Duda Genit

Duda Genit
S3 (Sayang Ai)


__ADS_3

Usai makan malam mereka akhirnya kembali berbaring, dengan bantal guling di tengah tengah mereka sebagai pembatas, Rakara kini asyik memandang ke arah Aiyla, sembari tersenyum mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Aiyla. Ah, rasanya seperti melodi yang siap untuk mengantarkan tidur. Rakara terkekeh ketika melihat Aiyla, tampaknya gadis itu masih segar segar saja keadaannya, belum menampakkan tanda tanda mengantuk. Namun mata Rakara lah yang semakin berat dan akhirnya tertidur dengan lelap. Maklum saja tadi dia tak bisa tidur karena pelukan maut dari Aiyla, untung saja Rakara masih bisa menahan hasrat yang bergejolak hingga ke ubun ubun.


"Yah kak Raka tidur duluan, ya udah deh tidur juga deh," akhirnya Aiyla mencoba untuk menutup kembali matanya, namun dirinya tak kunjung terlelap, sudah berbagi macam pose yang ia lakukan, namun tak mampu juga untuk terlelap.


Akhirnya Aliya segera memeluk guling pemisah mereka, dan membolak balikkan tubuhnya agar terlelap. Tetap saja tak bisa. Akhirnya Aiyla mendekati Rakara dan sedikit mencuil cuil Pipinya. "Kak, kak Ai ga bisa tidur."


Rakara sedikit terganggu akhirnya membuka matanya pelan, dan melihat ke arah Aiyla. Dirinya terkejut, pasalnya saat ini Aiyla tengah berada tepat di hadapannya. Rakara akhirnya kembali menutup matanya, kembali berpura pura tertidur. "Ih kakak nyenyak banget tidurnya." kesal Aiyla.


Rakara dengan berpura pura tak sadar segera meraih tubuh Aiyla, dan memeluknya. Rakara tak memberi jarak antara merek. Bahkan saat ini Rakara menarik Aiyla hingga kepalanya bersender di dada bidangnya. "Kakak, kakak lagi ngelindur ya? Atau gimana? Aduh lepas dong," pinta Aiyla.


^^^"Enak saja, yang sudah masuk ke dalam hidup saya kamu, dan saya tidak akan melepaskan orang yang berhasil masuk ke hidup saya," Rakara segera berucap di dalam hati.^^^


Entah perasaan seperti apa yang ia rasakan, Aiyla berusaha melepaskan diri, namun di saat yang bersamaan dirinya merasa sangat nyaman berada di dalam pelukan hangat Rakara. Hingga akhirnya dirinya tak lagi memberontak, dan memejamkan matanya di dalam pelukan hangat Rakara. Aiyla akhirnya tertidur nyenyak di dalam sana, begitupun dengan Rakara.


......................


Pagi menjelang akhirnya Rakara bangun terlebih dahulu, dan menyadari Aiyla berada di pelukan nya. Rakara tersenyum dan segera mengecup puncak kepala Aiyla. Andaikan saja pagi ini tidak ada meeting dengan client maka ia akan lebih lama memeluk Aiyla.


Rakara segera melepaskan pelukannya, dan meninggalkan Aiyla sendirian di tempat tidur. "Ai ayo bangun," Rakara menepuk nepuk pipi Aiyla dengan pelan. "Ai pagi ini ada meeting kita."


Aiyla sedikit mengerjapkan matanya dan memandang ke arah Rakara. "Hm, kakak mandi aja duluan, biar Ai siapkan baju."


Aiyla segera bangun dan membuka lemari pakaian, menyiapkan baju untuknya dan untuk Rakara. Aiyla kemudian merapikan tempat tidur. Aiyla memesan sarapan dari resepsionis untuk di antara kan ke kamar mereka. Setelah itu Aiyla duduk di sofa kamar mereka, yang menghadap ke arah pantai.


Tak lama kemudian Rakara keluar dari kamar mandi dan melihat Aiyla tengah bersiap untuk mandi, kali ini Rakara akan melancarkan aksinya. Rakara keluar dengan hanya mengenakan handuk kecil yang melilit pinggangnya. Menampakkan pemandangan indah, perut kotak kotak Rakara.


Ah, roti sobek sarapan Aiyla benar benar menggoda. Aiyla tak berkedip melihatnya bahkan mulutnya saja sampai sampai terbuka, terkejut sekaligus kagum melihat pemandangan indah di pagi hari ini.

__ADS_1


Rakara berjalan mendekati Aiyla, bahkan dengan sengaja menyenggol bahu Aiyla hingga mengenai perut kotak kotaknya. Aiyla menelan ludahnya kasar membuat Rakara tersenyum senang. Kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Aiyla, sembari menempelkan kening mereka, hingga hidung mereka bersentuhan.


"Kenapa? Mau megang?" Rakara tersenyum penuh kemenangan ketika Aiyla dengan refleks mengangguk. Rakara segera duduk di sebelah Aiyla, dan menuntun Aiyla untuk memegang perutnya.


Mantap, hanya satu kata itu yang terlintas di benak Aiyla, ketika memegang perut sixpack Rakara. Rakara bahkan menuntun Aiyla untuk meraba perutnya. Tampaknya Aiyla terbuai, Rakara segera menarik keningnya dari kening Aliya, membuatnya segera memandang aiyla dengan seksama. Rakara segera mendekatkan dirinya kembali ke arah Aiyla, membuat Aiyla secara refleks memejamkan matanya, bersiap atas apa yang terjadi selanjutnya. Rakara sedikit tersenyum dan akhirnya.


Cup. Rakara mengecup bibir Aiyla dengan tangan Aiyla yang masih berada di perut nya. Rakara yang tak merasakan penolakan, akhirnya kembali me*lu*mat bibir Aiyla dengan lembut. Ini adalah hal pertama yang dirasakan Aiyla saat dirinya sadar, pasalnya selama ini Rakara melakukannya secara diam diam.


Lu*ma*tan yang awalnya lembut kini semakin menuntut, Rakara bahkan kini menarik Aiyla ke dalam pangkuannya, tangan Aiyla kini berada di perut Rakara, sedikit mengusap dan mencengkram, tanda dirinya menikmati hal tersebut. Rakara semakin kehilangan akal, ciu*man nya semakin turun hingga ke leher, Rakara mengecupnya dengan basah, dari telinga hingga ke tulang selangka, membuat Aiyla mendesah.


Sensasi baru yang merangsang seluruh syaraf syarafnya, memberi respon menuju otak, dan membuat otaknya menerjemahkan perasaan itu, dengan sensasi yang luar biasa. "Ah," Aiyla meremas rambut Rakara, membuat Rakara segera mengangkat kepalanya, untuk bertemu pandang dengan Aiyla.


"Ai kakak..." Rakara kembali mengecup bibir Aiyla, dengan sedikit lu*ma*tan nakal di sana. "Sayang sama kamu."


Ungkapan rasa yang baru pertama kali ia lontarkan, tampaknya wejangan dari Daniel dan dokter Aldi terabaikan. Dirinya malah bertindak cepat terlebih dahulu. "Ai balas kakak," pinta Rakara dengan mata sendu yang menuntut.


Rakara segera berdiri, tanpa melepaskan pa*ngu*tan mereka, Rakara membawa Aiyla ke tempat tidur, dengan Aiyla yang mengalungkan tangannya. Rakara segera membaringkan Aiyla dan memandang wajah Aiyla yang terengah engah dengan mata yang tertutup. Rakara segera melepas handuknya, dan menampakkan sesuatu yang mengeras di balik sana. Sesudah itu Rakara kembali mengecup bibir Aiyla, dan menuntun tangannya untuk menyentuh supermannya. "Sayang."


Rakara kemudian membuka pakaian yang dikenakan Aiyla secara perlahan, tampaknya keahliannya satu tahun silam tidak hilang. Rakara tetap ahli dalam hal me*lu*cuti pakaian. Saat pakaian terbuka, Rakara segera menyesap dengan lembut buah da*da Aiyla. "Ah," suara erotis itu kembali menggema dari bibir Aiyla.


"Sayang kakak akan menikahi kamu setelah ini," Rakara mengucapkannya dengan lembut di telinga Aiyla sembari menggigit nya dengan lembut, "Sayang panggil nama kak."


"Kak Raka," panggil Aiyla membuat Rakara semakin bersemangat. Rakara kembali mengecup leher Aiyla hingga tubuh Aiyla semakin menggelinjang, membentuk busur indah.


"Panggil nama kakak lagi Ai," Rakara sudah siap untuk masuk ke liangnya.


"Kak Raka," panggil Aiyla kembali dengan suara yang tertahankan. "Kak sakit."

__ADS_1


"Sabar Ai, Ini sebentar lagi ga akan sakit kok," Rakara segera mengecup puncak kepala Aiyla, sembari menunggu sedikit lama, agar Aiyla tidak merasa sakit lagi. "Masih sakit?" Aiyla hanya menggeleng dengan mata sayunya memandang Rakara.


Akhirnya Rakara bergerak secara perlahan hingga membuat Aiyla mengeluarkan suara asing, yang memabukkan.


"Kak, kak Raka," panggil Aiyla.


Rakara tersenyum kemudian memberikan sedikit tempo cepat, Rakara tak ingin bergerak terlalu brutal, karena Rakara tahu ini yang pertama untuk Aiyla.


"Kak Raka," panggil Aiyla namun sedikit dengan nada meninggi, kemudian ada beberapa tetesan air mengenai wajahnya.


^^^"Masa hotel ini bocor sih?" Rakara sedikit bingung, namun tak di hiraukannya. kenikmatan ini menghapus semuanya. Biarlah itu urusan nanti.^^^


"Kak Raka, oy bangun," teriak Aiyla, membuat Rakara mengernyit. Apa wanita itu merasa kesakitan? Permainannya terlalu kuat? Atau bagaimana?


"Kak Raka bangun kita mau meeting, kalau ga Ai siram air ni," ancam Aiyla membuat Rakara menghentikan aktivitas nya. Rakara sedikit menjauh dari Aiyla, memandang Aiyla dengan pandangan bertanya. "Kak bangun."


Rakara tersentak, dan terbangun dari tempat tidurnya. Rakara memandang Aiyla yang sudah berpakaian lengkap, dengan makeup natural. Rakara mengernyit bingung melihatnya.


^^^"Aish ini terlalu nyata, bagaiman ini kenapa tidak langsung jadi sih?" Rakara sedikit mendesah kesal merutuki mimpinya.^^^


"Jadi rapat ga ni? Orang mau rapat kok malah tidur lagi habis sholat subuh," omel Aliya sembari memakai kaus kakinya, dan juga sepatunya. "Ini bajunya, cepat mandi sana."


Rakara segera menyambar handuk dan melepas bajunya, untuk memperlihatkan betapa indahnya tubuh kotak kotaknya.


"Ngapain sih kak buka baju di situ? Badan kayak kakak itu udah bisa Ai lihat, jangan tersinggung ya, badan teman mama itu lebih berotot apalagi kalau habis latihan," kata Aiyla membuat Rakara mendesah kesal. Sungguh bukan seperti ini yang di inginkan nya. "Lagian kakak mimpi apa sih? Sampai manggil nama Ai? Pakai ah ah segala, terus sayang Ai," omel Aiyla masih bisa di dengar Rakara.


Mendengar omelan Aiyla membuat wajah Rakara semakin memerah, sungguh memalukan hal ini. "Rakara bo*doh."

__ADS_1


__ADS_2