Duda Genit

Duda Genit
S3 (Kalian sedang apa)


__ADS_3

Hari ini semua berkumpul bersama di rumah Daniel, begitupun dengan Chandra dan Aliya. Merek akan mengadakan makan malam bersama, sembari mengumumkan perjodohan dan pertunangan Rakara dan Aiyla, yang jujur saja tak Aiyla ketahui.


Karena para orang tua tengah berkumpul bersama di taman belakang, sementara yang lain berkumpul di ruang keluarga, bermain bersama Willi.


"Selaaaam," teriak Willi hendak menyerang Rakara, namun Aiyla justru terkekeh.


"Serang Will," kata Aiyla sembari terkekeh. Rayana hanya melihat Willi, Rakara, dokter Aldi, Ahmed dan Aiyla bermain dengan riang, karena dirinya saat ini tengah hamil.


"Semlaaaa," kembali lagi Willi bersorak, sontak membuat yang lain terkekeh geli.


"Willi serang, serang Willi," kata Aiyla sembari kembali masuk ke dalam selimut, dengan menyeret tangan Willi yang terlanjur keluarr. "Udah lah ga jadi, kamu benerin kata kata serang dulu," kata Aiyla masih bisa terdengar dari luar, sontak semakin membuat orang orang tertawa terpingkal pingkal.


Aiyla mengangkat tangannya ke luar selimut tanda untuk beristirahat. "Istirahat dulu, anak ini mau di ajari bilang serang dulu, mentang mentang wajah para laki laki di depannya seram malah terang di bilang selam," kesal Aiyla membuat semua semakin terkekeh.


Aiyla segera menggelitik Willi yang masih setia berada di dalam selimut, membuat anak itu semakin terkekeh di buatnya. Rayana dan dokter Aldi ikut terkekeh, karena Willi di kelilingi dengan orang yang menyayanginya.


Melihat Aiyla yang terus menggelitik Willi, Ahmed ikut serta, ia segera ikut menggelitik Willi. Semakin pecah lah tawa Willi. "Raka ayo ikut gabung, bantuin Willi, sekalian bantuin hati," goda dokter Aldi sembari menarik turunkan alisnya.


Tanpa menunggu lama Rakara ikut bersama Ahmed, dengan modus membantu Willi. Rakara kini menarik Willi ke dalam pelukannya, namun Ahmed berhasil menggelitiknya, Aiyla tak ingin tinggal diam, Aiyla justru ikut dalam menyerang kubu Rakara dan Willi. Aiyla dapat kebagian menggelitik Rakara. Rakara tersenyum kemenangan, bukannya membalas Rakara justru memeluk Aiyla. Tampaknya wanita itu tak menyadarinya, membuat Rakara tambah bahagia, akhirnya Rakara tertawa, bukan karena geli tapi karena bahagia.


Ahmed terkejut melihat posisi Aiyla yang tengah berada di dalam pelukan Rakara, Aiyla asyik menggelitik perut berotot Rakara, yang mereka yakini itu tak akan geli sama sekali. Namun tampaknya Rakara tertawa lepas.


Ahmed segera menutup mata Willi sembari terkekeh lucu. "Mata kamu ternodai ya Will, ayo keluar. Dasar pacaran ga tau tempat," oceh Ahmed membuat Rayana menatap horor ke arah dirinya.


"Jangan ngajarin anak gue yang ga engga," Rayana menoyor kepala Ahmed, semakin membuat Ahmed tertawa. Dokter Aldi ikut terkekeh sembari membantu Rayana berjalan.

__ADS_1


"Mama pacaran itu apa?" Willi menghadap ke arah Rayana sontak membuat yang lain terperangah.


......................


Aiyla yang tak menyadari kepergian mereka, terus saja melanjutkan aksinya, sontak semakin membuat Rakara terkekeh bahagia. Rakara dengan santainya menaikkan Aiyla ke dalam pangkuannya, dan menatap dalam gadis tersebut.


"Ai kamu tau ga, semalam kakak ketemu foto masa kecil kita," kata Rakara tiba tiba memegangi tangan Aiyla.


"Ha foto apa?" Aiyla masih terlihat bingung.


Rakara segera mengeluarkan ponselnya, dan memperlihatkan Aiyla sebuah foto. Aiyla tampak berkerut. "Ini kamu, ini kakak," Rakara menunjuk dua foto anak kecil yang tengah berdiri di bawah pohon rindang.


"Ini Ai?" Aiyla segera menunjuk anak perempuan tersebut. "Ini kakak ya? Kirain kemarin kemarin itu photo kak Maxim."


Rakara segera mengerutkan keningnya, ia tak suka akan hal tersebut. Terlebih Rayana akhir akhir ini suka sekali meledek Rakara, kalau Aiyla itu lebih cocok dengan kakak sepupunya Maxim. Pasalnya Maxim memiliki sifat yang mudah bergaul, dan pintar bersikap manis serta romantis. Hal itu menurut Rayana sangat cocok dengan Aiyla yang ceria.


"Raya kak," jawab Aiyla jujur.


Rakara hanya menggeram kesal di balik senyum manisnya. "Menurut kamu Maxim itu gimana?"


"Baik, manis banget, ga pelit sama Ai, terus kak ya Ai dengar dia sweet banget sama pacarnya, pokoknya impian banget deh," jawab Aiyla mengingat bagaiman Maxim memperlakukan kekasihnya dulu.


Rakara benar benar kesal di buat Aiyla, berani sekali Aiyla memuji laki laki lain di hadapannya. Mungkin ini juga kesalahannya, karena menanyakan hal tersebut kepada Aiyla. Rakara segera menarik tengkuk Aiyla, kemudian me*lu*mat bibir Aiyla dengan rakus. Rakara tak terima meskipun Aiyla hanya memuji kakak sepupunya.


Aiyla terkejut, berusaha memberontak, namun ternyata Rakara menahannya. Bahkan kini Rakara menurunkan sedikit tempo permainannya, Rakara sedikit melembut, membuat Aiyla lama kelamaan terbuai dengan hal tersebut. Bahkan kini membalas dan tangannya sudah meremas kaus Rakara.

__ADS_1


Rakara sedikit menjeda tautan mereka, hingga akhirnya kembali me*lu*mat lembut bibir Aiyla yang kini mengalungkan tangannya di leher Rakara. Rakara yang menyadari keberadaan dari dokter Aldi yang jelas terdengar dari suaranya, segera menggendong Aiyla tanpa melepas tautan mereka. Rakara sedikit buru buru menuju lantai tiga, dimana Rakara akan membawa Aiyla ke ruang bioskop keluarga miliknya. Rakara melepas tautan mereka ketika berada di dalam lift, Rakara menurunkan Aiyla, membuat Aiyla membuka matanya dengan sayu. Rakara tersenyum memandang mata Aiyla dengan lekat.


"Kita mau kemana kak?" Aiyla masih mengatur nafasnya yang tersengal senegal.


"Mau ke lantai tiga," Rakara kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Aiyla, sehingga nafas mereka kembali beradu. Aiyla men_jinjitkan kaki nya dan menutup matanya. Rakara tersenyum, dan kembali me*lu*mat bibir Aiyla, Rakara bahkan meremas sedikit bokong Aiyla. Sontak saja membuat Aiyla melenguh di dalam ciumannya.


Saat sampai di lantai tiga, Rakara segera mendorong Aiyla keluar dan menggendong Aiyla ke dalam bioskop. Aiyla benar benar di buat melayang dengan ciu*man lembut Rakara. Laki laki itu masih sangat ahli dalam melumpuhkan lawannya, pengalaman membuatnya mampu mengetahui titik lemah wanita.


Saat Rakara telah berada di atas Aiyla, Rakara segera menurunkan bibirnya hingga ke belakang telinga Aiyla, dan ke leher Aiyla. Aiyla terus melenguh membuat Rakara semakin tersenyum bahagia. Rakara bahkan sudah menyingkap kaus yang Aiyla kenakan.


"Ah, kak Raka," Aiyla memanggil Rakara yang saat ini tengah mengecup perut Aiyla.


Rakara bangun sejenak, namun tangannya sudah menjelajah kemana mana. "Kenapa Hem?" Rakara mendekatkan wajahnya mengecup sebentar bibir Aiyla.


"Kakak jangan, kita ga ada ikatan," pinta Aiyla kewarasan gadis itu kembali. Rakara mendesah kecewa, namun juga tak mungkin melakukannya sekarang.


"Maaf kakak kelewatan," kata Rakara segera memperbaiki baju Aiyla. Rakara segera membatu Aiyla bangun dan membawanya ke dalam pangkuannya.


Rakara terkekeh melihat wajah malu Aiyla, Rakara bahkan mengecup singkat hidung Aiyla. "Ai habis ini kita menikah ya."


"Kak..." Rakara segera mengecup singkat bibir Aiyla.


"Iya atau iya?" Rakara tersenyum memandang wajah semerah kepiting Aiyla.


"Kak sama aja dong," kata Aiyla sedikit memukul dada Rakara.

__ADS_1


Rakara menangkap tangan Aiyla dan mengecupnya. "Kamu memang ga punya pilihan," Rakara kembali me*lu*mat bibir Aiyla.


"Kalian sedang apa?" Daniel dan yang lainnya tengah berdiri membuka pintu bioskop, dan menangkap basah kedua anak yang tengah ber*ciu*man mesra.


__ADS_2