Duda Genit

Duda Genit
S2 (Pajak)


__ADS_3

Siang ini Rayana sengaja berkunjung ke rumah sakit Aska, karena tadi siang tantenya Vania meminta Rayana untuk mengantarkan makanan kepada Aska. Vania bukannya tak mau mengantarkan makanan ke pada Aska, namun Vania hari ini ada kegiatan di tempatnya. Seperti biasanya Vania memilih Rayana mengantar makanan untuk suaminya.


Rayana telah sampai di depan rumah sakit, ia bersiap untuk masuk namun ia bertemu dengan salah satu dokter yang kemarin di temuinya di rumah Aska. Dengan gaya centilnya Rayana menghampiri dokter tersebut, yang bernama dokter Aldi.


"Hai dokter Aldi, sang Sri Rama nya Raya, yang cantik paripurna ini," kata Rayana mengedipkan sebelah matanya.


Dokter itu hanya menggeleng, tak begitu menanggapi keponakan temannya ini. "Nama kamu Raya kan?"


"Iya om ingat aja, tapi memang harus ingat kan calon pacar," kata Rayana semabari terkekeh.


"Calon pacar?" Aldi mengerutkan keningnya bingung dengan kata kata mutiara yang lolos dari bibir Rayana.


Aldi tak tahu saja kalau Rayana suka sekali mengatakan hal itu, kepada hampir semua dokter yang ada di sini. Rayana memang bercita cita ingin punya suami dengan profesi yang sama dengan Aska, yaitu dokter.


Alasan Rayana hanya agar jika sakit tak perlu repot, tak perlu bayar uang pemeriksaan. Atau embel embel apa lah itu.


"Calon pacar nya Raya ini dokter apa?" tanya Rayana dengan santainya.


"Saya dokter kandungan," kata Aldi cuek.


Rayana langsung berbinar mendengarkannya, sok begitu bahagia, sok begitu terharu.


"Ya ampun dokter kandungan, wah pasti penyayang sekali ya," kata Rayana memuji. "Pasti setia kan sama pasangannya."


Aldi hanya tersenyum mendengarkan kata kaya Rayana, entah maksud senyum nya itu apa. Namun terlihat begitu manis di wajah tampannya, yang di hiasi lesum pipi itu.


Raya sedikit terpesona melihat senyum dari Aldi, Aldi memilih tidak membalas gombalannya.


"Ih calon pacar kalau senyum bikin terpesona aja deh," kata Raya membuat Aldi terkekeh.


"Ya udah deh calon pacar Raya ke ruangan om Aska dulu ya," kata raya pamit, kemudian masuk ke ruang Aska.


Aska segera tersenyum ke arah Rayana, Aska memang mengetahui jika keponakan tercantik dan tercentil-nya ini lah, yang mengantarkan makanan untuknya.

__ADS_1


Rayana segera meletakkan bekal tersebut ke meja Aska. "Nih om, punya oom."


"Terimakasih Pocil," kata Aska kembali memberi gelar kepada keponakan nya itu.


Rayana segera menengadahkan tangannya ke arah Aska, guna meminta uang pesangon ke arah Aska.


"Kenapa?" tanya Aska sembari melihat ke arah tangan Rayana.


"Minta jajan, anggap saja untuk ponakan termanis, ah atau anggap aja sebagai rasa terimakasih deh," kata Rayana memelas ke arah Aska.


Aska terkekeh sembari memandang sejenak ke arah ponakannya, sungguh mirip dengan sikap Daniel. Ah, mungkin saja seratus persen sikap Daniel tercetak padanya. Sementara Rakara seratus persen sikap Angel tercetak padanya.


"Aish, dasar anak Daniel, ga mau rugi," kata Aska menggeleng.


Meskipun begitu Saja tetap memberikan uang kepada keponakan matrenya itu. Ya, matre Rayana memang tidak ketulungan, bahkan kepada Rakara saja Rayana masih meminta imbalan, apalagi kepadanya. Ah, sepertinya mode matre nenek Melisa telah merasuk kepadanya.


"Om ga ada yang gratis di dunia ini," kata Rayana, sembari menyimpan uang pemberian Aska ke dalam tasnya. "Nah makasih Om, si cantik imut pergi dulu ya."


"Cado itu apa om," tanya Rayana bingung.


"Cantik dongo," kata Aska semabari tertawa ke arah Rayana.


Rayana mendengar hal itu sungguh kesal di buatnya, bagaimana tidak om tampan nya ini mengatainya dongo? Ah, tidak ia mengira ia sungguh pintar, bagaiman tidak ia dapat mendapatkan uang dengan mudah, dan berhasil menjadi cumlaude di kampusnya.


"Ih om... Raya ga dongo ya, Raya ini pintar," kata raya tak terima, sontak membuat Aska terkekeh.


"Om berhenti ketawa ya, ga lucu, Raya ini pintar, Raya ga terima di bilang dongo," kesal Rayana segera meninggalkan Aska, dengan membanting pintu ruangan Aska, yang masih terkekeh.


Sementara di tempat lain, Rakara saat ini tengah memimpin rapat, di temani asisten pribadinya Rani. Ya si wanita cantik pujaan Rakata. Cinta dalam diam, mebuat Rakara hanya bisa menjadi penggemar, dan pelindung Rani. Ah, seluruh wanita ingin memiliki hal itu.


Rakara tersenyum ketika melihat Rani tengah serius membacakan jadwalnya. Ah, Rakara sungguh selalu terpesona dengan hal itu, sungguh sangat cantik, dan imut.


Rakara segera memesan makanan untuk mereka berdua, kemudian mengusap kepala Rani dengan lembut. Ya, perlakuan lembut tersebut hanya untuk ibu, adik, dan Rani. Mereka adalah orang terpilih untuk itu.

__ADS_1


Rani bersemu merah ketika mendapatkan usapan lembut tersebut, jantungnya berdegup kencang, membuatnya sesak napas.


"Rak jangan gini dong, nanti baper," kata Rani jujur, se jujur jujurnya.


Ah... wajahnya kembali bersemu merah ketika mengatakan hal itu, entah kini sudah bagaiman wajahnya. Ah, sungguh kata kata yang memalukan.


"Tidak apa apa saya akan bertanggung jawab, dan menikahi kamu," kata Rakara memandang ke arah Rayana.


Sudah cukup lama Rakara menyimpan semua perasaanya setelah sekian tahun, namun kali ini ia ingin sekali mengungkapkan hatinya. Rakara mencoba memantapkan dirinya sesuai dengan saran sang adik.


Meski harus kehilangan cukup banyak uang, agar adiknya memberinya saran, namun tak apa lah. Sekali kali memanjakan adik sendiri, dan menyogok adiknya, untuk sebuah ide yang luar biasa, standar idenya. Hampir saja Rakara menyesal meminta ide kepada adik matre ember jebolnya itu, yang senang sekali mengaku sebagai Dewi Sinta.


Tapi karena ide standar adiknya, yang minim akhlak itu, akhirnya ia memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Dengan di iringi ancaman ancaman dari adiknya.


"Apaan sih Rak," kata Rani memukul lengan Rakara, kini Rani sudah mulai melupakan posisi antar keduanya.


Rani sungguh malu, karena merasa seperti anak ABG yang baru saja jatuh cinta. Di tambah lagi pesan dari calon adik iparnya, Rayana.


"Ini sungguhan, Rayana bilang kalau aku ga ngungkapinnya sekarang, nanti kamu di salip di pertikungan jalan," kata Rakara, dengan segala keberanian yang ada, dengan menenggelamkan gengsi dan rasa malunya di dasar bumi. Ah, di kerak bumi lebih bagus sepertinya.


"Kamu mau kan jadi istri saya?" Rani hanya mengangguk malu malu mendengarkan pernyataan dari Rakara, yang benar benar membuat wajahnya bersemu merah.


Tiba tiba ponsel mereka berdering hampir bersamaan, membuat kedua insan yang baru saling menyatakan perasaan tersebut, segera memandang ke arah ponsel masing masing.


"Ingat pajak jadiannya, ini semua berkat Rayana yang cantik dan imut ini," isi pesan di kedua ponsel Rakara dan Rani. Membuat mereka saling memandang, sedetik kemudian mengedarkan pandangan mencari keberadaan wanita yang suka sekali mengaku Dewi Sinta.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Maaf teman teman dua hari ini sibuk banget, pertama kemarin keluarga pada datang dan tidur di rumah, kedua saudara ada yang nikahan, ini namanya orang yang nikahan kita yang ribet....


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....


...Dan terimakasih sebanyak banyaknya yang sudah dengan loyalnya memberikan vote, dan hadiah, serta koin. I Love You....

__ADS_1


__ADS_2