Duda Genit

Duda Genit
S2 (Kemarahan Rakara2)


__ADS_3

"Ardian jemput anak buah ku di depan, bawa dia bersama wanita tua itu," Ardian segera mengangguk meninggalkan Rakara.


Ruang yang dulunya di jadikan tempat diskusi oleh dokter Aldi, kini menjadi ruang eksekusi untuk Rani dan antek anteknya, belum lagi ternyata ibunya juga tertangkap, membuat Rani semakin ketakutan.


"Mas tolong demi anak kita," Rani kini menggunakan senjata pamungkasnya sontak membuat Rakara terkekeh.


"Demi anak? Kau bahkan tak mengandung bo*doh," hardik Rakara memandang rendah ke arah Rani.


Flashback.


Rakara berjalan tergesa gesa bersamaan dengan Ardian, namun tiba tiba dokter kandungan yang biasa memeriksa Rani menghalangi jalannya, awalnya Rakara sangat murka, namun mengingat anaknya yang ada di dalam perut Rani, Rakara menghentikan langkahnya.


"Tuan saya ingin membuat pengakuan, saya benar benar meminta maaf, saya tahu apa yang saya lakukan melanggar ketentuan yang ada di rumah sakit, tapi tolong saya terpaksa melakukan hal ini," Hani memelas memandnag ke arah Rakara.


"Apa yang mau kau sampaikan," Rakara berkata dengan lugas.


"Kita berbicara di ruangan saya," Hani meminta Rakara menuju ruangannya.


Rakara sedikit ragu, namun tetap mengikuti langkah Hani di ikuti juga oleh Ardian, yang setia mendampingi Rakara.


"Tolong selamatkan keluarga saya, mereka di sekap," Hani memohon setelah mereka duduk di meja kerja Hani, bahkan dokter kandungan itu menitikan air matanya.


"Maksudmu?" Rakara semakin bingung di buatnya.


"Keluarga saya di sekap istri anda dan mertua Anda," Hani berusaha menjelaskannya, sudah ia duga Rakara tak mengetahui prihal penyekapan keluarganya.

__ADS_1


"Mertua? Maksudnya orang tua dari Rani?" Hani semakin terkejut, karena Rakara tak mengetahui prihal kedua orang tua dari istrinya.


"Anda tak mengetahui nyonya Rani memiliki ibu kandung?" Hani justru balik bertanya.


"Bukannya dia tinggal di panti asuhan setelah orang tuanya meninggal?" Rakara semakin bingung di buatnya.


"Tidak itu bukan panti asuhan yang sebenarnya, nyonya Rani dan ibunya hanya menjadikan tempat itu sebagai topengnya saja. Bahakan di dalamnya ada kasus ekploitasi anak," Hani kini mulai paham maksud dari Rakara. "Dan adik adik saya di sekap di dalam sana, kalau saya tidak memalsukan kehamilan nyonya Rani, mereka akan menjual adik adik saya."


Rakara tertegun mendengar pernyataan dari dokter muda tersebut, Rakara melihat kesungguhan di dalam raut mata dokter Hani.


"Tenang saja saya akan membebaskan adik anda," Rakara segera mengambil telfon genggam nya. "Halo segera datang ke panti asuhan tempat Rani, segera bawa ibunya ke hadapan saya, juga laporkan pada polisi tentang kasus eksploitasi panti asuhan tersebut."


Rakara segera melangkah keluar dari ruangan dokter Hani, dokter Hani bersyukur mendapatkan pertolongan dari suami yang menawan adik adiknya. Meski begitu dapat dokter Hani lihat wajah kecewa dan amarah dari sorot mata Rakara. Biarlah terkadang kenyataan yang ditutupi memang pahit adanya, meskipun awalnya semanis semanis gula pada.


Rani terdiam bagaiman mungkin Rakara sudah mengetahui kebohongannya, Hani mengkhianatinya.


"Dasar wanita sialan, berani sekali dia," gumam Rani membuat Rakara terkekeh, wanita itu masih sempat mengumpat di saat dirinya dalam keadaan terjepit, sungguh wanita yang bisa di bilang luar biasa, luar biasa pula tak tahu dirinya.


Sementara di luar ibu Rani tersenyum kemenangan, mengira Rani telah menang. Pasalnya para pengawal tersebut mengatakan bahwa mereka harus pindah, karena polisi mengendus kasus mereka, dan mereka di tugaskan untuk menjemputnya.


"Wah rumahnya lumayan besar, enak banget Rani selama ini," kata ibu Rani dengan angkuhnya melewati Ardian yang menjemputnya.


Ardian hanya menggeleng melihat tingkah ibu paruh baya, yang sebentar lagi akan kehilangan taringnya karena menantunya.


"Silahkan masuk nyonya, semua tinggal menunggu nyonya," Ardian tersenyum penuh arti kepada ibu Rani.

__ADS_1


^^^Hm, di mana Rani mendapatkan seseorang semanis ini? Sepertinya akan mampu memuaskan pelanggan ku. Ah, ibu Rani sepertinya masih memikirkan tentang bisnis pros*titusi nya.^^^


Sesampainya mereka di dalam ruangan yang mereka maksud ibu Rani terkejut melihat keadaan putrinya yang berlutut di bawah Rakara. Para anak buah Rakara segera menutup dan mengunci pintu ruangan tersebut.


"Apa maksudnya ini?" ibu Rani sangat terkejut.


"Untuk saat ini kalian berada di tempat aman, karena polisi tengah mencari kalian, dan kalian di cap sebagai buronan atas dasar penculikan, pemalsuan, dan pengancaman terhadap adik adik dokter Hani, belum lagi kasus eksploitasi di bawah umur," Rakara menyeringai ke arah Rani. "Jadi bagaiman sekarang? Masih tidak mau berbicara?"


Rakara mendekat ke arah ini mertuanya, dan menarik rambutnya ke arah Rani yang tengah berlutut. Rani gemetar melihat kilat kebencian yang di tunjukkan Rakara.


Ini adalah kali pertama Rakara berlaku kasar kepada seseorang wanita, bahkan wanita yang lebih tua kepadanya. Namun bagi para penonton setia yang ada di ruangan tersebut, hal itu wajar agar para wanita ular itu tahu posisi, dan sadar diri.


"Masih belum mau bicara? bagaimana jika pisau ini menggores wajah ibu mu?" Rakara mengeluarkan pisau lipatnya. "Atau kau mau ibu mu meninggal perlahan di hadapan mu? Ah aku mulai dari mana ya? Dari kulit?"


Rani bergidik ngeri, hanya ibunya yang ia miliki, jika tidak jujur sekarang maka ibunya akan dalam bahaya, terlebih lagi ketika melihat pandangan mengiba ibunya.


"Kulit ibumu sedikit bagus, hm untuk membuat lampion kulit mungkin bagus, dagingnya? Ototnya tak terlalu memiliki jaringan, tapi kalau untuk si maong piharaanku bagus juga. Tapi kalau kita beralih ke kulit mu, ah lumayan bagus untuk lampu lentera, warnanya akan sangat indah."


"Baikalah akan aku katakan."


Hi semua novel baru author udah ada nih, judulnya CEO Belok Vs Colonel cantik, jangan lupa di baca dan di like ya, di tunggu kedatangannya di novel baru author.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....

__ADS_1


__ADS_2