
Dokter Aldi tengah berjalan menuju ruang keluarga, sembari menelfon seseorang untuk memenuhi ngidam istrinya. Namun langkahnya sedikit terhenti ketika melihat Aiyla tengah berada di dalam gendongan Rakara, bak seekor koala, yang tengah di gendong induknya. Rakara tampaknya tengah berjalan menuju lift, dan yang mengejutkan, tampaknya mereka sedang menikmati ciu*man yang sangat mesra.
Dokter Aldi tersenyum melihat adegan itu, dengan segera ia bersembunyi di balik dinding, dan mengakhiri telfonnya. Setelah pintu tertutup dokter Aldi sengaja berdiri di lift agar dapat melihat ke lantai mana mereka. Setelah mengetahui ke lantai mana mereka, dokter Aldi segera masuk ke dalam lift dan mencoba mencari tahu ke mana mereka. Saat dokter Aldi melihat aktifitas mereka, dokter Aldi tersenyum penuh arti, sepertinya dirinya punya cara agar kakak iparnya itu terlepas dari status dudanya. Dokter Aldi segera turun ke bawah dan melapor kepada Daniel, mertuanya.
Untung saja setelah mereka sampai, posisi mereka tampak tak seintim posisi awal tadi, kini Aiyla sudah tidak berada di bawah kukungan Rakara, namun kini sudah berada di atas pangkuan Rakara. Mereka tampak asyik menyatukan bibir mereka, bertukar salifa, dan tangan Rakara, yang sudah berada di punggung Aiyla mengusap lembut. Rakara yang hanya mengenakan bokser kuning menunjukkan sesuatu yang berdiri di sana. Sontak membuat Daniel menganga tak percaya, namun diam diam tersenyum bahagia.
Ya, mereka saat ini di pergoki oleh Daniel, Chandra, Ahmed, dan dokter Aldi. Untung para wanita tidak ikut. Jika mereka ikut entah apa yang terjadi kepada dua orang yang hampir kebablasan tersebut.
"Kalian sedang apa?" Daniel dan yang lainnya tengah berdiri membuka pintu bioskop, dan menangkap basah kedua anak yang tengah ber*ciu*man mesra.
Aiyla terkejut mendengar suara tersebut, jelas ia tahu suara siapa itu. Aiyla segera memandang ke arah pintu bioskop, menampakkan Daniel, Chandra, Ahmed, dan dokter Aldi. Aiyla berusaha melepaskan pa*ngu*tan Rakara yang masih asyik menyerap setiap inci bibir Aiyla. Aiyla segera mencubit dada Rakara, membuat Rakara segera melepaskan pa*ngu*tan*nya, dan memandang ke arah Aiyla dengan pandangan bingung.
"Why?" Rakara sedikit bingung dengan aksi Aiyla. Rakara sedikit mengusap bibir Aiyla dengan lembut, namun Aiyla malah memandang ke arah pintu. Rakara segera memandang ke arah pandangan Aiyla, sungguh dirinya terkejut melihat pemandangan tersebut.
Aiyla segera turun dari pangkuan Rakara, sementara Rakara juga ikut berdiri. Rakara menggaruk tengkuknya, merasa tidak enak kepada yang lain.
"Papah," Aiyla benar benar takut kali ini di dengan tatapan mata Chandra.
sementara Ahmed di belakang jangan di tanya lagi, dirinya saat ini menjulurkan lidahnya, mengolok olok Aiyla yang terciduk di bangku penonton. Bahkan Ahmed saat ini tengah bergoyang mengejek Aiyla dan Rakara, namun saat Chandra memandangnya dirinya berubah menjadi seolah serius, dan siap untuk memarahi adiknya.
"Kayaknya kita harus ke acara intinya deh yah," dokter Aldi berbisik ke arah Daniel. Daniel mengangguk bertanda setuju, Daniel segera berbisik ke arah Chandra.
__ADS_1
"Kayaknya kita harus ke acara intinya deh Chan," bisik Daniel, membuat Chandra, Ahmed dan dokter Aldi segera memandang ke arah Daniel. "Kamu ga mau saya panggil Chan? Ya udah Ndra aja deh."
Chandra segera menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena dirinya sering sekali ke salon bersama dengan sang istri, hanya untuk perawatan. Jangan di tanya Ahmed, dirinya pastinya ikut kebiasaan kedua orang tuanya. "Bukan itu, lo ga usah ngulang deh, soalnya gue denger tadi apa yang di bilang sama Aldi."
"Oh, saya cuman memperjelas aja, kali kali kamu ga denger," jawab Daniel enteng.
"Otak lo lama lama sableng Dan," jawab Chandra, pusing melihat sepupu nya, sekaligus calon besannya. Sontak saja Daniel memandang ke raja Chandra. "Kenapa? Lo mau di panggil Niel?"
"Tau ah, malas saya ngeliat kamu," kesal Daniel.
"Permisi kalian jadi besanan ga?" Ahmed tiba tiba dari belakang bertanya memandang paman dan papanya.
"Jadi lah," jawab Chandra dan Daniel secara bersamaan, Ahmed terkekeh.
"Eh kalian ngapain? Belum sah juga, ayo kelantai bawah, jangan jangan kalian udah cicip cicipan lagi, udah nyicil ya," Chandra memandangi anaknya dan calon menantunya.
"Enak aja, papa kira Ai motor second," kesal Aiyla segera mendekat ke arah Chandra, Aiyla segera memeluk Chandra dan mengecup pipi Chandra. "Pa Ai minta maaf, Ai ga akan ngulang lagi."
"Eleh merayu lah tu," ledek Ahmed membuat Aiyla cemberut.
"Papa ga yakin Ai, ayo turun ke bawah dulu," kata Chandra, segera menggandeng tangan Aiyla.
__ADS_1
"Pa maafin Ai," rengek Aiyla membuat Ahmed tersenyum jahil.
"Ga usah pa, besok kita ke salon ga usah ajak dia," kata Ahmed memanas manasi Aiyla.
"Pa," Aiyla sudah mengeluarkan jurus berkaca kacanya.
"Kamu ke salon Chan... ndra?" Daniel sedikit menjeda nama Chandra.
"Lah iya lah, biar pasangan kita tambah cinta, emang lo sekarang udah kayak aki aki cucu lima aja, untung Angel setia," ledek Chandra sontak mendapat plototan dari Daniel. "Gue kenal Angel lebih dulu, Angel itu banyak saingannya, kalau Angel ga main hati udah di tinggal lo."
"Emang istri kamu ga setia?" Daniel berusaha membalas Chandra. Namun bukan Chandra namanya kalau bisa kalah dari Daniel, dengan istirnya saja Chandra bisa menang, apalagi jika itu hanya seorang Daniel, kecil bagi Chandra.
"Istri gue mah setia banget, cuman gue ngimbangin lah, jangan sampai gue terlihat tua kalau foto bareng istri gue, sama calon mantu aja gue terlihat seumuran," sombong Chandra membuat Daniel berdecak kesal, karena memang Chandra terlihat awet muda.
"Betul itu pa, papa memang yang paling ganteng," kata Aiyla bersorak mengiyakan, membuat Rakara berdecik tak suka.
Sesampainya mereka di bawah, para wanita telah berkumpul. Mereka segera ikut duduk membuat Aiyla sedikit cemas, takut perbuatannya di atas, di ceritakan kepada mamanya.
"Jadi begini, kita berkumpul disini untuk membahas tentang perjodohan dari Raka dan kamu Ai, serta kita akan segera mengadakan pertunangan, saya kira kalian saling mencintai," jelas Daniel. Sontak saja membuat Aiyla menyemburkan air minum yang baru saja ia masukkan ke dalam mulut, dan tepat sasaran hingga mengenai wajah Rakara.
"Eh sorry kak, Ai tadi terkejut," kata Aiyla sembari menutup mulutnya.
__ADS_1
"Ai kamu antar Raka ke toilet," kata Daniel santai. Sontak saja Aiyla dan dan yang lainnya segera memandang ke arah Daniel, yang tampak tak berdosa sama sekali ketika mengatakan hal tersebut.
"Lah om, ini kan rumah kak Raka, Ai mah ga tau yang mana aja toilet yang ga di ketahui kak Raka di sini."