Duda Genit

Duda Genit
S3 (Melepasmu)


__ADS_3

Sesuai perjanjian sore ini Aiyla dan Iki bertemu di salah satu cafe, Iki tampak datang terlebih dahulu. Iki tersenyum ketika Aiyla memasuki cafe tersebut.


"Udah lama kak?" Aiyla segera duduk di hadapan Iki.


"Engga juga kakak baru datang," Iki tersenyum ke arah Aiyla sembari memanggil pelayan.


Mereka segera memesan makanan. Sembari menunggu makanan datang mereka berbincang bincang.


"Kak ngapain ngajak Ai ketemuan di sini," Aiyla tampak nya benar benar penasaran.


"Ai nanti malam kakak mau ke luar kota," Iki menjeda bicaranya, mengambil nafas dalam dalam mencoba mencari keberanian yang telah di kumpulkannya tadi. "Tapi kakak ga tenang kalau belum bilang ini sama kamu," kalimat ini benar benar membuat Aiyla semakin tegang saja.


"Kakak mau bilang apa?" Aiyla sedikit menegang, jantungnya berpacu dengan cepat. Terlebih tiba tiba Iki menggenggam tangannya dengan erat.


"Kamu ada pacar ga Ai?" Iki memandang Aiyla dengan pandangan sendu. Jujur saja saat ini Iki sedikit takut mendengar jawaban dari Aiyla. Namun sudah cukup memendam, la harus menyampaikannya saat ini juga.


Aiyla menegang mendengar pertanyaan dari Iki, Aiyla bukan makhluk polos yang tak tahu arah tujuan dari pertanyaan tersebut.


"Ga kak, emang kenapa?" Ah, tampaknya Aiyla benar benar pintar berpura pura polos, tak tahu maksud Iki.


Iki yang gemas dengan wajah memerah Aiyla segera menarik pelan pipi Aiyla, dan tersenyum lembut.


"Kamu mau ga jadi pacar kakak?" Iki segera menyatakan perasaannya.


Dum, bagai pukulan drum India, kupu kupu menari, dan bunga bunga bermekaran semakin menambah rona merah di wajah Aiyla.


"Maksud kakak?" Tampaknya Aiyla masih dalam keadaan tidak sadarkan diri, Aiyla bahkan saat ini tak fokus karena mengingat kata kata terakhir Iki.

__ADS_1


"Kakak udah lama suka sama kamu, tapi kakak ragu buat ngungkapinnya. Tapi kakak sadar kalau ga ngungkapinya takutnya kamu di ambil orang duluan," Iki segera menumpahkan keresahannya selama ini, yang hanya tertahankan sendirian.


Berat? Memang berat terlebih orang itu selalu ada di sekitar kita, menampakkan senyum manis yang menawan.


"Kakak ga lagi bercanda kan?" Aiyla mencoba meyakinkan dirinya, agar dirinya tak salah jawab.


"Ga Ai, jadi gimana menurut kamu?" Iki kembali meminta kejelasan kepada Aiyla mengenai pernyataannya.


"I... iya kak Ai mau," jawab Aiyla atas apa yang di ungkapkan oleh Iki.


"Beneran Ai? Makasih banyak ya," Iki terlihat begitu bersemangat sehingga menggenggam tangan Aliya dengan sedikit kuat.


"Untuk apa kak?" Aiyla justru bingung dengan ucapan terimakasih Iki.


"Untuk nerima kakak," jawab Iki segera mengecup tangan Aiyla, Iki terlihat sangat berbinar ketika mengatakan hal tersebut.


"Kita pacaran ya mulai sekarang," Iki kembali meyakinkan Aiyla sontak membuat Aiyla terkekeh.


Tak lama kemudian pesanan yang di mereka pesan datang, Iki dan Aiyla segera menyantap makanan merek.


Setelah mereka makan Iki segera mengajak Aiyla keluar cafe, Iki menggandengkan tangan Aiyla posesif sekali kali mengecupnya. Maklum romansa anak muda, ketika baru jadian. Sebelum mengantar Aiyla masuk ke mobil, Iki segera menggenggam tangan Aiyla.


"Tapi sore ini Ai mau nemenin kakak kan? Soalnya kakak bakalan seminggu di bandung," Iki menampakkan wajah memelas agar Aiyla mau menemaninya sebelum keberangkatan.


"Iya kak, ayo Ai ikuti kakak dari belakang," Aiyla tersenyum segera masuk ke dalam mobilnya.


Iki tersenyum bergegas menuju ke mobilnya dan segera melajukan mobilnya menuju unit apartemen miliknya. Sesampainya mereka di gedung apartemen, Iki segera menggandeng tangan Aiyla menuju unit miliknya. Setelah berada di dalam unit, Iki segera meminta Aiyla agar duduk di kursi, dan mengambil air mineral untuk Aiyla.

__ADS_1


Setelah membawa air mineral dan beberapa cemilan Iki segera membawa Aiyla ke dalam pelukannya sembari mengusap kepala Aiyla lembut. Iki mengecup puncak kepala Aiyla.


"Ai makasih ya mau nemenin kakak, di detik terakhir kakak di sini," ungkap Iki menyatukan jari jemari mereka.


"Iya kak, kakak jangan macam macam ya di sana," jawab Aiyla memandang Iki dengan pandangan yang cemberut.


"Iya kamu yang jangan tergoda dengan cowok cowok yang suka godain kamu," pinta Iki kembali mengecup puncak kepala Aiyla.


"Iya kak,"jawab Aiyla segera menenggelamkan kepalanya di dada Iki.


"Nanti kita sering sering berhubungan, kakak pasti bakalan kangen banget dengan pacar kakak ini," Iki semakin memeluk erat tubuh Aiyla mengingat baru saja mereka resmi menjadi sepasang kekasih, namun justru mereka kini harus berpisah.


"Baik baik di sana," Aiyla kembali mengingatkan.


"Ai tunggu kakak ya," pinta Iki, kembali memeluk Aiyla dengan erat.


"Emang kenapa kak?" Aiyla menengadah memandang Iki.


"Engga, Ai nanti nih kalau kita ga bareng ingat kakak terus ya, jangan macam macam," pesan Iki, sembari mengecup pipi Aiyla.


"Ih ada ada aja kak, kayak mau kemana aja," kekeh Aiyla, mencubit perut Iki.


"Tapi seminggu itu lama loh," kata Iki mengusap lembut kepala Aiyla.


"Iya tapi jangan ngomong gitu dong," pinta Aiyla tersenyum ke arah Iki.


"Iya Ai sayang kakak."

__ADS_1


Rasanya jika tidak penting, Iki tak ingin meninggalkan kekasihnya di sini, Iki masih ingin seperti ini hingga mereka berpisah nanti, melepas rasa rindu dengan sang kekasih.


__ADS_2