
Hari ini hari terakhir Aiyla dan Rakara berada di Bali, Rakara saat ini tengah menarik dua koper, miliknya dan milik Aiyla. Baru pertama kali kan kalian melihat bos yang menjadi kacung anak buah? Ah, mungkin hanya Aiyla saja yang berani.
Sesampainya di dalam pesawat, Aiyla terus memainkan ponselnya, meski telfonnya sudah dalam mode pesawat namun game offline nya masih bisa di mainkan.
Sementara Rakara hanya memandang Aiyla, sembari memperhatikan wajah gadis tersebut. "Udah ga usah main game terus mending kamu tidur," Rakara segera menarik ponsel gadis tersebut.
"Ah, kakak Ai masih mau main kak," Aiyla merengek kepada Rakara, sontak membuat Rakara tersenyum jahil.
"Kakak balikkan, tapi kalau kamu masih main game kakak cium kamu, mau?" Rakara tersenyum kemenangan memandang Aiyla, sontak membuat Aiyla terkejut.
Namun bukan Aiyla namanya jika tidak melawan. Perpaduan gen Chandra dan Aliya menyatu secara sempurna, dan mampu memberikan perlawanan yang sangat baik untuk Rakara.
"Coba aja, kalau ga Ai lempar kakak dari pesawat," tantang Aiyla membuat Rakara terkekeh, memang sikap melawan gadis ini lah yang membuat nya tertarik.
"Maaf kakak ga takut Ai," kata Rakara memandang remeh ke arah Aiyla. "Tapi secara badan kakak kan lebih besar, otomatis kamu ga akan bisa melempar kakak, yang ada kamu yang terlempar."
"Mau coba? Jangan salah kan Ai, kalau barang bawaan kakak yang duluan yang Ai lempar," Aiyla tahu betul barang bawaan Rakara merupakan barang penting, dan terdapat beberapa dokumen hasil meeting kemari selama di Bali. "Ai yakin kakak bakalan lompat juga."
"Ga ga akan, kakak ga akan lompat. Lagian kakak ga mau buat gadis yang di samping kakak ini patah hati lagi," goda Rakara menarik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Hm... Ai tersunjang banget, merasa melayang di udara, untung masih bisa duduk di kursi," ejek Aiyla sembari mencebikkan bibirnya.
"Yakin?" Rakara masih berusaha menggoda Aiyla, meski sebenarnya dirinya hampir habis bahan, karena kemarin belum banyak berguru dengan para mantan pejuang sableng tersebut.
"Hahahaha kak, Ai bilang ya, yang mau sama Ai itu banyak banget, lagian Ai ini cantik, masa iya ga bisa dapat yang lebih mapan, tampan, plus sopan," Aiyla menggoyangkan kepalanya mengejek Rakara. "Dasar lelaki ramah."
Rakara sangat mengerti maksud dari kata ramah versi Aiyla, dirinya sudah sering mendengarkannya, sehingga ketika Aiyla mengatakan hal tersebut, hanya membuat Rakara terkekeh gali.
"Iya rajin menjamah," kata Rakara sembari menggelitik tubuh Aiyla.
Aiyla terkekeh berusaha menghentikan perbuatan Rakara. Tubuh Aiyla memang sensitif sehingga jika hanya di gelitik sedikit saja, maka ia akan sangat mudah merasa kegelian. Suara tawa Aiyla membuat orang orang sekitar memandang ke arah dirinya. Mereka tidak menyadarinya, hingga akhirnya seorang pramugari cantik datang menegur mereka berdua.
"Iya kak ini salah dia, yang main glitik aja, padahal kan saya penggelian," Aiyla justru mengadu kepada pramugari tersebut, seolah dirinya adalah korban mutlak, dan Rakara adalah orang yang paling bersalah.
"Dia ngambek dengan saya mbak, jadi saya glitikin biar ga ngambek lagi," adu Rakara, membuat Aiyla mencebikkan bibirnya.
"Engga mbak, dia memang genit orangnya, suka banget gitu, aga setetes dia mbak," kekeh Aiyla menunjuk Rakara. "Mbak bisa ga saya ganti tempat gitu?"
Pramugari tersebut sedikit bingung dengan penumpangnya dua ini, terlihat bertengkar namun juga tampak cocok jika di lihat sekilas.
__ADS_1
"Mohon pengertiannya untuk sedikit tenang bapak ibu, karena yang lain sedikit terganggu," kembali lagi pramugari tersebut memperingatinya.
"Iya baik bu, kalau dia ribut saya tutup mulutnya dengan mulut saya," canda Rakara membuat Aiyla melotot tak percaya.
"Kalau berani lo, gue beri mulut lo bon cabe level 100.000 biar lo tau rasa," kesal Aiyla menatap sinis wajah Rakara.
"Level 100.000 kayak cashback shoppy'aye aja," goda Rakara semakin membuat Aiyla kesal.
"Ih mirip cewek kan mbak, masa urusan begituan aja tau," Aiyla tersenyum sinis ketika mengatakan hal tersebut, Aiyla tahu cara memojokkan Rakara. Karen situlah dia mendapatkan lisensi sebagi anak kandung dari Chandra dan Aliya, begitupun Ahmed. Sikap mereka benar benar sama persis.
"Maksud kamu ngomong gitu apa?" Rakara sangat kepala di buatnya. Semakin membuat Aiyla menarik sudut bibirnya ke atas.
"Lah kan cuman memberi kesimpulan, dari setiap kata kata kakak," kata Aiyla dengan wajah polosnya.
Akhirnya semua mata kembali tertuju kepada mereka, yang saat ini masih saja ribut. Meskipun telah menerima teguran dari seorang pramugari.
"Marah berarti iya loh kak," goda Aiyla membuat Rakara segera mengambil sejumlah biskuit, dan segera menyuapi ke dalam mulut hadir itu. Sehingga berbicaralah akan sangat sulit, karena mulutnya penuh biskuit.
"Ni minum nya, jangan banyak bicara, habis ini tidur," kesal Rakara segera memandang ke arah lain.
__ADS_1