
Sudah setahun lamanya Rakara menduda, Rayana pun kini telah berbadan dua kembali, meskipun masih tergolong hamil muda.
Hari ini Daniel bersama dengan seorang wanita cantik, tengah mengunjungi putranya yang selalu sibuk mengurusi pekerjaan kantor.
"Raka di dalam Dik?" pak Ujang menanyai asisten kepercayaan Rakara.
"Iya tuan," Sidik segera mempersilahkan ayah dari bosnya untuk masuk.
Saat Daniel masuk Rakara segera memandang ke arah ayahnya, dan menghentikan aktifitas nya. Ayahnya sudah sangat jarang mengunjungi nya, Rakara tahu ada sesuatu yang di inginkan ayahnya. Apalagi saat ini ayahnya tengah bersama dengan seorang gadis cantik.
"Duduk yah," Rakara mencoba bersikap sebiasa mungkin, tak mungkin ayahnya meminta dirinya untuk menikah dengan gadis yang bukan pilihannya bukan? Terlebih ayahnya pernah berada di posisinya.
"Rak kenalin ini Aiyla, anak dari om Chandra dan tante Aliya, ingat kan?" Daniel mulai memperkenalkan keponakan jauhnya kepada anaknya.
"Jadi, Dia adiknya Ahmed?" Rakara benar benar dingin jika berurusan dengan wanita, terlebih lagi setelah perceraiannya dengan Rani.
"Ayah mau dia bekerja di sini, mau ngajarin dia ngurus perusahaan gitu lo, jadi sekertaris aja kok," Daniel memandang anak sulungnya dengan lekat.
"Ga ah kan sudah ada asisten Raka, dia juga cekatan," Rakara mencoba menolaknya.
"Rak dia juga manusia butuh istirahat, butuh hiburan dari segala perintah kamu, lama lama di bisa perjaka tua ga ada pasangan," Daniel mencoba memberikan sedikit lelucon.
"Dia aja yang ga mau," Rakara membantahnya.
"Jangan gitu dong, ayo lah, dia ga akan ngerepotin kamu kok," Daniel membujuk anaknya.
"Kenapa ga di perusahaan Ahmed aja sih? Perusahaan keluarga Kostak kan besar," Rakara masih berusaha untuk menolak.
__ADS_1
"Kalau di perusahaannya dia ga bakal belajar, kakaknya si Ahmed udah pusing ngajarin dia," Daniel sepertinya tidak segan segan meskipun Aiyla berada di sampingnya.
Aiyla hanya tersenyum mendengarkan kata kata dari pamannya jauhnya ini, karena memang benar begitu adanya, kakaknya sudah pusing menghadapinya, papanya jangan di tanya lagi.
"Ya udah tapi ingat Aiyla di sini ga ada konpensasi karna kau adik sepupuku," Rakara mengatakan dengan tegas.
"Ai ai, asiap bos," Aiyla segera memberi penghormatan kepada Rakara.
"Bagus kau kerja mulai hari ini ya," Rakara memandang Aiyla malas. Jika saja ini bukan karena permintaan ayahnya maka Rakara sangat malas berurusan dengan wanita.
"Ya sudah ayah balik dulu ya," Daniel segera berdiri dari duduknya.
"Iya Raka antar ya," Rakara segera berdiri mengantar Daniel.
Aiyla mengikuti paman dan juga kakak sepupunya dari belakang. "Hei kenapa ikut?" Rakara memandang Aiyla yang ikut masuk ke dalam lift.
"Ngantar oom lah kak, masa ngantar kakak kan kita masih satu gedung," Aiyla tersenyum kenakan ke arah Rakara, membuat Daniel terkekeh, sudah ia duga gadis ini sangat ceria, cocok untuk mendampingi anaknya yang sangat kaku.
pintu lift terbuka membuat mereka memandang ke arah Aiyla dengan pandangan aneh, wanita tadi datang dengan bos ayah dari CEO mereka, kini berjalan bertiga menuju pintu keluar.
"Hati hati yah," kata Rakara sebelum akhirnya menutup pintu mobil yang di kendarai oleh ayahnya.
"Da om hati hati ya," Aiyla ikut berucap sembari lambaikan tangan ke arah Daniel.
"Rak jagain adik kamu ya, ajarin dia Samapi bisa," kata Daniel sebelum mobilnya melesat.
"Iya om siap itu mah," justru Aiyla yang menjawabnya.
__ADS_1
Rakara segera meninggalkan Aiyla yang masih sibuk melambaikan tangan ke arah mobil yang sebentar lagi akan keluar dari pekarangan kantor. Saat menyadari Rakara telah beranjak Aiyla segera menyusul Rakara, namun Rakara segera menekan tombol sebelum Aiyla masuk.
"Kak tungguin dong," Aiyla benar benar kelimpungan mengejar Rakara, namun terlambat, pintu sudah tertutup rapat. Aiyla menggedor pintu lift yang sudah pasti tidak akan terbuka.
"Agh, untung lo CEO di sini, kalau ga gue jambak rambut pomet mahal lo," Aiyla benar benar kesal di buatnya.
Beberapa wanita memandang Aiyla dengan pandangan tak suka, mereka iri melihat kedekatan Aiyla dengan ayah CEO mereka.
"Apa lo liat liat, iri bilang bos," kata Aiyla sebelum akhirnya pintu lift terbuka. Aiyla segera naik menuju ruangan Rakara dengan bersungut kesal.
Setelah sampai di ruangan Rakara Aiyla hendak masuk, namun di tahan oleh Sidik. "Maaf nona nona di larang masuk, ini dokumen yang harus nona kerjakan, kalau ada kesulitan silahkan tanyakan kepada saya, dan nanti siang kita ada pertemuan dengan klien saya harap nona bersiap siap," Sidik menjelaskannya dengan sesopan mungkin.
"Ok sip, makasih ya kak..." Aiyla sedikit menggantungkan bicaranya karena lupa tak tahu nama lawan bicaranya.
"Sidik nona, panggil saja Sidik," Sidik berujar dengan sangat sopan.
"Sip terimakasih kak Sidik, yaudah Aiyla ke ruangan dulu ya," Aiyla segera bergegas pergi, namun beberapa langkah kemudian Aiyla berhenti.
"Terimakasih kak," Aiyla kemudian melangkahkan kakinya.
Ruangan Rakara berada di belakang ruangan Sidik dan Aiyla, yang artinya jika ingin masuk ke dalam ruangan Rakara maka harus masuk ke dalam ruangan Sidik dan Aiyla, itu merupakan pencegahan agar orang orang tak sembarangan masuk ke dalam ruangan CEO mereka.
"Kak ini tinggal di masukin ke sini kan?" Aiyla kali ini membuka suaranya untuk bertanya mengenai kejelasan tugasnya, agar tak salah letak.
"Iya nona," Sidik benar benar senior yang baik.
"Kak ga usah panggil nona ah, panggil Aiyla aja," Aiyla menunjukkan senyum terbaiknya.
__ADS_1
"Iya non, eh Aiyla," Sidik tampak belum terbiasa.
"Nah gitu dong."