
Saat Rayana keluar dokter Aldi sedikit tertegun, akibat keegoisannya, tingginya gengsinya membuat sang kekasih hati memohon, dan berujung pemutusan pertunangan oleh sang kekasih. Dokter Aldi tersadar dan segera berlari mengejar Rayana, yang saat ini telah berada di lantai dasar, bersiap untuk keluar dari rumah besar tersebut.
Dokter Aldi segera menyusul Rayana kemudian memeluk Rayana dari belakang, saat tangan Rayana hendak membuka pintu. Dokter Aldi memeluknya dengan erat sembari menciumi rambut Rayana.
"Sayang maaf," kata dokter Aldi dengan suara yang sedikit bergetar.
Rayana menyeringai dalam diam sungguh rencana yang sempurna, dokter bucinnya ini benar benar takut kehilangan dirinya, sehingga Rayana dengan sengaja melemparkan cincin pertunangan mereka, agar dokter Aldi memaafkannya dan kembali berbicara dengannya.
"Maaf sayang," kata dokter Aldi kembali, sembari membalikkan tubuh Rayana.
Kali ini Rayana yang melakukan mogok bicara, Rayana ingin dokter Aldi sedikit merasakan kekesalannya tadi saat di diamkan.
"Sayang pakai lagi ya," kata dokter Aldi mencoba menyodorkan cincin pertunangan mereka. "Iya sayang aku yang salah."
Dokter Aldi tampaknya benar benar menyesal dengan sikapnya, harusnya dia memang tidak melakukan hal itu hingga membuat pertunangan mereka batal.
Dokter Aldi segera membalikkan tubuh Rayana dan menarik pinggang Rayana menempel padanya, salah satu tangannya menggenggam cincin, berusaha memasukkan kembali ke jari manis Rayana. Sedikit sulit karena Rayana tidak terlalu meresponnya, Rayana bahkan hanya melirik apa yang di lakukan dokter Aldi.
Setelah cincin terpasang dokter Aldi segera menggendong Rayana, membuat secara otomatis Rayana mengalungkan tangannya di leher dokter Aldi. Dokter Aldi menaiki tangga dengan hati hati, menaiki tangga dengan menggendong seorang bayi adalah hal tidak sulit, namun menggendong bayi besar manusia dengan usia dua puluh empat tahun sungguh sulit, namun sebisa mungkin dokter Aldi menaiki tangga tersebut demi mendapatkan maafnya.
Setelah sampai di dalam kamar, dokter Aldi segera menurunkan Rayana di tempat tidur, kemudian ikut berbaring di samping Rayana.
"Sayang jangan marah ya? Aku itu cuman cemburu, aku takut kamu batalin semua ini, aku takut kamu milih dia," cicit dokter Aldi sembari memandangi langit langit kamarnya.
Rayana memandang wajah dokter Aldi, tampak jelas ekspresi khawatir tercetak di raut wajah nya, membuat Rayana segera tersenyum. Tak tega rasanya mengerjai dokter tampan itu lama lama.
Rayana segera memeluk dokter Aldi dan menelusup kan wajahnya di bawah ketiak dokter Aldi, untung saja dokter Aldi habis mandi jadi tidak ada yang namanya bau badan.
Dokter Aldi merasakan pelukan Rayana segera berbalik menghadap Rayana dan memeluknya. Dokter Aldi mengecup puncak kepala Rayana dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Kangen," kata Rayana dengan manja membuat dokter Aldi terkekeh.
"Aku juga rasanya tersiksa tak mendengar suara kamu," kata dokter Aldi mengeratkan pelukannya menyalurkan rasa rindunya yang tertahan selama dua hari.
Ah, rasanya dua hari tak bertemu Rayana dokter Aldi sangat gelisah, tapi apalah daya ego di junjung tinggi berakhir pada pertengkaran.
"Tapi tadi ga mau ngomong," sindir Rayana membuat dokter Aldi gemas.
Dokter Aldi segera menurunkan badannya menghadap Rayana, tepat berhadapan dengan wajah Rayana, dokter Aldi segera mengusap wajah calon istrinya itu, kemudian mengecup bibir Rayana dengan singkat.
"Jangan marah ok, aku sayang banget sama kamu, takut kamu akan pergi dari hidup aku sayang," kata dokter Aldi segera menyatukan keningnya dan kening Rayana.
Kening mereka bersatu, sehingga jarak di antara mereka benar benar sedikit membuat mereka mampu merasakan nafas masing masing.
Rayana tersenyum melihat tingkah dokter Aldi yang benar benar menggemaskan. Wajah dokter Aldi yang memerah membuat Rayana mengecup pipi dokter Aldi.
"Terimakasih sudah cinta, terimakasih sudah cemburu, terimakasih sudah takut kehilangan," kata Rayana mengusap lembut pipi dokter Aldi.
"Hm, kalau iya kenapa?" dokter Aldi segera menaiki Rayana.
Kini Rayana tepat berada di bawah dokter Aldi, saat ini dokter Aldi tengah menyanggah kepalanya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya mengusap lembut wajah mulus Rayana.
"I love you, Sayang," kata dokter Aldi mengecup puncak kepala, kedua kelopak mata Rayana, pipi Rayana, hidung, dan dagu Rayana.
"Samua yang ku kecup tadi punya aku ya sayang, cuma aku yang punya ga boleh yang lain," kata dokter Aldi kembali mengusap lembut puncak kepala Rayana.
Rayana bak terhipnotis dengan segala perlakuan dokter Aldi, hanya mengangguk tanda mengerti dengan kata kata dokter Aldi.
Dokter Aldi segera mengecup berkali kali bibir Rayana, hingga menjadi basah. Tak lama kemudian dokter Aldi kembali lagi mengecupnya lagi dengan sangat lama, hingga akhirnya berubah menjadi lu*ma*tan. Dokter Aldi sedikit menjilati bibir Rayana, sembari berusaha membuka bibir Rayana, agar lidahnya dengan mudah masuk.
__ADS_1
Karena sentuhan sentuhan lembut dokter Aldi tersebut, Rayana segera membuka bibirnya sedikit, kemudian membiarkan dokter Aldi masuk dan mengekspos seluruh isi mulut Rayana.
Ah, akhirnya rasa rindu semua tersalurkan membuat dokter Aldi semakin menekan Rayana ke dalam pelukannya.
Ctek.
Pintu terbuka menampakkan Willi yang baru saja masuk ke dalam kamar Rayana. Dokter Aldi dan Rayana yang menyadari kehadiran Willi segera bangkit, namun Rayana tiba tiba merasa berat, dan merasa sesak, ia belum menyadari dokter Aldi tengah menindih tubuhnya dengan sempurna.
"Papa ngapain mama, mama nanti kesakitan di bawah," kata Willi tak terima mamanya di tindih oleh papa nya.
Willi dan Rayana yang baru menyadari hal itu buru buru bangun dari posisinya, Rayana segera mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, pipinya telah memerah bak kepiting rebus. Willi segera naik ke tempat tidur dan memeluk Rayana.
"Mama ga papa kan? Papa nakal ya suka nindih mama?" Willi bertanya dengan wajah polos.
"Engga sayang, tadi ga sengaja, papa tadi mau ngambil barang eh ga sengaja nindih mama," kata dokter Aldi tersenyum ke arah Willi, berharap agar anaknya itu mau mengerti.
Willi mengangguk mengerti maksud dari dokter Aldi, namun pelukannya tak lepas dari Rayana, membuat dokter Aldi tersenyum melihat kedekatan anaknya dan juga Rayana.
"Kamu mau tidur sayang?" tanya dokter Aldi beralasan, sejujurnya ia masih belum puas berduaan dengan Rayana.
Willi mengangguk, membuat dokter Aldi mengarahkan kedua orang yang ia sayangi segera berbaring. Willi saat ini berada di tengah tengah antara Rayana dan dokter Aldi, namun tangan dokter Aldi segera menyebrang menggenggam tangan Rayana, sembari mengusap lembut kepala Rayana.
"I Love You," kata dokter Aldi dengan bahasa bibir tanpa suara saat mata nya dan sang calon istri bertemu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****Selamat berpuasa teman teman sekalian bagi yang muslim 🙏🙏🙏****...
...Mohon maaf jika ada salah dan kekhilafan serta ketersinggungan selama author menulis novel terimakasih...
__ADS_1
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....