolah tak perduli.


Aiyla segera mencuci wajahnya yang penuh dengan sabun, kemudian menciptakan beberapa air ke wajah Rakara. "Sayang."

__ADS_1


......................


Saat ini mereka sedang ada di dalam perjalanan menuju rumah Aiyla, Rakara tersenyum senang sembari menggenggam tangan Aiyla.


"Sayang pernikahan kita di ajukan dua minggu lagi, kamu harus setuju ya," pinta Rakara sembari mengecup punggung tangan Aiyla.


"Kenapa harus buru buru sih kak?" Aiyla memandang Rakara bingung. Aiyla bukan tak mau, hanya saja ia merasa belum pantas menjadi seorang istri dari laki laki yang tengah mengemudi di sebelahnya. Ia masih sering bersikap ke kanak kanakan.


"Tentu saja, biar lebih cepat lebih baik," Rakara tersenyum ke arah Aiyla.


"Kenapa kakak harus ragu?" Rakara menjeda pembicaraan mereka, kemudian menepikan sedikit mobilnya, ia ingin berbicara kepada calon mertuanya tentang memajukan pernikahan mereka. Rakara segera mengambil ponselnya dan memperlihatkan Aiyla video yang di ambilnya kemarin. "Kamu lihat kan?"


Aiyla bergidik sedikit kesal dengan tindakan Rakara, bagaiman mungkin laki laki itu mengambil video mereka. Saat seperti itu pula. Apa kata orang jika melihat video itu? Aiyla tak dapat membayangkannya. Mungkin saja ia akan di coret dari kartu keluarga, atau dirinya akan di permalukan di media sosial dan dunia nyata. Ah, Aiyla menggeleng menghilangkan segala bayangan mengerikan akibat video itu.


"Ai kakak ga bakalan menyebarkan video ini, kakak sadar banyak yang akan berdampak dalam video ini, jika tersebar. Tapi dari video ini kita dapat melihat. Bahwa kita sama sama dewasa saat ini, jika saat itu hingga sekarang kita bisa menahannya. Namun kita tak tahu kedepannya, takutnya kita tak akan mengontrol diri kita," Rakara menarik nafas panjangnya, dan memandang wajah Aiyla, kemudian mengusapnya.

__ADS_1


"Ai jujur setiap kakak berada di dekat kamu, kakak selalu merasa berbeda, ada hawa panas. Ada sesuatu yang meminta untuk di tuntaskan. Selama ini kakak ga akan begit, begitu pula dengan mantan istri kakak, tapi beda kalau dengan kamu. Kamu ingat tidak saat kakak mengatakan bahwa junior kakak sering kamu bangunkan? Itu bukan candaan, kakak selalu menginginkan lebih." Rakara sedikit membuka sabuk pengamannya.


"Kakak mungkin saat ini bisa mengontrolnya, tapi kamu tahu sendiri, seperti yang di video itu, kakak benar benar lepas kendali, bahkan kakak sudah beberapa kali mengecup dari sini hingga ke sini," Rakara memberikan gambaran dari kepala Aiyla hingga ke perut bagian bawah Aiyla.


"Kamu paham kan Ai? Kakak itu bukan laki laki muda yang masih memikirkan tentang pacaran, kakak laki laki matang, yang sudah memikirkan tentang umah tangga, menikah, memiliki anak dan lain lain. Karena itu kakak selalu mencari wanita yang memang kakak yakini akan menjadi masa depan kakak," Rakara segera memasukkan sabuk pengaman Aiyla dan mengangkat tubuh Aiyla ke dalam pangkuannya.


"Ai kamu yakin ya dengan kakak. Kalau pun kamu ga yakin, kakak mohon percepat saja pernikahan kita, biar waktu yang menjawab kesungguhan kakak," kata Rakara, Aiyla hanya mengangguk entah kenapa dirinya sangat tersentuh dengan kata kata dari mulut Rakara.


......................


Saat ini Rakara telah sampai di rumah Aiyla, mobil yang mereka perkirakan juga telah terparkir rapi, Aiyla bersiap untuk turun, namun Rakara menahannya. Rakara mengecup puncak kepalanya sebentar. "Do'akan kakak supaya dapat restu."


Aiyla mengangguk mengiyakan kata kata Rakara, sontak membuat Rakara tersenyum. Saat Aiyla hendak turun dari mobil Rakara, tiba tiba Rakara menarik kembali Aiyla, sehingga gadis tersebut terjerembab ke dalam dada bidang Rakara. Rakara sedikit mengusap lembut pipi Aiyla, kemudian mengecup bibir gadis itu dalam, tangannya tak tinggal diam. Rakara meremas sedikit gun*du*kan kiri Aiyla, sehingga gadis itu sedikit melenguh. "Kakak akan mendapatkannya dua minggu lagi."


"Besok kakak akan mengatur jadwal pemotret kita, kakak akan menggunakan jasa wedding organizer terbaik," Rakara tersenyum melihat raut wajah Aiyla yang bersemu mereka. Ah, anak gadis yang bahkan tak pernah ber*cium*man kini menjadi seperti itu di hadapan Rakara.

__ADS_1


__ADS_2