Duda Genit

Duda Genit
S2 (Be Mine)


__ADS_3

"A... Ayo buka mulut suami sayang," kata Rayana meminta dokter Aldi membuka mulutnya, untuk di suapi. baru kemudian dirinya.


Raut wajah dokter Aldi sedikit berubah dan tampak sudah mulai seperti semula, namun cetak kekhawatiran masih membekas di wajahnya.


"Sayang kamu ga mau ya?" kata Rayana sembari menyodorkan sendok berisi nasi goreng ke mulut dokter Aldi.


Dokter Aldi menampilkan seulas senyum manisnya, kemudian membuka mulutnya guna memberi akses sendok berisi makanan masuk ke dalam.


Rayana tersenyum sembari mengusap lembut wajah dokter Aldi, Rayana kemudian menyuapi dirinya sendiri.


Dokter Aldi sangat bersyukur memiliki istri seperti Rayana, jika itu wanita lain maka dokter Aldi tak bisa menjamin, wanita itu akan menerima dirinya apa adanya.


Terlebih lagi saat tahu penyakit yang di derita dirinya, sementara Rayana? Gadis itu justru semakin memperhatikan dirinya setelah mengetahui kelemahan dokter Aldi, bahkan mengetahui penyakit dokter Aldi.


"Sayang terimakasih," kata dokter Aldi mengusap lembut lengan kiri Rayana. "Kamu jangan ninggalin aku ya."


"Makan dulu sayang," kata Rayana sembari kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut dokter Aldi. "Setelah sarapan baru kita ngobrol."


Hanya butuh waktu sepuluh menit, akhirnya makanan yang di bawa pelayan tadi telah habis, Rayana ingin berdiri namun di tahan oleh dokter Aldi.


"Mau ke mana?" dokter Aldi memandang Rayana dengan wajah yang sedikit ketakutan.


Rayana menghela nafas panjang, kemudian memandang dokter Aldi sepertinya trauma laki laki itu kembali lagi, Rayana kemudian menggenggam tangan dokter Aldi.


"Aku cuman mau ke toilet sebentar," kata Rayana sembari mengusap lembut wajah suaminya.


Dokter Aldi dengan terpaksa melepaskan Rayana, dan memandang punggung gadis itu. Rayana sengaja berlama lama di dalam kamar mandi, ingin melihat reaksi suaminya itu.


Benar saja saat Rayana keluar ternyata suaminya itu melakukan hal aneh, ia terlihat tengah duduk berselonjor di lantai sembari memandang ke arah pintu.


Saat melihat pintu terbuka dokter Aldi segera berlari memeluk Rayana dengan erat. "Kok lama sih sayang."

__ADS_1


Rayana dapat merasakan getaran di tubuh suaminya, sepertinya suaminya ini butuh ke dokter juga. Yah, dokter juga manusia dan bisa sakit.


"Aku dari toilet doang sayang," kata Rayana tersenyum ke arah dokter Aldi.


"Kamu jangan tinggalin aku ya," dokter Aldi kembali meminta Rayana untuk tetap bersama dengan nya.


"Aduh mikir dong kalau aku mau ninggalin kamu, nih hasil cocok tanam kamu banyak di perut aku, kalau aku tek-dung gimana? Ga ada papa dong," kata Rayana memberikan sedikit candaan, sukses membuat dokter Aldi tersenyum.


Dokter Aldi tersenyum dan mengangguk ia tahu jelas bahwa Rayana saat ini tengah menghiburnya, dan menurunkan rasa khawatirnya.


"Ya sudah ayo baring," kata dokter Aldi menggandeng tangan Rayana menuju tempat tidur yang masih berantakan.


Rayana tampak merebahkan badannya di dada bidang dokter Aldi, sementara dokter Aldi terus memeluk Rayana dengan erat, sembari memainkan rambut Rayana. Dokter Aldi terus saja memilih rambut Rayana, sesekali mencium nya.


"Sayang Willi kita suruh ke sini aja ya," dokter Aldi tiba tiba berseru, sontak membuat Rayana segera mengangkat kepalanya.


"Kamu ga percaya sama ayah?" Rayana mengerutkan keningnya, tak mungkin ia marah saat ini, seandainya saja saat ini dokter Aldi dalam keadaan norma, maka Rayana akan memukul kepalanya keras.


Dokter Aldi yang menyadari sorot mata tak suka Rayana, segera tersenyum dan menarik Rayana ke dalam pelukannya.


Lama mereka berbincang bincang di atas tempat tidur, dengan kelakuan dokter Aldi sering kali mengecup seluruh wajah Rayana, kemudian menautkan seluruh tangan mereka.


"Sayang kita akan menua sampai tua ya, seperti ayah dan bunda," kata dokter Aldi sembari memainkan jari jemari Rayana.


Rayana tersenyum dan mengangguk mendengar permintaan suaminya. "Iya kita akan menua bersama dan akan saling mencintai satu sama lain selamanya," jawab Rayana sembari mengusap lembut wajah suaminya.


Rayana mendekatkan diri untuk mengecup bibir suaminya, membuat dokter Aldi tersenyum senang. Dokter Aldi kembali membalasnya dengan hal yang sama, namun bukan hanya sebuah kecupan, justru kecupan itu berubah menjadi lu*ma*tan.


Bibir mereka terus ber*pa*ngu*tan dan mengecap satu sama lain, hingga akhirnya nafas mereka sama sama habis, dan membuat mereka akhirnya kembali melepaskan pa*ngu*tan.


"Sayang," suara serak dokter Aldi terdengar, sepertinya ia terpancing sesuatu.

__ADS_1


Dokter Aldi menuntun Rayana untuk berbaring dan mengukungnya tepat di bawah dokter Aldi. Dokter Aldi kembali mengecup seluruh wajah Rayana, dari dahi ke dua kelopak mata, kedua pipi, hidung dan dagu, dokter Aldi kemudian tersenyum.


"Sayang balas," kata dokter Aldi dengan suara serak dan mata yang terlihat sayu.


Rayana tersenyum samar kemudian membalas kecupan suaminya di bagian bibir, ah tahukah Rayana bahwa si bungsu sudah siap untuk di bangunkan?


Saat Rayana hendak menjauhkan kepalanya, dokter Aldi justru mendekatkan kepalanya, dan kembali me*lu*mat bibir Rayana, dan kita tahu selanjutnya apa yang akan terjadi, lebih baik tak udah di jelaskan.


"Ah... Raya sayang," jerit dokter Aldi ketika mencapai puncak nirwana.


Setelah tiga puluh menit berpeluh akhirnya dokter Aldi tumbang tepat di atas Rayana, dan segera berguling ke sisi kana Rayana. Dokter Aldi menarik selimut dan segera memeluk Rayana.


Rayana segera menggeliat di dalam peluakan dokter Aldi, dan semakin mendempetkan tubuhnya, karena merasa nyaman dan hangat.


"I love you Sayang," ujar dokter Aldi sembari mengecup puncak kepala Rayana.


"Love you too," jawab Rayana sembari mengecup dada bidang dokter Aldi.


"Sayang belum capek?" goda dokter Aldi, membuat Rayana segera memeluk dokter Aldi dengan erat.


Dokter Aldi terkekeh merasakan pelukan hangat dari Rayana, hatinya merasa menghangat ketika Rayana di sisinya, sepertinya saat ini Rayana menjadi obat mujarab bagi dirinya. Sehingga ia tak dapat berpisah dari Rayana, dan selalu mengharapkan Rayana akan selalu hadir di sisinya, begitupun dengan anaknya Willi.


Rayana dan Willi merupakan hal yang paling berharga bagi dirinya, termasuk calon anak anaknya kelak, mereka tak dapat di nilai dengan apapun.


"Be mine and always be mine for ever honey," bisik dokter Aldi.


Sepertinya Rayana sudah tak dapat mendengarkannya lagi, karena Rayana telah terlelap di dalam mimpi indahnya usai pertempuran panas mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****Selamat berpuasa teman teman sekalian bagi yang muslim 🙏🙏🙏****...

__ADS_1


...Mohon maaf jika ada salah dan kekhilafan serta ketersinggungan selama author menulis novel terimakasih...


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....


__ADS_2