
Aiyla saat ini tengah mendengarkan rekaman suara hasil rapat tadi, Aiyla menulis setiap sesuatu yang menurutnya penting, namun terlewatkan tadi. Rakara tersenyum melihat hal tersebut, Rakara segera merebahkan badannya di samping Aiyla yang masih asyik dengan iPed dan catatan kecilnya. Semua file mengenai hasil rapatnya selalu iya simpan di dalam file tersendiri, dalam iPed yang selalu di bawanya.
"Masih lama ya?" Rakara memandang Aiyla yang tampaknya masih asyik memainkan iPed nya.
Saat Rakara ingin mengintip apa yang di lakukan pujaan hatinya, tiba tiba sebuah telfon mengagetkan nya.
"Halo kak," ternyata itu dari Rayana.
"Hm kamu kenapa? Tumben," Rakara sedikit malas menjawab sapaan dari adik perempuannya, yang jelas akan ada yang di inginkannya. Itu sudah pasti, terlebih Rakara tahu betul bahwa adiknya itu ember jebol, yang entah seperti memiliki cctv di mana mana, sehingga tahu setiap kegiatan Rakara. Atau adik nya itu memiliki Indra keenam yang tahu setiap apa yang di pikirannya? Ah, memikirkan nya saja membuat bulu kuduk Rakara berdiri menari di tengkuknya.
"Mau nanya keadaan calon kakak ipar," kata Rayana terkekeh, terlebih saat ini Rakara secara refleks mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Ngomong apa sih Raya," elak Rakara membuat Rayana semakin terkekeh.
"Kakak tau ga sekarang di rumah ada siapa?" Rayana justru menanyakan hal tersebut.
__ADS_1
"Siapa?" Rakara tampak memicingkan matanya tak mengerti.
"Sekarang ada, tada..." Rayana tiba tiba memberikan kameranya ke arah Ahmed, kemudian Chandra dan terakhir Aliya. Mereka tampak melambaikan tangan ke arah Rakara.
Rakara segera mengusap kembali tengkuknya, sembari tersenyum canggung memandang ke arah layar ponselnya. Rakara sangat takut jika ketahuan menyewa kamar yang sama dengan Aiyla. Bahkan dirinya kemarin suka sekali mengecup bibir Aiyla.
Sementara Aiyla tampak tak perduli dengan siapa Rakara saat ini berbincang, Aiyla bahkan segera meletakkan ponselnya di samping tempat tidur, dan segera membaringkan tubuhnya. Naas saat Aliya hendak membaringkan tubuhnya, rambutnya terkena sedikit kamera, sehingga membuat Rayana berlonjak senang. Tampaknya pemikiran gadis itu benar, bahwa Rakara dan Aiyla berada di satu kamar yang sama.
Melihat ekspresi wajah adiknya itu, Rakara hanya mendengus kesal, ia juga malas menuju ke balkon, karena takut pujaan hatinya, yang saat ini memejamkan mata terusik. Rakara sedikit melirik ke arah Aiyla, dan senyum secara refleks terbit di bibirnya, Rakara sedikit mengusap wajah Aiyla dan menyingkirkan rambut yang berada di wajah nya.
"Rakara Mark Rosyid, cepat bilang siapa yang di samping kamu," kali ini Daniel yang menggeram kesal, karena takut anak sulungnya bersama dengan seorang wanita yang bukan calon menantu incarannya.
"Tapi yah," Rakara sedikit gugup dengan permintaan ayahnya. Rakara beranjak dari tempat tidur, namun Daniel segera menghentikannya. "Jangan beranjak dari tempat tidur, cepat bilang kepada ayah, atau perjodohan antara kamu dan Aiyla, yang baru saja ayah dan bunda bicarakan akan batal saat ini juga."
Rakara tampak jelas sangat kelabakan, dan akhirnya dengan sangat ragu ragu menampakkan wajah wanita yang tengah tertidur dengan memeluknya.
__ADS_1
Semua orang tampak terkejut melihat seorang wanita yang tertidur tengah memeluk kaki Rakara, wanita itu tampak tidur nyenyak seolah telah melakukan sesuatu yang melelahkan.
"Raka itu rambutnya di singkirkan dulu," perintah Daniel, terdengar sangat geram karena anaknya melakukan hal yang sangat luar biasa, bahkan saat ini tengah di tonton calon besannya.
"I iya yah," Rakara dengan ragu ragu menyingkirkan semua rambut yang menghalangi wajah cantik Aiyla, dapat Rakara lihat wajah terkejut dari ayahnya. Kemudian tampak wajah Chandra yang terpampang nyata, dari layar ponselnya.
"Syukurlah," kata Daniel sontak mendapatkan pelototan dari para wanita, ah maksudnya hanya Angel dan Aliya saja, karena Rayana justru tertawa terbahak bahak. "Kenapa?"
"Dasar duda genit," kesal Angel melihat kelakuan anak nya yang duda.
"Turunan siapa?" Chandra dan Aliya berseru serentak, sontak membuat Rayana terbahak bahak.
"Pergaulan dan lingkungan sekitar mempengaruhi karakter seseorang," kata Rayana terkekeh geli, membuat yang lain mengangguk setuju dengan ucapan wanita yang tengah hamil tersebut. Terutama Daniel dan dokter Aldi.
Mendengarkan kegaduhan yang semakin tak jelas, Rakara segera mematikan sambungan telfonnya takut Aiyla terganggu dengan kebisingan tersebut. Rakara segera melepaskan pelukan Aliya dari kakinya, kemudian membaringkan tubuhnya di samping Aiyla, sembari memeluk tubuh gadis itu, dan menyusul ke alam mimpi sana. Masa bodoh dengan protes orang yang di seberang sana, yang penting malam ini dirinya akan tidur puas memeluk Aiyla sebelum akhirnya besok mereka akan kembali ke Jakarta, dan kembali berpisah tempat tidur, bahkan rumah.
__ADS_1