
Siang ini dokter Aldi, Rakara dan Daniel tengah berkumpul di ruang keluarga, mereka sepertinya tengah terlibat dalam percakapan yang serius.
"Bagaimana dengan rencana kamu saat ini?" Daniel memandang wajah menantunya dengan seksama.
Jujur saja saat ini Daniel begitu khawatir dengan keadaan putri, menantu dan cucunya. Bagaiman mungkin saat pernikahan masih seumur jagung, mereka sudah mendapatkan ujian cinta sebesar ini, bukan dari adanya orang ketiga, melainkan dengan adanya masalalu yang menuntut untuk di selesaikan.
"Aldi akan berhenti menjadi dokter terlebih dahulu, karena ini tentang keselamatan keluarga," dokter Aldi tampak sangat bersungguh sungguh mengatakan hal tersebut.
Jujur saja saat ini dokter Aldi benar benar harus fokus kepada keselamatan keluarganya, belum lagi keadaan istri dan iparnya yang tengah hamil, mereka pasti akan memanfaatkan kejadian ini untuk menjatuhkan dokter Aldi.
"Bagus lebih baik kamu fokus dengan perusahaan kamu, dan penjahat itu, anggap saja sebagai pancingan," Daniel tampak sangat setuju dengan ide menantunya.
"Iya munculkan diri kamu sama seperti memancing mereka, maka kita akan pelan pelan menghancurkan mereka," Rakara ikut angkat bicara.
Rakara cukup khawatir, terlebih ia sangat menyayangi istrinya. Rakara bahkan begitu mencemaskan keadaan adiknya.
"Menghancurkan mereka mungkin akan sedikit sulit, ini mungkin akan menyangkut paut dengan beberapa kerabat jauh Aldi," dokter Aldi menatap nanar.
Dokter Aldi masih ingat betul ketika asisten sekaligus sekertarisnya, Ardian mengatakan bahwa kemungkinan yang terlibat adalah keluarga jauhnya.
"Maksud kamu?" Rakara kini memandang wajah dokter Aldi.
Rakara tampak terkejut mendengarkan kata kata dari dokter Aldi, apa mungkin yang mencelakai kedua orang tua dokter Aldi adalah keluarganya sendiri?
"Maksud Aldi, Aldi curiga ini menyangkut kerabat jauh yang ingin mencelakai keluarga Aldi," dokter Aldi tampak tersenyum miris. "Yah ini baru kemungkinan sih, belum tahu juga."
"Kita selidiki pelan pelan," Daniel tampak begitu prihatin dengan keadaan menantunya.
__ADS_1
Tiba tiba pintu ruang kerja Daniel ada yang mengetuk, membuat perhatian mereka segera teralih kepada asal suara.
"Masuk," Daniel segera memerintahkan si pengetuk untuk masuk.
"Maaf tadi di luar ada yang nyariin kamu Aldi," Rayana datang sembari memakan nastar yang sudah di beli oleh Angel.
"Siapa sayang," dokter Aldi mendekat ke arah Rayana guna mengusap kepala istrinya. "Yah, kak Aldi ke depan dulu ya."
Rakara dan Daniel hanya mengangguk saja tanda mengerti, dokter Aldi segera menutup pintu ruangan tersebut, sembari menggandeng tangan Rayana.
"Siapa yang nyariin aku sayang?" dokter Aldi mengecup tangan istrinya.
"Tau tadi dia nyariin kamu," Rayana hanya membalas singkat ucapan suaminya.
"Gimana orangnya?" dokter Aldi tamak sangat penasaran.
Dokter Aldi mengerutkan keningnya, menghentikan langkahnya dan memandangi Rayana, bagaimana mungkin istrinya itu menuju orang lain, dengan kata kata yang seperti itu di depannya.
"Kamu ngomong apa tadi?" dokter Aldi tampaknya sangat tidak suka.
"Yang mana?" Rayana memasang tampang polosnya.
Dokter Aldi sedikit gemas segera mencubit hidung Rayana, kemudian mengecupnya singkat.
"Yang barusan," dokter Aldi kembali menggandenga tangan Rayana.
"Yang mana," aduh, Rayana tampaknya mempertahankan wajah polos seolah tak tahu apa apa.
__ADS_1
"Engga yang setelah aku nanya itu loh," dokter Aldi semakin gemas dengan istrinya, jika lama lama begini dokter Aldi akan memberikan hukuman kepada istrinya itu.
"Yang mana," Rayana masih berpura pura lupa dengan apa yang dikatakannya.
"Sayang Raya," jika begini lama lama dokter Aldi akan benar benar membawa Rayana menuju kamar mereka segera.
"Iya sayangku dokter Aldi," Rayana mengucapkan hal itu dengan nada yang manja, sontak membangunkan sesuatu yang tengah tertidur.
"Sayang ke kamar yuk," dokter Aldi tiba tiba menampakkan senyum penuh arti, yang hanya bisa di artikan oleh Rayana.
"Kamar kamar kamar, tu di depan ada cogan lagi nungguin kamu," kata Rayana segera menunjuk ke arah ruang tamunya.
Ardian segera berdiri memberi hormat, membuat dokter Aldi tersenyum. Namun ketika mengingat pujian Rayana, dokter Aldi segera memandang Rayana.
"Ingat kamu itu istri aku loh, jangan suka genit matanya, lagian aku jauh lebih ganteng dari dia," dokter Aldi tampakanya masih kesal dengan pujian tadi.
Seandainya saja Ardian bukanlah orang kepercayaannya sekaligus tangan kanannya, maka ia sudah memerintahkan Ardian untuk pergi dari ruang ini, sekarang juga. Enak saja istrinya memujinya sebegitu tinggi, padahal dia sendiri jarang di puji dengan begitu manis oleh Rayana.
Rayana hanya menggeleng mendengarkan kata kata dari dokter Aldi. "Terserah kamu, aku mau balik nonton lagi dengan mama dan kakak ipar."
Hi semua novel baru author udah ada nih, judulnya Mr. Gay Vs Colonel cantik, jangan lupa di baca dan di like ya, di tunggu kedatangannya di novel baru author.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Selamat hari raya idul Fitri semua, bagi teman teman sekalian bagi yang muslim 🙏🙏🙏...
...Mohon maaf jika ada salah dan kekhilafan serta ketersinggungan selama author menulis novel terimakasih...
__ADS_1
...Jangan lupa like, komentar, vote, dan jadikan favorit. Sebagai penyemangat bagi Author. Agar, author nya lebih semangat up, dan lebih panjang lagi up nya....