Duda Genit

Duda Genit
S2 (Kenyataan Dokter Tampan)


__ADS_3

Rayana saat ini tengah bersantai di taman kota, Rayana ingin menikmati waktunya sebelum ke luar negri, untuk melanjutkan studinya. Rayana segera mencari tempat duduk yang nyaman, Rayana tampa sengaja berpapasan dengan seorang wanita dan anak kecil. Rayana yang memang suka sekali dengan anak kecil segera mendekati anak kecil tersebut. Rayana menawarkan untuk menggendong anak kecil, yang sepertinya berumur sekitar dua tahun itu.


"Mba bisa saya bantu, kayaknya anaknya sedang rewel," tawar Rayana, dengan melihat anak tersebut yang terlihat menangis.


"Ah tidak apa apa kok, anaknya memang sedikit rewel," kata wanita tersebut, tampak ragu dengan Rayana.


Rayana tersenyum melihat kilas keraguan wanita itu, hal yang wajar menurut Rayana karena mereka baru saja bertemu. Di tambah lagi dengan berita tentang penculikan anak, sedang hot hot nya di Indonesia.


"Ah, mbak perkenalkan nama saya Raya, ini kartu pengenal saya," kata Rayana sembari memberikan kartu pengenal miliknya. "Saya Rayana Mark Rosyid, anak dari Daniel Mark Rosyid, tak mungkin bagi saya untuk menculik anak mbak."


"Maaf saya tidak tahu," kata wanita itu tampak malu malu, karena salah sangka.


"Santai Raya, saya ngerti kok, sini Raya bantuin," kata Rayana segera membawa anak itu ke dalam gendongannya.


"Ah iya non, saya harus membeli pampers, soalnya saya lupa membawanya," kata wanita itu.


"Panggil Raya aja, ga usah pakai non," kata Rayana sembari menggerak gerakkan badannya guna menenangkan anak itu.


Wanita itu segera meninggalkan Rayana yang tengah bernyanyi menenangkan anak tersebut. "Tepuk tepuk tangan bersuka ria, tangan di kepala tangan di pinggang, loncat yang tinggi satu dua tiga, mari mari burung terbang di udara."


Rayana bernyanyi sembari melompat lompat, sontak membuat anak tersebut terkekeh. Rayana ikut terkekeh, dan mengulangi lagi lagunya, dengan berbagai ekspresi, hingga anak tersebut tertawa.


"Wil, Raya," sapa seseorang yang datang dari belakang.


Rayana segera memandang suara yang begitu familiar di telinganya. "Ah calon pacar, kenal anak ini?" Rayana masih saja mencoba menggobali dokter Aldi.


"Ah iya anak saya," kata dokter Aldi yang sudah mulai terbiasa dengan gombalan Rayana.


Rayana terkejut mendengar hal itu, ah... ternyata ia salah, ia menggombali seorang laki laki. Aduh mampus jika ketahuan oleh istrinya, ia takut akan di sebut dengan pelakor, perebut laki orang. Mana udah punya anak lagi.

__ADS_1


"Ah... maaf dok, saya ga tau," kata Rayana, segera menyerahkan anak itu kepada Aldi.


Ada rasa tidak enak di dalam hati Rayana, membuatnya salah tingkah sendiri. Rayana menunggu wanita yang bersama anak kecil ini, di sinyalir itu adalah istri Aldi.


Aldi hanya menatap tingkah Rayana yang tiba tiba sedikit menjauh, Aldi tahu pasti apa yang di fikirkan Rayana. Membuatnya terkekeh geli melihat ekspresi salah tingkah dari Rayana.


"Ya udah dok, nanti tolong ambilkan kartu pengenal Raya ya, titip ke om Aska aja ya," kata Raya segera meninggalkan Aldi dengan anaknya.


Rayana berlari dengan wajah yang memerah, sungguh ia sangat malu, karena Rayana selama ini menggoda suami orang. Aduh dia kena batunya kali ini, untung saja istri dokter Aldi tidak mengetahui tentang hal itu.


Ah... lain kali jika Rayana ingin menggoda seseorang, sebaiknya cari tahu dulu latar belakangnya. Jangan seperti sekarang, ternyata sudah memiliki istri. Untung saja dokter Aldi tidak pernah membalas gombalannya, ah mungkin itu sebabnya. Rayana sudah mulai mengerti mengapa dokter Aldi hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Ah ceroboh, kayaknya memang harus cepat cepat keluar negri deh, biar malu nya cepat pergi," kata Rayana sembari mengenakan helm nya.


Rayana segera menghidupkan kendaraannya dan meninggalkan taman. Rayana segera ke cafe untuk mengistirahatkan otaknya, yang gagal paham dengan kejadian di taman. Menggerutuki kebodohannya kenapa ia bisa menggombali suami orang.


"Halo Bram, lo lagi di kantor ga?" tanya Rayana ketika sambungan telfon terhubung.


"Iya ini gue bentar lagi pulang, kenapa?" tanya Bram di ujung telfon sana.


"Iya gue mau curhat..." kata Rayana frustasi, dengan suara yang sedikit berteriak. Semua orang seketika memandang ke arahnya.


Ah... lengkap lah sudah persyaratan cado gelaran dari Aska. Kali ini Rayana benar benar seperti cewek aneh, yang melengkapi ke dongoannya.


"Maaf semua, saya hari ini aga eror, mur di otak saya sedikit kendur," kata Rayana tersenyum canggung, sontak membuat semua orang menahan tawa, dengan kata kata permintaan maaf yang unik dari Rayana.


Setelah mengatakan hal itu, Rayana segera keluar dari cafe tersebut, dengan rasa malu yang segudang. Rasanya saat ini ada kotoran di wajah nya, yang membuatnya ingin menyembunyikan wajahnya.


"Gue ke rumah lu ya Bram," kata Rayana, di dalam pesan singkat tersebut, kemudian segera melajukan motornya ke arah rumah Aska.

__ADS_1


"Yu huuu, anybody home!" Rayana berteriak memanggil penghuni rumah tersebut.


"Assalamualaikum sableng," kata Aska ketika membuka pintu rumah mereka.


"Hehehe, om... Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu," kata Rayana dengan nada ala dai cilik.


"Walaikum salam," kata Aska mengikuti langkah kaki Rayana yang memang sudah menganggap rumah mereka seperti rumahnya sendiri.


"Om Bram di atas?" Amanda celingak celinguk mencari keberadaan Bram.


"Ia baru pulang," kata Aska segera kembali duduk di sofa keluarga.


"Ok om... Raya yang imut nunggu di sini deh," kata Rayana membuat Aska terkekeh mengusap lembut kepala Rayana.


"Kamu kapan keluar negrinya?" tanya Aska sembari memandang Rayana, yang sudah ia anggap sebagai putri sendiri.


"Lusa mungin Om, emang kenapa? Om mau ngasih uang jajan ya," kata Rayana menaik turunkan alisnya.


"Ini nih kalau sableng ga di obatin," kata Aska menggeleng kan kepalanya. "Pusing Om... kamu itu sebentar sebentar uang, emang dasar matre."


Rayana terkekeh mendengar hardikan Om nya. "Aduh Om dulu itu raya pernah normal, cuman ga di asah aja, eh tambah sekarang berteman dengan Bram kan, jadi tambah gini om."


Aska terkekeh mendengar penuturan keponakan nya yang aneh ini. Rayana memang anak yang tak bisa di tebak, bahkan kata kata nya saja tidak mampu di prediksi, banyak kata kata mutiara yang berlompatan dari bibirnya. Jika di dunia ini ada piala Oscar tentang kata kata mutiara yang artistik, mungkin Rayana akan menjadi nominasi di dalamnya, itu lah yang di pikirkan Aska.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....


...Dan terimakasih sebanyak banyaknya yang sudah dengan loyalnya memberikan vote, dan hadiah, serta koin. I Love You....

__ADS_1


__ADS_2