
Hari ini Angel dan Daniel sedang bersiap pulang dari kantor, Daniel menghampiri Angel yang tengah membereskan berkas, yang tadi di kerjakan nya.
Daniel melihat itu, segera berjalan mendekati Angel. Daniel membantu Angel sedikit, di bagian sudut kanan dalam meja Angel.
"Sayang ibu mau ketemu," kata Daniel mendudukkan pantatnya di meja kerja tadi yang telah ia bersihkan. "Sayang mau ya."
Angel hanya memandang Daniel sebentar, kemudian kembali lagi melanjutkan pekerjaannya.
"Sayang dengar tidak?" kata Daniel karena merasa diabaikan.
Angel kembali memandang Daniel. "Mau pergi atau nggak? Ini lagi beres beres."
Daniel berlonjak senang kemudian memeluk Angel. Daniel bahagia akhirnya Angel, bersedia menemui ibunya.
"Terimakasih sayang," ucap Daniel di sela sela pelukannya.
"Iya lepas, mau cepat atau enggak?" tanya Angel mencoba memberontak dari pelukanku Daniel.
Daniel segera melepaskan pelukannya dari Angel, karena Daniel takut Angel tiba tiba berubah pikiran.
"Eh iya, sayang saya bantuin ya," kata Daniel melepaskan pelukannya.
Angel hanya mengangguk, malas berdebat. Angel tahu betul, Daniel tidak akan membantunya seperti yang ia harapkan.
Daniel segera turun dari meja Angel. Benar saja Deniel bukannya membantunya, tapi Deniel justru sibuk memeluk Angel dari belakang. Daniel menyingkap rambut Angel dari belakang, kemudian mengecup punggung Angel.
"Dunit kalau gini terus, ini bakal lambat," kata Angel kesal berusaha memberikan penjelasan. "Dunit kalau kayak gini ini bakalan ga selesai selesai."
Bukannya melepaskan Daniel seolah tuli dan tetap melanjutkan aktivitasnya, membuat Angel menghela nafasnya dengan kasar. Angel kemudian melanjutkan kerjanya tanpa memperdulikan kelakuan Daniel.
Tok tok tok...
Bunyi ketukan pintu membuat Deniel berdecak, merasa kesal karena kesenangannya telah diganggu oleh seseorang.
Sementara Angel merasa terselamatkan dengan adanya ketukan pintu tersebut, Angel melirik wajah Deniel yang terlihat begitu kesal.
"Masuk..." kata Daniel sembari kembali ke kursi kebesarannya.
__ADS_1
Cklek.
Pintu terbuka menampakkan Roni bersama dengan seorang wanita yang cantik, wanita itu tersenyum manis ke arah Daniel. Sementara Roni mempersilahkan wanita itu masuk.
Angel memandang ke arah Roni yang seolah sangat hormat dengan wanita tersebut. Angel bingung, karena seingat Angel wanita itu seumuran dengan Daniel. Namun Angel masih berfikiran positif, dan memilih untuk melanjutkan aktifitasnya.
"Hai Daniel, lama tidak berjumpa," sapa wanita itu.
"Hai Anna sudah sangat lama," sapa Daniel tak kalah ramah.
Mereka terdengar akrab, membuat Angel sedikit mengangkat kepala. Tak pernah Daniel sebegitu ramahnya kepada orang lain.
"Iya, hampir dua tahun lamanya, semenjak perceraian kita," ucap wanita itu yang bernama Anna, dengan santainya.
Wanita itu kemudian menghampiri Daniel dan memeluknya, Angel sedikit tersentak melihat hal itu, namun berusaha untuk bersikap netral. Cemburu memang cemburu, namun ini di kantor, tak mungkin Angel mengamuk dan membuat keributan. Hati Angel memang kesal dengan mantan sepasang kekasih itu, namun logika nya masih berjalan. Percuma memiliki otak yang cerdas, namun hanya mengandalkan emosi sesaat, yang akan membuatnya malu sendiri.
"Ah benar juga, apa kabar dengan mu?" tanya Daniel sembari tersenyum.
"Kau tak pernah berubah, selalu setegang ini," kata Anna sembari tersenyum ke arah Daniel.
Angel hanya menjadi penonton setia, statusnya yang bukan siapa siapa membuatnya lebih memilih untuk duduk. Menyaksikan keakraban Daniel dan mantan istrinya.
"Hah terserahlah, oh ya aku datang untuk membawa ini," kata Anna sembari menyerahkan sebuah kertas, yang lebih mirip seperti undangan.
"Ah aku akan datang," kata Daniel sembari menerima undangan tersebut. "Sayang..." panggil Daniel, memandang ke arah Angel, yang saat ini masih menjadi penonton setia keakraban mereka.
Angel salah tingkah, ketika Daniel memanggilnya. Angel tak menyangka Daniel akan memanggilnya begitu, di depan mantan istrinya.
"Ah kau memiliki pacar? Kenapa tak mengatakannya?" tanya Anna sembari tersenyum ke arah Angel.
"Kau saja yang akan menikah baru mengatakannya," sindir Daniel membuat Anna terkekeh.
Ya semenjak mereka bercerai, mereka memutuskan untuk damai, dan menjadi teman saja. Itu lebih baik untuk mereka berdua.
"Sayang sini, ini si kunti berisik banget sih," kesal Daniel kepada mantan istrinya, yang masih saja tertawa.
"Angel yang sabar ya menghadapi si duda bobrok ini," kekeh Anna terus saja mengejek Daniel.
__ADS_1
Angel ikut terkekeh membenarkan kata kata Anna, membuat Daniel memandang Angel dengan tatapan kesal.
"Sayang..." kesal Daniel, tampa segan memanggil Angel dengan panggilan kesayangannya.
Angel berjalan ke arah Anna dan Daniel, Angel segera menjabat tangan Anna, sembari memperkenalkan namanya.
"Angel," kata Angel sembari menjabat tangan Anna.
"Anna," Anna menyambut uluran tangan Angel.
"Jangan berbicara yang aneh aneh dengan Angel," kata Daniel sembari menarik tangan Angel, kemudian memeluknya.
"Aduh sekarang malah jadi bucin ya?" goda Anna, membuat wajah Angel memerah. "Kalau ada yang aneh maklum saja ya, soalnya dia ini gaya nya aja kalau di hadapan orang cool, eh di belakang bobrok nya minta di colok."
Angel terkekeh, mantan istri Daniel benar benar menyenangkan. Yang di katakan Anna memang kebenaran, membuat Angel benar benar mengakui nya.
"Benar kan? Kau bahkan tak bisa menyangkalnya," kekeh Anna, mengajak Angel segera duduk di sofa, dan saling berbicara. Mereka sepertinya benar benar satu frekuensi mengenai keanehan Daniel.
Daniel segera keluar dari ruangan nya, kemudian memanggil Roni untuk memesankan tiket pesawat. Roni melihat bosnya bingung, ia fikir Angel akan keluar, dan kesal karena Daniel kedatangan mantan istrinya, namun ternyata Daniel lah yang keluar dan terlihat kesal.
"Kenapa bos?" tanya Roni.
"Mereka satu frekuensi," kata Daniel frustasi. "Kamu segera siapkan tiket ke Singapura, untuk minggu depan."
"Berapa orang bos?" tanya Roni.
"Dua orang, untuk saya dan Angel, nah kamu handel di sini, saya jadikan Wati asisten kamu," kata Daniel memandang Roni.
"Wah maksudnya apa ni?" tanya Roni dengan raut bingung, namun tidak dengan hatinya yang bersorak gembira.
"Daniel, katanya tadi mau ngajak Angel ketemu ibu," goda Anna ketika keluar dari ruangan Daniel bersama Angel.
"Ya sudah saya nanti akan datang, dengan Angel ya," kata Daniel ingin mengakhiri pembicaraannya dengan Anna, sahabat sekaligus mantan istrinya.
"Ya elah, bilang aja ga mau gue deket deket sama Angel," ejek Anna.
Daniel tak mempedulikan kata kata Anna, dan segera meninggalkan Anna dengan Roni, sembari menggandeng tangan Angel menuju parkiran.
__ADS_1