
Hari ini adalah hari akad nikah antara Rakara dan Aiyla, laki laki itu tampak sedikit gugup, padahal ini adalah akad yang kedua untuknya. Harusnya ia tak segugup ini, namun memang dirinya masih saja sangat gugup. Daniel datang membuyarkan lamunan dari Rakara, Rakara segera menoleh ke arah Daniel.
"Hari ini hari pernikahan kamu, meski yang kedua. Jangan segugup ini," Daniel tersenyum ke arah anak laki lakinya, sontak saja membuat Rakara tersenyum.
"Ingat jangan pernah membandingkan mantan istrimu dengan istrimu yang sekarang, mengerti atas kekurangannya, ajarkan dia, dan bimbing dia dengan lembut, sesungguhnya dia sama sekali belum pernah memasuki dunia pernikahan. Sebagai yang berpengalaman, kamu harus menuntunnya dengan lembut," Angel tiba tiba masuk dan ikut menasehati putranya.
Rakara mengangguk mengerti maksud dari bundanya, sebenarnya sebelum mereka manasehati Rakara, sesungguhnya keluarga dari pihak mempelai wanita, memperingatinya terlebih dahulu tentang calon istrinya. Mereka memberitahu sikap Aiyla yang terkadang masih kekanak kanakan. Namun Rakara menyanggupinya, ia mencintai Aiyla, maka harus menerima segala bentuk kekurangan maupun kelebihan dari Aiyla.
"Yah, Bun, mobil sudah siap. Akad juga satu jam lagi akan di mulai, sebaiknya kita segera berangkat. Meminimalisir jika ada halangan di jalan," dokter Aldi tiba tiba muncul di balik pintu. Sementara Rayana saat ini tengah berada di lantai dasar, Rayana sudah tidak di perbolehkan dokter Aldi untuk menaiki tangga. Mengingat kehamilan Rayana sudah memasuki minggu ke 36, itu artinya Rayana akan lebih rentan untuk melahirkan.
Mereka segera turun, dan bersiap siap untuk memasuki mobil. Mereka memasuki dua mobil, dokter Aldi bersama dengan Rayana. Rakara jelas bersama dengan Daniel dan juga Angel.
Ternyata benar apa yang di katakan oleh dokter Aldi, mereka saat ini justru terjebak macet, membuat suasana menjadi lebih panas, dan gerah. Rakara sejak tadi terus saja berdoa, agar kemacetan bisa terurai secepatnya. Sementara Daniel segera melakukan panggilan kepada Chandra, demi memastikan keadaan di tempat acara. Belum lagi memberitahukan kemacetan yang terjadi.
Dokter Aldi terus meminta agar beberapa pengawal yang berada di hadapan mereka, mencari celah, agar mobil mereka dapat berjalan. Karen mereka harus segera sampai di tempat tujuan. Hampir dua puluh menit mereka berkutat dengan macet, akhirnya mereka dapat keluar dari kerumunan macet tersebut, meskipun dengan beberapa umpatan pengendara lainnya, yang juga terjebak macet. Karena mereka mendapat jalan terlebih dahulu.
__ADS_1
Sesampainya mereka di rumah pengantin wanita, ternyata mereka terlambat. Angel segera mengusap lembut keringat anaknya, karena sudah bercucuran. Antara gugup dan juga kepanasan akibat macet tadi, bercampur manjadi satu. Untung saja baju luar Rakara tadi di lepas, yang hanya menyisahkan kaus ketat di badannya.
"Ayo pakai lagi baju kamu," Angel segera membantu anaknya mengenakan kembali pakaiannya. Setelah selesai, Angel kembali merapikan rambut anaknya.
Setelah selesai semua, Rakara segera turun di sambut pihak mempelai wanita. Rakara tampak sangat gugup, membuat Chandra terkikis geli, namun segera di sikut oleh Aliya. "Ingat lo dulu lebih dari ini, sampai sampai mau nikahin almarhum papa gue."
Seketika Chandra cemberut melihat istrinya, Chandra segera merangkul tubuh istrinya dengan gemas. "Masih ingat aja, cie selalu terngiang ngiang ya hari spesial kita," goda Chandra tak ingin kalah dari istrinya.
"Eleh malah saling goda pula di sini, untung bukan Ahmed yang jadi pengantinnya," kata Ahmed meledek Chandra dan Aliya. Sontak saja kedua orang itu segera memandang ke arah Ahmed. "Apa?"
"Giliran marahin anak aja kompak," Ahmed bergumam kesal.
"Apa kamu bilang?" Aliya memandang Ahmed lekat, bersiap siap untuk menghadiahi capitan panas di perut Ahmed.
"Semua kekompakan kalian langgeng selama lamanya," balas Ahmed membuat Chandra dan Aliya tersenyum serentak.
__ADS_1
Akad nikah akan segera di mulai, Rakara sudah menjabat tangan Chandra, Chandra dapat merasakan dinginnya tangan Rakara bak es balok. "Saya nikahkan engkau dengan anak saya yang bernama Aiyla Winata Kostak, dengan saham sebesar tiga persen, dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Aiyla Kostak Winata, dengan saham sebesar tiga persen, dibayar tunai."
"Ulang lagi ya, ingat namanya Aiyla Winata Kostak," kata Chandra mengingatkan, membuat Ahmed yang ada di samping sebagai saksi terkekeh geli. "Saya nikahkan engkau dengan anak saya yang bernama Aiyla Winata Kostak, dengan saham sebesar tiga persen, dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Aiyla Winata Kostak, dengan saham sebesar tiga persen, dibayar tunai."
"Bagaimana saksi? Sah?" penghulu segera bersorak ke arah para saksi.
"Sah," teriak mereka serentak.
"Alhamdulillah," ucap penghulu tersebut.
"Yeh," tanpa sengaja Rakara bersorak dengan sedikit keras, sehingga mampu di dengar oleh para saksi. Sontak saja para saksi menjadi terkekeh, melihat tingkah pengantin pria. l
__ADS_1