Duda Genit

Duda Genit
S2 (Mimpi)


__ADS_3

"Willi papa ngantar mama dulu ya ke kamar, Willi mau ikut?" tanya dokter Aldi kepada anak tunggalnya.


"Mama?" Willi tampak bingung maksud dari papanya, padahal selama ini ia tak tahu apa apa tentang mamanya, sosok wanita yang selama ini menemaninya hanya babysiter.


"Iya mulai hari ini kamu panggil dia mama ya," kata dokter Aldi tersenyum penuh arti kepada anaknya. Tampa banyak tanya Willi mengangguk polos tanda menyetujuinya.


Dokter Aldi kemudian segera memasuki kamarnya, di ikuti oleh Willi yang tengah di gendong oleh babysiter, sepertinya Willi ingin sekali melihat wajah Rayana.


Setelah berada di kamar babysiter Willi segera keluar, dan menutup pintu kamar tersebut. Willi segera naik ke atas tempat tidur, melihat dengan seksama wajah putri tidur, yang lebih terlihat seperti ngebo tersebut.


Willi tersenyum mengingat akan memanggil Rayana dengan panggilan mama, selama ini Willi cukup bingung dengan beberapa orang di taman dan beberapa sepupunya yang terlihat datang bersama mamanya, atau jika menangis selalu memanggil namanya. Sedangkan dirinya hanya di temani oleh mbak, yang sempat ingin ia panggil mama biar sama seperti yang lain.


Willi membaringkan tubuh kecilnya di hadapan Rayana, Willi masih ingin berlama lama di samping orang yang baru saja di angkat menjadi mamanya. Rayana sedikit menggeliat, membuat Willi segera menepuk nepuk lengan Rayana, demi kembali menenangkan putri tidur yang tengah ngebo.


Willi sering melihat adik sepupunya yang kecil akan semakin nyenyak jika lengannya di tepuk lembut. Membuat Willi segera melakukan hal yang sama terhadap Rayana.


Dasar Willi polos, bagaiman mungkin ia menyamakan Rayana dengan seorang bayi kecil yang imut. Namun sepertinya berhasil karena saat ini Rayana semakin nyenyak dalam tidurnya, bahkan kini memeluk Willi. Willi yang merasa nyaman menjadi mengatuk, dan ikut tertidur.


Aduh, bisa bisanya dokter Aldi bisa tertikung oleh anaknya sendiri, si Willi.


Dokter Aldi yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat anaknya berada dalam pelukannya Rayana, membuatnya tersenyum. Dokter Aldi segera mengenakan baju, kemudian membaringkan badannya di samping Willi.


Lama dokter Aldi terdiam dan memandang ke arah punggung Willi dan kepala bagian belakang Willi. Sungguh bukan ini rencana dari dokter Willi, ia segera bangun dari tidurnya, kemudian mengangkat Willi pelan pelan, kemudian berbaring sembari memeluk tubuh Rayana. Sementara Willi kini posisinya di atas dokter Aldi.


dokter Aldi mengecup bibir Rayana kemudian ikut terlelap, menyusul mimpi kedua orang yang di sayangi nya.

__ADS_1


Ya, dokter Aldi baru saja mencuri ciuman kedua Rayana, setelah kemarin merampas ciuman pertama Rayana. Huh, pria ini memang sedikit berbahaya.


Tepat pukul tujuh malam, Rayana terbangun dari tidurnya. Rayana merasakan sesuatu yang berbeda, namun ia masih mengira pengaruh dari mimpinya. Rayana berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina nya, pelan tapi pasti Rayana menyadari bahwa ruangan yang bernuansa biru tua dan abu abu, dengan penerangan yang redup itu bukan kamarnya.


Rayana membulatkan matanya tak percaya, bagaimana mungkin? Ini di mana? Apa ia berada di kamar Bram? Tapi seingat Rayana ini bukanlah gaya Bram, atau sepupunya itu mengganti nuansa?


Di tengah pikirannya yang kacau, tiba tiba ia merasakan pergerakan di atas perutnya.


Ya, Rayana yakin itu sesuatu yang kecil, Rayana sangat takut, mengira di ruang pamannya ada hantu, atau semacamnya. Rayana menutup matanya dengan erat.


Dengan pelan pelan Rayana mulai mengintip ke arah sumber pergerakan tersebut, alangkah terkejutnya ia melihat seorang anak kecil, dengan wajah yang yang tak jelas, akibat lampu remang remang.


Pikiran Rayana mulai kacau, Rayana masih berfikir itu adalah kamar Bram, dan saat ini yang memeluknya adalah hantu kecil, atau tuyul.


"Hah, sejak kapan tuyul berambut," gumam Rayana dengan sedikit bergetar.


Takut, ya itulah yang di rasakan oleh Rayana saat ini, tiba tiba saja Rayana hendak menangis karna ketakutan.


Dokter Aldi yang merasakan sedikit pergerakan di dalam dekapannya, merasa terusik, apalagi ia sayup sayup mendengar suara tangisan yang sepertinya tertahankan.


Dokter Aldi segera membuka matanya dan menyadari bahwa Rayana tengah menangis, dokter Aldi bingung kenapa Rayana menangis, dokter Aldi mengira Rayana hanya mengigau.


Dokter Aldi kemudian mengeratkan pelukannya, sembari bermaksud mengusap lembut tubuh Rayana, namun apalah daya jari jemarinya salah usap, membuat Rayana berteriak seketika.


"Ha... hantu me*sum!!!" Rayana histeris ketika merasakan sebuah tangan besar nan kokoh tengah mengeratkan pelukannya, dan mengusap buah da*da nya.

__ADS_1


Dokter Aldi terkejut seketika dengan reflek mencengkram apa yang di pegang nya, semakin membuat Rayana berteriak histeris.


Willi terbangun mendengar teriakan Rayana dan segera menangis, semakin membuat Rayana ketakutan.


^^^Alamak hantu mesum sama tuyul hantunya sadar nampus lah aku. Rayana ketakutan sendiri dengan situasi saya ini.^^^


"Sayang jangan nangis, mama cuman terkejut saja tadi, dia mimpi seram," kata dokter Aldi menenangkan Willi, kemudian membawanya ke dalam pangkuan guna menenangkan Willi, yang terkejut, sepertinya dokter Aldi masih mengira Rayana tengah mengigau.


Rayana yang mendengar suara dokter Aldi terkejut, ia mengira bahwa suara itu sepertinya familiar, membuat Rayana memberanikan diri menghidupkan lampu tidur yang ada di kamar tersebut.


Mata Rayana membulat ketika melihat dokter Aldi yang dan anaknya. Sepertinya Willi kini kembali tertidur, membuat dokter Aldi bernafas lega. Namun tidak dengan Rayana yang masih shock di buatnya.


"Sayang kamu ga apa apa kan? Kamu mimpi buruk?"


Rayana masih bingung harus merespon bagaimana, otaknya masih mencerna kejadian yang baru saja menimpanya. Mata Rayana beralih ke arah Willi yang kini terlelap dalam pangkuan dokter Aldi.


Dokter Aldi mengira Rayana ingin melihat anak mereka lebih dekat, membuat dokter Aldi mendekat ke arah Rayana, dan mengarahkan tangan Rayana untuk menyentuh tangan Willi.


Rayana yang masih dalam keadaan bingung, hanya menurut saja, dokter Aldi menyatukan jari jemari mereka bertiga, sehingga membuat Rayana merasakan kehangatan di sana, seketika kesadaran Rayana kembali, dan mengalihkan pandangannya ke arah dokter Aldi.


"Sayang ini anak aku Willi, Willi manggil kami mama loh," kata dokter Aldi segera mengecup bibir Rayana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Teman teman maaf ya ga bisa up se rutin kemarin karena ada banyak kendala, seperti harus menyusun perbaikan skripsi, dan beberapa acara serta kesibukan lain. Aku harap kalian mengerti, dan tetap setia membaca ceritaku. Disini author berusaha se profesional mungkin untuk bisa up sebisa mungkin. Terimakasih, maaf sekali lagi....

__ADS_1


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....


...Dan terimakasih sebanyak banyaknya yang sudah dengan loyalnya memberikan vote, dan hadiah, serta koin. I Love You....


__ADS_2