
Sidik saat ini tengah menyusuri arah kentoilet wanita, Sidik bahkan hampir menerobos masuk ke kamar mandi wanita, jika saja tak melihat Aiyla melintas bersama dengan seorang laki laki, yang tengah menenteng paper bag. Sidik segera mengikuti Aiyla dari belakang, Sidik bergegas mendekati Aiyla, yang kini mulai menjauh.
"Aiyla, Aiyla," sidik memanggil nama Aiyla dari belakang ketika jarak mereka tidak terlalu jauh.
Aiyla yang mendengar namanya di panggil segera menoleh ke belakang, bersamaan dengan Iki.
"Iya kak," Aiyla segera menghampiri Sidik.
Sidik terkejut ketika melihat seseorang yang tengah berjalan berdampingan dengan Aiyla adalah klien bosnya yang akan di temui nya.
"Loh pak Iki," Sidik segera menjabat tangan Iki.
"Eh iya, kamu asisten pak Raka kan?" Iki tersenyum ramah kepada Sidik.
Iki memang terkenal sangat rendah hati, bahkan hanya untuk sebagai asisten, Iki mengingat dengan jelas siapa sebenarnya Sidik.
"Eh iya pak, masih ingat saja," Sidik tersenyum ke arah Iki. "Oh ya bapak kenal Aiyla?"
Iki mengangguk mengiyakan bahwa mereka memang saling kenal. "Iya."
__ADS_1
Sidik tersenyum kemudian menunjukkan jalan menuju ruangan yang di tuju. Iki mengikuti langkah Sidik, semabari bercerita dengan Aiyla, sambil sesekali tertawa karena omong lucu mereka.
Sesampainya mereka di ruangan yang di tuju, Sidik segera membukakan pintu untuk mereka, dan mempersilahkan mereka masuk.
"Tuan Iki, selamat datang," Rakara segera mengulurkan tangannya ke arah Iki.
"Ah baik, bagaiman kabar anda," ah sepertinya kedua orang ini suka berbasa basi.
Setelah sekian lama akhirnya mereka menuntaskan rapat mereka, Iki memutuskan untuk kembali lebih awal karena ada rapat yang harus di temui.
"Kalau balik hati hati," Iki segera mengusap lembut kepala Aiyla.
"Lah kenapa entar kamu jatuh loh," Iki terlihat sedikit khawatir.
"Iya entar jatuhnya enak, soalnya jatuhnya ke hati kak Iki, ga jatuh kemana mana," ah Aiyla benar benar suka menggombali Iki.
"Ah ada ada saja kamu," Iki segera mengusap rambut Aiyla.
"Tapi top cer kan?" Aiyla terkekeh ketiak mendengar kata katanya sendiri.
__ADS_1
"Iy iya, ya sudah Aiy aku pulang dulu ya," Iki pamit kemudian.
"Iya kak hati hati, jangan gampang jatuh cinta." Aiyla melambangkan tangannya ke arah Iki.
"Dasar centil, awas saja sempat tuan Iki membatalkan kerjasamanya," ancam Rakara.
"Tenang saja selama ada Ai, semau akan baik baik saja, dengan kontrak kak Iki," Aiyla membusungkan dadanya sombong, sontak membuat Rakara semakin kesal.
Rakara tiba tiba teringat dengan pamannya om Chandra, seingat Rakara om nya itu juga tak begitu jahil, tapi dari segi wajah dan tegasnya rahang Chandra, Chandra tak seaneh itu.
Lalu bagaimana gadis ini? kelakuannya sangat aneh, ingin sekali Rakara membungkusnya dan memecatnya sekarang juga. Jika saja Aiyla bukanlah sebagai posisi pegawai titipan ayah, maka Rakara akan dengan senang hati memecatnya.
"Ayo pulang, aku tak mau malu memiliki pegawai seperti dirimu," Rakara segera menarik tangan Aiyla untuk keluar dari pesta.
Yuk ikut partisipasi give away dari novel CEO belok vs colonel Cantik, untuk dua orang pemenang, masing masing pulsa 20k
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....
__ADS_1