
Pagi ini Angel telah selesai mandi di bantu oleh para suster, Angel saat ini tengah mengenakan pakaian rumah sakit. Sementara Daniel masih tertidur di atas sofa, karena pagi ini Angel di temani Aska, yang berkunjung hari ini. Untung saja sofa yang Daniel tiduri empuk, dan nyaman untuk mengistirahatkan badan.
Aska mengupas kulit buah apel untuk dirinya, Aska tersenyum menggoda ke arah suster tersebut, membuat suster tersebut malu malu dan salah tingkah melihat wajah tampan khas Asia tersebut. Angel yang melihat hal tersebut mendengus kesal, sungguh sepupunya satu ini keterlaluan, bagaiman di saat dirinya masih sakit saja, sepupunya masih sempat menggoda suster yang ada di situ.
Aska memang terlihat gagah dengan stelan seorang dokter, dengan kemeja biru navy di balik jas dokternya. Di tambah gaya rambutnya yang sangat modis, menambah kesan tampannya di wajahnya yang memang tampan. Ah... bibit dari keluarga Pradana memang sangat unggul, jika di lihat dari segi wajah, kekayaan, dan yang jelas dari kecerdasan mereka. Sayangnya kekurangan mereka terletak kepada kelakuan mereka yang rada nyeleneh, meski di depan publik berusaha mereka tutupi, dengan image yang sebagus mungkin.
Aska memang sudah mulai bekerja sebagai dokter di rumah sakit tersebut, namun bukan sebagai dokter kandungan, tetapi dokter umum.
Aska segera meletakkan potongan apel tersebut, sembari mengambilkan sarapan untuk adik sepupunya itu. Aska segera menyodorkan makanan tersebut, kemudian mengambil obat di laci naklas untuk Angel.
"Bee ini minumnya, makan yang banya ya bee, terus minum obat," kata Aska menirukan gaya bicara Daniel. Angel mecebikkan bibir mendengar hal itu.
"Aish... jangan gitu lah ya," kesal Angel membuat Aska terkekeh.
"Iya iya deh nih makan sampai habis, habis itu minum obat, ni gue mau main sama keponakan," kata Aska segera mendekati anak bayi Angel.
Tak lama kemudian dokter masuk, untuk memeriksa Angel.
"Bagaiman perasaan ibu?" tanya dokter tersebut berbasa basi, sembari memeriksa Angel.
"Baikan dok," kata Angel sembari tersenyum.
"Loh dokter Aska kenal Angel?" tanya dokter tersebut, saat melihat Aska tengah melihat baby.
"Oh... dia sepupu saya dok," kata Aska sembari tersenyum manis, bersiap menebarkan kembali pesonanya.
"Oh... ya sudah saya keluar dulu ya Angel," kata dokter tersebut meninggalkan Angel dan Aska.
Dokter tersebut keluar, kemudian di susul oleh seorang suster. Namun sebelum suster itu pergi, Aska mengedipkan matanya, sembari tersenyum menggoda ke arah suster tersebut. Sudah dua kali hari ini Aska menggoda suster tersebut, suster yang memang bertugas memantau keadaan Angel. Membuat suster tersebut salah tingkah, dan mematung.
"Tobat tobat, cepat nikah gih... biar ga kecentilan tu mata, lama lama di colok mami baru tahu rasa," kata Angel jengah dengan sikap playboy sepupunya itu.
"Eleh tukang adu," cibir Aska, sembari sengaja menyentuh tangan suster tersebut, sembari mengedipkan matanya. "Jangan dengerin dia sayang," Kata Aska memandang suster tersebut, sontak membuat Angel benar benar begidik.
Aska tak perduli, ia hanya segera berdiri dan melihat ke arah anak sepupunya. "Maemunah nama anak lo siapa?" tanya Aska sembari mengusap lembut anak Angel.
"Rakara Mark Rosyid," kata Angel tersenyum ke arah anaknya.
"Aska tolong dorongin keranjang bayi nya dong," Angel meminta Aska mendorong keranjang anak ke arahnya, Angel tak tega jika membangunkan suaminya yang baru tidur jam malam karena anak mereka yang rewel.
Sebenarnya dokter meminta anaknya di letakkan di ruangan yang berbeda, namun Daniel tak mau. Daniel memilih agar anaknya tetap berada satu kamar dengan nya. Namun itulah resikonya, jika anak sedikit rewel maka harus siap sedia. Untung saja besok pagi Angel sudah boleh pulang.
Sementara Aska siang ini ada praktek, namun memilih untuk berangkat pagi pagi, agar bisa bertemu dengan keponakan keduanya. Bukan hanya karena ingin bertemu keponakan, namun Aska juga ingin menemui pasien cantiknya lebih awal, agar memiliki waktu yang cukup lama. Ah... sungguh jiwa playboy nya telah meronta ronta.
"Lo masih aja ya suka jadi playboy cap kudanil," kata Angel mendelik melihat Aska.
"Engga bentar lagi ga akan, gue rencananya mau jadi suami dari bidadari surga gue," kata Aska sesumbar, dengan senyum yang mengembang.
"Wah ketiban sial tu cewek, si calon bidadari surga lo, masa dari surga jatuh ke neraka," kata Angel meledek Aska, sontak membuat Aska kesal di buatnya.
"Enak aja lo, kalau ngomong di saring," kesal Aska mendengar cemoohan dari sepupunya, yang telah ia anggap adik sendiri.
"Lah emang mulut gue santan apa?" Angel tak mau kalah.
__ADS_1
Mendengar kata-kata dari mulut Angel, Aska segera berdecak kesal. "Untung aja lo pasien, kalau ga gue gantung lo di gerbang rumah sakit," kesal Aska yang terus saja menjadi bahan ledekan Angel. "Eh gue serius ni..."
Mendengar nada bicara Aska yang tiba tiba berubah, dari yang keras menjadi lembut, membuat Angel menduga Aska akan meminta sesuatu darinya. "Mau apa lo?" tanya Angel curiga.
"Hehehe sepupu tercantik is the best gue deh pokoknya," kata Aska cengengesan. Dari dulu hingga sekarang Angel memang selalu mampu menangkap apa yang di inginkan Aska. "Tolong kasih gue saran dong, soalnya kalian sama sama perempuan."
Angel mendelik mendengarkannya, Angel bingung kemana Aska yang dulu, yang selalu mampu menaklukkan hati wanita.
"Lah playboy kita keos? Sampai sampai ga bisa naklukin cewek lagi?" ledek Angel melihat sepupunya.
"Eh bukan gitu ini beda, gue bingung," jelas Aska tak terima di panggil playboy keos, padahal setahu Aska dirinya masih tergolong pria tampan, yang mampu menaklukkan hati wanita. Terbukti dengan para suster tadi yang jatuh hati, dengan dirinya.
"Lah terus? Kemana perginya pria yang percaya diri akan mampu menaklukkan hati setiap wanita," kata Angel sembari memangku anaknya yang sedikit terusik, oleh pertengkaran kedua sepupu ini.
"Ayo lah... bukannya dari dulu lo yang mau gue berubah, biar ga mainin cewek lagi, ya ya ya..." bujuk Aska, yang bersikeras ingin di bantu oleh Angel.
"Noh minta tolong suami gue," kata Angel memberi saran kepada Aska, sembari memandang suaminya, dari balik tubuh kekar Aska.
"Emang suami lo bisa?" tanya Aska kurang yakin.
"Menurut lo?" Angel terkekeh semabari menenangkan anaknya, dengan meminumkan asi, yang telah berada di dalam botol susu.
"Ga yakin sih gue, kan tipe tipe lo modelan gitu emang," kata Aska mengerti selera lelaki yang di sukai oleh sepupunya.
"Ya kan banyak modelan kayak dia yang deketin gue, yang modelan kayak lu aja ada," kata Angel sembari terkekeh. "Gue ini populer tau," kata Angel sombong.
"Ponakan sayang, Rakara sayang, jangan kayak bunda ya... narsis, dan percaya diri nya sudah melebihi batas limited orang normal," kata Aska kepada Rakara yang tengah minum Asi.
"Enak aja emang gitu kenyataannya kok," kesal Angel tak terima kata kata dari sepupunya.
Daniel yang merasa tidurnya sedikit terganggu, oleh suara pertengkaran kedua sepupu itu, segera membuka perlahan matanya. Daniel sayup sayup mendengar suara laki laki, yang tengah mengobrol dengan seorang wanita. Daniel segera membuka matanya, dan perlahan melihat seorang laki laki, yang sepertinya mengenakan jas dokter tengah berbincang, dengan santainya bersama Angel. Mereka terlihat begitu akrab, belum lagi sepertinya pria itu tengah berdiri di samping tempat tidur, sembari sesekali mengajak anaknya bercanda.
Daniel tersentak terkejut, ketika menyadari posisi mereka. Daniel tiba tiba bangun, dan melihat segera memandang ke arah punggung laki laki itu, yang saat ini tengah menunggunginya.
Ah... gawat rasa cemburu Daniel sepertinya akan kembali timbul, Daniel segera bangun, dan buru buru mendekati tempat tidur Angel.
"Bee," panggil Daniel terdengar sedikit tinggi, hingga membuat kedua orang itu terkejut.
Aska yang sudah ketularan jahilnya dengan sikap Brian, segera melanjutkan aktifitasnya, dengan memuji muji Angel, dan Rakara.
"Gila anak kamu ganteng banget, kamu juga tambah cantik banget lagi dari yang dulu. Beruntung banget yang jadi suami kamu, coba aku punya yang kayak kamu ya," kata Aska dengan nada di ubah sedikit bass, namun dibuat lebih lembut.
Ya... itu lah kelebihan dari si playboy kipoy itu, mampu merubah suara, demi mendekati dan menjauhi wanita yang di inginkan-nya.
Daniel yang mendengar hal itu sungguh kesal di buatnya, bagaiman tidak lelaki ber-jas putih, tampak seperti seorang dokter. Ah... Daniel takut ada seorang dokter hidung belang yang suka menggoda istri orang. Sungguh tak bisa di biarkan, Daniel tak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Bee," kata Daniel segera menuju ke sisi tempat tidur yang satunya lagi.
Saat Daniel berada di sisi yang satunya, Aska tersenyum tengil ke arah Daniel, membuat Daniel tersenyum salah tingkah melihat Aska.
"Dasar bucin..." kekeh Aska melihat tingkah Daniel. "Masih jam sembilan pagi loh, tidur lagi gih..."
Angel terkekeh mendengarkan perkataan dari Aska, benar saja suaminya ini memang begitu bucin dengan tingkat cemburu yang benar benar tinggi.
__ADS_1
"Lo tau ga? Kalau lo dalam bidang kedokteran itu, sudah masuk akut bucinnya, ga boleh terpancing dikit langsung cemburu," kata Aska terkekeh. "Benar ya kata ibu Melisa, kalau suami lo tingkah nya lucu, emang ada dokter yang mau sama ibu ibu habis melahirkan, melar kayak gini?"
Angel yang awalnya terkekeh, kini cemberut mendengar kata kata terkahir dari Aska. Ia melirik ke arah lengannya, memang kini sangat melar dari biasanya.
"Sunit... kayaknya aku harus diet lah..." kata Angel memandang ke arah Daniel, membuat Daniel tersenyum.
"Udah jangan panik, itu fungsinya anak lo nyusu, buat nguras lemak lemak sehabis tek dung kemarin," kata Aska menenangkan diri Angel, agar tak perlu terlalu khawatir.
"Iya bee, apapun kamu, aku tetap sayang kok," kata Daniel sembari tersenyum ke arah Angel.
Angel kemudian tersenyum ke arah Daniel, membuat Aska memutar bola matanya, malas melihat adegan yang jika di film film ini adalah adegan romantis.
"Udah romantis romantisan nya, kasian anak kalian," kata Aska sedikit kesal. "Rak... kamu nanti besar jangan pecicilan ya kayak bunda dan ayah kamu," kata Aska tersenyum ke arah Rakara, yang saat ini sudah tertidur.
Aska mengambil alih Rakara, dan segera meletakkannya ke dalam keranjang bayi, baru kemudian mendorongnya sedikit ke tepi, agar tidak menghalangi tempat tidur Angel.
"Dan... sebagai adik ipar yang baik dan juga tampan mempesona ini, itu gue bawain sarapan buat lo," kata Aska menujuk sebuah plastik keresek diatas meja sofa.
"Ok terimakasih buat adik ipar yang mempesona, nanti di doain supaya dapat istri yang sesuai selera deh," kata Daniel segera mendekati makanan yang di atas meja.
"Bee kamu udah makan kan?" tanya Daniel sebelum membuka kantong kresek tersebut.
"Udah tenang aja, gue dokter kok," kata Aska membanggakan profesinya.
Ya dokter memang sejak dulu adalah cita cita Aska, ia tak tertarik menjadi seorang pengusaha, karena sejak dulu ia tertarik dengan profesi dokter semenjak dirinya pernah menjenguk temannya, dan melihat dokter dengan cekatan membatu seseorang yang kecelakaan parah, Aska sungguh takjub dengan pekerjaan itu. Banyak orang yang sembuh, dan banyak orang yang tertolong dengan profesi itu, sungguh membuat Aska takjub.
"Lah hubungannya apa?" tanya Angel bingung.
"Yah gue bakal kontrol pasien gue lah, apalagi kalau cantik," kata Aska menaik turunkan alisnya.
"Oh... ceritanya ni lagi deketin pasiennya sendiri nih?" tanya Angel tersenyum ke arah Aska.
"Cantik banget sumpah, kayak bidadari tampa sayap," puji Aska sembari membayangkan wajah wanita itu.
Yah seperti nya si playboy ini tengah jatuh cinta, dan benar benar jatuh cinta. Angel bahkan tak pernah melihat tingkah sepupunya yang seperti ini.
Namun Angel bersyukur, setidaknya Aska mungkin bisa berubah. Menjadi yang lebih baik, karena setidaknya dia telah menemukan wanita yang ia cintai, tidak seperti biasanya. Ya... Angel harap, namun Angel hanya bisa berharap dan berdoa agar Aska benar benar berubah.
Ah... rasanya doanya bersama dengan yang lain, sepertinya sebentar lagi akan menjadi terkabul. Angel benar benar bahagia sekarang, Angel akan selalu berdoa yang terbaik untuk sepupunya ini.
"Jadi niatnya playboy nya mau tobat ni?" tanya Angel menggoda Aska.
"Belum tau ah... tapi kalau ketemu rasanya jedang jedung dag dig dug gitu hatinya," kata Aska memegang jantungnya yang berdetak, ketika membayangkan senyum pasien favoritnya.
Daniel tersenyum mendengarkan keterangan dari adik iparnya itu, bagaiman tidak tidak si playboy tiba tiba mengatakan hal itu, sungguh di luar dugaan. Ah... bukan kah dia dulu juga begitu? Kenapa sekarang seolah tingkah Aska itu konyol, apa dirinya sekonyol itu dulu? Pikir Daniel.
"Ayo lah... gue cuman bisa curhat sama lo, gimana ni?" tanya Aska dengan wajah penuh permohonan dengan Angel.
"Ya pepet aja terus sampai dapat, kalau perlu paksa dia terima kamu," kata Daniel tiba tiba bersuara dari belakang, yang ternyata telah selesai dengan sarapannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....
__ADS_1
...Dan terimakasih sebanyak banyaknya yang sudah dengan loyalnya memberikan vote, dan hadiah, serta koin. I Love You....