Duda Genit

Duda Genit
S2 (Membingungkan)


__ADS_3

"Willi mau ikut Nina?" Angel menawarkan Willi untuk ikut dengannya, agar Willi tidak terlalu kelelahan.


"Engga Nina, Willi maunya dengan mama sama papa," kata Willi sontak membuat Daniel terkekeh.


"Sepertinya memang harus cepat nih, bukan cuman bapaknya tapi juga anaknya," Daniel terkekeh sembari mengatakan hal tersebut, sontak membuat wajah Rayana dan juga dokter Aldi memerah.


Angel dan Daniel kemudian keluar dari ruangan Rayana, meninggalkan dokter Aldi dan Willi bersama dengan Rayana. Willi tampak tengah menonton film kartun, sembari memaakan cemilannya, sementara Rayana hanya diam masih merasa malu atas ucapan ayahnya.


"Sayang, kamu kenapa diam? Butuh sesuatu?" dokter Aldi segera berjalan ke arah Rayana, yang terlihat melamun sejak tadi.


"Hah? Apa?" Rayana tampak masih kelihatan kehilangan fokusnya.


"Kamh kenapa bengong?" Dokter Aldi segera mendudukkan diri di sisi tempat tidurnya.


Dokter Aldi mengeluarkan teteskop miliknya, kemudian memeriksa keadaan Rayana, jujur saja dokter Aldi saat ini sedikit khawatir dengan keadaan Rayana yang sejak tadi hanya terbengong.


"Kenapa? Aku ga apa apa kok," kata Rayana sembari tersenyum.


"Kamu dari tadi bengong loh soalnya, kamu lagi mikirin apa?" tanya dokter Aldi dengan lembut.


Rayana tersenyum karena perhatian dari Dokter Aldi. "Engga kok mikirin kerjaan yang lagi numpuk aja," bohong Rayana.


"Jangan terlalu di pikirin, nanti ga sembuh sembuh loh, mending mikirin aku dijamin," kata dokter Aldi menghibur Rayana.


"Di jamin apa?" Rayana penasaran.


"Di jamin kamu jatuh cinta," kata dokter Aldi sembari terkekeh.


Rayana ikut tertawa membuat dokter Aldi tersenyum senang, karena sepertinya Rayana lupa akan masalah nya. Padahal masalah Rayana tadi hanyalah karena kata kata dari ayahnya.

__ADS_1


Ah cinta, memang begitu akan senang ketika melihat orang yang di sayangi tersenyum bahagia, seakan ikut merasakan kesedihan ketika melihat orang yang di cintai ikut bersedih, itulah cinta.


Begitu pula dengan dokter Aldi, yang bahagia melihat calon istri nya tertawa lagi. Dokter Aldi segera mengusap lembut kepala Rayana membuat Rayana pelan pelan menghentikan tawanya, karena suatu perasaan yang berbeda terjadi di dalam hatinya.


"Nah gitu dong ketawa, baru Raya nya Aldi, cantik dan ceria," kata dokter Aldi sukses membuat wajah Rayana menjadi memerah.


Ah, kenapa ia harus memerah? Bukan kah ini sudah bisa dokter Aldi lakukan, bahkan lebih dari ini? Apa jangan jangan benar kata dokter Aldi tadi siang? Bahwa sebenarnya ia mulai menyukai dokter Aldi, sehingga tingkahnya begini? Ah entah lah, persoalan cinta bukan kah sedikit rumit.


"Ih apaan sih," kata Rayana memalingkan wajahnya yang sudah memerah berharap dokter Aldi tak melihatnya.


Dokter Aldi terkekeh melihat wajah memerah Rayana, dapat ia pastikan bahwa itu adalah wajah salah tingkah Rayana, sungguh sangat lucu dan menggemaskan, apalagi ketika malu malu begitu.


"Ih mukanya berubah merah loh, semakin yakin kan kalau kamu mulai suka aku loh," dokter Aldi kembali menggoda Rayana semakin membuat Rayana malu.


Rayana yang mendengarkan kata kata dokter Aldi semakin malu di buat nya, sungguh kata kata yang semakin mampu membuat jantungnya hampir bekerja lebih keras.


Entah kenapa semenjak dokter Aldi mengatakan tentang 'sebenarnya ia mulai suka namun belum menyadarinya' sukses membu jantung Rayana semakin kencang berdetak.


"Iya sayang," kata dokter Aldi akhirnya mengecup puncak kepala Rayana, kemudian berjalan kembali menuju sofa yang di duduki Willi.


Dokter Aldi diam diam melirik wajah Rayana yang masih memerah, membuat dokter Aldi memiliki niat jahil di dalam otaknya.


Dokter Aldi segera keluar dari kamar rawat inap Rayana untuk menelfon seseorang, sukses membuat Rayana sedikit penasaran, telfon semacam apa yang membuat dokter Aldi tak ingin mengangkat di depan nya, apakah itu dari mantan istrinya? ibu kandungnya Willi?


Ah apa yang ia pikirkan? Bukankah itu bukan urusannya? Lagian kenapa ia mulai penasara? Kenapa ia ingin tahu? Apakah ia pacarnya? Ah, perasaan Rayana justru saat ini yang membuatnya bingung.


Setelah lima menit menelfon, dokter Aldi akhirnya segera masuk, di sertai senyuman manis dari bibir nya. Ah, nampaknya saat ini ia bahagia, setelah menelfon seseorang?.


Aghhh, justru hal itu semakin membuat wanita itu penasaran, apakah benar yang menelfon ya barusan mantan istrinya? Atau wanita lain yang baru saja memuji penampilan atau menyatakan cinta kepadanya? Ah, sudah lah memikirkan hal itu bukankah dirinya semakin akan sulit sembuh? Itu kan yang di katakan dokter Aldi tadi? Ah kenapa ia harus memikirkan kata kata dokter Aldi?

__ADS_1


Memikirkan semua itu, sukses membuat Rayana pusing tujuh keliling di buat oleh nya. Rayana segera menenggelamkan kepalang di balik lututnya untuk menyembunyikan wajah kacaunya, akibat dari pikirannya sendiri.


Tak lama kemudian, pintu kamar rawat inap Rayana terbuka, tampak babysiter Willi datang dan membawa dua paper bag.


"Willi mau ikut jalan jalan sama mbak?" tanya wanita tersebut, sembari merentangkan tangan.


Willi yang melihat hal itu serentak langsung mengangguk, dan segera masuk ke dalam gendongan babysiter nya tersebut. Setelah menggendong Willi babysiter Willi segera keluar dari ruang rawat inap Rayana.


Begitupun dokter Aldi, setelah mereka keluar, dokter Aldi segera berjalan menuju tempat tidur Rayana, dokter Aldi segera naik ke tempat tidur Rayana, membawa Rayana kedalam dekapannya.


"Kamu tahu? Aku kangen lama ga meluk kamu," kata dokter Aldi mengecup singkat leher jenjang Rayana, sukses membuat bulu Roma Rayana meremang, Dokter Aldi yang menyadari hal tersebut, dari raut wajah Rayana yang memerah hingga telinga, kembali mengulangi hal yang sama hingga berkali kali.


Setelah puas menciumi leher jenjang Rayana, dokter Aldi segera menuntun Rayana untuk berbaring, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.


Dokter Aldi menciumi seluruh wajah Rayana tampa ada yang terlewati, kemudian menarik kembali Rayana ke dalam pelukannya.


"Ayuk tidur, aku masih mau meluk kamu, soalnya kalau ada Willi engga bebas mah meluk kamu," kata dokter Aldi sukses membuat Rayana semakin malu, dan memilih untuk menenggelamkan wajahnya di dada bidang dokter Aldi.


"Kenapa malu hm? Sama calon suami sendiri jangan malu malu kucing deh kamu," kekeh dokter Aldi, sembari kembali mengecup puncak kepala Rayana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****Selamat berpuasa teman teman sekalian bagi yang muslim 🙏🙏🙏****...


...Mohon maaf jika ada salah dan kekhilafan serta ketersinggungan selama author menulis novel terimakasih...


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....


...Dan terimakasih sebanyak banyaknya yang sudah dengan loyalnya memberikan vote, dan hadiah, serta koin. I Love You...

__ADS_1


__ADS_2