
Sudah satu minggu Aiyla menjalani masa LDR bersama Iki. Rencananya hari ini Iki akan segera kembali ke Jakarta dengan menggunakan mobil, supir prbadi Iki telah menjemputnya. Iki sengaja naik mobil, karena Iki ingin melihat cafe cabang miliknya dahulu. Aiyla sangat antusias akan hal tersebut.
Sementara Iki saat ini sudah melakukan packing pakaiannya, Iki sama tak sabarannya untuk bertemu kekasih, namun karena harus singgah di beberapa tempat, membuat Iki harus sedikit bersabar.
Malam ini Aiyla tidur cukup malam karena melakukan ritual malam yang sering di lakukannya, pada satu minggu terakhir adalah saling berbagi kabar dengan Iki, kekasih nya.
"Sayang kamu jangan macam macam kalau nanti aku ga sempat pulang cepat ke sana, takutnya di cafe nanti banyak yang mau di cek," nasihat yang selalu berulang dari mulut Iki, membuat Aiyla tersenyum, karena Iki sangat perhatian padanya.
"Iya paling sehari atau dua hari doang kan?" Aiyla terkekeh mengatakan hal tersebut.
"Iya, nanti kamu kalau di bilangin Raka jangan suka bantah loh, kan aku nitipin kamu sama dia," kembali lagi nasihat dari Iki terus di lancarkan.
"Iya kakak, Ai nurut kok sama dia, walaupun tugas berat terus menerpa," jelas Aiyla sembari terkekeh.
"Iya ingat nurut sama dia, kakak ga selama nya loh di samping kamu. Contohnya sekarang kakak ke luar kota gini, bisa jadi nanti kakak lebih lama lagi loh, apalagi kalau ke luar negri," Iki memang begitu, selalu menginginkan yang terbaik untuk Aiyla, menceramahi panjang lebar agar merasa aman kalau meninggalkan Aiyla sendirian.
"Iya kakak, kakak tenang aja Ai di sini aman terkandali, kakak di sana yang di dalam perjalanan harus hati hati, ingat kalau pak supir ngantuk istirahat jangan di paksakan," nasihat Aiyla membuat Iki tersenyum.
__ADS_1
"Iya nanti langsung kok," jawab Iki. "Sayang kamu jangan matiin ponsel ya, aku mau ngirim pesan dulu," lanjut Iki.
Setelah lima menit, Iki kembali membuka suara bertanda dirinya telah selesai mengirimi seseorang pesan.
"Ke siapa sih kak? Kok penting banget kayaknya, malam malam lagi," tanya Aiyla membaut Iki tertawa.
"Ini teman kakak, takutnya kakak lupa ngirimnya, mumpung masih ingat kan, jadi langsung aja," kata Iki sembari tertawa renyah. "Oh ya sayang, kakak mau nelpon mama dulu soalnya mau bilang kalau aku udah berangkat."
"Sip kakak hati hati ya," kata Aiyla mengingatkan kembali.
"Iya ingat ya habis ini kamu tidur, jangan nunggu kakak, soalnya mungkin akan lama," kata Iki kembali. "I Love you forever."
Aiyla segera berbaring dirinya sedikit tidak tenang, entah kenapa dirinya gelisah. Namun semua itu Aiyla singkirkan dari pikirannya. Akhirnya lama kelamaan Aiyla pun tertidur.
......................
Aiyla kini berada di taman bunga di mana semua bunga bermekaran mengelilingi Aiyla. Aiyla sangat bahagia, tiba tiba sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang, wangi harum aroma parfum semerbak, membuat Aiyla tahu siapa laki laki itu, ya itu adalah kekasihnya, Iki.
__ADS_1
Aiyla segera membalikkan tubuhnya dan memeluk Iki, Iki mengecup puncak kepalanya sangat lama, kemudian beralih kepada kedua mata Aiyla, pipi, kemudian dagu.
"I Love you forever," bisik Iki, membuat Aiyla tersenyum senang.
"I love..." belum sempat Aiyla menjawab Iki segera melepas pelukannya, dan memanggil seseorang. Wajah orang itu tampak tak jelas, terlalu terang dan tertutupi sebagian bunga yang bermekaran.
Iki segera menarik tangan laki laki itu untuk menyatukannya dengan Aiyla. Iki mengecup puncak kepala Aiyla dalam waktu yang lama. "Titip Ai ya, jaga dia," kata Iki memandang laki laki itu. Pandangan Iki kemudian berubah menjadi memandang Aiyla. "Aku sayang banget sama kamu, cuman kamu."
Aiyla yang bingung maksud Iki hanya terdiam. Hingga akhirnya Aiyla menyadari Iki pergi menjauh darinya. Aiyla berusaha mengejarnya namun hasilnya nihil, Aiyla justru di tahan dengan laki laki misterius itu. Iki semakin menjauh melambaikan tangannya. Pelukan pria misterius itu semakin mengerat, membuat Aiyla tak dapat bergerak bebas. Aiyla menangis menjerit memanggil nama Iki.
"Kak, kak Iki, jangan tinggalin Ai," jerit Aiyla namun hanya di balas senyum dan lambaian Iki. "Kak Iki," akhirnya Aiyla berteriak sekuat tenaga.
Aiyla terbangun dari tidurnya, jam sudah menunjukkan pukul lima tiga puluh, Aiyla segera bergegas menuju kamar mandi, perasaannya tiba tiba tak tenang, mimpinya itu terlalu menyakitkan. Aiyla segera bergegas mandi. Setelah mandi Aiyla segera berpakaian dan menghubungi Iki, namun nihil ponselnya tak aktif.
Aiyla tak ingin ambil pusing, Aiyla mencoba berfikir positif, Aiyla segera turun ke lantai satu, membuat Ahmed yang baru saja menerima telfon dari seseorang segera mendekat ke arah Aiyla.
"Ai Iki kecelakaan, dan tak dapat di selamat kan," bisik Ahmed memeluk Aiyla dengan erat, Ahmed jelas tahu bahwa adiknya ini menjalin kasih dengan sahabatnya itu, namun apa daya takdir berkata lain.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai hari ini adalah hari terakhir give away, sebelum ketinggalan segera ikut gabung yuk, dengan cara memberi hadiah dan vote. Serta memberi komentar di setiap bab dari novel CEO belok vs colonel cantik.