Duda Genit

Duda Genit
Melahirkan


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain, Roni tengah mengantar Wati kembali ke rumahnya. Namun Wati sejak tadi hanya diam, tidak seperti biasanya yang suka sekali berceloteh. Bahkan terkadang Wati bercerita banyak hal, sehingga membuat Roni sedikit gemas dengan berbagai ekspresi yang keluar dari wajah Wati. Cerita cerita tak jelas Wati, yang entah di mana mencomotnya, seakan menjadi penghibur tersendiri bagi Roni.


Namun kini hening, Entahlah Wati tidak biasanya diam seperti ini, membuat Roni sedikit bingung, sepanjang perjalanan Roni bertanya tanya pada dirinya sendiri, apa yang membuat wanita cerewet itu diam seribu bahasa, bahkan lagu yang sengaja Roni putar benar benar tak di tanggapi oleh Wati.


Memang beginilah jadinya kalau orang yang belum mengerti sama sekali tentang cinta, orang yang tidak memiliki kepekaan di dalam hidupnya. Membuat Roni seolah olah tidak peduli, padahal bukannya tak perduli, namun hanya belum mengerti akan situasi dan mood dari seorang wanita. Ingin bertanya tapi takut salah, ingin menghibur tapi tak tahu harus bagaimana.


"Wati... kamu tidur ya?" tanya Roni ketika mereka berhenti di persimpangan jalan, karena lampu telah berganti manjadi warna merah. Hanya itu yang mampu keluar dari bibir Roni, yang entah itu di harapkan atau tidak dengan Wati. Keadaan memang sedikit sepi, namun Roni tetaplah Roni yang terkadang lebih seperti robot, yang di beri jiwa. Yang menghapal seluruh peraturan, dan melaksanakannya dengan baik dan benar.


Wati yang mendengarkan pertanyaan dari Roni, segera memandang ke arah Roni, sembari tersenyum kecut. "Ga kok ga apa apa mungkin lagi kecapean aja," kata Wati kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke arah jendela, dan memandang gedung gedung yang kini mulai meredup, dan hanya di hiasi lampu lampu jalan yang remang.


Roni mengangguk, namun memandang lurus ke depan, namun sejujurnya hatinya sedikit resah, tak mengerti dengan jalan pikiran Wati, tapi ya sudah lah mungkin ia memang lelah, itu yang di pikirkan Roni.


"Wati... kalau kamu ngantuk tidur aja, soalnya ini masih sedikit jauh," kata Roni bermaksud mencurahkan perhatian kepada sang pujaan hati. Meski lebih terdengar sedikit kaku dan aneh ketika keluar dari mulutnya sendiri. Namun Roni rela melakukannya demi Wati, ya terdengar pengorbanan yang sangat besar, namun itulah Roni, yang tidak suka berbasa basi.


Wati tak menjawab hanya mengangguk tanda setuju, yang Roni lihat dari ekor matanya. Meski dengan kebingungan yang melandanya, Roni tetap melajukan mobilnya menuju kembali ke rumah Wati.


Sesampainya di rumah Wati, benar saja ternyata Wati tertidur membuat Roni tersenyum melihatnya. Walaupun sebenarnya Roni tak tahu penyebab mood Wati yang tiba tiba menurun.


"Wati... wat... sudah sampai," kata Roni mencoba membangunkan Wati, namun Wati tak bergeming.


"Wati... Wati... ini sudah sampai," kembali lagi Roni mencoba membangunkan Wati. Namun hasilnya nihil, Wati tetap tak bergeming, hanya gerakan kecil yang tampak dari wajahnya, karena tidur pulasnya terganggu. Wati tampak sangat menikmati mimpi indahnya yang entah ada dirinya atau tidak.


"Wati..." Sekali lagi Roni memanggilnya, namun dengan nada yang lembut, dengan sedikit menyentuh kepala Wati. Namun hasilnya tetap sama, Wati tetap tertidur.


Roni mengusap rambut panjang Wati sembari tersenyum hangat. Roni tiba tiba teringat kata kata dari bos nya, 'kalau tak berani menciumnya saat masih bangun, coba menciumnya saat ia tengah tertidur,' itu kata Daniel. Sebuah wejangan yang entah menyesatkan atau yang baik, entah lah hanya Roni yang memahaminya.


Roni tersenyum ketika tangannya menyentuh wajah Wati, dengan pelan Roni mengusap lembut wajah mulus tersebut.


Lembut.


Halus.


Hm... sangat halus... kini pandangan Roni tertuju pada bibir Wati, ah... tergoda rasanya, ingin sekali Roni mencontoh satu adegan di film yang ia tonton, saat tengah berada di apartemen dan adegan yang di kirim bosnya, katanya untuk pembelajaran Roni, ketika akan me*ncium Wati.


Raut wajah Roni menerawang, apakah se-enak yang di film film? atau mereka hanya melebih lebihkannya saja? Ah... tergoda rasanya, ada rasa penasaran yang menggelitik hati Roni.


Telunjuk yang sejak tadi berada di pipi Wati, kini turun ke arah bibir. Roni menyentuh benda kenyal tersebut. Rasanya begitu lembut, seolah memiliki daya listrik yang menyengat tangan Roni. Seolah ada magnet yang terkandung di dalam benda tersebut, menarik Roni untuk mendekatkan wajahnya.


Roni terus memandangi wajah damai tersebut, kini wajahnya telah mendekat ke arah Wati, pelan tapi pasti Roni kini mendekat ke arah Wati. Ada rasa gugup, penasaran, dan juga senang di hatinya entah kenapa ini bisa terjadi. Namun entah kenapa dorongan untuk melakukannya lebih besar dari sebelumnya, bahkan sekarang lebih besar.


Cup...

__ADS_1


Bibir Roni berhasil mendarat di atas bibir Wati, rasanya ada getaran di seluruh tubuhnya, yang membuat Roni semakin ingin lebih lama di posisi ini. Namun itu hanya angan angan, tiba tiba pintu mobilnya di ketuk oleh seseorang.


Tuk.


Tuk.


Tuk.


Roni yang terkejut, segera melepaskan bibirnya, dan menyadari apa yang telah ia lakukan. Dengan pelan ia menurunkan kaca mobilnya dan melihat diapakan yang mengetuk pintu mobilnya.


"Nak Roni ada masalah? Dari tadi tidak keluar keluar dari mobil," tanya orang itu, adalah orang ayah dari Wati. "Ah... Si Wati nya pasti susah di bangunin ya?" tanya ayah Wati, saat melihat anaknya terlelap di bangku penumpang.


Roni mengusap tengkuknya tidak enak, untung saja ayah dari wanita pujaannya ini tak melihat apa yang ia lakukan tadi. Jika di lihat bisa bisa akan sulit mendapatkan restu. "Ah i... iy... iya om," jawab Roni sedikit gaguk, karena masih salah tingkah dengan perbuatannya sendiri.


Roni segera keluar dari dalam mobilnya, dengan perasaan yang masih campur aduk, gugup, senang, dan bahagia. Karena tadi ia melakukan sesuatu hal yang baru, yang ternyata sangat membuat dirinya ingin lagi.


"Ya sudah biar saya angkat saja, dia memang susah di bangunin kalau sudah tidur," ayah Wati bersiap akan mengangkat putrinya, namun di hentikan oleh Roni yang juga sudah berada di dekat pintu penumpang, bermaksud untuk menggendong Wati.


"Om... biar saya saja," tawar Roni mengusap tengkuknya bingung ingin mengatakan apa.


"Ah... bapak masih kuat kok, tidak apa apa," kata ayah Wati merasa tidak enak merepotkan orang Roni.


Dan yang di perdebatkan kini masih tertidur pulas di dalam alam mimpinya, sementara kedua pria tampan ini masih berebut, ingin menggendong Wati.


'Engga papa yah,takutnya ayah mertua encok. Saya takut pada saat acara nikahan saya ayah mertua masih sakit pinggang,' sebenarnya itu yang ingin di keluarkan oleh Roni kepada calon ayah mertuanya itu. Hah... sepertinya ia ketularan Daniel yang suka sekali mengaku ngaku, meski tak di akui oleh pihak lain.


...----------------...


Hari ini harusnya jadwal lahiran anak pertama Angel dan Daniel, mereka sangat gugup, terutama Angel dan Daniel. Namun Angel berusaha untuk tidak berhenti melakukan berbagai aktifitas, contohnya saja Angel sangat rajin jalan jalan ke arah dapur, meskipun terus saja di ikuti oleh Daniel.


Sementara semua barang barang yang akan di perlukan telah di persiapkan, dan di letakkan di ruang keluarga. Keluarga Angel sejak tadi juga sudah berada di kediaman keluarga Melisa.


Ya mereka kemarin mengajukan kepulangan ke Indonesia, kecuali Brian. Karena anaknya masih kecil, belum lagi ia harus menghendel perusahaan yang ada di Belanda. Mereka semua tepat berada di indonesia satu bulan yang lalu, dan telah melakukan isolasi mandiri, dan untung saja tidak ada yang terpapar.


"Bee, jangan jauh jauh bee," seru Daniel sembari memperingati Angel agar tak bergerak.


Aldo telah memesan satu ruangan untuk bersalin, agar rumah sakit menyisahkan satu ruangan untuk mereka. Aldo sangat khawatir dengan keadaan anaknya. Aldo di beritahu bahwa di antara mereka hanya dua orang, yang boleh memasuki ruangan dan tiga termaksud pasien.


"Jadi nanti kita hanya boleh ada tiga sampai empat orang yang menemani, jadi siapa ni yang nemani Angel?" tanya Aldo membicarakan tentang pendamping pasien.


"Ya sudah ini biar para wanita yang membantu, kita tunggu kabar saja," kata Denny memberi saran.

__ADS_1


Sementara di dapur Daniel terlihat sangat tegang, meskipun sejak tadi sibuk mengikuti istrinya. Daniel terus mencoba agar tidak terlihat panik, namun ia tetaplah waspada. Daniel sesekali dengan cekatan memberi Angel air putih, agar Angel tidak kehilangan banyak cairan akibat terlalu banyak berjalan.


Tiba-tiba Angel menggenggam perutnya, merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. Angel memang sejak tadi merasakan sakit di bagian perutnya, namun ia tahu itu belum saatnya. Karena itu Angel sejak tadi memilih untuk menyibukkan dirinya, dengan cara berjalan di dapur.


Daniel yang melihat hal itu dengan siap siaga segera menggendong Angel, Aska yang melihat hal itu segera membawa pakaian Angel ke dalam mobil. Sesuai kesepakatan tadi, bahwa para wanita lah yang akan menemani Angel dan Daniel. Karena itu Melisa dan Tania lah yang pergi untuk menemani Angel.


"Bee yang kuat, kita sebentar lagi sampai di rumah sakit," kata Daniel mencoba memberikan kekuatan kepada istrinya. Cairan putih kini telah turun di balik pakaian yang Angel kenakan, membuat Daniel sedikit panik. Namun Daniel juga mengingat petuah dari mertua, bahwa dirinya jangan panik, berusaha tenang, agar calon ibu juga tenang.


"Bee semua akan baik baik saja, sebentar lagi, tarik nafas pelan pelan buang melalui mulut," kata Daniel terus mencoba menenangkan Angel.


Entah kesialan apa yang mengenai mereka, tiba tiba jalan yang mereka lalui terkena macet, sudah beberapa kali supir Daniel menekan klakson agar mobil di depan mereka memberi jalan. Namun hasilnya tetap sama, mobil di depan juga tak dapat bergerak sama sekali. Saat supir mereka akan mengambil jalur lain, namun sudah terlambat, ternyata mereka pun telah terjebak.


Daniel yang melihat wajah Angel, yang telah berkeringat banyak karena menahan sakit, menjadi tak tega, padahal rumah sakit telah terlihat, di ujung sana, namun keadaan masih juga sulit bergerak.


Daniel segera membuka pintu mobilnya, dan menggendong Angel yang tengah menahan sakit. Banyak orang orang yang melihat kejadian itu, segera memundurkan kendaraan mereka memberi jalan kepada Daniel. Daniel dengan sedikit kesusahan segera berlari menuju rumah sakit, sementara supir mereka tengah menjalankan mobil yang tengah terkena macet.


"Bee sabar bee, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit, ini tinggal beberapa menit lagi," kata Daniel masih sibuk menenangkan istrinya.


Beberapa pejalan kaki heboh, dan segera memberi jalan bagi Daniel yang membawa istrinya dengan tergopoh-gopoh, sesekali Daniel memandang wajah istrinya, yang tengah menahan rasa sakit.


Butuh waktu lima belas menit, Akhirnya ia sampai di depan ruang sakit, Daniel segera memanggil perawat, meminta mereka segera melakukan pertolongan pada Angel. Daniel terlihat begitu kacau, segera menuju ke ruang bersalin. Untung saja ia tak payah mengisi administrasi, karena sudah di pesan oleh Aldo, Selaki salah satu investor dari rumah sakit tersebut.


Daniel menggenggam tangan istrinya memberi semangat untuk Angel. "Bee semangat bee," kata Daniel tampa sengaja meneteskan air mata nya, ikut merasakan sakit yang di derita istrinya saat ini.


"Ibu silahkan tarik nafas dalam dalam, terus ngeden Bu..." kata dokter tersebut dengan tenang.


Angel mengikuti arahan dokter tersebut, kemudian segera mencoba ngedden dengan sekuat tenaga.


"Haaaaa," Angel berteriak merasakan kesakitan yang luar biasa, rasanya ada yang terkoyak di dalam sana, sehingga membuatnya merasakan sakit yang luar biasa. Di ikuti dengan cengkraman tangan Angel yang luar biasa pada pergelangan tangan Daniel.


Daniel yang merasakan sakit dan perih pada pergelangan tangannya, hanya diam dan terus saja mengusap tangan istrinya yang baru saja hampir meremukkan lengannya. Daniel faham betul, apa yang dirasakan istrinya tidak lah seberapa dengan apa yang di rasakan oleh dirinya, terlihat betul dari bagaimana ekspresi istrinya saat ini.


Daniel semakin kalut, takut terjadi apa apa kepada istrinya, namun sekuat tenaga ia mencoba tenang dan menyemangati Angel. Tiba tiba ingatannya kembali saat ibunya mengatakan, bahwa melahirkan anak merupakan pertaruhan antara hidup dan mati, membuat Daniel merasakan takut yang luar bisa. Daniel takut kehilangan istrinya, Daniel tak ingin terjadi sesuatu kepada istrinya.


"Iya Bu sebentar lagi Bu..." kata dokter tersebut, memberi semangat kepada Angel. "Iya... tiga... dua..." dalam hitungan ke dua Angel telah menarik nafas panjang untuk kembali mencoba ngedden. "Tiga..." bersamaan dengan itu Angel juga telah mengeluarkan nafasnya dengan susah payah.


"Huaaa...." suara bayi terdengar begitu nyaring di ruangan tersebut. Sungguh membuat Daniel terharu, namun tiba tiba Angel menutup matanya, membuat Daniel sangat panik.


"Bee... bangun bee," kata Daniel panik bukan main. "Bu istri saya kenapa?" Daniel yang melihat istrinya tak berdaya, setelah melahirkan anak mereka menjadi sangat panik. "Bee bangun bee."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....


...Dan terimakasih sebanyak banyaknya yang sudah dengan loyalnya memberikan vote, dan hadiah, serta koin. I Love You....


__ADS_2