Duda Genit

Duda Genit
S3 (Bertemu Rani)


__ADS_3

Rakara baru saja turun ketika melihat kedua kakak beradik, yang punya hobi yang sama dengan kedua orang tuanya. Yaitu bertengkar setiap waktu. Entah lah jika tidak ada hal tersebut, maka akan ada yang kurang sepertinya. Ah, atau sudah menjadi moto bagi mereka? Rakara terkekeh ketika mengingat hal tersebut.


"Sepertinya mental saya harus di perkuat mulai sekarang," gumam Rakara, ketika melihat kedua kakak beradik tersebut bertengkar, mereka tampak memperebutkan remote tv.


"Kak Ai mau nonton running man," kesal Aiyla, ia sangat kesal, sebagai KPop per sejati, Aiyla tak terima tontonannya di tentang oleh kakak, belum lagi Ahmed menyebut kalimat 'manusia plastik' di sela pertengkaran mereka.


"Gue mau nonton dangdut Ai, semalam kelewatan, ga tau siapa yang gugur," kesal Ahmed, pasalnya saat ini ada pengulangan acara.


"Ih Ai dulu," kesal Aiyla kembali merebut remote tersebut.


"Ga bisa," kesal Ahmed kembali merebut remote.


"Kakak egois banget sih?" kesal Aiyla.


"Lo yang egois," ketua Ahmed, membuat Rakara segera beranjak menuju meja makan.


Rakara segera menarik tangan Aiyla untuk melerai pertengkaran merek, Aiyla memberontak tak terima, namun Rakara segera menggendong tubuh Aiyla membawanya ke dalam mobil. "Ga usah berantem terus, temani saya ke suatu tempat dulu."


"Kemana sih kak," kesal Aiyla membuat Rakara terkekeh.


"Ke suatu tempat," kata Rakara tersenyum senang. Rakara kembali fokus melakukan mobilnya hingga berhenti di lembaga kemasyarakatan. "Kamu akan tahu rahasia terbesar saya."


"Penjara? Kakak punya kasus apa?" Aiyla memandang Rakara dengan curiga dan waspada.

__ADS_1


Rakara terkekeh melihat ekspresi Aiyla yang melindungi dirinya sendiri, Rakara segera menarik hidung Aiyla yang mancung. "Ih, gemes deh, kita harus bertemu seseorang dulu."


"Siapa kak?" Aiyla benar benar penasaran.


"Penasaran? Makanya ayo ikut," kata Rakara segera menggandeng Aiyla ke dalam.


"Saya mau bertemu dengan Rani, dan ibunya," kata Rakara ketika bertemu dengan petugas tersebut.


"Baik silahkan tunggu," Rakara dan Aiyla segera diperiksa oleh pihak keamanan.


Setelah mereka duduk, tak lama kemudian Rani dan ibunya datang dengan wajah yang hancur sebelah. Rakara tersenyum ke arah Rani. "Halo Rani apa kabar?"


"Mau apa kau ha? Menertawakan ku?" Rani sungguh menampakkan kilat kebencian di sana.


"Kau tahu bahwa calon suami mu ini adalah orang yang sangat kejam, kalau aku menjadi dirimu aku tak akan menerimanya," kata Rani tersenyum ke arah Rakara, ia berharap kata katanya menggoyahkan keputusan Aiyla.


^^^"Memang kejam, masa aku di ancam video panas," Aiyla hanya mampu menggerutu di dalam hatinya.^^^


Rakara sedikit meremas tangan Aiyla, berharap wanita itu nanti akan mengerti, dan mau mendengarkan penjelasannya. Rakara sedikit merutuki kebodohannya karena tidak bercerita terlebih dahulu. Rakara hanya ingin Aiyla mengetahui masa lalunya.


"Kau tahu wajah ku dan wajah ibuku dia penyebabnya," Rani menyeringai memandang Aiyla. Rani bahkan terang terangan melawan Rakara, baginya semua telah berakhir, dirinya memang kalah, namun Rakara tampak nya menjerumuskan dirinya.


"Hm, lalu? Apa lo pikir lo lebih lebih baik dari dia? Harusnya lo mikir penyebab dia marah, harusnya kalau memang dia salah dia yang di sini," Aiyla tampak santai ketika mengatakan hal tersebut, membalas remasan dari tangan Rakara. Rakara tersenyum mendengarkannya, Rakara tak menyangka Aiyla akan membelanya.

__ADS_1


"Kau buta, nanti kau akan tahu sendiri siapa dia, dan jaminanku kau akan menyesal," kata Rani menggebu gebu, bagaiman tidak dia ternyata tak berhasil menghasut Aiyla.


"Hm, emang bisa? Orang dia bucin kok," kata Aiyla santai sembari mengangkat bahunya, tanda tak perduli.


"Dia juga begitu dulu," kesal Rani.


"Berarti ada yang salah dengan dirimu," kata Aiyla santai, kemudian mengajak Rakara keluar.


"Kau tak tahu kekejamannya," ibu Rani akhirnya membuka suara. Aiyla kembali memandang wajah kedua orang, yang kini memiliki wajah yang hancur. Dulu kemungkinan mereka memiliki paras yang cantik, namun kini parasnya hilang entah kemana.


"Gue yakin dia kejam kepada orang yang salah," Aiyla kembali menarik tangan Rakara. Namun Rakara justru terhenti di tempat.


"Aku akan mengirimi kalian undangan, dan memperlihatkan bahwa kebenaran lah yang akan bahagia pada akhirnya," kata Rakara kembali merangkul pinggang Aiyla. "Ayo sayang."


"Hutang penjelasan," kesal Aiyla memandang Rakara.


"Iya cantik," Rakara segera mencubit mesra hidung Aiyla.


Pemandangan itu tak luput dari pandangan mata Rani yang kini diam diam iri, iri dengan semua perlakuan tersebut. Dulu itu untuknya, namun kini telah hilang. Dulu Rakara sangat memanjakannya, semua keinginannya di penuhi, di sayang oleh kedua mertua. Namun tampaknya kini milik gadis yang tengah di peluk oleh Rakara. Bahkan perlakuan Rakara lebih manis saat ini, ketimbang kepada dirinya dulu. Dapat Rani lihat bahwa bahkan Rakara berani mengecup pipi Aiyla di depan umum begitu, hanya karena gemas dengan omongan gadis tersebut.


Aiyla dan Rakara saat ini telah berada di dalam mobil, Rakara segera melajukan kendaraannya sembari menggenggam erat tangan Aiyla. Rakara bahkan mengecupnya hingga beberapa kali. "Sayang kita ngobrolin semua di apartemen saya."


"Sebenarnya tujuan kakak apa sih?" Aiyla memandang ke arah luar jendela, meski membiarkan tangannya tengah di genggam erat dengan Rakara.

__ADS_1


"Saya punya tujuan mengajak kamu ke sana. Saya ingin kita terbuka dalam segala hal."


__ADS_2