Duda Genit

Duda Genit
S3 (Cium sayang)


__ADS_3

Rakara saat ini tengah duduk sembari membaca majalah paginya, majalah langganannya yang membahas tentang perkembangan bisnis baik nasional, maupun internasional. Rakara pagi ini tinggal menunggu tunangannya untuk turun dari lantai dua. Karena hari ini Rakara sudah resmi menjadi tunangan gadis pujaannya, meski wanita itu belum menerima dirinya sepenuhnya.


Rakara memang sengaja membawa majalah paginya, yang tak sempat ia baca karena ingin menjemput kekasih hatinya. Namun hingga semua anggota keluarga berangkat bekerja, Aiyla tak kunjung turun. Padahal tadi kata bibi Aiyla sudah akan bersiap siap. Rakara kembali melirik jam tangannya, rupanya jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh lima menit, yang artinya lima menit lagi setengah sembilan, nanti jam setengah sepuluh dirinya ada rapat penting, untung saja Sidik telah kembali.


Rakara yang jengah menunggu Aiyla, segera naik ke lantai dua untuk melihat kesiapan Aiyla. Saat Rakara membuka pintu, alangkah terkejutnya dirinya ketika melihat Aiyla masih dalam keadaan tertidur pulas di tempat tidur. Rakara menghela nafasnya, segera mendekat ke arah Aiyla, yang saat ini tertidur dengan gaya tengkurap. Rakara membalikkan tubuh Aiyla, sembari memandang Aiyla dengan seksama.


"Ai sayang bangun," panggil Rakara, namun Aiyla tampaknya masih setia di dalam tidurnya. Aiyla semalam memang pulang larut malam dari rumah Rakara, terlebih keluarga mengadakan bakar bakar, sebagai tanda perayaan pertunangan. Sehingga mereka kembali setelah pukul dua belas dini hari. "Sayang."


Rakara sedikit menelan ludahnya kasar, ketika melihat baju yang Aiyla kenakan sedikit tersingkap, sehingga Rakara menelan ludahnya kasar. Rakara kembali menoel noel pipi Aiyla, berharap tidur gadis tersebut terganggu, namun ternyata kenyataan nya bahwa Aiyla semakin terlelap di buatnya. Rakara sedikit mengeluarkan ide jahilnya, dan segera mengusap lembut perut rata Aiyla, dan menyingkapnya sedikit ke atas.


"Sayang bangun," Rakara segera mengecup setiap inci perut Aiyla. "Sayang bangun," Rakara segera membuka kancing atas baju Aiyla. kemudian mengecupnya dengan lembut.

__ADS_1


"Ah," suara itu membuat Rakara tersenyum, gadis itu terganggu dengan aksinya. Rakara mengecup bibir Aiyla dan me*lu*mat*nya dengan lembut, sontak semakin membuat tidur Aiyla terganggu.


"Sayang," Rakara segera mengecup dada Aiyla, sembari menelusup kan tangannya ke dalam baju Aiyla. Aiyla secara perlahan membuka matanya, dan sangat terkejut ternyata Rakara saat ini sudah ada di tasnya, tengah menikmati tubuhnya.


"Kakak! Kakak ngapain?" teriak Aiyla shock bingung dengan Rakara yang sudah berada di atasnya.


"Makanya bangun," kata Rakara kembali menyesap bibir Aiyla, yang kini menjadi candunya.


"Nikah yuk," Rakara segera mengecup pipi Aiyla, kemudian menggigit cuping Aiyla dengan lembut.


"Om ngajak mabar apa nikah?" Aiyla segera melepaskan pelukan dari Rakara.

__ADS_1


"Saya ngajak kamu nikah sayang," Rakara memonyongkan bibirnya, kode agar di berikan ciu*man


"Idih ngapain kak?" Aiyla tak mengerti maksud dari Rakara.


"Ci*um sayang," kesal Aiyla sembari terkekeh pelan.


"Enak aja," elak Aiyla, membuat Rakara terkekeh.


"Kamu tahu kan kalau saya yang nyium kamu, kemungkinan kamu akan kehabisan oksigen terlalu banyak," goda Rakara, sontak membuat Aiyla bersemu merah, dirinya bukan tak tahu maksud dari lelaki tersebut, membuatnya tak ada pilihan.


Aiyla Dengan sangat terpaksa mengikuti keinginan calon suaminya. mereka tertawa bersama Hingga akhirnya negara api kembali menyerang.

__ADS_1


__ADS_2