
"Ais sini saja, saya sudah janjian dengan teman saya," kata Roni beralasan.
Ketiak melihat salah satu karyawati, bagian kepala keuangan datang, Roni segera memanggilnya.
"Wati... sini," kata Roni, mengejutkan Wati.
...
Wati terkejut mendengar penggilan Roni, begitu pun orang orang. Bagaiman tidak Roni yang biasanya sangat tidak suka dengan Wati, karena mengetahui wati yang menyukainya. Kini tiba tiba memanggil Wati untuk makan bersama.
Sebenarnya berat untuk Wati makan bersama dengan Roni, apalagi Roni baru saja kemarin menghinanya, ketika mereka berada di satu acara kantor. Namun karena di depan umum, dan Wati tak ingin melukai harga diri Roni. Meskipun Roni kemari baru saja menghinanya, namun cinta tetap tak bisa hilang begitu saja.
"Wati ayo duduk," kata Roni memandang Wati, membuat Wati mengalihkan pandangannya.
"Ada apa pak?" tanya Wati bingung.
"Sa..." belum sampai kata kata dari Roni ponsel Wati berbunyi.
"Ah maaf pak," kata Wati, kemudian menjauh dari Roni. Roni hanya memandang punggung Wati.
Setelah mengangkat telfon Wati segera keluar dari kantin kantor, menuju parkiran. Wati terlihat menghampiri seorang pria muda, dengan yang membawa paper bag. Wati terlihat sangat akrab dengan pemuda tersebut.
Wajar saja Wati bisa dekat dengan banyak lelaki, wajah cantik, dan sikap terbuka Wati membuat Wati mudah di sukai banyak lelaki. Hanya Roni saja yang tidak tersihir oleh kecantikan Wati, meskipun Wati selalu mengungkapkan perasaannya kepada Roni, namun Roni tak menggubris nya.
Wati terlihat memeluk lelaki tersebut, sebelum lelaki tersebut masuk ke dalam mobil mewahnya. Bahkan lelaki tersebut sempat mengecup kepala, dan mengelus pipi Wati.
Wati melambai kan tangannya ketika mobil tersebut menjauh, kemudian masuk kembali ke dalam kantin. Wati seakan lupa dengan Roni, Wati memilih untuk duduk di meja bekas Angel dan Daniel tadi. Untung saja Daniel dan Angel tadi cepat menyelesaikan makannya, karena Daniel beralasan ada kerjaan yang harus mereka urus.
Wati segera membuka paper bag pemberian dari lelaki tadi, kemudian mengeluarkan sebuah kotak makanan. Wati tersenyum ketika melihat kotak makanan tersebut, kemudian segera mengambil foto dari kotak makan tersebut.
^^^Dasar wanita, mudah sekali di rayunya. Lihat saja kemarin asik mengejarku, kini sudah memiliki laki laki lain. Kesal Roni memandang kotak makan Wati dengan sinis, catat kotak makan Wati, bukan Wati nya.^^^
Sementara di tempat lain Daniel tengah mengajari Angel, tentang tugas tugas Angel. Daniel ingin mengajari Angel sendiri, karena Daniel mendekati Angel lebih dekat lagi, karena Daniel telah pusing dengan desakan ibunya, yang harus menikah lagi.
Saat tengah mengajari Angel, ponsel Daniel berbunyi. Daniel sedikit berdecak kesal, karena momennya bersama terganggu. Daniel melirik ponselnya, ternyata itu berasal dari ibunya.
"Sayang saya mau mengangkat telepon dari ibu dulu ya," kata Daniel meminta izin kepada Angel, sembari mengecup puncak kepala Angel.
Sebenarnya Angel pun tidak masalah jika Daniel mengangkat telepon, Angel sedikit bingung, dengan perlakuan Danil yang berlebihan terhadap nya. Angel tidak tahu apakah itu Daniel benar-benar menyukainya, atau hanya terobsesi padanya. Seperti para pria lainnya yang tertarik kepadanya hanya karena fisiknya.
"Halo Bu..." siapa Daniel kepada ibunya yang berada di ujung telepon sana.
"Iya Bu... tunggu tiga bulan lagi, saya akan membawa calon menantunya," kata Danil sembari memandang Angel.
__ADS_1
"Iya Bu ini lagi usaha," kata Daniel, kemudian tersenyum ke arah Angel yang tengah memandangnya.
"Ya sudah Bu sampai jumpa," kata Daniel menutup sambungan teleponnya.
Daniel segera mendekati Angel, yang tengah memandangnya dengan pandangan bingung. Daniel segera mengusap kepala Angel, kemudian membawa Angel kedalam pelukannya.
"Kenapa?" tanya Angel bingung.
"Tidak, saya cuman nyaman jika begini," kata Daniel, sembari memejamkan matanya.
Daniel mengangkat Angel, dan membawa Angel ke dalam pelukannya. Kemudian menggendong Angel menuju ke tempat kursi kebesarannya. Daniel mengelus pundak Angel, kemudian mengecup pipi Angel.
Daniel merebahkan kepala Angel, di dada bidangnya. Angel sedikit terenyuh dengan perlakuan Daniel. Sedikit demi sedikit, Daniel mulai mengisi hatinya.
Daniel tersenyum ketika Angel tak melakukan perlawanan. Daniel telah bertekad untuk menjadikan Angel istrinya. Karena itu, Daniel melakukan segala cara, agar Angel dapat nyaman bersamanya.
"Kalau kamu mengantuk tidurlah," Kata Daniel mengusap lembut kepala Angel, Angel hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum tipis.
"Dunit kenapa kau begitu lembut kepadaku?" tanya Angel membuat Daniel tersenyum.
"Karena aku menyayangimu," kata Daniel, Sembari terus mengusap lembut kepala Angel.
Angel hanya tersenyum, kemudian mulai menutup matanya, membuat Daniel tersenyum senang.
Tiba tiba ketukan pintu mengejutkan Angel dan Daniel. Angel ingin segera turun dari pangkuan Daniel, namun Daniel menahannya.
"Kalau malu sembunyikan wajah mu," kata Daniel mengeratkan pelukannya.
"Masuk..." kata Daniel, sembari memeluk erat tubuh Angel, membuat Angel segera menenggelamkan wajahnya, di dada bidang Daniel.
Saat pegawai tersebut masuk, alangkah terkejutnya ketika melihat seorang wanita, tengah berada di pangkuan bosnya. Daniel mengusap lembut kepala Angel, sembari memandang bawahannya, yang seakan salah tingkah sendiri.
"Ada apa?" tanya Daniel ramah, membuat orang itu sedikit tertegun.
"Saya mau menyampaikan laporan dari devisi pemasaran pak," kata orang itu, terdengar seperti suara seorang wanita.
Wanita itu tampak gugup, dan salah tingkah, ketika melihat situasi yang sangat membuatnya malu sendiri. Padahal yang sedang beradegan itu bosnya.
"Ah iya, silahkan letakkan di situ," kata Daniel menunjuk meja Angel.
"Ah kalau keluar sedikit pelan, calon istri saya sedang tidur," kata Daniel tersenyum ramah.
"Baik pak," kata wanita itu, setelah meletakkan berkasnya.
__ADS_1
Wanita itu mengangguk tanda mengeri maksud dari Daniel. Wanita itu berjalan pelan, dan membuka pintu ruangan Daniel dengan pelan. Setelah keluar Wanita itu menghela nafas, kemudian melangkah kan kakinya menuju lantai tiga. Di sepanjang jalan, wajahnya tampak memerah, menggerutuki kebodohannya, seandainya nanti saja ia memasuki ruangan bosnya, mungkin saja ia tak akan melihat pemandangan yang begitu mengusik mata, dan merong rong jiwa jomblonya.
Tak terasa ia telah sampai di departemennya, wajah memerahnya membuat semua mata tertuju padanya, orang orang mengira ia dimarahi Daniel. Beberapa orang mendekatinya, dan mencoba menghiburnya.
"Sudahlah tak apa apa," kata Salah satu temannya.
"Apa yang pak Daniel katakan?" tanya salah satu temannya.
Membuat yang lain mengerubunginya, dan penasaran dengan apa yang terjadi.
Karena Daniel memang terkenal ramah, dan jarang sekali memarahi bawahannya. Biasanya Daniel membimbing bawahannya, ketika melakukan kesalahan, dan memintanya dengan baik baik.
"Dia cuman meminta meletakkan berkasnya," kata wanita itu.
Membuat yang lain berkerut bingung, kenapa wajah wanita itu memerah. Ataukah Ia hanya berbohong ketika mengatakan bahwa tidak di marahi.
"Tadi gue lihat bos sama tunangannya," kata wanita itu menarik nafasnya.
"Tunangan bos tidur di pangkuan bos, terus bos memeluk pinggang tunangannya, sambil mengusap lembut kepala tunangannya," lanjutnya lagi.
Membuat wajah para wanita memerah, membayangkan adegan tersebut, yang lebih sweet dari drama Korea. Lalu bagaiman perasaan yang melihatnya secara langsung, sungguh membuatnya semakin salah tingkah.
"Setelah itu, bos minta gue buat ngeletakin berkasnya, habis itu gue letakkin berkasnya, gue izin keluar," kata wanita itu, semakin memerah ketika mengingat adegan tersebut.
Sementara pers wanita semakin antusias mendengarnya. Beberapa wanita menggigit bibirnya, karena membayangkan adegan, yang tak baik untuk para jomblo.
"Terus dia bilang, keluarnya pelan pelan, calon istri saya sedang tidur," kata wanita itu, sembari memandang rekan wanitanya, yang juga memandangnya dengan tatapan berbinar.
"Ah... aku juga mau..." teriak wanita yang lain, membuat semua orang tersenyum.
"Hust gosip ini tak kalah hot," tiba tiba wanita lain datang, dan ikut bersama mereka.
"Tadi gue liat ibu Wati, kayaknya dia udah muve on deh. Tadi pas di ajak makan bareng dengan pak Roni, si Wati justru kelar kantin, terus nelfon, terus..." kata kata wanita itu sengaja di putuskan agar terdengar misterius.
"Terus apa?" tanya wanita yang lain tak sabaran, sama halnya dengan wanita lain. Sementara para laki laki hanya menghela nafas mendengarkan pergosipan itu.
"Terus... ada cowok yang nganterin makanan, dan ga kalah sweet dengan pak bos," katanya dengan ekspresi gereget.
"Buk Wati, di peluk, habis itu keningnya di cum dong, sebelum cowoknya masuk mobil," kata wanita itu.
Para wanita menggigit bibir bawahnya, mendengarkan keromantisan tersebut. Sementara para laki laki bergidik mendengarkan hal tersebut.
"Kalian apa apaan sih?" tanya salah satu laki laki di situ, dan mendapatkan pandangan tajam dari para wanita.
__ADS_1
"Bilang aja lu cemburu, lu kan suka sama ibu Wati," kata salah satu karyawati, membuat semua orang bersorak.
"Terserah, paling hari ini ada pemecatan besar besaran gara gara gosip," kata laki laki itu, membuat kerumunan segera bubar.