
Aiyla saat ini masih sibuk dengan beberapa perbekalan pistolnya, yang kini di minta untuk selalu membawa pistol kemana pun dan di mana pun. Belajar dari pengalaman sebelumnya Aiyla dah Rakara yang di tembak oleh seseorang yang tidak di kenal, yang di sinyalir adalah lawan bisnis Rakara.
Aiyla bahkan saat ini mengenakan baju anti peluru dari Aliya yang dulunya seorang prajurit. Aiyla benar benar di bungkus segala persiapan, takut takut akan terjadi hal seperti kemarin lagi.
Rakara? Jangan di tanya dia sudah di paksa untuk ikut kelas beladiri lagi, dan belajar menembak. Rakara hanya mengiyakan saja, sebenarnya Rakara sangat malas, terlebih lagi mereka akan latihan di tempat pelatihan yang di bangun Aliya, wanita tangguh yang di gadang gadang akan menjadi ibu mertuanya.
"Eh sudah siap bos?" Aiyla baru saja masuk ke dalam rumah besar Mark Rosyid.
Semenjak insiden itu Aiyla memang di minta untuk menjadi sekertaris sekaligus bodyguard dari Rakara. Rakara yang melihat Aiyla mengenakan dress berwarna krem seperti biasanya terlihat anggun, tak akan ada yang menyangka tentang gadis itu yang mampu menembak dengan tepat sasaran. Rakara sedikit bergidik apalagi jika mengingat hasil rapat dadakan semalam tentang penambahan atribut yang harus di bawa oleh Aiyla.
Melihat Aiyla terus saja membawa lipstik dan juga bedak dengan cermin di tasnya saja sudah membuat Rakara pusing, kini di tambah dengan berbekal pistol, lengkaplah sudah senjata wanita itu. Senjata yang semua mematikan, yang pertama mematikan nyawa seseorang jika sempat di singgung, kedua mematikan hati bagi hati para laki-laki.
"Kenapa lo bos? Terpesona? Biasa aja kali, gue tahu kok gue cantik," Aiyla membanggakan dirinya, dengan berkacak pinggang.
"Ga usah ge'er kamu, jangan buat saya semakin takut dekat dengan kamu," Rakara segera mendengus membuat Aiyla terkekeh.
__ADS_1
"Takut ya? Takut jatuh cinta?" Aiyla justru semakin menggoda Rakara, membuat Rakara kesal dibuatnya.
"Eh kamu jangan ngeselin ya jadi orang," Rakara yang sudah sangat kesal memilih untuk memalingkan wajahnya. Percuma membantah, tuh anak ini akan mengeluarkan seribu satu bahasa untuk membantahnya juga.
"Idih masa princess ngeselin? Princess tu di mana mana di puja puji, kecuali ama orang sirik kayak lo," tu kan, wanita itu memang tidak bisa dibantah. Bahkan saat ini gadis itu kembali membanggakan dirinya, dengan mengklaim bahwa dirinya adalah princess.
"Saya iri sama kamu? Kalau mimpi nggak usah ketinggian," Rakara menjulurkan lidahnya seolah mual dengan kata-kata Aiyla.
"Idih justru kata orang itu mimpi tuh harus setinggi langit biar nanti jatuhnya itu di antara berlian," haduh ada saja jalan pertengkaran mereka, bahkan mimpi saja sudah mereka bawa-bawa.
"Ini realisasi kok, buktinya gue kalau nyubit lo, lo langsung teriak," Aiyla segera mencubit pinggang rakara dengan sangat mengenaskan.
"Agh," Rakara berteriak karena tiba-tiba ada sebuah capit panas yang mengenai dirinya. "Dasar titisan siluman kepiting kamu ya?"
"Bukan gue anak buah tuan kreb, yang pelit nya medit nya minta ampun," singgung Aiyla karena hingga saat ini gajinya bekerja selama dua hari itu belum dibayar.
__ADS_1
"Eh maksud kamu ngomong itu apa? kamu nyindir saya?" rakara segera tersinggung mendengar ucapan Aiyla.
"Idih gue ga nyebut lo ya, tapi ya kalau kesinggung berarti emang gitu," Aiyla hanya mengangkat bahunya acuh, kini berhasil membuat Rakara kesal lagi.
"Dasar anak buah ga ada akhlaknya," Rakara hendak sekali melakukan serangan dadakan seperti pukulan centong panas, namun ia sadar bahwa ia takkan bisa melakukan hal itu.
"Emang lo berakhlak? Ga kan?" Laila mengembalikan pertanyaan tersebut, sempah membuat rakara terdiam
"Jaga omongan kamu ya," Rakara segera memperingati wanita tersebut agar segera diam.
"Iya ini gue jaga," Aiyla akhirnya hanya memutuskan untuk memajukan bibirnya di hadapan Rakara.
"Idih ngapain tuh bibir kamu maju maju, pingin saya sosor? Sorry ya ga level," Rakara memandang wajah Aiyla dengan sinis, terlebih melihat bibir monyong Aiyla yang maju lima senti.
"Iya awas aja lo jilat ludah lo sendiri."
__ADS_1