Duda Genit

Duda Genit
Pejuang cinta jilid II


__ADS_3

"Kamu kemarin yang mendampingi di pernikahan Chandra itu kan? Yang minta di carikan jodoh dengan Mona," kata Melisa dengan semangat, yang justru semakin membuat Angel terbatuk, karena malu ternyata ibu mertua nya tahu akan hal itu.


"Ibu tahu dari mana?" tanya Angel sedikit malu. Rupanya Angel belum juga menyadari siapa yang dia ajaknya bicara kemarin. Sementara Melisa tersenyum senyum melihat tingkah Angel.


"Ibu kemarin yang di samping Mona," kata Melisa menaik turunkan alisnya.


Angel kali ini benar benar malu di buatnya, Angel benar benar tak tahu kalau tiga tahun lalu, yang tengah berbincang dengan Mona itu adalah mertuanya yang sekarang.


"Ciee... emang dari dulu kamu itu jodoh saya, ini namanya jodoh yang tertunda," kata Daniel sembari memandangi wajah istrinya yang memerah.


"Jodoh yang tertunda?" tanya Angel sedikit bingung maksud Daniel, sungguh saat ini otak nya benar benar loading lama, akibat malu oleh ibu mertua nya.


"Iya jodoh yang di tertunda, untung Allah itu baik ya, jodohnya Daniel di simpan baik baik," kata Daniel menggenggam tangan kiri Angel. "Terus di kasi nya masih fresh kayak susu kotak, kalau lagi promo."


Angel benar benar hanya bisa geleng geleng kepala ketika mendengar cara berbicara Daniel, untung saja saat berbicara dengan client atau, berpidato di podium tidak se-sableng ini. Jika saja ia se-sableng ini, mungkin saja banyak client yang akan mengundurkan diri secara teratur.


"Kaya kampanye iklan ya bang, ini iklan apa bang?" kata Angel menanggapi kata kata dari Daniel.


Melisa melihat pembicaraan antara anak dan menantunya, mulai bergulir ke ranah dewasa, seperti orang yang sedang tersengat cinta sableng, akhirnya memilih mengundurkan diri. Melisa takut akan ketidak sanggu-pannya otaknya menerima asupan gizi, dari anak dan juga menantunya, yang sama sama kurang budiman, dengan pelengkap minim kewarasan.


Melisa meninggalkan dua orang itu, untuk masuk ke kamarnya. Ia pikir lebih baik berkemas sekarang, dari pada harus mendengarkan anaknya menggobali istrinya, dengan kata kata yang jauh dari kata so sweet. Bahkan terkadang nyeleneh, lebih lagi terkadang membuat kepalanya sedikit pusing.


Sementara itu di meja makan, Daniel terus melancarkan aksi gombalnya, dengan kata kata yang sedikit aneh. "Ini contoh sampelnya ikan dalam kaleng, tapi kalau realnya ada cinta di dalam hati Abang," kata Daniel mentoel dagu sang istri.


Angel tergelak mendengarkan gombalan Daniel yang aneh, dan lain dari pada yang lain. "Pantas bang hati adek seperti kan terbang, rupanya dia melayang layang bang," balas Angel sembari terkekeh geli.


"Ah adek bisa aja, ini sudah Abang kandangin, di dalam hati Abang, cuman muat satu ga bisa yang lain," kata Daniel tak mau kalah, semakin membuat acara gombal pagi itu menjadi lebih seru.


Ternyata dari arah ruang keluarga, Roni melihat hal itu, Roni menjadi sedikit terkekeh, melihat tingkah bos sablengnya. Namun juga gurunya, dalam mengejar cinta Wati. Ah... kata Angel Daniel itu adalah Suhu pentas untuk Roni, dan benar saja jika bukan berkat dari wejangan Daniel, mungkin saja saat ini Roni masih belum juga mampu menggapai Wati.


^^^Dasar pasangan sableng. Gumam Roni, melihat tingkah kedua pasangan suami istri itu, yang saling menggobal dengan kata kata, yang cendrung nyeleneh, dan lebih terdengar seperti iklan produk, dan acara televisi.^^^


Angel yang tengah tertawa tampa sengaja melihat Roni, yang tengah memandang ke arah mereka. "Kak Roni sini masuk," panggil Angel sembari melambaikan tangan, bermaksud untuk meminta Roni mendekat.


"Wah... pejuang cinta kita datang," goda Daniel saat Roni melangkah duduk di hadapan mereka.


"Pejuang cinta jilid II," sambung Angel, membuat Roni benar benar yakin, kalau sableng itu bisa menular.


^^^Sepertinya aku harus menjauhkan Wati dari kedua orang ini. Lihat lah, Angel yang dulunya normal normal saja, kini menjadi se-sableng bos. Kembali lagi Roni bergumam di dalam hatinya.^^^


Jujur saja Roni tak bisa membayangkan, jika Wati tiba tiba saja berubah sableng seperti kedua orang ini. Namun tiba tiba Roni teringat tingkah Wati yang menggemaskan, meskipun dulu hal itu merupakan tingkah yang di matanya seperti sangat bar bar.

__ADS_1


Ah... orang jatuh cinta seberapa pun buruknya pasangan di mata orang lain, maka di mata kita akan lebih baik, dan parahnya lagi akan terlihat menggemaskan. Bisa di pastikan Roni kali ini benar benar jatuh cinta, dan benar saja ia sangat overprotektif dengan Wati, meskipun hingga saat ini mereka belum ada kejelasan hubungan, namun dengan melewati berbagai waktu, Roni selalu berharap Wati akan mampu mengartikan perasaannya.


"Wah ga bisa gitu dong, emang siapa jilid satu nya?" tanya Daniel penasaran, bagaiman mungkin ada jilid dua jika tampa jilid satu.


"Ya kamu lah," kata Angel santai.


"Kok saya bee?" tanya Daniel tak terima.


"Iya kamu juga pejuang cinta jilid I pertanda suhu pentas dari kak Roni," kata Angel membuat Roni mengangguk setuju. "Nah bedanya kamu itu yang versi sableng nya, nah kalau kak Roni ini versi thunders nya."


Daniel dan Roni terdiam mendengarkan penuturan Angel, namun mau bagai mana lagi, yang di katakan Angel memang benar adanya. Daniel yang menunjukkan cinta, hingga sangat bar bar, dan sedikit nyeleneh. Sementara Roni yang lebih kalem, dan setiap tindakan dan kata kata nya itu penuh makna, meski terkadang tindakan dan maksud berbeda, atau bertolak belakang.


"Eh para pejuang cinta, bantuin ibu mengankat koper," kata Melisa mengejutkan ketiga orang yang berada di meja makan.


Ternyata Melisa cukup lama berdiri dan mendengarkan pembicaraan anak anaknya, karena meskipun Roni bukan siapa siapanya, dan hanya sekertaris dari Daniel. Namun Melisa telah menganggap Roni seperti anaknya sendiri, apalagi sikap Roni yang ia nilai dewasa, jujur dan setia. Semakin membuat Melisa menyukai sosok Roni, dan menganggapnya sebagain anak sendiri.


"Hah ibu mau kemana?" tanya Roni penasaran.


"Ibu mau ke kampung, soalnya sepupu ibu ada yang meninggal," jelas Melisa sembari masuk ke dalam kamar, di susul Angel, Daniel dan Roni.


"Innalilahi wainna ilaihi Raji'un..." kata Roni mengusap dadanya. "Tapi bu sekarang ga bisa ke desa desa kita, akses ke sana di tutup."


Roni mencoba menjelaskan kepada Melisa, agar tidak merasakan kekecewaan yang sama pada dirinya. Ya... memang kemarin Roni ada urusan ke kampung temannya, tapi sayang sekali Roni di cegat oleh para petugas, karena di anggap berbahaya, meski telah memiliki surat negatif covid.


"Ga kok Bu, ini surat negatif covid nya kemarin," seru Roni sembari mengambil surat yang terdapat logo rumah sakit, dari balik jaketnya. "Lagian Bu kalau mau keluar kota, karya ada surat domisili di tempat tersebut, atau ada penunjukkan pekerjaan yang tak bisa di tunda, atau untuk kepentingan khalayak."


Melisa akhirnya meringkus kembali kopernya ke dalam kamar, kemudian keluar bersama sama menuju ruang keluarga. Melisa tampak murung, membuat Daniel tak tega melihatnya. Namun peraturan tetaplah peraturan, meskipun ia adalah ibu dari salah satu pengusaha, namun uang dan kekuasaan bukanlah jaminan dari kesehatan.


"Ya sudah Bu, kita pengajian kecil kecilan di sini saja, sekalian tujuh bulanan kandungan istri Daniel," kata Daniel mencoba menghibur ibunya.


"Oh ya... hampir lupa tujuh bulanan," kata Melisa baru mengingat bahwa kandungan menantunya kini sudah memasuki tujuh bulan. "Maaf ya sayang, ibu lupa."


Angel tersenyum mendengar penuturan mertuanya yang penuh dengan penyesalan, Angel dapat memaklumi hal tersebut, karena saat ini ibu mertua nya itu pasti dalam keadaan kalut, karena di tinggalkan oleh keluarga, sekaligus sahabat dekatnya. Setidaknya itu lah yang di ceritakan suaminya. Mungkin saja itu Angel, atau terjadi di antara para sepupunya yang telah di anggapnya sebagai keluarga, mungkin saja ia akan ngotot, dan menggunakan uang serta kekuasan keluarganya.


"Ibu... ga apa apa kok, Angel ngerti kok keadaan ibu, cuman iya saat ini kita harus mementingkan kesehatan kita, demi menjaga kesehatan orang lain juga," kata Angel panjang kali lebar, kali tinggi agar mertuanya itu tak berkecil hati.


"Jadi acara tujuh bulanannya gi mana?" tanya Melisa bingung.


"Hm... acara tujuh bulanannya di samain saja dengan acara mendoakan sepupu ibu yang meninggal," kata Angel memberi solusi.


Melisa yang mendengar hal itu sungguh senang, setidaknya rasa bersalahnya akan sedikit terobati dengan adanya hal itu. Ah... tak sia sia Daniel memberikan Angel sebagai menantu-nya, selain baik, ternyata juga pintar, dan yang paling penting adalah menantunya dan anaknya itu kini sama sama saling mencintai. Terbukti itu adalah pilihan hati dari anaknya sendiri.

__ADS_1


"Bee do'anya gi mana?" tanya Daniel bingung.


Angel pun terlihat ikut berfikir juga, bagaimana pun biasanya mereka akan mengundang banyak orang, dan biasanya berkumpul bersama keluarga. Tapi kali ini berbeda, mereka tidak boleh menimbulkan kerumunan, di sekitar rumah mereka belum lagi ada sosok ibu hamil, dan ibu yang rentan, karena usia telah menggerogoti tubuhnya.


"Kita panggil pak ustad saja, terus kita bayar. Nah untuk makanannya kita ganti jadi bahan baku, terus bagi bagi kepada warga sekitar, dan orang orang yang membutuhkan," kata Roni tiba tiba, dengan ide yang sangat cemerlang.


Melisa dan Angel bertepuk tangan mendengarkan ide brilian dari Roni, sungguh luar biasa, mereka saja tak pernah terpikir seperti itu. Sementara Roni kini bisa berbesar hati, karena kedua wanita itu memuji kecerdasan dirinya. Memangnya siapa yang meragukan kecerdasan dirinya? Apalagi posisi nya sebagai tangan kanan dari tuan Daniel Mark Rosyid, dan kemajuan dari perusahaan MR group company, juga tak lepas dari campur tangannya, sebagai orang kepercayaan, asisten dan juga sekertaris dari Daniel, Roni juga merupakan orang nomor dua di MR group company.


Daniel yang melihat wajah Roni hanya mendengus, bagaimana tidak, Daniel tahu jelas bahwa saat ini Roni tengah merasakan kebanggan luar bisa, karena pujian kedua wanita yang ada di depannya, terlebih lagi dari istrinya Angel Lalika Pradana.


Oh... tidak, tiba tiba Daniel merasa panas, penyakit lama kambu kembali. Daniel butuh penenang, Daniel butuh obat, agar penyakit cemburu stadium akhirnya tak lagi meledak. Ayolah itu hanya pujian yang Angel lakukan, kenapa harus hati Daniel begitu panas. Jelas jelas Roni saat ini tengah mengejar Wati, kenapa harus sepanas ini?


Roni yang menyadari perubahan raut wajah pasien bucin tersebut, kini menyadari gejala penyakit akut pasien bucin tersebut kambuh. Yaitu penyakit cemburu yang sebentar lagi harus di tangani, sang dokter cinta, dokter spesialis yang merawat hati tuan Daniel. Roni segera menyingkir ke belakang, dan memilih untuk bungkam, sebelum tatapan tajam, setajam pedang khas Jepang, yang lentur dan tajam, menghunus dirinya.


"Angel pasien kamu lagi kambuh," kata Roni setengah berbisik.


Angel yang mengerti maksud dari Daniel segera memandang ke arah suaminya itu. Yah... benar apa yang di katakan Roni, suaminya saat ini tengah berada di dalam metode bete', karena Angel memuji kepintaran Roni.


Angel menggeleng, melihat tingkah suaminya. Bagaiman mungkin ia cemburu dengan hal yang sereceh itu? Padahal itu adalah pujian biasa. Justru Daniel yang saat ini berlebihan, karena menurut Angel, Daniel seperti seorang anak ABG yang tengah kasmaran, dan baru mengenal cinta, yang akan sangat overprotektif kepada pasangannya. Meski hanya melakukan pujian kecil kecilan kepada temannya, bagaiman jika melakukan undangan untuk pesta kecil kecilan, yang hanya di khususkan untuk para pemain jailangkung? Hm... tapi tidak mungkin, Angel kan penakut, bahakan hanya perkara lampu kamar mandi saja yang di matikan, membuat Angel tidak memberikan jatah untuk suaminya.


"Bee..." panggil Daniel manja, ketika Angel hanya memandangi wajahnya, sudah cukup Angel terus memandangi wajahnya membuatnya salah tingkah.


^^^Ya Allah... bos ku kesurupan kuntilanak pengkolan mana? Kuntilanak pohon mana? Apa jangan jangan pohon waru depan gardu depan ya? Kalau gitu kenapa tidak menempeli satpam saja sih? Gumam Roy semabari melihat tingkah aneh bosnya, yang semakin aneh, dan lebih aneh dari yang sebelumnya.^^^


Sementara Melisa yang melihat hal itu, bisa di katakan ekspresinya lebih biasa di bandingkan Roni. Wajar saja, ia sudah terbiasa melihat tingkah anaknya itu.


^^^Ya Allah... anak ku kayaknya masih kesurupan setan prangko, nanti kalau ngundang pak ustad mungkin bisa ku minta untuk me-ruqiyah-nya. Gumam Melisa kasihan melihat menantunya, terus saja di tempeli begitu oleh anaknya.^^^


"Hm..." Angel hanya berdehem ketika mendengar panggilan suaminya.


Angel terus memandangi suaminya, berusaha membaca keinginan suaminya, yang kelakuannya sudah seperti bunglon, atau lebih tepatnya wanita yang sedang datang bulan, alias moodian.


"Bee udah ah jangan pandangin gitu terus ah..." kata Daniel salah tingkah.


Angel semakin bingung dengan tingkah laku suaminya, namun tetap memperhatikan suaminya yang sudah memintanya untuk tidak memandanginya.


"Malu bee," cicit Daniel sontak membuat semua orang menepuk jidat serentak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....

__ADS_1


...Dan terimakasih sebanyak banyaknya yang sudah dengan loyalnya memberikan vote, dan hadiah, serta koin. I Love You....


__ADS_2